Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan

19 Desember 2010

Angklung Pukau Masyarakat Perancis

Pertunjukkan musik angklung yang ditampilkan Daeng Udjo memukau masyarakat Perancis yang digelar di auditorium Noureev kota Sainte Genevieve des Bois, Perancis.
Setelah mengikuti angklung interaktif Daeng Udjo yang mengajarkan lagu `La Vie en Rose` dan `All My Loving` masyarakat Perancis pun piawai memain alat musik tradisional dari Jawa Barat tersebut, ujar Fungsi Pensosbud KBRI Paris, Gita Loka Murti dalam keterangannya kepada Antara London, Sabtu.

Dikatakannya usai mempersembahkan angklung interaktif, grup Daeng Udjo menghibur penonton dengan lagu-lagu bertema Natal dan lagu-lagu popular seperti Bohemian Rhapsody, Volare, dan Can`t Take My Eyes of You.

Pertunjukan di kota St. Genevieve des Bois dibuka wakil dari Conseil Municipale (Dewan Kota) M. Lebnnyo dan Dubes RI untuk Badan PBB Urusan Pendidikan dan Kebudayaan UNESCO, Tresna Dermawan Kunaefi.

Pada pidato sambutannya, M. Lebnnyo menyatakan kegembiraannya atas kehadiran tim kesenian dari Indonesia ke kota tersebut untuk pertama kalinya.
Lebnnyo mengharapkan di masa datang semakin banyak tim kesenian berpartisipasi pada berbagai even yang diselenggarakan oleh pemerintah kota.
Sedangkan Dubes RI untuk UNESCO pada sambutannya memperkenalkan budaya Indonesia secara umum serta kekhasan alat musik angklung yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia.

Para penonton mendapat brosur mengenai angklung untuk menambah pengetahuan mereka akan alat musik tersebut.

Pertunjukan yang diadakan sebulan setelah ditetapkannya angklung sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO tersebut mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat kota St Genevieve des Bois, ujar Gita Loka Murti.
Masyarakat yang pada umumnya awam terhadap alat musik tradisional Indonesia tersebut diberi kesempatan memainkan angklung oleh Daeng Udjo yang bertidak selaku konduktor orkestra angklung.

Penonton dibuat terpukau dengan ketangkasan para pemain angklung yang dapat memainkan beberapa buah angklung secara sekaligus dengan tempo yang sangat cepat.

Gedung UNESCO

Tim angklung Daeng Udjo juga tampil di gedung UNESCO di Paris pada kesempatan acara perpisahan Dubes RI UNESCO yang mengakhiri masa tugasnya pada akhir bulan Desember tahun ini.

Para penonton sebagian besar terdiri dari delegasi permanen Negara-negara anggota UNESCO kagum dengan kemampuan musisi membawakan lagu modern dan populer dengan alat musik tradisional, terlebih mereka mendapat kesempatan memainkan alat musik tersebut.
Sambil menikmati cocktail hidangan kue-kue tradisional khas Indonesia, penonton diajarkan memainkan alat musik angklung sekaligus mengenali nama-nama dan letak pulau-pulau besar di Indonesia di layar besar yang digelar di depan panggung.

Daeng Udjo menyatakan bahwa niatnya memberi nama di angklung-angklungnya sesuai dengan nama-nama pulau besar di Indonesia agar publik yang diajarkan memainkan angklung dapat mengenal Indonesia dan mengetahui lokasi dan letak seluruh pulau selain Bali.

"Pada kenyataannya banyak masyarakat di luar negeri yang tidak tahu di mana Indonesia, mereka hanya tahu Bali, dan itu adalah fakta," tuturnya.
Untuk itu Daeng Udjo berupaya mendorong rasa keingintahuan para penonton yang lebih dalam terhadap Indonesia, khususnya budaya Indonesia.

Hal tersebut dibuktikan Daeng Udjo dalam setiap pertunjukannya di Perancis, menghimbau penonton untuk datang ke Indonesia apabila ingin memainkan dan belajar angklung lagi.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf menyampaikan apresiasinya terhadap upaya yang dilakukan Kantor Perwakilan RI (KWRI) UNESCO untuk memasukkan angklung sebagai warisan budaya tak benda dunia menyusul pendahulunya keris, wayang dan batik Indonesia.

Diharapkannya dengan dimasukkan angklung ke dalam daftar tersebut, pengembangan dan pelestarian angklung sebagai alat musik tradisional Indonesia semakin terjamin serta masyarakat internasional dapat mengenal warisan budaya bangsa tersebut.
Pada kesempatan ini, Wagub Jabar yang bertindak sebagai ketua rombongan misi kesenian dari Jawa Barat tersebut menyampaikan cendramata berupa replika satu set angklung kepada UNESCO yang diwakili Deputi Direktur Jenderal UNESCO, Mr. Engida dan baju batik kepada Dubes RI UNESCO.

Acara malam tersebut diakhiri dengan poco-poco yang melibatkan seluruh hadirin dengan diiringi oleh alunan musik angklung dengan lagu `keong racun`.
UNESCO sendiri mengukuhkan angklung dalam daftar representatif budaya tak benda warisan manusia pada tanggal 16 November lalu pada sidang ke-5 intergovernmental committee on intangible cultural heritage (IGC- ICH) di Nairobi, Kenya, demikian Gita Loka Murti.

27 November 2010

Pulau Kabaena, Pusat Kerajaan Moronene

Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.



Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) di masa lampau merupakan pusat Kerajaan Moronene, salah satu etnis di Sultra.

"Benteng Tawulagi, tempat pelantikan mokole (raja), merupakan bukti kuat bahwa Kabaena pernah menjadi pusat Kerajaan Moronene," kata tokoh budaya Kabaena, Abdul Majid Ege, di Kendari, Kamis (25/11/2010).

Menurut Madjid, ada beberapa benteng penunjang benteng utama Tawulaagi, yaitu Benteng Doule, Tontowatu, Mataewolangka dan Tuntuntari.

"Benteng Tawulagi merupakan tempat pelantikan mokole, mataewolangka tempat mengintai musuh dari arah selatan, Benteng Doule tempat mengintai dari arah barat dan utara dan dua benteng penunjang lainnya masing-masing tuntuntari dan tontowatu merupakan tempat mengintai dari arah timur," katanya.

Di wilayah daratan tenggara Sulawesi sebagai asal muasal etnis Moronene Kabaena, tidak ditemukan benteng seperti di Kabaena.

Itu membuktikan pusat Kerajaan Moronene memang di Kabaena, bukan di wilayah daratan. Di Benteng Tawulagi, kata Abdul Majid Ege, selain masih tampak batu besar dan agak tinggi tempat melantik Mokole, juga terdapat sebuah meriam besar. Dulu, kemungkinan besar untuk melawan penjajah Belanda maupun Tobelo.

"Tobelo merupakan sekelompok orang pada zaman dulu yang kerjanya sebagai perompak laut, bahkan tidak segan-segan merampas dan membunuh warga di daratan," katanya.
Menurut Abdul Madjid, benteng-benteng di Kabaena diperkirakan didirikan pada tahun 1600-an yang digunakan sebagai tempat persembunyian dan tempat bertahan dari para musuh.


http://oase.kompas.com/read/2010/11/26/00505070/Pulau.Kabaena..Pusat.Kerajaan.Moronene

Gamelan di Universitas Terkemuka AS

Grup gamelan asal Bandung, Jawa Barat, Kyai Fatahillah, berkolaborasi dengan kelompok gamelan dari Belanda, Ensemble Gending, dalam Yogyakarta Gamelan Festival 2010 di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (16/7) malam. Selain Belanda, festival gamelan yang memasuki tahun ke-15 tersebut juga disemarakkan oleh penampilan grup gamelan dari Singapura dan Amerika Serikat.

Hampir semua universitas terkemuka di Amerika Serikat memiliki program studi gamelan Indonesia, sehingga tidak mengherankan banyak ahli musik tradisional ini di luar negeri, kata mantan Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, Prof Dr I Wayan Rai S.

"Gamelan Bali yang ada di Amerika Serikat ada 15 jenis dan sekarang ini terus bertambah dari gemalan Jawa, Sunda dan lain-lain," kata I Wayan Rai S pada seminar Mabarung Gong Kebyar yang diselenggarakan ISI Solo, Jumat.

Gamelan berada di luar negeri sejak tahun 1800-an dibawa oleh para kolonial atau bangsa-bangsa barat yang pernah menjajah di Indonesia, sehingga tidak mengherankan jika sekarang telah ada di mana-mana, tambah Guru Besar Komposisi Musik ISI Solo Prof Dr R.Supanggah.

"Gamelan sekarang ini tidak hanya berkembang di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, tetapi juga Australia, Afrika dan bahkan sekarang Asia. Memang gamelan suatu unggulan yang berhasil keluar pagar Indonesia dan ini bisa diterima di kalangan para musisi pada umumnya," katanya.

Di Amerika Serikat, lanjutnya, sekarang ini ada sekitar 600 perangkat gamelan, sehingga tidak mengherankan kalau setiap universitas terkemuka di negara ini memiliki program studi gamelan Indonesia.

Sebenarnya melalui gamelan ini juga merupakan salah satu konsep perekat bangsa ini, karena berdasarkan data yang ada tahun 1870 berbagai musik di Nusantara termasuk di antaranya gamelan telah pentas berkolaborasi di Paris, katanya.

"Jadi seni sebagai alat pemersatu bangsa ini tidak hanya sekarang saja, sejak dulu sudah terjadi dan dilakukan oleh para pendahulu kita dan ini ada bukti-buktinya sampai sekarang," paparnya.

Pada tahun 1870 ada serombongan seniman yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara ini pentas bersama di Paris, dan waktu itu sedang terjadi adanya revolusi industri, katanya.

Menyinggung hasil karya musik sekarang yang jarang menjadi monumental, Supanggah mengatakan bahwa yang disentuh hanya pada seninya saja, sedangkan budayanya jarang disentuh, akibatnya hasil karya seni tersebut hanya enak dinikmati sementara tidak sampai rasa.

http://oase.kompas.com/read/2010/11/26/23120466/Gamelan.di.Universitas.Terkemuka.AS

16 November 2010

Angklung Resmi Warisan Budaya Dunia

Alat musik angklung segera dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada 18 November 2010 mendatang di Nairobi, Kenya.

"Pada 18 November 2010 nanti, angklung akan diresmikan menjadi warisan budaya dunia," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Wardiyatmo, di Jakarta, Selasa.
Pengukuhan tersebut akan dilakukan di Nairobi, Kenya, dalam sidang UNESCO, Kamis, 18 November 2010.

Pihaknya telah mengirimkan duta yang dipimpin Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Kemenbudpar untuk menyaksikan langsung pengukuhan angklung sebagai warisan budaya dunia. "Ke depan, kita targetkan warisan dunia milik Indonesia yang diakui UNESCO akan semakin banyak," katanya.

Pengukuhan angklung oleh badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia itu berarti akan menyusul batik, wayang, dan keris yang sebelumnya telah lebih dahulu dikukuhkan.
Ia mengatakan, pihaknya telah mengupayakan berbagai hal untuk dapat mencatatkan angklung sebagai warisan budaya dunia.

Perjuangan tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu hingga akhirnya angklung akan segera diakui masuk dalam "Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity".

Pihaknya mencatat warisan dunia sampai saat ini sudah sebanyak 890 situs dengan 689 berupa warisan budaya, 176 warisan alam, dan 25 campuran antara warisan budaya dan warisan alam. "Di antara jumlah itu, warisan dunia yang dimiliki Indonesia sudah sebanyak 11 buah," katanya.

Dari 11 warisan dunia yang dimiliki Indonesia sebanyak 4 di antaranya berupa alam, 3 cagar budaya, dan 4 karya budaya takbenda.
Untuk warisan dunia berupa alam terdiri dari Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Lorentz, Papua, dan hutan tropis Sumatera (Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan).
Sementara untuk cagar alam yakni Kompleks Candi Borobudur yang diakui UNESCO sejak 1991, Kompleks Candi Prambanan (1991), dan situs prasejarah Sangiran.

Karya budaya takbenda milik Indonesia yang sudah dan akan diakui UNESCO yakni wayang (masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, 2003), keris (masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, 2005), batik (representatif list of the intangible cultural heritage of humanity, 2009), dan angklung (representative list of the intangible cultural heritage of humanity, 18 November 2010).
ANTSumber

10 November 2010

Istri Presiden Austria Kagumi Budaya Indonesia

Istri Presiden Austria, Margit Fischer, mengagumi tradisi budaya dan kearifan lokal Indonesia yang beragam, dari seluruh Nusantara.

Margit, yang mendampingi suaminya, Heinz Fischer, dalam kunjungan kenegaraan tiga hari di Indonesia, diajak Ani Yudhoyono mengamati warisan budaya dalam bentuk kain tradisional, perhiasan, dan juga budaya lokal seperti wayang kulit yang dipamerkan di lantai dua Wisma Negara, Jakarta, Rabu (10/11).

Dipandu Ani Yudhoyono dan istri menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang tergabung dalam Solidaritas Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Margit berjalan berkeliling mengamati peninggalan budaya yang berusia ratusan tahun seperti kain batik, songket Palembang, dan juga tenun ikat Nusa Tenggara.

Dipamerkan juga perhiasan peninggalan jaman perunggu dari daerah Kutai Kertanegara, aksesoris khas Suku Dayak, serta alat musik Sasando dari Nusa Tenggara Timur.

Margit juga berkesempatan membatik di selembar kain dengan dituntun oleh seorang perajin dari Museum Tekstil, Jakarta.

Margit tampak antusias menyimak setiap penjelasan tentang budaya lokal Indonesia dan mengamati dari jarak dekat setiap benda yang dipamerkan.

Usai meninjau pameran warisan budaya Indonesia, Margit bersama dengan suaminya menghadiri jamuan makan siang kenegaraan di Istana Negara, Jakarta.

Presiden Austria bersama dengan istri berada di Indonesia sejak 9 November 2010. Upacara penyambutan kenegaraan serta pertemuan bilateral sudah dilangsungkan pada 9 November 2010 yang menghasilkan kesepakatan bersama tentang peningkatan kerjasama dialog antar umat beragama.

Indonesia dan Austria juga sepakat bekerjasama dalam pengembangan energi ramah lingkungan serta meningkatkan perdagangan dan investasi.

Namun, jamuan kenegaraan baru diselenggarakan pada Rabu siang karena pada Selasa sore Presiden Yudhoyono menerima kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama.

Pameran budaya yang dikunjungi oleh Margit juga dikunjungi oleh istri Obama, Michelle, pada Rabu sore. [TMA, Ant]

sumber gatra

19 Oktober 2010

Angklung Jadi Warisan Dunia

Alat musik tradisional Angklung akan dikukuhkan sebagai salah satu warisan budaya dunia atau "World Intangible Heritage" oleh UNESCO pada bulan November 2010.
"Insya Allah, Angklung pada bulan November atau Desember ini akan dikukuhkan sebagai ’World Intangible Heritage’ atau warisan dunia oleh UNESCO, yang berasal dari Indonesia" kata Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Prof dr H Arief Rachman, di Gedung Pakuan Bandung, Senin.

Ia mengatakan, dengan dikukuhkannya angklung oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia, maka tidak akan ada lagi negara lain yang mengaku (klaim) angklung. "Kalau Malaysia ingin memiliki (angklung) silakan saja, tapi kan harus dilihat sumber mata airnya (angklung) dari mana," katanya.

Selain angklung, pihaknya juga sedang mengupayakan agar budaya lainnya di Indonesia seperti Kain Tenun, Tari Saman bisa dikukuhkan sebagai akan dikukuhkan sebagai "World Intangible Heritage" atau warisan dunia oleh UNESCO yang berasal dari Indonesia.

"Kami juga sedang mengupayakan agar kebudayaan lain di Indonesia seperti Tari Saman dan Kain Tenun bisa dikukuhkan UNESCO sebagai "World Intangible Heritage"," katanya.
Sebelumnya, angklung juga diramaikan telah diklaim oleh Malaysia sebagai alat musik asli negara itu.

Selain adanya pengamanan dan pengakuan angklung sebagai warisan budaya dunia, juga akan berdampak secara ekonomis.
Para perajin angklung akan diuntungkan dengan mendapatkan banyak pesanan angklung dari dalam dan luar negeri.

Fondasi Bangunan Zaman Kerajaan Singosari Ditemukan di Malang


Tim peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional menemukan fondasi bangunan kuno pada zaman Kerajaan Singosari di areal tempat pemakaman umum Jalan Ken Dedes, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Ketua tim peneliti Puslitbang Arkeologi Nasional Amelia di Malang, Senin, mengatakan, temuan tersebut merupakan hasil penggalian yang dilakukan sejak Sabtu (9/10) hingga hari ini.

Dalam penemuan tersebut, sejumlah benda penting yang menunjukkan keberadaan Kerajaan Singosari pada abad 13 Masehi juga ditemukan di antaranya pecahan tembikar dan keramik.

Sebelumnya, pihak peneliti tidak menemukan apa pun pada penggalian pertama keculai pecahan tembikar.

Padahal pada penggalian pertama tersebut peneliti berharap menemukan Arca Dwarapala yang juga sebagai tanda pintu masuk Kerajaan Singosari.

Sementara itu, pada penggalian Senin tim peneliti menemukan struktur batu bata besar berukuran panjang 29 centimeter, lebar 19 centimeter serta dengan ketebalan 6 centimeter.

Di lokasi lain yang masih dalam satu tempat juga ditemukan struktur batu bata panjang sekitar 40-42 centimeter, lebar 20 centimeter, dan ketebalan 12 centimeter.

Amelia menyebutkan, struktur batu bata tersebut diperkirakan fondasi perumahan kuno.

Dua struktur batu bata mirip fondasi yang ditemukan Senin ini tempatnya berdampingan dan hanya berjarak sekitar satu meter dengan struktur bentuk yang berbeda.

"Fondasi satunya berbentuk memanjang dengan batu andesit tertata rapi di bawah batu bata. Sedangkan struktur batu bata disebelahnya tertata rapi tanpa batu andesit di bawahnya," katanya.

Amelia menjelaskan, penemuan terbaru ini penting sebab menunjang data penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan pada 22-31 Juli 2009 dan satu rangkaian dengan penelitian pada 2002.

Apakah fondasi tersebut merupakan tempat keraton Kerjaaan Singosari, rumah pejabat atau rumah penduduk biasa, masih belum dipastikan sebab belum ditemukan pintu masuk bangunan tersebut dan menghadap ke arah mana.

"Kami akan ungkap lagi pada penggalian mendatang sambil menunggu analisa temuan hari ini," katanya.

http://www.antarajatim.com/lihat/berita/45731/Fondasi-Bangunan-Zaman-Kerajaan-Singosari-Ditemukan-di-Malang

17 Oktober 2010

Sangiran Jadi Pusat Kajian Manusia Purba Asia

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Harry Widianto mengatakan, Situs Sangiran akan menjadi pusat kajian evolusi manusia dan kajian manusia purba terbesar di Asia.

Saat ini, BPSMPS terus mengembangkan Museum Sangiran yang terletak di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen. Museum ini dilengkapi dengan Pengembangan meliputi penyempurnaan ruang museum yang representatif, laboratorium, ruang audio visual, ruang animasi, ruang seminar, home stay untuk peneliti, gardu pandang, pusat penjualan sovenir, serta perkantoran balai pelestarian. "Pembangunan pengembangan ini akan selesai Oktober 2011. Rencananya diresmikan Presiden," kata Harry, Ahad (17/10).

Di museum ini, kata Harry, pengunjung akan memperoleh informasi proses evolusi manusia dan peradaban manusia purba sampai manusia modern secara utuh. "Tidak hanya melihat fosil, tapi juga melihat perkembangan manusia purba melalui audio visual dan animasi". ujarnya.

Dari gardu pandang, pengunjung akan melihat hamparan kawasan situs Sangiran seluas 56 kilometer persegi yang terdiri dari 22 desa yang terbagi dalam empat kecamatan dan dua kabupaten, yakni Sragen dan Karanganyar.

Saat ini, pengembangan Situs Sangiran masih terkonsentrasi di klaster Krikilan tempat museum. Namun pengembangan serupa akan dilakukan di klaster Ngebung, Bukuran, dan Dayu. "Rencana detil pengembangan tiga kluster yang lain sudah jadi," tambah Harry yang kini merupakan satu-satunya pakar manusia purba di Indonesia.

Dijadikannya Sangiran sebagai pusat kajian manusia purba dan kajian evolusi manusia terbesar di Asia karena di situs ini ditemukan fosil peninggalan manusia purba dari 2,4 juta tahun silam. Tak hanya fosil manusia, tapi juga fosil berbagai binatang, alat produksi yang digunakan dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan situs-situs manusi purba di Cina seperti Zhudian, Yuanmo dan Longhupa yang hanya menyajikan peninggalan purba kurang dari dua juta tahun.

Terpisah, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah, Suhardi, mengatakan, pengembangan Situs Sangiran sebagai wisata sejarah dan arkelologi juga masuk dalam rencana pembangunan daerah jangka menengah Provinsi Jawa Tengah. "Kami akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sangiran bukanhanya pada pelajar dan peneliti, namun juga masyarakat umum," ujarnya. "Sangiran adalah potensi besar bagi dunia pariwisata".

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/10/17/brk,20101017-285292,id.html

Bahasa Indonesia, Bahasa Kedua di Madinah


MADINAH - Hubungan Indonesia dengan bangsa Arab memang sudah terjadi sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Di mulai dari masa wali hingga kini sejumlah pedagang Arab pun banyak bertransaksi di Indonesia. Karena itu, tak heran jika melihat banyak warga Arab yang pandai berbahasa Indonesia.

Saat ditemui okezone di Jalan Malik Fahd. Madinah, seorang penjaja makanan khas arab seperti kebab, nasi Bukhori atau roti cane pun menawarkan jasanya dengan bergaya bahasa Indonesia. "Mau makan...ayo martabak, bakso semua ada," kata pria tersebut ketika melihat okezone yang mengenakan seragam petugas berbendera merah putih.

Okezone pun penasaran dengan pria tersebut, darimana dia bisa berbahasa Indonesia. Pria berperawakan tinggi itu mengaku karena dirinya sering berinteraksi dengan warga negara Indonesia baik dalam musim haji ataupun ketika bertemu di jalan. Memang, cukup banyak mukimin asal Indonesia yang tinggal di Makkah dan Madinah.

Tak hanya soal berdagang, bahasa Indonesia juga digunakan di sejumlah tempat umum seperti masjid, toko-toko suvenir, maupun kawasan komersial lainnya. Hanya melihat wajah melayu, orang-orang akan menggunakan jasa penerjemah. Terutama untuk hal-hal yang sifatnya take and give, seperti transaksi jual beli. Anda cukup menunjuk suatu barang dan para penjual akan otomatis menyebutkan nama dan harganya. Tentu saja dalam bahasa Indonesia.Para pedagang bahkan lebih suka menyapa para peziarah asal Thaland dengan bahasa Indonesia.

"Sama saja. Orang Thailand Selatan adalah orang Melayu sepeti Indonesia, Malaysia dan Singapura atau Brunei," kata seorang pedagang asal Bangladesh.

Di tempat-tempat peziarahan besar, seperti Makam para Syuhada Uhud, di kaki Gunung Uhud dan Makam Baqi'juga terdapat berbagai papan pengumuman dengan berbagai bahasa dunia. Pada kedua makam ini bahasa Indonesia tampak sekali menempati posisi nomer satu, tentu saja setelah bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara.Di gerbang makam Baqi, terdapat enam papan pengumuman besar tentang adab ziarah kubur. Secara berurutan dari kanan ke kiri papan ini terdiri dari pengumuman berbahasa Arab, Indonesia, Persia, Turki, Urdu dan Inggris.

Sementara di makam para syuhada Uhud, terdapat tambahan dua bahasa lagi, yakni bahasa Perancis dan India. Di pemakaman, hanya ada satu bahasa Melayu yang tentu saja lebih mendekati bahasa Indonesia dibanding bahasa serumpun mana pun. Di pengumuman melalui pengeras suara, papan nama dan informasi publik, bahasa Indonesia lebih digunakan daripada bahasa Melayu mana pun. Jadi, wajar kalau kita bangga berbahasa Indonesia bukan?

okezone

11 Oktober 2010

Patung Primitif Tembus Pasar Jepang

Produk kerajinan patung primitif dari Pucung, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menembus pasar Jepang dan sejumlah negara lainnya.

"Kerajinan patung primitf buatan kami telah dipasarkan ke Jepang dan berbagai negara lainnya yakni Amerika Serikat dan Polandia," kata pengelola kerajinan patung primitif Pucung, Kabupaten Bantul, Sujid, Minggu.

Ia mengatakan dirinya dalam setiap bulan rutin mengirim produk kerajinan patung primitif ini ke Jepang dan Amerika. "Dalam setiap bulan kami mampu mengirim kerajinan patung ini sekitar dua hingga tiga kontainer," katanya.

Semenjak menekuni kerajinan patung kayu ini, yakni pada 1996 dirinya telah mampu memasarkan kerajinan buatannya ke sejumlah negara-negara di dunia. "Selain ke Jepang, Amerika dan Polandia juga di telah dipasarkan ke Korea, " katanya.

Ia juga mengatakan pada awal berdirinya kerjinan patung primitif ini, dirinnya mempunyai sebanyak 150 pekerja untuk memproduksi patung terebut, namun untuk saat ini jumlah pekerja berkurang menjadi orang.

"Pengurangan jumlah pekerja terjadi karena krisis ekonomi yang terjadi pada waktu lalu yang mengakibatkan kenaikan harga bahan baku tetapi harga jual patung tidak pernah mengalami kenaikan, jadi kami mengurangi jumlah tenaga kerja untuk menghemat biaya pengeluaran," katanya.

Namun Sujid mengatakan, dengan jumlah tenaga pekerja 12 orang dirinya mampu memproduksi secara rutin setiap hari kerajinan patung primitif ini.

"Dalam satu bulan kami mampu memproduki kerajinan patung primitif ini sekitar 100 hingga 300 patung per bulannya," katanya.

Sementara itu, ia mengatakan dirinya memproduksi berbagai jenis patung primitif yang terbuat dari kayu Jati dan Mahoni. "Hasil karya patung terebut merupakan modifikasi antara patung dari Asmat, Indian dan dipoles dengan kerativitas kami sendiri," katanya.

Untuk harga jual patung primitf, Sujid mengatakan dirinya mematok harga khusus untuk setiap jenis patung tergantung ukuran besar kecilnya patung.

"Untuk harga kami menjual kerajinan patung mulai dari ukuran kecil yakni berukuran cinderamata hingga patung yang berukuran besar mencapai tiga meter yakni antara Rp3.000 hingga Rp9 juta per buahnya," katanya.

Ia mengatakan, dalam setiap bulanya dirinya memperoleh omzet pendapatan sekitar Rp 20 juta setiap bulannnya.

kompas

06 Oktober 2010

Prasasti Abad 7 Ditemukan di Kali Cikapundung

Prasasti ini berisi semacam prediksi mengingatkan umat manusia tentang bencana.

Balai Arkeologi Kota Bandung memastikan sebuah batu prasasti bertuliskan huruf Sunda kuno ditemukan di rumah seorang kakek bernama Oong Rusmana, 62, warga Cimaung, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Prasasti itu diyakini berasal dari abad ke-7 Masehi.

Tim Peneliti Madya di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, Nandang Rusnandar, mengatakan ini merupakan prasasti pertama yang ditemukan di aliran Sungai Cikapundung. "Ini prasati pertama, terkait sama penemuan terakota (coran dari tanah liat) di daerah Dago Pakar," ujarnya ditemui di lokasi prasasti, Selasa 5 Oktober 2010.

Menurut Nandang, prasati ini terdiri dari 12 huruf Sunda Kuno, yang jika disambung menjadi dua kalimat bertuliskan "Ung ga l ja ga t, jal ma h dha p."

"Kalimatnya berbentuk Uga (ramalan, red.). Artinya, setiap manusia di muka bumi akan mengalami bencana. Ini semacam prediksi dan mengingatkan generasi selanjutnya untuk tidak melakukan sesuatu yang merusak," kata Nandang.

Sementara itu Peneliti dari Balai Arkeolog Bandung, Lutfi Yondri, mengatakan tulisan dua baris itu sangat rapi dan rata karena memanfaatkan sisi rata batu. "Ditulis di batu andesit dengan panjang huruf pertama 15 centimeter, dan yang kedua 20 centimeter, tinggi hurufnya sekitar 3,5 centimeter dan 2,5 centimeter," ujarnya.

Selain itu, terdapat lambang-lambang lainnya berbentuk telapak kaki, telapak tangan dan gambar wajah. "Dilihat dari aksara mungkin dari abad 11, tapi kalau dikaitkan prasasti lainnya di Bandung yang masuk masa klasik sekitar abad 7, seperti di Candi Bojong Menje," katanya. "Tapi masih perlu pembuktian lebih lanjut."
Kepala Seksi Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Romlah, mengatakan perlu ada langkah-langkah penyelamatan prasati mengingat keberadaanya di tengah pemukiman warga. "Namun kami masih menunggu hasil kajian arkeologi dari tim peneliti dulu, setelah itu nanti baru Disparbud Jabar akan mengajukannya ke pemerintah." (Laporan DHR, Bandung | kd)
• VIVAnews

03 Oktober 2010

Batik Memikat Dunia, Dari Mandela Sampai PBB

"Batik Indonesia paling halus karena cantingnya sangat kecil."

Tepat setahun lalu, 2 Oktober 2009, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Tanggal bersejarah itu kemudian ditetapkan pemerintah menjadi Hari Batik Nasional.
Bagi pecinta batik kuno, Shinta Dhanuwardoyo, atau yang juga akrab dipanggil sebagai Shinta Bubu, penghargaan UNESCO merupakan penghargaan terhadap karya seni klasik bercita rasa tinggi. Bukan semata-mata terhadap keindahan kain batik itu sendiri, tapi penghargaan terhadap para pengrajin batik di pedesaan.

Namun, di balik popularitas batik yang kini makin mendunia, Shinta tak ingin batik hanya menjadi euforia di negeri sendiri. Seluruh masyarakat Indonesia memiliki tugas untuk menjaga penghargaan yang diberikan UNESCO. Ia mengajak masyarakat tak ragu memikat dunia dengan batik.
Batik kini memang tak lagi sekedar jarik atau kemben yang identik dengan masyarakat tempo dulu atau pedesaan. Wujudnya pun tak melulu helaian kain panjang tanpa jahit. Kain bermotif yang dilukis dengan lilin atau malam itu telah menjadi bagian tren fashion.

Berbagai inovasi terus dilakukan demi memikat pasar dunia. Tanpa menerjang pakem batik tradisional, sejumlah industri mode di tanah air berkreasi mengawinkannya dengan detail modern.

Perancang muda Lenny Agustin misalnya, adalah salah satu pegiat mode yang serius mengolah batik sebagai bagian tren fashion. “Saya ingin anak muda zaman sekarang bangga mengenakan batik sebagai pakaian sehari-hari seperti masyarakat zaman dulu.”

Perancang mode dan kalangan industri mode, menurut dia, harus terus mengeksplor batik, baik dari segi desain, dan motif. Kreatifitas sangat dibutuhkan agar batik tetap eksis. “Motif batik klasik memang harus dipertahankan, tetapi tidak ada salahnya untuk lebih berkreasi dengan motif-motif yang lebih bersifat kekinian,” kata Lenny.

Semangat serupa ditunjukkan Oscar Lawalatta. Perancang muda ini tak lelah berkreasi dengan batik tradisional. Penghargaan UNESCO membuatnya semakin percaya diri memamerkan busana batik ke mancanegara.

“Saya selalu berusaha untuk mengeksplor unsur-unsur etnik Indonesia dan memasukkannya dalam rancangan saya. Kebudayaan kita itu sungguh beragam dan sangat eksotis. Dengan mengeksplorasi dan memasukkan dalam tiap rancangan, buat saya, merupakan sebuah kebanggaan,” kata Oscar.
***
Terangkatnya batik ke kancah internasional tidak bisa lepas dari peran maestro batik tanah air Nursjirwan Tirtamidjaja, dikenal sebagai Iwan Tirta. Wafat beberapa bulan lalu, seniman dan desainer batik itu meninggalkan warisan perjuangan yang telah berbuah manis.
Jauh sebelum anak muda masa kini begitu percaya diri mengenakan batik, Iwan sudah berjuang mempromosikan keindahan batik ke mancanegara.
Master hukum lulusan Yale University itu memiliki andil besar dalam mentransformasikan kain tradisional batik menjadi sebuah gaun modern yang mewah. Ia memberi citarasa modern demi menduniakan batik.

Melalui karyanya, Iwan Tirta pun berhasil membuat tokoh dunia Nelson Mandela terpikat batik. Hampir dalam setiap kesempatan, tokoh anti-apartheid yang sangat dihormati bangsa Afrika Selatan ini selalu mengenakan batik di berbagai forum dunia. Batik Mandela kebanyakan dari Indonesia.

Kegemaran Mandela mengenakan busana khas Indonesia itu membuat bangsa Afrika menjadi akrab dengan batik. Hanya, mereka lebih mengenal batik dengan sebutan ‘Madiba's Shirt’ alias pakaian Mandela. Madiba adalah nama populer untuk menyebut Mandela.

Batik memang tak hanya ditemui di Indonesia. Selain di Afrika dengan sebutan ‘Madiba's Shirt’, batik juga ada di Malaysia, Jepang, China, India, Jerman, dan Belanda.

Namun, menurut Shinta, batik Indonesia memiliki ciri khas. Ada beberapa motif klasik yang tak mungkin ditemui di negara manapun seperti Kawung, dan Sido Mukti.

“Yang paling membedakan, batik Indonesia paling halus karena cantingnya sangat kecil sehingga menghasilkan gambar yang halus dan rapi,” ujarnya. “Sementara di beberapa negara lebih cenderung batik pabrikan atau printing.”

Sebagai pecinta batik klasik, Shinta tak merasa terganggu dengan perkembangan industri. Ia justru melihat perkembangan batik modern sebagai hal positif. “Sentuhan modern membuat batik lebih bisa go international,” ujarnya. “Ketika industri memainkan batik, itu artinya kerajinan batik tradisional di pesisir dan pedesaan juga tak akan mati.”
• VIVAnews

01 Oktober 2010

Emas Banyak Ditemukan di Situs Kimpulan

Tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta yang melakukan pemugaran candi situs Kimpulan di area pembangunan perpustakaan Universitas Islam Indonesia Jalan Kaliurang, Sleman banyak menemukan perhiasan emas maupun perak.

"Sejak pertengahan puasa atau satu bulan lalu hingga saat ini kami banyak menemukan peninggalan sejarah yang terbuat dari emas maupun perak di lokasi pemugaran candi," kata anggota tim pemugaran dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta Manggar Sari, di Sleman, Jumat.

Menurut Manggar Sari, puluhan perhiasan emas dan perak tersebut ditemukan di dalam lokasi candi utama maupun Candi Perwawara.

"Saat ini perhiasan-perhiasan yang ditemukan tersebut disimpan di Kantor BP3 Yogyakarta," katanya.

Ia mengatakan, temuan tersebut menambah kekayaan kajian terhadap situs Candi Kimpulan.

"Temuan emas yang cukup besar berbentuk Padma atau teratai mekar yang merupakan simbol suci agama Hindu. Emas ini kami temukan di bawah Lingga dan Yoni di Candi Utama," katanya.

Manggar mengatakan, temuan-temuan tersebut saat ini masih dalam penelitian tim laboratorium. Menurut dia, temuan perhiasan emas ini menunjukkan kemajuan peradaban pada masa kejayaan candi yang ditemukan di kompleks pembangunan perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) ini.

"Untuk jumlah pasti perhiasan yang ditemukan tersebut sampai saat ini belum dihitung karena setiap hari ditemukan emas," katanya.

Petugas teknis pemugaran Tugimin mengatakan perhiasan tersebut pertama kali ditemukan pada bulan puasa atau sekitar satu bulan lalu.

"Saat itu setiap kali petugas membongkar `umpak` (bantalan batu) yang terdapat di candi utama, selalu mendapati temuan emas, kemungkinan masih banyak yang akan ditemukan karena belum semuanya berhasil dibongkar," katanya.

Ia mengatakan, sepengetahuannya temuan yang berhasil diangkat berupa kepingan bentuk Padma, dua keping koin atau mata uang emas, 20 keping mata uang perak, beberapa kepingan emas ukuran 1 cm.

"Selain itu juga 12 mangkuk berisi berbagai kepingan pernak-pernik, serta berbagai jenis logam dari perak, perunggu, kaca dan batu," katanya.
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT

Situs di Kalbar Diduga dari Abad ke-14

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Ketapang, Kalimantan Barat, Yudo Sudharto, mengatakan, penemuan situs yang diduga candi di Benua Kayong, dapat dijadikan klaim bahwa Ketapang sebagai kota tertua di Kalimantan Barat.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan menjadi kota tertua setelah Kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur.

"Ini membuka peluang bagi para peneliti untuk melakukan studi ke daerah sini. Akhirnya kita menjadi daerah kota wisata sejarah," kata Yudo, Kamis (30/9/2010).

Dinas yang dipimpinnya berencana mendirikan bangunan penutup semi permanen, untuk melindungi situs tersebut. Tak hanya peneliti, warga yang ingin melihat dan mengamati dipersilakan berkunjung.

"Kami akan bangun atapnya, sehingga bangunan di bawahnya terlindungi. Rencananya akan dibangun tahun ini," ujar Yudo.
Situs tersebut belum diberi nama, karena kajian ilmiah harus dilakukan terlebih dahulu. Sebab nama yang diberikan harus mendekati nilai sejarah yang berkaitan dengan situs tersebut.

"Bupati harus menetapkan terlebih dahulu daerah tersebut sebagai dilindungi. Kemudian pemberian nama bisa dilakukan," katanya.

Adapun Ketua Tim Peneliti Madya, Balai Arkeologi Banjarmasin, Bambang Sakti Wiku Atmojo, memimpin penggalian itu situs candi tersebut.

Dia menuturkan, timnya telah menemukan bagian bawah struktur yang diduga kuat sebagai candi itu. Bawah struktur itu merupakan badan dari candi dan diduga masih ada pondasinya.

"Pondasi itu yang coba kami gali lebih dalam lagi. Kami menduga itu merupakan badan candi," katanya sambil menujuk ke bagian yang sedang digali pekerja.

Anggota tim masih berusaha mencari letak ruang atau bilik, artefak, dan relief, yang diharapkan bisa menjelaskan dari zaman apa candi itu dibangun. Data-data tersebut bisa diketahui, jika ditemukan petunjuk berupa prasasti atau patung.

"Jika dikaitkan dengan makam Keramat VII dan IX yang masih ada angka Jawa kuno, diduga kuat sekitar abad 14-15, atau kemungkinan di Kerajaan Majapahit," kata Bambang.

Dia menuturkan, kesulitan tim akibat tidak adanya hikayat Tanjungpura yang bisa menjelaskan keberadaan situs ini. Berikutnya, penelitian tahap kedua akan dimulai dalam rentang 3-13 Oktober.

"Areal yang digali kini menjadi open site. Jika mau digali menyeluruh, tergantung Pemkab Ketapang. Batas kewenangan kami hanya sampai di open site," ujarnya. (Severianus Endi)

kompas

28 September 2010

Suriname Sambut Ramayana

Pergelaran sendratari Ramayana yang mengisahkan Rama dan Shinta mendapatkan sambutan meriah dari para pengunjung Festival Budaya Indonesia di Gedung Thalia Teater, Suriname.
Pertunjukan yang digelar Sabtu malam (25/9) di Paramaribo, ibu kota Suriname tersebut, disaksikan ratusan penonton yang memadati gedung pertunjukan terbesar di negara tersebut.
Sendratari Ramayana yang dibawakan para penari dari Yogyakarta tersebut, mengisahkan usaha Rama untuk merebut kembali kekasihnya Dewi Shinta yang diculik raja raksasa Rahwana.
Sandiwara tari yang biasanya ditampilkan di arena Sendratari Ramayana Candi Prambanan Yogyakarta dalam waktu sekitar tiga jam itu, dimainkan di Thalia Teater lebih pendek yakni 30 menit.
Usai pertunjukan digelar terdengar sambutan tepuk tangan penonton memenuhi gedung berkapasitas 500 orang tersebut.
Selain Sendratari Ramayana, gelar tarian Jepindo Dwimuko yang dibawakan penari Didik Nini Thowok juga mendapatkan sambutan meriah dari para pengunjung Thalia Teater.
Tarian yang menampilkan karakter dua penari wanita yakni Jepang dan Indonesia tersebut, dibawakan secara komedi oleh seniman dari Yogyakarta itu, sehingga mampu memancing gelak tawa pengunjung.
Sejumlah kesenian lain dari Indonesia yang ditampilkan yakni Tari Bambangan Cakil, Tari Gebyar Batik, Tari Krincing Mas, sajian musik aklung yang dibawakan anak-anak KBRI Suriname yang sebelumnya dibuka dengan tarian Lambang Sari karya Guruh Soekarno Putra.
Pergelaran Festival Budaya Indonesia dalam rangka "Indofair 2010" itu juga menggelar lantunan tembang-tembang Jawa dari penyanyi asal Solo, Jawa Tengah, yang terkenal di Suriname Yan Velia serta penyanyi setempat.
Sekjen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Wardiyatmo, mengharapkan Suriname yang memiliki kesamaan sosial dan budaya dengan Indonesia, khususnya Jawa diharapkan mampu menjadi jembatan kebudayaan Indonesia ke dunia internasional, terutama kawasan Amerika Selatan.
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT

27 September 2010

Ada 7 Peti Jenazah Zaman Batu di Blora

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah bakal meneliti peti jenazah dari batu (sarkofagus) yang ditemukan di Desa Bleboh, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Peti tersebut merupakan temuan berharga lantaran diduga berasal dari zaman megalitik atau batu. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Blora, Suntoyo, Minggu (26/9/2010) malam, mengatakan, BP3 Jateng telah menanggapi surat dan informasi yang diberikan pemerintah.
Mereka akan datang ke lokasi pada Senin (27/9/2010) siang. "Tujuannya adalah mengecek lokasi temuan sekaligus mengidentifikasi peninggalan-peninggalan di kompleks itu yang masih tersisa," kata dia.
Kubur peti batu pertama kali ditemukan dan diteliti pada 1934 di sebuah bukit di Pegunungan Kendeng Utara, Blora. Kemudian pada medio September 2010, ditemukan lagi kompleks kubur peti batu sekitar 500 meter dari lokasi temuan lama.
Kubur itu berbentuk menyerupai peti, namun terbuat dari batu-batu pipih, bukan kayu. Jumlah kubur peti batu di dua lokasi itu adalah sembilan kubur. Dua masih utuh, sedangkan sisanya telah rusak. Kubur posisinya membujur dari timur ke barat.

sumber kompas

24 September 2010

Tenun Indonesia Dikagumi di Athena

Pesona kain tenun Nusantara dari beberapa daerah di Indonesia turut menyemarakkan resepsi diplomatik di KBRI Athena belum lama ini.

"Sebanyak 50 kain tenun koleksi Ibu Anita Rusdi dan anggota Dharma Wanita KBRI Athena dipamerkan dalam acara itu," ujar Sekretaris Ketiga KBRI Athena Gina Fadilla dalam keterangan pers yang diterima Antara, Kamis (23/9/2010).

Menurut Gina Fadilla, acara resepsi peringatan HUT RI itu dihadiri sekitar 400 orang. Pelaksanaannya sengaja diundur mengingat tanggal 17 Agustus masih dalam suasana puasa Ramadhan dan umumnya pejabat Yunani dan kalangan korps diplomatik banyak yang libur panjang musim panas.

Para undangan umumnya merasa kagum atas dekorasi dan barang kerajinan seni yang dipamerkan, seperti patung burung Jetayu, ukiran, gamelan mini, wayang golek, lukisan yang ditata rapi dan dikombinasikan dengan kain tenun, serta kain batik koleksi pribadi istri Duta Besar RI itu.

Kepala Protokol Negara yang mewakili Pemerintah Yunani menyampaikan kekagumannya atas koleksi yang ditampilkan.

Dubes RI untuk Yunani Ahmad Rusdi mengatakan, penyelenggarakan resepsi ini bertujuan agar para tamu dan relasi dapat merasakan indahnya tatanan dekorasi Wisma Duta bernuansa kerajinan, barang seni, dan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Acara resepsi itu juga bertujuan agar para tamu undangan dapat mencicipi dan menikmati kuliner khas Nusantara, yang diracik juru masak dari Wisma Duta dan anggota Dharma Wanita dengan bantuan masyarakat Indonesia yang tinggal dan bekerja di Athena.
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT

22 September 2010

Kain Tenun Gedog Tembus Pasar Asia

Produk kerajinan kain tenun gedog Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang dipamerkan dalam gelar Teknologi Tepat Guna Nasioanl XII di Yogyakarta, 22-26 September 2010, sudah menembus pasar Asia.

Salah seorang perajin tenun gedog asal Tuban, Jawa Timur, Uswatun Hasanah, di Yogyakarta, Rabu, mengatakan, kain tenun gedog dari Tuban sudah merambah pasar beberapa negara di kawasan Asia, bahkan sebagian juga dipasarkan di Australia dan Belanda. "Setiap bulan rata-rata 300 lembar kain tenun gedog kami ekspor ke berbagai negara," katanya.

Sedangkan di dalam negeri sendiri, menurut dia kain tenun ini memiliki pasar di Jakarta, Bali, dan Batam.

Ia mengatakan kain tenun gedog dibuat dengan bahan baku utama berupa kapas yang dipintal menjadi benang. "Benang ini yang kemudian ditenun," katanya.

Menurut dia, harga kain tenun ini bervariasi, tergantung keaslian kain, dan pewarnaannya. "Harganya antara Rp60 ribu hingga Rp1 juta per lembar," katanya.

Uswatun Hasanah mengatakan yang membedakan antara tenun gedog dengan tenun lainnya adalah dari bahan bakunya. "Tenun gedog terbuat dari kapas putih dan kapas cokelat yang ditanam sendiri oleh warga setempat, kemudian kapas itu dipintal menjadi benang, dan selanjutnya ditenun," katanya.

Ia mengatakan sebagian besar warga Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memiliki keterampilan menenun, terutama di kalangan orang tua. "Tenun gedog ini merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang warga di daerah itu, dan bahkan hampir setiap warga setempat memiliki alat untuk menenun yang digunakan secara manual," katanya.

Sedangkan pewarnaan kain tenun gedog, menurut dia masih menggunakan pewarna alami yang bahan bakunya diambil dari alam. "Kami masih menggunakan pewarna alami, karena bahan pewarna ini ramah lingkungan," katanya.

Menurut dia, konsumen kain tenun gedog banyak yang menyukai kain dengan pewarna alami.

Hal yang memprihatinkan, kata Uswatun, perajin kain tenun gedog saat ini mulai berkurang jumlahnya, karena sebagian beralih menekuni kerajinan batik.

"Saat ini sebagian besar perajin kain tenun gedog beralih menekuni kerajinan batik, karena peralatan maupun bahan baku untuk pembuatan kain batik lebih mudah diperoleh jika dibandingkan dengan kain tenun gedog," katanya.
Penulis: Jodhi Yudono | Editor: Jodhi Yudono | Sumber : ANT

17 Maret 2010

Candi Hindu Syiwa Muncul di Area Persawahan

BLITAR - Dua patung Dwarapala dan dua arca Lembu Nandi tunggangan Dewa Syiwa serta satu komplek bangunan candi sekitar 1400 m2 dengan bahan dasar bata merah ditemukan di Dusun Bakulan, Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.

Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto telah melakukan penggalian termasuk melokalisir area dengan memasang benang serta mengelilinginya dengan pagar bambu.

Komplek Candi Hindu Syiwa yang berada di pekarangan milik almarhum Sunarto warga setempat itu, ditenggarai hingga seluas satu hektare. Bahkan, kebesaran dan kemegahan bangunan candi tidak tertutup kemungkinan melebihi Candi Penataran di Kecamatan Nglegok.

“Hal itu dilihat dari bagian kaki candi yang sampai saat ini belum sampai dasar,” ujar Kabid, 57 warga setempat yang dipercaya BP3 sebagai penjaga candi kepada Seputar Indonesia Rabu (17/3/2010).

Oleh BP3 dan masyarakat setempat, situs candi yang belum tergali seluruhnya ini diberi nama Tapan. Nama tersebut mengacu dari kebiasaan sebagian besar masyarakat yang kerap mengkultuskan lokasi candi sebagai tempat pertapaan atau pemujaan.

Sebelum tergali, lokasi yang berada di tengah sawah dan jauh dari pemukiman penduduk ini berupa gundukan tanah liat yang merupakan pekarangan dengan pohon buah-buahan. Dari pantauan SI, saat ini fisik candi tampak berada di kedalaman 6 meter dari permukaan tanah. Namun kendati demikian pondasi dasar bangunan belum diketahui.

Selain bangunan berundak-undak yang seluruhnya bata merah ukuran besar, tak jauh dari lokasi terdapat Yoni (pasangan Lingga) dari bahan batu kali yang sudah tidak sempurna bentuknya. Arca dwarapala dan lembu andini sendiri berada sekitar 50 meter dari komplek candi.

Informasi yang dihimpun SI, penemuan candi ini sebenarnya berlangsung sekitar satu bulan lalu. Oleh sejumlah warga yang memiliki kepentingan menjadikanya sebagai tempat pertapaan (menyepi) sengaja dirahasiakan.

Beberapa warga memutuskan melapor ke BP3 setelah ada sejumlah orang dari Kabupaten Jember yang tiba-tiba melakukan penggalian. Dalam penggalian yang telah mendapat izin si empunya tanah itu, warga Jember yang bernama Slamet itu, menemukan ratusan bongkahan bata merah besar. Eksplorasi tersebut berhenti dengan sendirinya setelah tim BP3 turun ke lapangan. “Dulu juga ada benda seperti kuali kuno dari batu. Tapi sekarang saya tidak melihatnya lagi,” papar Kabid.

Arkeolog BP3 Trowulan Danang Waluyo Utomo mengaku belum bisa mengidentifikasi kurun waktu dan pada masa kerajaan apa candi dibangun. Sebab sejauh ini petugas belum menemukan symbol atau tulisan yang menunjukkan angka tahun.

Namun, mengingat ditemukanya arca Nandi atau lembu Andini, candi yang menghadap ke arah barat tersebut diperkirakan tempat pemujaan umat Hindu Syiwa. Yang baru bisa kita pastikan ini merupakan candi Hindu. Saat ini kita masih akan terus melakukan penelitian. Kita belum tahu candi ini dibuat pada masa kerajaaan apa, ujarnya.

Adanya candi Tapan ini sendiri, menurut Danang sudah didengar BP3 sejak tahun 1995. Namun penggalian baru dilakukan saat ini setelah mendapat laporan adanya penggalian liar yang mengancam keberadaan candi. “Karenanya saat ini kita tempatkan penjaga untuk mengamankan,” pungkasnya.
(Solichan Arif/Koran SI/fit)

15 Maret 2010

Sulaman Indonesia Tarik Perhatian Masyarakat Jerman

Sulaman Indonesia menarik wisatawan Jerman yang datang ke Paviliun Indonesia di pameran pariwisata, Minggu, dengan ditampilkannya demonstrasi menyulam oleh Ny Salfrida N Ramadhan KH, mantan diplomat yang memiliki kelompok pengemar sulaman Indonesia.

Ketua Yayasan Sulam Indonesia Ny Triesna Wacik kepada koresponden Antara London, mengatakan bahwa ia ingin memperkenalkan sulaman Indonesia ke tingkat internasional dengan menampilkan demo menyulam di pameran pariwisata ITB Berlin yang berlangsung sejak 10 Maret yang berakhir Minggu .

Istri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik itu menyebutkan sulaman Indonesia sangat kaya dan ini dapat menjadi salah satu menjadi obyek bagi wisatawan yang paling tidak menjadi cendera mata yang bisa dibawa ke negaranya menjadi kenang kenangan.

Diakuinya sulaman Indonesia begitu banyak variasi dan juga pengrajin yang tersebar di seluruh Indonesia di berbagai sentra sentra di daerah dengan cirinya masing- masing.

Sulaman Indonesia tidak kalah indahnya ketimbang Batik atau kain tenun lainnya, ujar Ny Triesna Wacik.

Untuk itu, ia ingin juga sulaman dapat dikenal oleh dunia luar seperti halnya batik yang sudah diakui oleh UNESCO.

Menurut Ny Triesna ,selama ini permasalahan yang dihadapi para pengrajin sulaman adalah dalam pemasaran dan pengembangannya .

Untuk itu ,dibutuhkan suatu wadah berupa yayasan yang akan dapat membantu pengrajin terutama dalam pemasaran produknya selain mendesainnya sesuai dengan selera pasar tanpa meninggalkan ciri dari daerahnya masing masing.

Selain itu , Yayasan juga membantu dalam hal pemodalan dengan mencarikan orang tua asuh dari berbagai perusahaan besar.(ZG/R009)