Program Riset Unggulan Strategis Nasional(Rusnas) Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) yang dikelola IPB untuk pengembangan buah unggulan melepas 11 varietas unggul buah lokal manggis, nanas, pisang dan pepaya.
"Kami telah melepas 11 varietas buah lokal unggul, bahkan sudah ada yang hasil panennya diekspor," kata Kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB Sobir PhD dalam pertanggungjawaban dana Program Rusnas KRT di Jakarta, Rabu.
Sebelas varietas itu adalah tiga varietas pepaya (Sukma, Carisya, Callina) yang dilepas pada 2008-2009, satu varietas nanas (Mahkota) pada 2008, dua varietas pisang (Rajabulu Kuning, Unti Sayang) pada 2007, lima varietas manggis (Wanayasa, Puspahiang, Malinau, Marel, Raya) dilepas 2006-2009.
"Untuk manggis bahkan sudah sejak 2001 diekspor oleh sejumlah kelompok petani binaan yang proses budidayanya kami perbaiki, nanas sudah sejak 2008 mulai ekspor dan pisang mulai tahun ini," katanya.
Dana program Rusnas Buah Rp27 miliar dari KRT untuk IPB ini menurut Sobir, telah memberikan nilai ekonomi Rp211,7 miliar bagi petani buah dan dampak sosial Rp 405 milyar.
"Berarti selama 10 tahun, sejak dimulainya tahun 2000, setiap Rp1 investasi pemerintah ini dapat menghasilkan dampak sosial sebesar 15 kali lipat," katanya.
Hasil pengembangan varietas buah unggul ini telah dipasarkan dan didiseminasikan secara nasional berupa 20.530 bibit manggis, 222.000 bibit nenas 55.300 bibit pisang 185.250 bibit pepaya dan telah ditanam di hampir 200 hektare lahan di seluruh Indonesia.
Riset strategis buah unggulan IPB meliputi pengembangan teknik penentuan standard hara tanaman, pengembangan teknik produksi, pengendalian penyerbukan untuk meningkatkan kualitas buah, seperti ukuran buah, nilai gizi, dan jumlah biji.
Juga ketahanan tanaman dan pengembangan teknologi pascapanen untuk meningkatkan masa simpan dan nilai tambah seperti mempertahankan kesegaran dan kualitas manggis.
Menristek Suharna Surapranata mengatakan, program Rusnas diluncurkan pertama kali pada 2000 dengan pembiayaan tiga topik Rusnas yaitu Teknologi Informasi dan Mikroelektronika yang diserahkan ke ITB, Buah Unggulan Tropis kepada IPB, dan Budidaya Ikan Kerapu kepada BPPT.
Pada 2002 ditambah lagi tiga topik Rusnas yakni Industri Kelapa Sawit yang dikelola IPB, Diversifikasi Pangan kepada IPB, dan Pengembangan Engine Aluminium Paduan kepada BPPT.
Lalu pada 2006 ditambah dua topik baru yakni Rusnas Pengembangan Energi Baru kepada Unsri, Palembang, dan Pengembangan Industri Sapi kepada Unibraw, Malang.
Untuk mendukung kegiatan Rusnas dari tahun 2000-2009, maka KRT sudah membiayai total Rp124 miliar dan pada 2010 akan dilakukan evaluasi mendalam untuk riset strategis jangka panjang. (*)
sumber antara
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
02 Januari 2010
Beras NTB, Salah Satu Yang Terbaik
Kepala Divisi Regional Bulog Nusa Tenggara Barat (NTB), Rito Angky Pramono mengklaim, kualitas beras NTB adalah salah satu yang terbaik di Indonesia.
"Dengan demikian tidaklah heran jika banyak provinsi memesan beras dari NTB untuk memenuhi kebutuhan beras di daerah tersebut," katanya di Mataram, Sabtu.
Sejumlah provinsi yang memesan beras NTB adalah Bali, NTT, Maluku, Sematera Utara, Kalimantan, Papua dan Jakarta.
Sayangnya harga beras NTB adalah yang termurah di Indonesia sehingga Bulog tidak akan memaksa petani menurunkan harga berasnya.
Harga beras di NTB rata-rata Rp5.500 per kg hingga Rp6.000 per kg sementara daerah lain Rp7.000 - Rp9.000 per kg.
Rito mengatakan, karena murah, Bulog tidak perlu melakukan Operasi Pasar (OP) karena ini hanya akan membuat beras NTB menjadi lebih murah lagi sehingga merugikan petani.
Tahun 2009 Bulog NTB menargetkan membeli 268 ribu ton beras petani melampui target 210 ribu ton karena sepanjang tahun petani tidak putus panen.
"Pembelian beras petani adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat NTB disamping permintaan dari luar daerah seperti NTT dan Bali, Jakarta, Sumatera dan Papua," jelasnya. (*)
sumber antara
"Dengan demikian tidaklah heran jika banyak provinsi memesan beras dari NTB untuk memenuhi kebutuhan beras di daerah tersebut," katanya di Mataram, Sabtu.
Sejumlah provinsi yang memesan beras NTB adalah Bali, NTT, Maluku, Sematera Utara, Kalimantan, Papua dan Jakarta.
Sayangnya harga beras NTB adalah yang termurah di Indonesia sehingga Bulog tidak akan memaksa petani menurunkan harga berasnya.
Harga beras di NTB rata-rata Rp5.500 per kg hingga Rp6.000 per kg sementara daerah lain Rp7.000 - Rp9.000 per kg.
Rito mengatakan, karena murah, Bulog tidak perlu melakukan Operasi Pasar (OP) karena ini hanya akan membuat beras NTB menjadi lebih murah lagi sehingga merugikan petani.
Tahun 2009 Bulog NTB menargetkan membeli 268 ribu ton beras petani melampui target 210 ribu ton karena sepanjang tahun petani tidak putus panen.
"Pembelian beras petani adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat NTB disamping permintaan dari luar daerah seperti NTT dan Bali, Jakarta, Sumatera dan Papua," jelasnya. (*)
sumber antara
04 Desember 2009
Menanti Semerbak Teh Indonesia di Hong Kong
Pemerintah Indonesia, melalui Konsulat Jenderal Hong Kong, sedang mendorong potensi bisnis teh dari Indonesia ke Hong Kong melalui penjualan langsung.
Konsul Ekonomi Konjen Hong Kong Dicky Soerjanatamihardja mengatakan potensi bisnis teh dari Indonesia sangat besar karena pasarnya bukan hanya di Hong Kong, tapi juga Cina. Mulai tahun ini, pemerintah mengupayakan perintisan direct-selling teh Indonesia ke Hong Kong melalui berbagai negosiasi hingga pameran.
Pasarnya sangat menjanjikan karena Hong Kong menjadi salah satu wilayah di dunia dengan konsumsi teh hitam terbesar dan budaya minum teh menjadi penting di sini.
"Kita tidak menyadari potensi pasar Hong Kong sebagai salah satu konsumen teh hitam terbesar di dunia. Selama ini kita hanya mengekspor ke Belanda dan Inggris. Tahun ini kita mendorong teh masuk ke Hong Kong dan Cina," tuturnya ketika ditemui Kompas.com dan Jakarta Post di booth Konsulat Jeneral Indonesia di World SME Expo dan Inno Design Tech Expo di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, Kamis (3/12).
Dicky mengatakan selama ini teh Indonesia sering dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Dibeli dari pelelangan dengan harga murah dan diberi merk perusahaan tersebut.
Namun dari pengalaman sejak awal tahun ini, lanjutnya, direct-selling membuka kesempatan menjual teh murni dengan harga di atas rata-rata harga lelang. Saat ini, ungkap Dicky, pelakunya baru perkebunan PTP yang mengirimkan paling tidak empat kontainer setiap bulannya, baik jenis teh hijau maupun teh hitam.
Untuk tahun 2010, Dicky enggan mengungkapkannya. Menurutnya, Konsulat hanyalah fasilitator. Perusahaanlah yang berhak menetapkan target penjualan.
KOMPAS.com Caroline Damanik
Konsul Ekonomi Konjen Hong Kong Dicky Soerjanatamihardja mengatakan potensi bisnis teh dari Indonesia sangat besar karena pasarnya bukan hanya di Hong Kong, tapi juga Cina. Mulai tahun ini, pemerintah mengupayakan perintisan direct-selling teh Indonesia ke Hong Kong melalui berbagai negosiasi hingga pameran.
Pasarnya sangat menjanjikan karena Hong Kong menjadi salah satu wilayah di dunia dengan konsumsi teh hitam terbesar dan budaya minum teh menjadi penting di sini.
"Kita tidak menyadari potensi pasar Hong Kong sebagai salah satu konsumen teh hitam terbesar di dunia. Selama ini kita hanya mengekspor ke Belanda dan Inggris. Tahun ini kita mendorong teh masuk ke Hong Kong dan Cina," tuturnya ketika ditemui Kompas.com dan Jakarta Post di booth Konsulat Jeneral Indonesia di World SME Expo dan Inno Design Tech Expo di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, Kamis (3/12).
Dicky mengatakan selama ini teh Indonesia sering dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Dibeli dari pelelangan dengan harga murah dan diberi merk perusahaan tersebut.
Namun dari pengalaman sejak awal tahun ini, lanjutnya, direct-selling membuka kesempatan menjual teh murni dengan harga di atas rata-rata harga lelang. Saat ini, ungkap Dicky, pelakunya baru perkebunan PTP yang mengirimkan paling tidak empat kontainer setiap bulannya, baik jenis teh hijau maupun teh hitam.
Untuk tahun 2010, Dicky enggan mengungkapkannya. Menurutnya, Konsulat hanyalah fasilitator. Perusahaanlah yang berhak menetapkan target penjualan.
KOMPAS.com Caroline Damanik
17 Oktober 2009
Kalbar Kembangkan Bibit Sapi Unggul
- Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat mulai mengembangkan teknologi embryo transfer (ET) untuk ternak sapi guna meningkatkan produksi serta memperoleh bibit unggul.
"Untuk tahap pertama, dilakukan kelompok tani Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau Ledo Kabupaten Bengkayang," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf Mustafa, Sabtu.
Menurut dia, hasil dari pengembangbiakan sapi dengan teknologi ET baru diketahui sembilan bulan yang akan datang.
"Kalau bagus, maka lingkup kelompok tani yang mendapat bantuan akan semakin banyak dan tersebar," kata Abdul.
Ia menambahkan, peternak mendapat keuntungan karena anak sapi yang lahir dari pembuahan ET dapat sesuai dengan keinginan, bahkan dapat dibuat kembar kalau ditambah dengan sistem kawin suntik.
Teknik ET lebih cepat untuk mendapatkan bibit unggul dibanding dengan inseminasi buatan.
"Cukup satu kali transfer dengan embrio unggul, anak sapi yang lahir dapat disebut sebagai bibit unggul. Tanpa menunggu sampai keturunan kedua atau ketiga," kata dia.
Dari berbagai literatur, teknik ET mempunyai angka keberhasilan yang cukup baik yakni sekitar 55 - 65 persen (embrio segar) dan 50-60 persen (embrio beku).
Peternak perlu memerhatikan perlakukan pascatransfer dimana sapi penerima harus diistirahatkan dalam kandang selama proses pelekatan embrio pada dinding uterus.
Secara teoritis, seekor sapi donor dapat menghasilkan 20 - 50 embrio per tahun, padahal pada keadaan normal hanya mampu menghasilkan seekor anak per tahun.
"Untuk tahap pertama, dilakukan kelompok tani Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau Ledo Kabupaten Bengkayang," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf Mustafa, Sabtu.
Menurut dia, hasil dari pengembangbiakan sapi dengan teknologi ET baru diketahui sembilan bulan yang akan datang.
"Kalau bagus, maka lingkup kelompok tani yang mendapat bantuan akan semakin banyak dan tersebar," kata Abdul.
Ia menambahkan, peternak mendapat keuntungan karena anak sapi yang lahir dari pembuahan ET dapat sesuai dengan keinginan, bahkan dapat dibuat kembar kalau ditambah dengan sistem kawin suntik.
Teknik ET lebih cepat untuk mendapatkan bibit unggul dibanding dengan inseminasi buatan.
"Cukup satu kali transfer dengan embrio unggul, anak sapi yang lahir dapat disebut sebagai bibit unggul. Tanpa menunggu sampai keturunan kedua atau ketiga," kata dia.
Dari berbagai literatur, teknik ET mempunyai angka keberhasilan yang cukup baik yakni sekitar 55 - 65 persen (embrio segar) dan 50-60 persen (embrio beku).
Peternak perlu memerhatikan perlakukan pascatransfer dimana sapi penerima harus diistirahatkan dalam kandang selama proses pelekatan embrio pada dinding uterus.
Secara teoritis, seekor sapi donor dapat menghasilkan 20 - 50 embrio per tahun, padahal pada keadaan normal hanya mampu menghasilkan seekor anak per tahun.
16 Oktober 2009
Boyolali Kembangkan Industri Pengolahan Keju
Kabupaten Boyolali di Jawa Tengah mulai mengembangkan industri pengolahan keju dengan pengoperasian koperasi serba usaha keju di Kecamatan Boyolali Kota. Hal ini diharapkan bisa menjadi pasar alternatif penyerap susu produksi peternak lokal, sekaligus memancing animo peternak meningkatkan kualitas susu.
Koperasi keju itu didirikan swadaya masyarakat dengan modal awal Rp 350 juta dan mendapat bantuan tenaga ahli dari lembaga donor milik pemerintah Jerman, Deutscher Entwicklungsdienst (DED). Setelah uji coba sejak tahun 2007, koperasi itu akhirnya diresmikan, Jumat (16/10). Koperasi itu setiap hari mampu mengolah sekitar 500 liter susu segar menjadi 50 kilogram keju murni jenis mozarella, feta, dan mountain.
"Dua bulan terakhir sudah mulai mencoba beroperasi dengan kapasitas penuh. Sementara ini pasar kami sejumlah hotel berbintang di Solo, Jakarta, dan Bali. Harga jualnya berkisar Rp 90.000 hingga Rp 130.000 per kilogram," kata Ketua Koperasi Serba Usaha Keju Boyolali, Novianto.
sumber kompas
Koperasi keju itu didirikan swadaya masyarakat dengan modal awal Rp 350 juta dan mendapat bantuan tenaga ahli dari lembaga donor milik pemerintah Jerman, Deutscher Entwicklungsdienst (DED). Setelah uji coba sejak tahun 2007, koperasi itu akhirnya diresmikan, Jumat (16/10). Koperasi itu setiap hari mampu mengolah sekitar 500 liter susu segar menjadi 50 kilogram keju murni jenis mozarella, feta, dan mountain.
"Dua bulan terakhir sudah mulai mencoba beroperasi dengan kapasitas penuh. Sementara ini pasar kami sejumlah hotel berbintang di Solo, Jakarta, dan Bali. Harga jualnya berkisar Rp 90.000 hingga Rp 130.000 per kilogram," kata Ketua Koperasi Serba Usaha Keju Boyolali, Novianto.
sumber kompas
08 Oktober 2009
Kopi Luwak Indonesia Favorit di Jerman
Aroma kopi semerbak di ruangan Cafe Die Rosterei, Monckebergstr, menyambut tamu di acara "Indonesian Coffee Day" yang diadakan KJRI Hamburg dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), di kawasan perbelanjaan utama kota Hamburg.
Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT RI ke-64 dan menyambut Hari Kopi ke-4 "Tag des Kaffees" Jerman diperingati setiap tahun, demikian keterangan pers KJRI Hamburg yang diterima Antara London, Rabu (7/10).
Alunan musik gamelan menyambut sekitar 80 undangan di antaranya Dean Consular Corps Zarko Plevnik Konsul Jenderal Kroasia, pejabat Protokol Senat Hamburg Wiebke Haubold, Kamar Dagang, Asosiasi Pengusaha Asia Pasific Gero Winkler, Direktur Asosiasi Kopi Jerman Holger Preibisch serta Importir Kopi dan pengurus DIG serta media masa setempat.
Konsul Jenderal RI di Hamburg Teuku Darmawan menyampaikan terima kasih atas kedatangan undangan dalam acara "Indonesian Coffee Day" yang dimaksudkan untuk mempromosikan kopi Indonesia di Jerman.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan perkembangan mengenai korban musibah gempa bumi di Sumatera Barat dan menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Jerman yang memberikan bantuan sebesar tiga juta dolar AS.
Pasar Jerman merupakan pasar yang sangat penting untuk Indonesia. Kopi Indonesia disukai di Jerman, karena mempunyai kekhasan cita rasa tersendiri dibandingkan dengan kopi-kopi dari negara lain, ujarnya.
Hubungan Indonesia dan Jerman sangat erat dan kerja sama kedua negara dapat ditingkatkan di segala bidang, antara lain bidang ekonomi, investasi, lingkungan hidup serta perubahan iklim.
Sementara itu pengusaha ekspor kopi, Dermawan Nur, menjelaskan mengenai kopi Indonesia kepada hadirin serta informasi tentang peluang kerjasama khususnya di bidang kopi organik.
Banyak perusahaan kecil menengah Indonesia yang memerlukan partner untuk dapat memenuhi standard ekspor agar memiliki sertifikat sebagai produser kopi organik, ujarnya.
Dikatakannya spesifikasi kopi Indonesia dapat dilihat dari warna kopi serta aromanya dan cita rasa masing-masing jenis kopi melalui berbagai kopi seduh untuk dicicipi.
Setiap undangan mendapat kesempatan mencicipi kopi Gayo dari Aceh, kopi Papua, kopi Flores, kopi Toraja Sulawesi serta kopi Luwak Sumatera. Acara "coffee tasting" tersebut mendapat sambutan yang positif. Sebagian besar menyukai kopi luwak, karena rasa dan aromanya berbeda dengan kopi lainnya.
KJRI Hamburg juga menampilkan seni budaya Indonesia berupa tari tarian, seperti tari Belibis dari pulau Bali dan gamelan serta lagu-lagu tradisional Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut juga diputar film tentang pariwisata Indonesia, serta dibagikan brosur dan leaflet tentang obyek wisata di Indonesia.
Acara tersebut mendapat apresiasi dalam memperkenalkan keunikan kopi Indonesia dan diharapkan impor kopi Indonesia di Jerman akan meningkat pada masa depan.
Impor kopi Jerman rata-rata di atas 1 juta ton per tahun dan merupakan pasar terbesar di seluruh Eropa dan pasar Jerman merupakan pasar yang sangat penting bagi kopi Indonesia.
Impor kopi dari Indonesia ke Jerman tercatat 146 juta euro pada tahun 2008 dan dalam tiga tahun terakhir impor kopi Indonesia menunjukkan posisi ke lima sebagai pemasok kopi untuk pasar Jerman.
sumber : kompas
Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT RI ke-64 dan menyambut Hari Kopi ke-4 "Tag des Kaffees" Jerman diperingati setiap tahun, demikian keterangan pers KJRI Hamburg yang diterima Antara London, Rabu (7/10).
Alunan musik gamelan menyambut sekitar 80 undangan di antaranya Dean Consular Corps Zarko Plevnik Konsul Jenderal Kroasia, pejabat Protokol Senat Hamburg Wiebke Haubold, Kamar Dagang, Asosiasi Pengusaha Asia Pasific Gero Winkler, Direktur Asosiasi Kopi Jerman Holger Preibisch serta Importir Kopi dan pengurus DIG serta media masa setempat.
Konsul Jenderal RI di Hamburg Teuku Darmawan menyampaikan terima kasih atas kedatangan undangan dalam acara "Indonesian Coffee Day" yang dimaksudkan untuk mempromosikan kopi Indonesia di Jerman.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan perkembangan mengenai korban musibah gempa bumi di Sumatera Barat dan menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Jerman yang memberikan bantuan sebesar tiga juta dolar AS.
Pasar Jerman merupakan pasar yang sangat penting untuk Indonesia. Kopi Indonesia disukai di Jerman, karena mempunyai kekhasan cita rasa tersendiri dibandingkan dengan kopi-kopi dari negara lain, ujarnya.
Hubungan Indonesia dan Jerman sangat erat dan kerja sama kedua negara dapat ditingkatkan di segala bidang, antara lain bidang ekonomi, investasi, lingkungan hidup serta perubahan iklim.
Sementara itu pengusaha ekspor kopi, Dermawan Nur, menjelaskan mengenai kopi Indonesia kepada hadirin serta informasi tentang peluang kerjasama khususnya di bidang kopi organik.
Banyak perusahaan kecil menengah Indonesia yang memerlukan partner untuk dapat memenuhi standard ekspor agar memiliki sertifikat sebagai produser kopi organik, ujarnya.
Dikatakannya spesifikasi kopi Indonesia dapat dilihat dari warna kopi serta aromanya dan cita rasa masing-masing jenis kopi melalui berbagai kopi seduh untuk dicicipi.
Setiap undangan mendapat kesempatan mencicipi kopi Gayo dari Aceh, kopi Papua, kopi Flores, kopi Toraja Sulawesi serta kopi Luwak Sumatera. Acara "coffee tasting" tersebut mendapat sambutan yang positif. Sebagian besar menyukai kopi luwak, karena rasa dan aromanya berbeda dengan kopi lainnya.
KJRI Hamburg juga menampilkan seni budaya Indonesia berupa tari tarian, seperti tari Belibis dari pulau Bali dan gamelan serta lagu-lagu tradisional Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut juga diputar film tentang pariwisata Indonesia, serta dibagikan brosur dan leaflet tentang obyek wisata di Indonesia.
Acara tersebut mendapat apresiasi dalam memperkenalkan keunikan kopi Indonesia dan diharapkan impor kopi Indonesia di Jerman akan meningkat pada masa depan.
Impor kopi Jerman rata-rata di atas 1 juta ton per tahun dan merupakan pasar terbesar di seluruh Eropa dan pasar Jerman merupakan pasar yang sangat penting bagi kopi Indonesia.
Impor kopi dari Indonesia ke Jerman tercatat 146 juta euro pada tahun 2008 dan dalam tiga tahun terakhir impor kopi Indonesia menunjukkan posisi ke lima sebagai pemasok kopi untuk pasar Jerman.
sumber : kompas
08 September 2009
4 Negara Tetangga Belajar Teknologi Pertanian di Indonesia
Pelatihan teknologi perilaku benih dan bibit tersebut diberikan PT Syngenta Indonesia, melalui program 'Expo Teknologi' selama empat hari di Cikampek, Karawang, Jabar, sejak Senin 7 September kemarin.
"Petani perlu terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, termasuk dalam pemakaian pestisida yang benar dan tepat, baik dari segi pemilihan jenis pestisida, ketepatan waktu dan jumlah, cara penggunaan, maupun sasaran yang hendak dikendalikan," ujar Direktur Utama PT Syngenta Indonesia Arshad Saeed Husain di Jakarta, Selasa (8/9/2009).
Arshad mengungkapkan, keberhasilan panen petani sangat ditentukan dari perlakuan sejak awal pertumbuhan suatu tanaman, baik pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Pemeliharaan kesehatan (perlindungan hama dan penyakit) tanaman sebaiknya dilakukan sejak dini, yakni mulai dari benih dan pembibitan.
"Benih atau bibit adalah awal dari sebuah kehidupan. Begitu juga bagi tanaman. Keberhasilan panen petani sangat ditentukan dari perlakuan sejak awal pertumbuhan suatu tanaman yang dibudidayakan," jelas dia.
Oleh karenanya, dia menambahkan, pemeliharaan kesehatan (perlindungan hama dan penyakit) tanaman sebaiknya dilakukan sejak awal, yakni mulai dari benih dan pembibitan.
Di samping puluhan petani dari negara tetangga, program pelatihan tersebut juga diikuti 2.000 petani dari sejumlah daerah, di antaranya dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung, termasuk petani binaan Sygenta dari China, Singapura dan Thailand. Komoditas usaha taninya berupa padi, jagung, kacang-kacangan, aneka sayuran dataran rendah, tembakau, dan tanaman hias.
Syngenta Asia Pasifik menganggap Expo Teknologi yang dilakukan Syngenta Indonesia tersebut telah diakui dan ditetapkan sebagai model kegiatan dan standard Expo Teknologi bagi petani di negara-negara Asia Pasifik lainnya. Sehingga tidak heran, tamu-tamu dari berbagai negara berdatangan dan bahkan membawa petani dan distributor dari masing-masing negaranya untuk mempelajari cara-cara aplikasi teknologi perlakuan benih dan bibit tersebut langsung dari sumbernya di Indonesia.(Sudarsono/Koran SI/rhs)
sumber okezone
03 September 2009
Peternak Tidak Harus Ngarit Lagi
Kusmayanto Kadiman berbagi cerita. "Pada saat musim kering, peternak tidak kurang akal. Mereka menyematkan kacamata hijau pada ternak agar mau makan rumput mati," tuturnya.
Mendengar cerita itu, hadirin kontan terbahak-bahak. "Ini betul terjadi," Kusmayanto, Menteri Negara Riset dan Teknologi, meyakinkan. Kusmayanto menyampaikan cerita itu ketika berdialog dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-14 di Jakarta, 10 Agustus lalu.
Kejadian sapi berkacamata hijau itu terjadi di Cijangkar, Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Di situ, tiap kali masa panen jagung tiba, persediaan pakan pun berlimpah. Saking banyaknya, ternak yang dimiliki petani tidak sanggup menghabiskan hijauan segar itu. Oleh peternak, sebagian pakan itu kemudian disimpan sebagai pakan kering yang akan dimanfaatkan pada musim paceklik.
Tapi masalah muncul, lantaran ternak enggan memakan makanan kering. Itu sebabnya, untuk kamuflase, pada ternak itu dikenakan kacamata hijau.
Nah, agar ternak tidak perlu lagi memakai kacamata hijau, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) punya cara lain. Yakni dengan teknologi ensilasi atau teknologi fermentasi anaerob (tanpa oksigen) yang memberikan kesempatan pada bakteri asam laktat (Lactobacillus sp) untuk memproduksi asam laktat organik.
Diah Asri Erowati, peneliti di Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, menjelaskan bahwa dalam pembuatan silase konvensional, biasanya karbohidrat --dedak dan onggok-- dicampur-campur dengan hijauan yang dicincang. Nah, dengan metode baterai, karbohidrat tidak dicampur, melainkan ditempatkan di atas hijauan dalam drum plastik.
Caranya, rajangan tumbuhan hijau dimasukkan ke drum plastik hingga padat. Baru pada bagian atas ditambahkan karbohidrat dan ditutup rapat. Produk yang dihasilkan dari teknik ensilasi itu adalah silase.
Silase adalah awetan pakan ternak berbahan baku tumbuhan hijau, limbah pertanian, dan bahan pakan alami lainnya. Dengan kadar air tertentu, bahan itu dimasukkan ke sebuah wadah tertutup rapat kedap udara --biasa disebut silo.
Peneliti BPPT menggunakan drum plastik sebagai silo agar mudah dipindah-pindahkan dalam kondisi anaerob. Juga mudah untuk memadatkan cacahan hijauan sehingga satu drum sanggup menampung 100 kilogram. Metode baterai merupakan inovasi pada penerapan teknologi ensilasi, guna memanfaatkan karbohidrat berupa dedak dan onggok.
Dalam proses penyimpanan, silo dibalik, agar cairannya turun dan diserap karbohidrat. Dengan diserapnya air, proses fermentasi tidak akan berlanjut menjadi alkohol, karena pembentukan alkohol memerlukan air. Sehingga silasenya menjadi kering, wangi, dan manis. Dengan metode ini, secara teori, hijauan bisa tahan hingga tiga tahun.
Menurut Asri, karbohidrat penyerap air harus dipanen tiga bulan sekali. "Jika warnanya hitam-hitam, jangan diberikan pada ternak," katanya. Tanda-tanda hitam itu menunjukkan bahwa karbohidrat telah membusuk. "Tetapi ada yang sampai lima bulan tetap bagus. Mungkin tergantung mutu karbohidratnya," ia menambahkan.
Karbohidrat yang bagus itu bisa menjadi makanan tambahan atau konsentrat untuk ternak. Konsentrat adalah bahan makanan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna.
Dalam proses pengawetan tersebut memang terjadi penurunan nilai gizi. "Yang namanya pengawetan pasti menurunkan nilai gizi," kata Asri. Namun ensilasi yang merupakan pengawetan basah hanya menurunkan sedikit kadar gizi hijauan, yakni 5%. Ensilasi juga tidak menggunakan energi, sehingga terik ataupun tidak, tetap bisa diawetkan.
Bandingkan dengan pengawetan kering dengan penjemuran yang menurunkan kadar protein hingga 60%. Kelebihan lain silase adalah mengandung mikroba yang menguntungkan untuk pencernaan ternak karena bisa meningkatkan kinerja fili-fili usus dalam menyerap makanan. Sehingga ternak lebih gampang gemuk.
Dengan demikian, silase akan menguntungkan peternak. Setiap 22,2 kilogram silase sanggup mendongkrak satu kilogram berat badan ternak. Bandingkan dengan rumput lapangan segar yang memerlukan 27,3 kilogram. Dengan menggunakan drum ensilasi, peternak juga menghemat pengeluaran untuk pakan ternak.
"Ensilasi bisa menghemat hingga 100% dibandingkan dengan ngarit biasa. Dengan setiap hari ngarit, biaya per hari Rp 10.000 untuk per ekor sapi. Dengan silase, cukup Rp 5.000," ujar Asri.
Selain itu, juga meningkatkan kemampuan petani dalam memelihara sapi dalam kandang komunal. Dengan ngarit biasa, satu orang hanya sanggup memelihara maksimal tiga ekor sapi. Sedangkan dengan ensilasi, satu orang bisa memelihara 20 ekor sapi.
Caranya dengan menabung makanan ketika panen raya dan menyimpannya dalam drum-drum ensilasi. Lagi pula, setelah habis, drum-drum ensilasi bisa diisi ulang seperti tabung elpiji atau galon air kemasan.
Diah Asri berharap, perbankan mau membantu memodali petani untuk mengadakan drum-drum ensilasi. Satu drum harganya sekitar Rp 100.000. Dengan kredit Rp 3 juta, petani bisa mengadakan 30 drum dengan kapasitas 3 ton silase. Cukup untuk pakan tiga ekor sapi selama dua bulan. Jika biaya produksi per kilogram silase Rp 300, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk pakan Rp 900.000 per dua bulan untuk tiga ekor sapi.
Jika diproduksi secara pabrikan, harga silase bisa Rp 400 per kilogram saat panen raya. Sedangkan di musim penghujan dan tidak panen raya, bisa Rp 600 per kilogram. Pada musim kering bisa lebih mahal lagi.
Dalam setahun, Indonesia memiliki tiga bulan yang sangat kering. "Dalam kondisi demikian, dengan harga Rp 1.200 per kilogram pun peternak mau," tutur Asri.
Jika diproduksi secara pabrikan, produksi 300 ton silase memerlukan 3.000 drum. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 4,5 milyar. "Itu cukup untuk 1.000 ekor sapi," katanya. Yang terpenting, petani harus memiliki drum sendiri, sehingga ketika habis, tinggal diisi ulang. Memang penyimpanan drum-drum itu memerlukan tempat, tapi bisa ditempatkan di pabrik dan dipungut biaya sewa.
Tentu pabrik itu berada di daerah-daerah sentra peternakan, yang sekaligus tersedia pertanian dengan tanaman jagung atau tebu. "Meskipun hijauan itu pada musim kering sulit didapat," katanya. Dengan tersedianya silase di pabrik, peternak tidak perlu lagi menyematkan kacamata hijau untuk memacu selera makan ternaknya. Sebab silase yang berbau wangi, manis, dan kesat itu sangat disukai ternak.
Berkat inovasinya, Asri mendapat penghargaan sebagai peneliti skema insentif ristek yang bisa diterapkan pada industri bidang ketahanan pangan.
sumber gatra
Mendengar cerita itu, hadirin kontan terbahak-bahak. "Ini betul terjadi," Kusmayanto, Menteri Negara Riset dan Teknologi, meyakinkan. Kusmayanto menyampaikan cerita itu ketika berdialog dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-14 di Jakarta, 10 Agustus lalu.
Kejadian sapi berkacamata hijau itu terjadi di Cijangkar, Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat. Di situ, tiap kali masa panen jagung tiba, persediaan pakan pun berlimpah. Saking banyaknya, ternak yang dimiliki petani tidak sanggup menghabiskan hijauan segar itu. Oleh peternak, sebagian pakan itu kemudian disimpan sebagai pakan kering yang akan dimanfaatkan pada musim paceklik.
Tapi masalah muncul, lantaran ternak enggan memakan makanan kering. Itu sebabnya, untuk kamuflase, pada ternak itu dikenakan kacamata hijau.
Nah, agar ternak tidak perlu lagi memakai kacamata hijau, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) punya cara lain. Yakni dengan teknologi ensilasi atau teknologi fermentasi anaerob (tanpa oksigen) yang memberikan kesempatan pada bakteri asam laktat (Lactobacillus sp) untuk memproduksi asam laktat organik.
Diah Asri Erowati, peneliti di Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, menjelaskan bahwa dalam pembuatan silase konvensional, biasanya karbohidrat --dedak dan onggok-- dicampur-campur dengan hijauan yang dicincang. Nah, dengan metode baterai, karbohidrat tidak dicampur, melainkan ditempatkan di atas hijauan dalam drum plastik.
Caranya, rajangan tumbuhan hijau dimasukkan ke drum plastik hingga padat. Baru pada bagian atas ditambahkan karbohidrat dan ditutup rapat. Produk yang dihasilkan dari teknik ensilasi itu adalah silase.
Silase adalah awetan pakan ternak berbahan baku tumbuhan hijau, limbah pertanian, dan bahan pakan alami lainnya. Dengan kadar air tertentu, bahan itu dimasukkan ke sebuah wadah tertutup rapat kedap udara --biasa disebut silo.
Peneliti BPPT menggunakan drum plastik sebagai silo agar mudah dipindah-pindahkan dalam kondisi anaerob. Juga mudah untuk memadatkan cacahan hijauan sehingga satu drum sanggup menampung 100 kilogram. Metode baterai merupakan inovasi pada penerapan teknologi ensilasi, guna memanfaatkan karbohidrat berupa dedak dan onggok.
Dalam proses penyimpanan, silo dibalik, agar cairannya turun dan diserap karbohidrat. Dengan diserapnya air, proses fermentasi tidak akan berlanjut menjadi alkohol, karena pembentukan alkohol memerlukan air. Sehingga silasenya menjadi kering, wangi, dan manis. Dengan metode ini, secara teori, hijauan bisa tahan hingga tiga tahun.
Menurut Asri, karbohidrat penyerap air harus dipanen tiga bulan sekali. "Jika warnanya hitam-hitam, jangan diberikan pada ternak," katanya. Tanda-tanda hitam itu menunjukkan bahwa karbohidrat telah membusuk. "Tetapi ada yang sampai lima bulan tetap bagus. Mungkin tergantung mutu karbohidratnya," ia menambahkan.
Karbohidrat yang bagus itu bisa menjadi makanan tambahan atau konsentrat untuk ternak. Konsentrat adalah bahan makanan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna.
Dalam proses pengawetan tersebut memang terjadi penurunan nilai gizi. "Yang namanya pengawetan pasti menurunkan nilai gizi," kata Asri. Namun ensilasi yang merupakan pengawetan basah hanya menurunkan sedikit kadar gizi hijauan, yakni 5%. Ensilasi juga tidak menggunakan energi, sehingga terik ataupun tidak, tetap bisa diawetkan.
Bandingkan dengan pengawetan kering dengan penjemuran yang menurunkan kadar protein hingga 60%. Kelebihan lain silase adalah mengandung mikroba yang menguntungkan untuk pencernaan ternak karena bisa meningkatkan kinerja fili-fili usus dalam menyerap makanan. Sehingga ternak lebih gampang gemuk.
Dengan demikian, silase akan menguntungkan peternak. Setiap 22,2 kilogram silase sanggup mendongkrak satu kilogram berat badan ternak. Bandingkan dengan rumput lapangan segar yang memerlukan 27,3 kilogram. Dengan menggunakan drum ensilasi, peternak juga menghemat pengeluaran untuk pakan ternak.
"Ensilasi bisa menghemat hingga 100% dibandingkan dengan ngarit biasa. Dengan setiap hari ngarit, biaya per hari Rp 10.000 untuk per ekor sapi. Dengan silase, cukup Rp 5.000," ujar Asri.
Selain itu, juga meningkatkan kemampuan petani dalam memelihara sapi dalam kandang komunal. Dengan ngarit biasa, satu orang hanya sanggup memelihara maksimal tiga ekor sapi. Sedangkan dengan ensilasi, satu orang bisa memelihara 20 ekor sapi.
Caranya dengan menabung makanan ketika panen raya dan menyimpannya dalam drum-drum ensilasi. Lagi pula, setelah habis, drum-drum ensilasi bisa diisi ulang seperti tabung elpiji atau galon air kemasan.
Diah Asri berharap, perbankan mau membantu memodali petani untuk mengadakan drum-drum ensilasi. Satu drum harganya sekitar Rp 100.000. Dengan kredit Rp 3 juta, petani bisa mengadakan 30 drum dengan kapasitas 3 ton silase. Cukup untuk pakan tiga ekor sapi selama dua bulan. Jika biaya produksi per kilogram silase Rp 300, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk pakan Rp 900.000 per dua bulan untuk tiga ekor sapi.
Jika diproduksi secara pabrikan, harga silase bisa Rp 400 per kilogram saat panen raya. Sedangkan di musim penghujan dan tidak panen raya, bisa Rp 600 per kilogram. Pada musim kering bisa lebih mahal lagi.
Dalam setahun, Indonesia memiliki tiga bulan yang sangat kering. "Dalam kondisi demikian, dengan harga Rp 1.200 per kilogram pun peternak mau," tutur Asri.
Jika diproduksi secara pabrikan, produksi 300 ton silase memerlukan 3.000 drum. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 4,5 milyar. "Itu cukup untuk 1.000 ekor sapi," katanya. Yang terpenting, petani harus memiliki drum sendiri, sehingga ketika habis, tinggal diisi ulang. Memang penyimpanan drum-drum itu memerlukan tempat, tapi bisa ditempatkan di pabrik dan dipungut biaya sewa.
Tentu pabrik itu berada di daerah-daerah sentra peternakan, yang sekaligus tersedia pertanian dengan tanaman jagung atau tebu. "Meskipun hijauan itu pada musim kering sulit didapat," katanya. Dengan tersedianya silase di pabrik, peternak tidak perlu lagi menyematkan kacamata hijau untuk memacu selera makan ternaknya. Sebab silase yang berbau wangi, manis, dan kesat itu sangat disukai ternak.
Berkat inovasinya, Asri mendapat penghargaan sebagai peneliti skema insentif ristek yang bisa diterapkan pada industri bidang ketahanan pangan.
sumber gatra
28 Agustus 2009
Makin Luas Lahan Pertanian, Makin Sedikit Angka Pengangguran
Luas lahan pertanian Kabupaten Gorontalo (Kabgor), dianggap mampu menurunkan angka pengangguran di daerah itu. Gorontalo membutuhkan tenaga-tenaga professional untuk menanganinya. "Dengan luas lahan yang ada, sangat membutuhkan tenaga professional untuk mengelola," kata David, Jumat.
Menurut dia bahwa, luasnya lahan pertanian di Kabgor pada dasarnya memiliki potensi besar dalam pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Luas lahan yang tersebar di wilayah Kabgor mampu untuk menghapus angka kemiskinan yang ada, kerena saat ini 13.400 hektar sawah yang produktif, membutuhkan tenaga pertanian sebanyak 90 ribu orang.
"Untuk mengelola areal pertanian tersebut, diperlukan tenaga kerja yang banyak dan tentunya profesional," kata David.
Dia menambahkan bahwa, jumlah pengangguran di Kabgor saat ini, menunjukkan besaran angka dibawah kebutuhan pengelola lahan yang tersedia. "Jumlah pengangguran lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan tenaga untuk mengerjakan lahan pertanian," tambahnya.
Sehingga dapat dikatakan areal lahan yang ada saat ini, mampu menghapus angka kemiskinan yang diakibatkan karena kurangnya lapangan kerja.
Untuk menyikapi hal tersebut, saat ini pihak pemerintah telah melakukan pelatihan keterampilan kepada 100 orang warga, yang akan mengerjakan lahan yang sudah disiapkan.
"Seratus orang tenaga kerja itu, sudah diberikan keterampilan untuk mengelola lahan pertanian," kata David.
SUMBER : KOMPAS
Menurut dia bahwa, luasnya lahan pertanian di Kabgor pada dasarnya memiliki potensi besar dalam pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Luas lahan yang tersebar di wilayah Kabgor mampu untuk menghapus angka kemiskinan yang ada, kerena saat ini 13.400 hektar sawah yang produktif, membutuhkan tenaga pertanian sebanyak 90 ribu orang.
"Untuk mengelola areal pertanian tersebut, diperlukan tenaga kerja yang banyak dan tentunya profesional," kata David.
Dia menambahkan bahwa, jumlah pengangguran di Kabgor saat ini, menunjukkan besaran angka dibawah kebutuhan pengelola lahan yang tersedia. "Jumlah pengangguran lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan tenaga untuk mengerjakan lahan pertanian," tambahnya.
Sehingga dapat dikatakan areal lahan yang ada saat ini, mampu menghapus angka kemiskinan yang diakibatkan karena kurangnya lapangan kerja.
Untuk menyikapi hal tersebut, saat ini pihak pemerintah telah melakukan pelatihan keterampilan kepada 100 orang warga, yang akan mengerjakan lahan yang sudah disiapkan.
"Seratus orang tenaga kerja itu, sudah diberikan keterampilan untuk mengelola lahan pertanian," kata David.
SUMBER : KOMPAS
26 Agustus 2009
Srilangka Tertarik Program Gorontalo
Gorontalo, Tribun - Setelah dua kali mengadakan kunjungan ke Provinsi Gorontalo, negara tetangga Srilangka sangat tertarik dengan program pembangunan di daerah ini, terutama pada bidang pertanian.
Gubernur Gorontalo Fadel Muhamad mengatakan provinsi yang dipimpinnya bukan saja menarik perhatian daerah di Indonesia, namun beberapa negara tetangga seperti Korea Selatan, Malysia, Italia, dan Srilangka telah menjajaki kerja sama.
"Negara tetangga tersebut sangat tertarik dengan program unggulan Provinsi Gorontalo terutama disektor pertanian dan perikanan," kata Fadel, Senin (3/8).
Menurut dia, khusus untuk Srilangka sangat terkesan dengan pembangunan di Gorontalo, ini disampaikan langsung oleh Duta Besar negara tersebut Djafar, beberapa hari yang lalu.
Dubes Srilangka kata Fadel, telah memberitahukan bahwa keberhasilan pembangunan di berbagai sektor yang dilakukan Gorontalo, akan dijadikan sebagai contoh di negara tetangga tersebut.
"Saya sangat kagum dengan daerah yang dipimpin oleh Bapak, nantinya Srilangka akan mengikutinya," kata Fadel, menirukan penyampaian Dubes.
"Pemerintah Srilangka juga, akan menunggu kedatangan Gubernur Gorontalo bersama jajaran untuk berkunjung ke negara tersebut," kata Fadel.
Beberapa waktu lalu pemerintah Srilangka yang dipimpin penasehat Presiden berkunjung ke Gorontalo, untuk menjalin kerja sama dengan daerah ini, pada sektor pertanian.
Bentuk kerja sama tersebut akan segera ditindak lanjuti, karena dalam waktu dekat Srilangka akan mendatangkan para petani di wilayahnya, untuk belajar program tanaman jagung di Gorontalo.(ba)
sumber : tribun timur
Gubernur Gorontalo Fadel Muhamad mengatakan provinsi yang dipimpinnya bukan saja menarik perhatian daerah di Indonesia, namun beberapa negara tetangga seperti Korea Selatan, Malysia, Italia, dan Srilangka telah menjajaki kerja sama.
"Negara tetangga tersebut sangat tertarik dengan program unggulan Provinsi Gorontalo terutama disektor pertanian dan perikanan," kata Fadel, Senin (3/8).
Menurut dia, khusus untuk Srilangka sangat terkesan dengan pembangunan di Gorontalo, ini disampaikan langsung oleh Duta Besar negara tersebut Djafar, beberapa hari yang lalu.
Dubes Srilangka kata Fadel, telah memberitahukan bahwa keberhasilan pembangunan di berbagai sektor yang dilakukan Gorontalo, akan dijadikan sebagai contoh di negara tetangga tersebut.
"Saya sangat kagum dengan daerah yang dipimpin oleh Bapak, nantinya Srilangka akan mengikutinya," kata Fadel, menirukan penyampaian Dubes.
"Pemerintah Srilangka juga, akan menunggu kedatangan Gubernur Gorontalo bersama jajaran untuk berkunjung ke negara tersebut," kata Fadel.
Beberapa waktu lalu pemerintah Srilangka yang dipimpin penasehat Presiden berkunjung ke Gorontalo, untuk menjalin kerja sama dengan daerah ini, pada sektor pertanian.
Bentuk kerja sama tersebut akan segera ditindak lanjuti, karena dalam waktu dekat Srilangka akan mendatangkan para petani di wilayahnya, untuk belajar program tanaman jagung di Gorontalo.(ba)
sumber : tribun timur
Beras Organik Tasik Tembus Pasar Amerika
Wajah sumringah Uu Syaeful Bachri, petani padi dari Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, tak bisa lagi disembunyikan ketika dia mendapati beras organik produknya mampu menembus pasar Amerika Serikat.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Simpatik itu, yang telah tujuh tahun merintis menanam padi organik dengan metode sistem rice of intensification (SRI) kini bisa berbangga hati karena produknya diakui dunia.
Pada Kamis, 19 Agustus, Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya melepas ekspor perdana beras organik untuk pasar AS
Ekspor beras organik yang merupakan beras kualitas premium tersebut tidak hanya pertama bagi Kabupaten Tasikmalaya, namun juga bagi Indonesia, sehingga hal itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan.
Pada ekspor beras organik yang perdana ke AS tersebut, jumlahnya memang tidak terlalu besar, yakni baru 18 ton atau sekitar 1 peti kemas. Namun, sejumlah negara lain telah menunggu untuk mengimpornya seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, bahkan Eropa.
Emily Sutanto, Direktur PT Bloom Agro, selaku eksportir beras organik produksi kelompok tani di Tasik itu, mengungkapkan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengekspor kembali sebanyak 19 ton ke Malaysia.
"Untuk bisa menembus ke pasaran AS tidaklah gampang karena harus memenuhi standard impor mereka. Dengan keberhasilan ini artinya beras petani di sini telah memiliki kualitas tinggi," katanya.
Pengembangan padi organik dengan metode SRI di Tasikmalaya dirintis pada 2002, dan setahun kemudian dikembangkan di areal seluas 45 ha di 11 kecamatan.
Pada saat itu produktivitas tanaman baru sekitar 69,56 kuintal/ha atau produksi keseluruhan di Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 313 ton.
Pengembangan padi organik yang dilakukan petani tersebut bukan tidak menemui hambatan, sebaliknya sejumlah kendala masih menghadang usaha pertanian tersebut.
Seperti diceritakan Syaeful Bachri, pemilikan lahan petani umumnya masih sangat rendah yakni hanya satu hektare, sementara itu harga jual beras organik juga masih disamakan dengan padi biasa.
"Kondisi tersebut mengakibatkan petani kurang bergairah mengembangkan padi organik," katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, para petani di kabupaten tersebut membentuk gabungan kelompok tani yang mewadahi 28 kelompok petani organik di delapan kecamatan.
Kemudian gabungan kelompok tani itu menjalin bekerjasama dengan PT Bloom Agro yang memberikan pembinaan kepada petani untuk menghasilkan beras kualitas bagus serta menjamin pemasaran produk mereka.
Alami peningkatan
Pelan namun pasti produktivitas dan produksi padi organik yang dihasilkan petani Tasikmalaya meningkat, dan pada 2008 secara total mencapai 25.802 ton dengan hasil per ha sebanyak 73,80 kuintal.
Selain itu luasan persawahan padi organik dengan metode SRI juga meningkat menjadi 5.074 ha tersebar di 39 kecamatan.
Hal itu tentu saja tidak terlepas dari harga jual beras organik yang menguntungkan dibanding beras biasa sehingga petani semakin bergairah menanamnya.
Kerjasama Gabungan Kelompok Tani Simpatik dengan PT Bloom Agrom menyepakati harga jual beras petani ke perusahaan tersebut sebesar Rp8000/kg. Beras biasa harganya berkisar Rp5000/kg.
Hasil kerjakeras dan perjuangan petani Tasikmalaya untuk memproduksi beras organik yang berkualitas tersebut akhirnya membuahkan hasil yakni dengan diterimanya sertifikat organik dari "Institute or Marketology" (IMO) Swis.
Dengan adanya sertifikat tersebut berarti telah ada pengakuan internasional bahwa kelompok tani itu sudah menerapkan sistem budidaya dan pengolahan beras dengan baik dan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi, keamanan pangan, serta keberlanjutan produktivitas lahan.
Dari 5.074 ha per tanaman padi organik tersebut, seluas 320,33 ha yang dikembangkan oleh 28 kelompok tani di 8 kecamatan berhasil mendapatkan sertifikat dari IMO.
Hal itu akan meningkatkan daya saing beras nasional, terlebih lagi tujuan pasar ekspornya adalah Amerika Serikat yang sangat ketat dalam penerapan mutu beras.
Kondisi tersebut diperkuat lagi dengan diperolehnya sertifikat "Fair Trade" oleh PT Bloom Agro atas kerjasama yang dibangun dengan Gabungan Kelompok Tani Simpatik.
Keberhasilan Simpatik memproduksi beras organik yang mampu menembus pasar ekspor AS tersebut oleh Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim dinilai sangat membanggakan.
"Ternyata orang Indonesia mampu meningkatkan kualitas hasil pertaniannya dan langsung dijual ke tingkat dunia," katanya.
Dengan keberhasilan tersebut Pemerintah Daerah Tasikmalaya pun berniat memperluas pengembangan areal pertanaman padi organik dari yang saat ini hanya 10 persen dari total lahan pertanian di wilayah tersebut.
Bahkan pada tahun yang sama, pemda setempat akan mengembangkan proyek percontohan pada areal seluas 800 ha di tiga kecamatan, yakni Tanjungjaya, Sukaraja, dan Manonjaya.
Tidak mengganggu
Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan, ekspor beras organik yang dilakukan gabungan kelompok tani dari Tasikmalaya tersebut tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional.
Beras organik merupakan beras kelas premium dengan harga yang lebih tinggi dari beras kualitas medium sehingga konsumennya juga golongan tertentu.
Selain itu, saat ini ekspor beras premium maupun organik Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan sebesar 100 ribu ton.
"Sekarang ini yang terpenuhi baru 10 ribu ton sedangkan targetnya sebanyak 100 ribu ton," katanya.
Tak hanya harga yang lebih tinggi dari harga beras medium, dalam kondisi perberasan dunian saat ini ekspor beras premium dinilai lebih menguntungkan karena harganya yang kompetitif dibanding jika mengekspor beras medium.
Selain itu beras kualitas premium umumnya memiliki kekhasan di setiap negara sehingga tidak akan bisa ditiru oleh negara lain, termasuk beras organik yang diekspor dari Tasikmalaya.
"Ekspor perdana ini merupakan tonggak sejarah Indonesia mampu mengekspor beras organik berserfikat," kata Mentan Anton Apriyantono.
Pengembangan beras organik dengan sistem SRI di masa mendatang, menurut Anton, sangat penting dalam memenuhi tuntutan akan pangan bermutu, sehat, dan aman.
Pertanian organik tidak saja menguntungkan petani karena harga produknya yang lebih tinggi dibanding beras non-organik, namun juga berdampak baik terhadap lingkungan dan keamanan atau kesehatan bagi konsumen penggunanya.
Terlebih lagi, lanjut Mentan, sistem pertanian yang dilaksanakan petani beras organik Tasikmalaya menggunakan sistem SRI yang sangat hemat agroinput dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas.
"Kerjasama antara petani, swasta dan pemerintah daerah Tasikmalaya dalam upaya memenuhi tuntutan pasar internasional itu diharapkan dapat dijadikan model pengembangan beras organik bersertifikat untuk pasar ekspor dan dapat dikembangkan di daerah lainnya," katanya.(*)
sumber : antaranews
Ketua Gabungan Kelompok Tani Simpatik itu, yang telah tujuh tahun merintis menanam padi organik dengan metode sistem rice of intensification (SRI) kini bisa berbangga hati karena produknya diakui dunia.
Pada Kamis, 19 Agustus, Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya melepas ekspor perdana beras organik untuk pasar AS
Ekspor beras organik yang merupakan beras kualitas premium tersebut tidak hanya pertama bagi Kabupaten Tasikmalaya, namun juga bagi Indonesia, sehingga hal itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan.
Pada ekspor beras organik yang perdana ke AS tersebut, jumlahnya memang tidak terlalu besar, yakni baru 18 ton atau sekitar 1 peti kemas. Namun, sejumlah negara lain telah menunggu untuk mengimpornya seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, bahkan Eropa.
Emily Sutanto, Direktur PT Bloom Agro, selaku eksportir beras organik produksi kelompok tani di Tasik itu, mengungkapkan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengekspor kembali sebanyak 19 ton ke Malaysia.
"Untuk bisa menembus ke pasaran AS tidaklah gampang karena harus memenuhi standard impor mereka. Dengan keberhasilan ini artinya beras petani di sini telah memiliki kualitas tinggi," katanya.
Pengembangan padi organik dengan metode SRI di Tasikmalaya dirintis pada 2002, dan setahun kemudian dikembangkan di areal seluas 45 ha di 11 kecamatan.
Pada saat itu produktivitas tanaman baru sekitar 69,56 kuintal/ha atau produksi keseluruhan di Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 313 ton.
Pengembangan padi organik yang dilakukan petani tersebut bukan tidak menemui hambatan, sebaliknya sejumlah kendala masih menghadang usaha pertanian tersebut.
Seperti diceritakan Syaeful Bachri, pemilikan lahan petani umumnya masih sangat rendah yakni hanya satu hektare, sementara itu harga jual beras organik juga masih disamakan dengan padi biasa.
"Kondisi tersebut mengakibatkan petani kurang bergairah mengembangkan padi organik," katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, para petani di kabupaten tersebut membentuk gabungan kelompok tani yang mewadahi 28 kelompok petani organik di delapan kecamatan.
Kemudian gabungan kelompok tani itu menjalin bekerjasama dengan PT Bloom Agro yang memberikan pembinaan kepada petani untuk menghasilkan beras kualitas bagus serta menjamin pemasaran produk mereka.
Alami peningkatan
Pelan namun pasti produktivitas dan produksi padi organik yang dihasilkan petani Tasikmalaya meningkat, dan pada 2008 secara total mencapai 25.802 ton dengan hasil per ha sebanyak 73,80 kuintal.
Selain itu luasan persawahan padi organik dengan metode SRI juga meningkat menjadi 5.074 ha tersebar di 39 kecamatan.
Hal itu tentu saja tidak terlepas dari harga jual beras organik yang menguntungkan dibanding beras biasa sehingga petani semakin bergairah menanamnya.
Kerjasama Gabungan Kelompok Tani Simpatik dengan PT Bloom Agrom menyepakati harga jual beras petani ke perusahaan tersebut sebesar Rp8000/kg. Beras biasa harganya berkisar Rp5000/kg.
Hasil kerjakeras dan perjuangan petani Tasikmalaya untuk memproduksi beras organik yang berkualitas tersebut akhirnya membuahkan hasil yakni dengan diterimanya sertifikat organik dari "Institute or Marketology" (IMO) Swis.
Dengan adanya sertifikat tersebut berarti telah ada pengakuan internasional bahwa kelompok tani itu sudah menerapkan sistem budidaya dan pengolahan beras dengan baik dan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi, keamanan pangan, serta keberlanjutan produktivitas lahan.
Dari 5.074 ha per tanaman padi organik tersebut, seluas 320,33 ha yang dikembangkan oleh 28 kelompok tani di 8 kecamatan berhasil mendapatkan sertifikat dari IMO.
Hal itu akan meningkatkan daya saing beras nasional, terlebih lagi tujuan pasar ekspornya adalah Amerika Serikat yang sangat ketat dalam penerapan mutu beras.
Kondisi tersebut diperkuat lagi dengan diperolehnya sertifikat "Fair Trade" oleh PT Bloom Agro atas kerjasama yang dibangun dengan Gabungan Kelompok Tani Simpatik.
Keberhasilan Simpatik memproduksi beras organik yang mampu menembus pasar ekspor AS tersebut oleh Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim dinilai sangat membanggakan.
"Ternyata orang Indonesia mampu meningkatkan kualitas hasil pertaniannya dan langsung dijual ke tingkat dunia," katanya.
Dengan keberhasilan tersebut Pemerintah Daerah Tasikmalaya pun berniat memperluas pengembangan areal pertanaman padi organik dari yang saat ini hanya 10 persen dari total lahan pertanian di wilayah tersebut.
Bahkan pada tahun yang sama, pemda setempat akan mengembangkan proyek percontohan pada areal seluas 800 ha di tiga kecamatan, yakni Tanjungjaya, Sukaraja, dan Manonjaya.
Tidak mengganggu
Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar menyatakan, ekspor beras organik yang dilakukan gabungan kelompok tani dari Tasikmalaya tersebut tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional.
Beras organik merupakan beras kelas premium dengan harga yang lebih tinggi dari beras kualitas medium sehingga konsumennya juga golongan tertentu.
Selain itu, saat ini ekspor beras premium maupun organik Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan sebesar 100 ribu ton.
"Sekarang ini yang terpenuhi baru 10 ribu ton sedangkan targetnya sebanyak 100 ribu ton," katanya.
Tak hanya harga yang lebih tinggi dari harga beras medium, dalam kondisi perberasan dunian saat ini ekspor beras premium dinilai lebih menguntungkan karena harganya yang kompetitif dibanding jika mengekspor beras medium.
Selain itu beras kualitas premium umumnya memiliki kekhasan di setiap negara sehingga tidak akan bisa ditiru oleh negara lain, termasuk beras organik yang diekspor dari Tasikmalaya.
"Ekspor perdana ini merupakan tonggak sejarah Indonesia mampu mengekspor beras organik berserfikat," kata Mentan Anton Apriyantono.
Pengembangan beras organik dengan sistem SRI di masa mendatang, menurut Anton, sangat penting dalam memenuhi tuntutan akan pangan bermutu, sehat, dan aman.
Pertanian organik tidak saja menguntungkan petani karena harga produknya yang lebih tinggi dibanding beras non-organik, namun juga berdampak baik terhadap lingkungan dan keamanan atau kesehatan bagi konsumen penggunanya.
Terlebih lagi, lanjut Mentan, sistem pertanian yang dilaksanakan petani beras organik Tasikmalaya menggunakan sistem SRI yang sangat hemat agroinput dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas.
"Kerjasama antara petani, swasta dan pemerintah daerah Tasikmalaya dalam upaya memenuhi tuntutan pasar internasional itu diharapkan dapat dijadikan model pengembangan beras organik bersertifikat untuk pasar ekspor dan dapat dikembangkan di daerah lainnya," katanya.(*)
sumber : antaranews
Langganan:
Postingan (Atom)