- Penemuan situs di kawasan Jalan Dinoyo, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu kemarin, diindikasikan merupakan pusat Kerajaan Kanjuruhan yang sempat hilang 1.300 tahun silam.
Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono di Malang, Minggu, mengatakan, indikasi pusat kerajaan, terlihat pada lantai yang terbuat dari batu bata.
"Lantai itu, merupakan lantai dari hunian orang-orang kerajaan," ujarnya.
Sebelum abad 15 masehi, Kerajaan Kanjuruhan masih berdiri secara otonom, setelah itu mendapat tekanan dari Kerajaan Mataram. Kemudian Kerajaan Kanjuruhan dibawah pimpinan pemerintahan Kerajaan Mataram.
"Situs yang ditemukan di Jalan Dinoyo itu merupakan Pusat Kerajaan Kanjuruhan sebelum mendapat tekanan oleh Kerajaan Mataram," Ujarnya.
Indikasi lainnya, yakni lokasi penemuan itu tidak jauh dari sungai, sebab lokasi pusat kerajaan selalu terletak dekat dengan mata air.
"Perlu dilakukan penelusuran lebih dalam jika ingin mengetahui lebih jelas. Namun, dari hasil pengamatan saya kemarin sudah terlihat sedikit," katanya.
Sebelumnya, usai melakukan pengamatan, Dwi meyakini bahwa deretan batu bata berukuran tak lazim itu merupakan semacam pondasi dari sebuah rumah di masa Kerajaan Kanjuruhan.
Penemuan itu, terletak di kawasan Jalan Dinoyo, Malang atau 500 meter di sisi barat Universitas Islam Malang (Unisma).
Awal penemuannya, yakni ketika salah seorang pekerja di daerah itu secara tak sengaja menemukan deretan batu bata berukuran besar di lokasi pembangunan.
Penemuan ini, semakin membuat ahli sejarah yakin, bahwa kawasan Dinoyo dan Tlogomas merupakan bekas pusat peradaban penting di masa kerajaan Kanjuruhan.
(ANTARA News)
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
21 Oktober 2009
08 September 2009
WIKA Kontraktor Pertama Lakukan Proyek di Aljazair
Andina Meryani
PT Wijaya Karya (WIKA) menjadi kontraktor nasional pertama yang melakukan proyek di Aljazair. Wika akan bekerja sama dengan perusahaan kontraktor dari Jepang, Kazima, beserta lima kontaktor lainnya.
Dalam proyek pembangunan jalan sepanjang 400 km senilai USD4 miliar atau sekitar Rp40 triliun, WIKA berperan sebagai subkontraktor untuk pembangunan 44 jembatan dari 64 jembatan dengan nilai kontrak Rp700 miliar - Rp1 triliun.
"Kami sudah dipercaya oleh perusahaan internasional untuk melakukan berbagai pekerjaan dan bahkan kami merupakan kontraktor nasional pertama yang melakukan proyek di Aljazair," ujar Direktur Operasi PT Wijaya Karya Budi Harto, dalam konferensi pers Investor Day 2009, di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2009).
Adapun proyek tersebut akan selesai di akhir tahun ini, namun masih akan ada pekerjaan-pekerjaan tambahan lainnya sebagai upaya pengembangan pasar di luar negeri yang saat ini difokuskan di Aljazair.
"Kita harapkan ada di pasar luar negeri tapi kita masih konservatif karena masih berhati-hati terhadap krisis yang sedang terjadi," ujar Dirut Bintang Perbowo.
Adapun modal kerja (capital expanditure/capex) WIKA normatif sebesar Rp71 miliar untuk peralatan pabrik, kantor, bangunan. Sedangkan untuk capex untuk Rp250 miliar terkait dengan pengembangan aspal buton sebesar Rp45 miliar, pembangunan jalan tol Surabaya-Mojokerto sebesar Rp120 miliar, IPP Tamponas sebesar Rp25 miliar, dan kontraktor tambang sebesar Rp60 miliar.
Sedangkan untuk pembagian dividen, diharapkan tahun ini bisa sama seperti tahun lalu yang sebesar 30 persen.
"RUPS nya kan baru 28 Mei besok, keputusan ada di tangan mereka, usulannya sih semoga bisa sama seperti tahun lalu 30 persen," ujar Direktur Keuangan Wika Ganda Kusuma.(rhs)
sumber : okezone
PT Wijaya Karya (WIKA) menjadi kontraktor nasional pertama yang melakukan proyek di Aljazair. Wika akan bekerja sama dengan perusahaan kontraktor dari Jepang, Kazima, beserta lima kontaktor lainnya.
Dalam proyek pembangunan jalan sepanjang 400 km senilai USD4 miliar atau sekitar Rp40 triliun, WIKA berperan sebagai subkontraktor untuk pembangunan 44 jembatan dari 64 jembatan dengan nilai kontrak Rp700 miliar - Rp1 triliun.
"Kami sudah dipercaya oleh perusahaan internasional untuk melakukan berbagai pekerjaan dan bahkan kami merupakan kontraktor nasional pertama yang melakukan proyek di Aljazair," ujar Direktur Operasi PT Wijaya Karya Budi Harto, dalam konferensi pers Investor Day 2009, di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2009).
Adapun proyek tersebut akan selesai di akhir tahun ini, namun masih akan ada pekerjaan-pekerjaan tambahan lainnya sebagai upaya pengembangan pasar di luar negeri yang saat ini difokuskan di Aljazair.
"Kita harapkan ada di pasar luar negeri tapi kita masih konservatif karena masih berhati-hati terhadap krisis yang sedang terjadi," ujar Dirut Bintang Perbowo.
Adapun modal kerja (capital expanditure/capex) WIKA normatif sebesar Rp71 miliar untuk peralatan pabrik, kantor, bangunan. Sedangkan untuk capex untuk Rp250 miliar terkait dengan pengembangan aspal buton sebesar Rp45 miliar, pembangunan jalan tol Surabaya-Mojokerto sebesar Rp120 miliar, IPP Tamponas sebesar Rp25 miliar, dan kontraktor tambang sebesar Rp60 miliar.
Sedangkan untuk pembagian dividen, diharapkan tahun ini bisa sama seperti tahun lalu yang sebesar 30 persen.
"RUPS nya kan baru 28 Mei besok, keputusan ada di tangan mereka, usulannya sih semoga bisa sama seperti tahun lalu 30 persen," ujar Direktur Keuangan Wika Ganda Kusuma.(rhs)
sumber : okezone
04 September 2009
Megaproyek Kalla-Chairul Tanjung Segera Terwujud
Cita-cita Chairul Tanjung dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mendirikan kawasan wisata terpadu, termasuk hiburan indoor terbesar di Asia, segera terwujud. Selasa (8/9) mendatang, Chairman Para Group itu akan mendampingi Jusuf Kalla meresmikan sebagian proyek itu.
“Untuk tahap awal kami akan resmikan Trans Studio Theme Park-nya dulu," kata Chairal Tanjung, Direktur Para Group yang juga adik Chairul Tanjung. Sementara Trans Studio Walk (pusat perbelanjaan), menurut Chairal, baru akan beroperasi mulai Juni 2010.
Fasilitas berikutnya adalah Trans Studio Hotel dan Residential serta fasilitas rekreasi pantai. Total, kawasan wisata terpadu itu luasnya 24 hektar di Tanjung Bunga, Makassar.
Untuk proyek raksasa yang secara keseluruhan menyedot investasi lebih dari Rp 3 triliun ini, Chairul bergandengan dengan Kalla mendirikan PT Trans Kalla Makassar (TKM) pada 2007 lalu. Di perusahaan patungan ini, Para Group menanggung pembiayaan proyek. Sementara Kalla Grup adalah penyedia lahan. “Saham kami 55 persen, Kalla 45 persen,” kata Chairal.
Selain faktor lahan milik Kalla, Para Group memilih Makassar karena menilai "Kota Angin Mamiri" ini berprospek cerah. "Beberapa tahun terakhir ini GDP Makassar selalu lebih tinggi daripada rata-rata GDP nasional," katanya.
Pendanaan proyek ini berasal dari pinjaman BRI sebesar 50 persen. Sisanya dari utang dari bank lain serta kas internal perusahaan.
Belanja yang terbesar mengalir ke proyek taman hiburan indoor Trans Studio Theme Park. “Untuk wahana bermain itu kami menghabiskan sekitar Rp 1 triliun," kata Chairal.
Budiman Wijaya, Direktur TKM, menjelaskan, di Theme Park tersebut tersedia 20 wahana permainan yang terbagi dalam empat zona. Dana untuk pengadaan alat permainan sendiri sudah mencapai sekitar Rp 300 miliar.
Namun, Chairal optimistis proyek ini akan menguntungkan. Rencananya, harga karcis masuk ke fasilitas ini rata-rata Rp 100.000 per orang.
sumber kompas
“Untuk tahap awal kami akan resmikan Trans Studio Theme Park-nya dulu," kata Chairal Tanjung, Direktur Para Group yang juga adik Chairul Tanjung. Sementara Trans Studio Walk (pusat perbelanjaan), menurut Chairal, baru akan beroperasi mulai Juni 2010.
Fasilitas berikutnya adalah Trans Studio Hotel dan Residential serta fasilitas rekreasi pantai. Total, kawasan wisata terpadu itu luasnya 24 hektar di Tanjung Bunga, Makassar.
Untuk proyek raksasa yang secara keseluruhan menyedot investasi lebih dari Rp 3 triliun ini, Chairul bergandengan dengan Kalla mendirikan PT Trans Kalla Makassar (TKM) pada 2007 lalu. Di perusahaan patungan ini, Para Group menanggung pembiayaan proyek. Sementara Kalla Grup adalah penyedia lahan. “Saham kami 55 persen, Kalla 45 persen,” kata Chairal.
Selain faktor lahan milik Kalla, Para Group memilih Makassar karena menilai "Kota Angin Mamiri" ini berprospek cerah. "Beberapa tahun terakhir ini GDP Makassar selalu lebih tinggi daripada rata-rata GDP nasional," katanya.
Pendanaan proyek ini berasal dari pinjaman BRI sebesar 50 persen. Sisanya dari utang dari bank lain serta kas internal perusahaan.
Belanja yang terbesar mengalir ke proyek taman hiburan indoor Trans Studio Theme Park. “Untuk wahana bermain itu kami menghabiskan sekitar Rp 1 triliun," kata Chairal.
Budiman Wijaya, Direktur TKM, menjelaskan, di Theme Park tersebut tersedia 20 wahana permainan yang terbagi dalam empat zona. Dana untuk pengadaan alat permainan sendiri sudah mencapai sekitar Rp 300 miliar.
Namun, Chairal optimistis proyek ini akan menguntungkan. Rencananya, harga karcis masuk ke fasilitas ini rata-rata Rp 100.000 per orang.
sumber kompas
Langganan:
Postingan (Atom)