Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

03 Desember 2009

Ternyata Tanaman Asli Indonesia Miliki Potensi Obat Anti HIV/AIDS

Banyak tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai anti-HIV/AIDS, tetapi belum diuji skrining hingga menjadi obat yang diakui.

"Justru skrining terhadap tanaman herbal tropis anti-HIV banyak dilakukan negara-negara maju seperti AS atau Eropa," kata pakar biomedik Suprapto Ma’at di Jakarta, Rabu (2/12).

Suprapto mengatakan skrining itu diawali dengan penentuan sitotoksisitas ekstrak terhadap kultur sel yang telah diinveksi HIV, hingga skrining terhadap fraksi ekstrak tanaman untuk diketahui mana yang memiliki aktivitas mantap sebagai anti-HIV.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu mencontohkan, dari hasil penelitian Barat terhadap kunyit (curcuma domestika/longa) diketahui pigmen berwarna kuningnya ternyata memiliki efek farmakologik seperti antitumor, aktivitas anti infeksi, anti-inflamasi dan dapat menghambat aktivitas enzim integrase HIV-1.

Acemannan yang merupakan polisakarida asetilasi dari lidah buaya (aloe vera) yang diteliti laboratorium di AS dan di Kanada, ternyata bersifat antitumor, imunostimulan, dan antiviral.

Diterpenoid lakton yang terdapat pada sambiloto (andrographis paniculata) dapat menghambat pertumbuhan virus HIV-1 maupun virus HIV-2 dan dipatenkan di Universitas Bastyr dengan nama AndroVir.

Penelitian terhadap akstrak meniran (phyllanthus niruri) bekerja sebagai anti-viral dan imunostimulator (perangsang imunitas) pada penderita HIV/AIDS.

Ekstrak buah mengkudu (morinda citrifolia) telah dipatenkan sejumlah peneliti di negara maju sebagai antiinfeksi dan antikanker.

Ekstrak Bratawali (tinospora cordifolia) mampu menurunkan gejala yang terjadi pada infeksi HIV seperti mual, muntah, anoreksia dan lemah.

Ekstrak jambu biji (psidium guajava) sebagai penghambat virus HIV dan meringankan efek samping penderita HIV, seperti diare.

Agar peneliti Indonesia bisa lebih aktif melakukan pencarian obat anti-HIV dari berbagai tanaman asli tropis, perlu dibangun laboratorium khusus virus dan laboratorium kultur sel, meski lab ini membutuhkan investasi sangat besar.

Ia mengatakan China yang sudah melakukan skrining terhadap tanaman anti-HIV terhadap 5.000 spesies tanaman obat, hanya menghasilkan sekitar 90 spesies yang menunjukkan aktivitas anti-HIV atau hanya sekitar 13 persen saja.

Sejauh ini penanganan HIV/AIDS mengandalkan HAART (Highly active antiretroviral therapy) yang diperkenalkan sejak 1996, yang mencakup kombinasi tiga obat kimia yang berasal dari sedikitnya dua jenis agen antiretroviral.

HAART membuat adanya stabilisasi gejala dan meningkatkan waktu bertahan penderita antara 4-12 tahun, tetapi tidak menyembuhkan pasien dari HIV dan bisa kambuh kembali setelah perawatan berhenti.

"Dengan demikian pasien HIV membutuhkan obat alternatif pendamping dan potensi obat herbal perlu terus digali," katanya.

sumber tribun timur

03 September 2009

TNI Beri Pelatihan Medis Tentara Kongo

(Foto ANTARA)Jakarta (ANTARA News) - Tim medis Kontingen Garuda XX-F/Monuc memberikan pelatihan Basic Life Support (BLS) kepada perawat tentara nasional Kongo, agar dapat memberikan pertolongan dan penanangan medis secara maksimal kepada korban konflik bersenjata di wilayah itu.

Perwira Penerangan Kontingen Garuda XX-F/Monuc Kapten Inf Leo Sugandi dalam surat elektronik kepada ANTARA di Jakarta, Kamis, menyebutkan, pelatihan dilakukan dalam dua kategori yakni penanganan medis menggunakan peralatan lengkap dan tanpa peralatan.

"Geografis dan medan pertempuran yang kadang terpencil dan terisolir di Kongo, menuntut personel medis mesti memberikan pertolongan terhadap korban pertempuran dalam kondisi apapun, termasuk keterbatasan alat serta perlengkapan medis," katanya.

Materi pelatihan BLS yang diberikan tim medis Indonesia kepada personel medis FARDC (tentara nasional Kongo) meliputi pertolongan terhadap problem jalan nafas (airway), pernafasan (breathing) dan sirkulasi jantung pembuluh darah (circulation) tanpa alat maupun dengan alat serta teknik transportasi korban luka.

TNI juga memperkenal teknik bedah sederhana untuk membebaskan jalan nafas dengan hewan percobaan kambing.

Pelatihan yang dilaksanakan dua hari sejak Rabu kemarin dipimpin Tim Medis Indonesia Mayor Laut (K) dr. Redemptus Yudadi SpB bertempat di Rumah Sakit level I Kontingen Indonesia.

Tim kesehatan Indonesia berjumlah 11 orang dan merupakan bagian dari Satuan Tugas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-F/Monuc pimpinan Mayor Czi Sugeng Haryadi Yogopranowo.

Tugas utama Kontingen Indonesia yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB di Kongo adalah memberikan bantuan Zeni kepada Monuc.

Monuc singkatan dari Mission de l'Organisation des Nations Unies en Republique Democratique du Congo /misi PBB di Kongo), sedangkan tugasnya adalah menciptakan perdamaian, membentuk pemerintahan yang kuat dan stabil di Kongo.
sumber antara

Unpar Segera Patenkan Temuan Obat

Pusat Penelitian Universitas Palangkaraya (Unpar) Kalimantan Tengah segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau paten beberapa jenis obat hasil penelitian, agar dapat dilindungi undang-undang.

Ketua Lembaga Penelitian Unpar, Prof. Ciptadi, saat ditemui dikantornya, Kamis (19/8), menegaskan beberapa obat tradisional yang berasal dari tumbuhan Kalteng telah menjalani proses penelitian, sehingga dapat dipastikan kegunaannya, dan dapat dilaporkan.

Beberapa jenis obat tersebut yakni obat pencahar atau obat yang dapat melancarkan pencernaan secara alami, obat penambah vitalitas dengan tumbuhan tertentu, yang tumbuh di Kalteng, tambahnya.

Tidak hanya penelitian obat, Unpar juga menggenjot berbagai objek penelitian yang merupakan khas Kalteng, seperti pertanian lahan gambut, dan berbagai penelitian teknologi tepat guna.

Penelitian teknologi tepat guna dilakukan untuk meningkatkan pelayanan di Kalteng dan pengembangan desain infrastruktur seperti pembuatan desain jembatan layang dan kincir angin untuk sumber tenaga.

Prof Ciptadi menjelaskan dari 750 dosen Unpar, sekitar 200 dosen secara rutin menyerahkan proposal penelitian, dan kebanyakan merupakan dosen muda.

Dirinya juga merasa senang, sebab jumlah dosen yang mengajukan proposal penelitian bertambah.

Peningkatan jumlah penelitian ini, menurutnya berkat adanya proses pelatihan dan pembinaan bagi para dosen, sehingga fungsi Lembaga Penelitian Unpar sebagai sebuah pemacu dan fasilitasi peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dapat terlaksana.

Selain itu, karena hasil penelitian juga kedepannya dapat dijadikan rujukan oleh para mahasiswa dalam menyusun penelitian, maka diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di tingkat Unpar itu sendiri.

Menurut data penelitian yang dimiliki lembaga pepenlitian Unpar, mulai tahun 2002 hingga tahun 2008, Unpar merupakan instansi yang paling banyak melakukan penelitian dibanding instansi pemerintah seperti dinas pendidikan.

Pendanaan penelitian sendiri didapatkan dengan cara pelaporan ke instansi pusat melalui beberapa program penelitian pemerintah, seperti penelitian strategis nasional (Rp100 juta), hibah bersaing (Rp40-Rp50 juta), fundamental (Rp40-Rp60 juta) dan penelitian kompetitif (hingga Rp1 miliar).

Prof Ciptadi berharap, beberapa penelitian yang sedang dalam proses penelitian dapat segera di selesaikan dan dapat segera dipatenkan, sehingga mampu menyokong pembangunan dari segi pendidikan dan pemanfaatan hasil penelitian, di Kalteng. [TMA, Ant] sumber : gatra

26 Agustus 2009

Tumbuhan Kamunah, Kontrasepsi Alami dari Kalteng

Kebiasaan masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dalam menggunakan tumbuhan kamunah (Croton Tiglium) sebagai obat untuk mengatur jarak kelahiran diakui sebagai obat kontrasepsi yang positif.

Demikian hasil penelitian terhadap tumbuhan kamunah yang dikemukakan Prof. Dr.H Ciptadi di Palangkaraya, Rabu, mengenai tumbuhan yang ternyata mengandung steroid dan terpenoid tersebut.

Suku dayak, katanya, mengkonsumsi serbuk dari batang atau air rebusan dari batang tumbuhan tersebut dan menjadikannya sebagai obat kontrasepsi tradisional. Menurut guru besar biokimia/kimia organik yang juga Ketua Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya (Unpar) Kalteng itu, kandungan steroid dan terpenoid dalam tumbuhan kamunah bisa dikembangkan menjadi obat-obatan untuk membantu masyarakat dalam mensukseskan program nasional Keluarga Berencana (KB).

Ia menjelaskan, pihaknya melakukan penelitian yang pada tahap awal dilakukan isolasi, identifikasi dari batang tumbuhan kamunah dengan ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan, klorofom dan etanol yang dapat memisahkan komponen-komponen senyawa metabolit sekunder.

Selanjutnya dilakukan kromatografi lapis tipis uuntuk mengetahui jumlah komponen senyawa yang ada pada ketiga ektrak tersebut, kemudian dilakukan pemurnian dengan kromatografi kolom.

Tahap berikutnya dilakukan uji bioktivitas dengan brine shrimp, dan untuk senyawa yang aktif akan dilakukan penelitian tahap berikutnya yaitu uji pra klinik dengan mencit dan elusidasi struktur atau penentuan struktur dengan spektroskopi IR.UV.MS, 13 C-NMR dan 1H-NMR.

Berdasarkan uji fitokimia kandungan metabolit sekunder untuk ketiga ekstrak tersebut adalah positif untuk steroid dan terpenoid, dan dari analisis brine shrimp dan ketiga ektrak tersebut menunjukkan senyawa yang sangat aktif dengan LC50

Obat kontrasepsi oral yang efekif dan paling banyak digunakan sekarang ini berasal dari golongan steroid. Perbedaannya kalau menggunakan batang tumbuhan kamunah hampir tidak ada efek sampingnya, walaupun demikian penelitian ini masih terus dilanjutkan untuk membuat formula yang tepat supaya lebih efektif penggunaannya.

Kalteng memang kaya akan tumbuhan yang berpotensi obat, dan beberapa sudah dilakukan penelitian, termasuk tumbuhan sepang (Claoxylon polot men) yang diketahui mengandung obat diabetes serta tanaman sarang semuat untuk beberapa jenis obat bagi kesehatan manusia.

sumber : kompas.com