Tampilkan postingan dengan label prestasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prestasi. Tampilkan semua postingan

17 Oktober 2010

Sereal Bikinan IPB Juara di Amerika Serikat


Sereal bukanlah jenis makanan yang lazim dikonsumsi di Indonesia. Karena itu, tak banyak yang memproduksi makanan ini. Tapi sereal olahan empat mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor ini berhasil menjuarai kompetisi produk pangan internasional, Institute of Food Technologists (IFT) Annual Meeting and Food Expo di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 17-20 Juli lalu.

Keempat mahasiswa itu adalah Stefanus, Agus Danang Wibowo, Saffiera Karleena, dan Margaret Octavia. "Sereal kami dinilai lebih enak dan memiliki cita rasa lokal," kata Stefanus saat dihubungi Rabu lalu.

Mereka menamakan serealnya Crantz Flakes. Bahan bakunya adalah singkong, kedelai, pisang, tepung beras, gula, dan garam. Menurut Stefanus, pembuatan Crantz tidak menggunakan air. Alasannya, Crantz dibuat dengan asumsi lokasi di Nusa Tenggara Timur. "Di sana jarang (terdapat) air bersih," katanya.
Provinsi ini dipilih lantaran juri mensyaratkan produk yang dilombakan bisa menjadi penyelesaian krisis pangan atau kekurangan gizi di daerah tertentu. "Angka gizi buruk Nusa Tenggara Timur tertinggi di Indonesia," kata Agus memberi alasan.

Ide membuat Crantz berasal dari Stefanus dan Agus. Sebelum membuat Crantz, keduanya, bersama Yogi Karsono, mengikuti kompetisi produk pangan yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknologi dan Industri Pertanian IPB pada Januari lalu. Mereka membuat sereal berbahan baku bekatul yang kaya serat. Tujuannya, "Membuat produk rendah kolesterol," ujar Agus melalui sambungan telepon Rabu lalu.

Bersama tim Zuper T, juga dari IPB, dan Universitas Brawijaya, Malang, mereka dipilih juri sebagai tiga besar kategori peserta internasional. Selanjutnya pemenang diminta mempraktekkan produk mereka dan diuji di depan dewan juri. "Tahapan ini yang paling seru," kata Agus.

Beruntung, tim Crantz memiliki Saffiera, yang gemar memasak, dan Stefanus, yang memahami banyak bahan pangan. Keunggulan ini bertambah sempurna dengan adanya Agus, yang jago menuliskan presentasi. Mereka ulet meramu bahan baku untuk mendapatkan komposisi yang oke.

Kendala justru datang dari masalah teknis pemberangkatan. "Kami tidak punya ongkos," kata Agus. Hadiah dari IFT sebesar US$ 2.000 tidak cukup untuk tiket perjalanan empat orang. Selama dua pekan mereka berjibaku mendapatkan bantuan dana. Walhasil, mulai dari bank hingga dosen bersedia mensponsori.

Sayangnya, justru Stefanus dan Agus tak bisa berangkat lantaran tidak mendapat visa. Akhirnya Saffiera dan Margaret yang berangkat. Saffiera tetap percaya diri. Ia yakin kemenangan diraih sejak timnya menyajikan Crantz di meja dewan juri.

"Sereal kami ludes dimakan juri," ujar Saffiera. Kejadian ini membuat kedua perempuan itu makin percaya diri. "Setiap pertanyaan bisa kami jawab lancar," katanya. Mereka mendapatkan juara pertama dan membawa pulang hadiah US$ 3.500.

Kendati tak menyaksikan langsung, Agus tetap bungah. Setidaknya ia menuai kesuksesan dari hobinya mencicipi makanan. Kesukaan pemuda 22 tahun ini pada bidang pangan berawal dari minatnya terhadap ilmu biologi sejak sekolah menengah atas. "Saya kerap mengikuti kompetisi biologi," ujarnya.

Lulus sekolah, Agus diterima di IPB lewat seleksi bibit unggul. Jurusan pangan dipilihnya lantaran mengikuti nasihat ayah, Mochammad Sidik. Agus diminta memilih jurusan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok manusia.

Pilihan Agus tak salah. Selain kuliah, pemuda asal Semarang ini kerap mengikuti lomba. Tidak hanya soal pangan, beberapa lomba dengan tema manajemen perusahaan dia ikuti. "Belajar jadi pengusaha," katanya beralasan. Agus menilai semakin banyak kompetisi diikuti semakin bertambah ide dan kreativitas.

Agus bukan tipe yang ingin terus bergantung pada orang tuanya. Ia ingin mengembangkan bisnis sendiri setelah lulus Juli lalu. Namun, sementara ini, ia memilih mencari kerja dulu. "Mengumpulkan modal dulu," ujarnya.

Stefanus juga memutuskan menjadi karyawan. Pemuda kelahiran Jakarta, 6 November 22 tahun lalu, itu bekerja di perusahaan consumer goods yang kesohor di Jakarta setelah lulus kuliah Juli lalu. Stefanus dikenal ulet. Dia mampu meracik komposisi bahan baku yang pas sehingga produk olahan terasa lezat.

Sudah lama Stefanus berminat terhadap pangan. "Saya suka berkreasi dalam membuat kue dan memasak," katanya. Hobi ini lahir karena Stefanus geram terhadap produk makanan bergizi tinggi tapi mahal. Menurut dia, makanan yang memiliki kandungan gizi bisa diolah dari bahan baku yang sederhana. "Jadi harganya bisa murah," katanya.
Stefanus juga menyoroti bahan baku yang tidak banyak diolah jadi makanan. Dia yakin bahan seperti sorghum, jawawut, hotong, singkong, dan jagung dapat diolah dengan rasa enak dan sehat. Menurut dia, dengan mengolah bahan tersebut, tidak akan ada persoalan kekurangan pangan dan gizi. "Tidak perlu tergantung dengan satu komoditas," katanya.

AKBAR TRI KURNIAWAN

DI BALIK KEMENANGAN
1. Stefanus
Kelahiran: Jakarta, 6 November 1988
Orang Tua: Thio Man Sin dan Ma Bie Thjung
Pendidikan:
l SMA Kristen Yusuf Jakarta
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB

Penghargaan:
l Juara Pertama Food Innovation Competition 2009 Universitas Pelita Harapan
l Juara National Food Innovation Competition, Indonesian Food Expo 2009, IPB
l Juara National Product Design Competition Hi-Great 2010, Universitas Brawijaya, Malang
l Juara National Food Technology Competition Universitas Katolik Widya Mandala 2010
l Juara I 10th Institute of Food Technologists Annual Meeting and Food Expo, Chicago, Illinois, Amerika Serikat

2. Agus Danang Wibowo
Kelahiran: Semarang, 14 Agustus 1988
Orang tua: Mochammad Sidik dan Endang Ekawati
Pendidikan:
l SMA 3 Semarang (2003-2006)
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB (2006-2010)

Penghargaan
l Danone Trust
l Juara I IFT Annual Meeting and Food Expo, Chicago, AS

3. Saffiera Karleena
Kelahiran: Bogor, 26 Juli 1988
Orang tua: Edi Santoso dan Grace Sri Mulyati
Pendidikan:
l SMA Regina Pacis Bogor (2003-2006)
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2006-sekarang

4. Margaret Octavia
Kelahiran: Jakarta, 30 Oktober 1988
Orang tua: Aji Putrawan dan Tjen Nam Lin
Pendidikan:
l SMA Kristen Kanaan (2003-2006)
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2006-sekarang

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2010/10/17/brk,20101017-285227,id.html

14 Oktober 2010

Panglima Perang Itu Bernama RRI

Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) memenuhi janjinya pada 2010 dapat memulai siaran radio dari wilayah perbatasan Republik Indonesia-Timor Leste ketika tanggal 16 September 2010, saat Parni Hadi selaku Direktur Utama (Dirut)-nya meresmikan operasional Stasiun LPP RRI Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Parni Hadi saat itu didampingi Komandan Resor Militer (Danrem) 461/Wirasakti, Kolonel Inf. I Dewa Ketut Siangan, Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Belu, Simon Guido Sera, yang meletakkan batu pertama gedung studio produksi dan sekaligus meresmikan operasional LPP RRI di Kecamatan Atambua, Kabupaten Belu, NTT.

Hal tersebut menandai peran terdepan siaran RRI di wilayah yang berbatasan dengan negara tetangga Timor Leste. Saat ini LPP RRI memiliki 14 studio produksi di kawasan perbatasan negara tetangga, yaitu di Skow, Oksibil, Boven Digul, Kaimana, Entikong, Malinau, Nunukan, Longbagan, Putusibau, Batam, Sabang, Sampang, Takengon dan Atambua. Bahkan Studio Produksi LPP RRI di Tahuna, Sangir Talaud, statusnya telah naik status menjadi stasiun/studio penyiaran.

Pada pengoperasian Studio Produksi LPP RRI Atambua itu ditandai dengan siaran khusus dan dialog dalam program “Indonesia Menyapa dari Atambua”, dan Joachim Lopez bicara soal isolasi informasi di daerahnya. Adapun Kolonel I Ketut Dewa Siangan mengemukakan manfaat siaran radio bagi pasukan yang bertugas di perbatasan sepanjang 268 kilometer dari sektor barat ke timur. Sedangkan, Parni Hadi menegaskan tentang “Sabuk Pengaman Informasi”, dan peran LPP RRI di daerah perbatasan NTT dengan Timor Leste.

Konsep dan Program “Sabuk Pengaman Informasi” awalnya diluncurkan Parni Hadi pada peringatan Hari Radio 2006 dalam bingkai tema “Menjaga Integritas Bangsa”. Ini merupakan suatu konsep dan program yang makin tinggi relevansinya dan terus bergulir maju, khususnya saat ini dengan telah dimilikinya 14 studio produksi plus sebuah stasiun penyiaran di kawasan perbatasan.

Seorang Parni Hadi dapat dikatakan sebagai komunikator ulung sejalan dengan karir jurnalistiknya dari Kantor Berita ANTARA pada 1973, dan pernah membidani harian umum Republika. Ia bisa jadi tidak sempat berkomunikasi dengan Benjamin Palmer, yang pada awal tahun 1900-an dicatat oleh Joseph R. Dominick (pada 1999) mendirikan Palmer College of Chiropractic di Davenport, Iowa, Amerika Serikat (AS), yang kemudian mendirikan perusahaan siaran radio WHO dalam wadah perusahaan milik keluarga dengan bendera Palmer Communication pada 1930-an.

Konsep dan program siaran “Sabuk Pengaman Informasi” RRI yang digagas Parni Hadi mirip dengan program siaran “The Corn Belt Hour” (Jam Siaran Sabuk Belulang) radio WHO yang memperoleh penghargaan nasional AS pada 1939.

Dengan konsep dan program siaran “Sabuk Pengaman Informasi” ini RRI telah menempatkan di barisan terdepan (forefront) dalam memberikan pelayanan siaran dan informasi di daerah perbatasan dan daerah-daerah terpencil yang tidak tersentuh oleh terpaan media massa lainnya.

Program siaran “Sabuk Pengaman Informasi” didesain untuk siaran radio di kawasan perbatasan, sehingga sangat relevan dengan fenomena “Perang Informasi”. Oleh karena program siaran ini bertujuan sebagai pelayanan siaran dan informasi di daerah-daerah terpencil, maka konsep dan programnya sangat signifikan bagi program perang melawan pemiskinan-kemiskinan informasi dan isolasi informasi.

“Sabuk Pengaman Informasi” adalah siaran khusus RRI yang berada di daerah perbatasan. Siarannya dibuat dengan muatan dan misi khusus, antara lain dipancarkan dari Batam yang berbatasan dengan Singapura, dan dari perbatasan Entikong di Kalimantan Barat (Kalbar) yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

Perang informasi pada lingkup TNI pertama kali diungkap oleh Jenderal TNI R. Hartono semasa ia menjadi Kepala Staf Tentara Nasional Angkatan Darat (Kasad) era Orde Baru. Kemudian Jenderal TNI Tyasno Sudarto semasa menjadi Kasad memulai rencana sosialisasi, pentahapan dan program perang informasi secara lebih rinci, tapi terbatas. Kemudian, Brigjen TNI Hotma Panjaitan semasa menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI AD juga menyiapkan kerangka program awal rintisan perang informasi.

Jika dirunut ke belakang lagi, periode 1980 - 1990-an TNI telah mengidentifikasi dan menaruh perhatian besar terhadap perang informasi. Itu semasa Jenderal TNI Try Sutrisno menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), yang kemudian kembali alih nama TNI. Ia kala itu menugasi beberapa perwira dan tenaga ahli sipil untuk mengkhususkan perhatian pada hal-hal yang menyangkut perang masa depan, termasuk perang informasi dan anti-terorisme.

Dalam program pendidikan regional dan sekolah staf fungsional (Dikreg/Sesfung) TNI Angkatan Laut (AL) pada 2001, dan kursus kepala penerangan di sekolah staf komando TNI AD (Suskapen-Seskoad) 2005, serta kursus atase pertahanan Badan Intelijen Strategis (Sus Athan Bais) TNI 2006 ada beberapa hal yang menyangkut perang iInformasi juga dibahas.

Perang informasi yang dikembangkan, antara lain konsep, program dan kasus-kasus mendasar dan pembahasan di lembaga pendidikan tersebut. Hanya saja, sayangnya, program tersebut tidak ditingkatkan dan berlanjut. Selain itu pergantian pucuk pimpinan TNI yang berlangsung secara periodik menyebabkan beberapa masalah tertentu, termasuk perang informasi, belum sempat tertangani secara konsisten dan tuntas, serta cenderung terabaikan.

Bagaimana pun masyarakat umum sempat tercengang ketika seorang Menteri Penerangan (Menpen) yang mantan Kasad ABRI, Jenderal TNI R. Hartono, tiba-tiba menyebut istilah perang informasi hanya beberapa hari setelah dilantik dalam posisinya itu. Fenomena ini membuktikan bahwa sebenarnya para petinggi atau fungsionaris TNI memahami benar arti informasi dan komunikasi secara luas berikut penerapannya dalam konteks militer. Mengapa seorang Hartono mengatakan hal itu tidak pada saat dirinya menjabat Kasad ABRI?

Mengapa pula kini justru LPP RRI yang berada di garis terdepan dalam soal perang informasi? Mengapa bukan TNI? Mengapa juga bukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemeninfo)? Apakah perang informasi merupakan domain TNI atau kewenangan dan tanggungjawab Kementerian Kominfo? Apa pun jawabannya, LPP RRI telah memiliki siaran yang telah mengudara di kawasan perbatasan dan daerah terpencil serta terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ambil contoh, siaran LPP RRI di Batam sudah di arah dan dapat didengar oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI), termasuk Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang berada di Singapura hingga Johor Baru. Siaran RRI Batam yang mengudara menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin, ternyata mampu menjangkau selera pendengar radio di Singapura dan Johor Baru.

Bahkan, pemerintah negeri seberang di mana siaran LPP RRI bisa ditangkap kini mulai “terusik” manakala RRI, yang "Sekali di Udara, Tetap di Udara", secara berkesinambungan berbahasa Melayu, Inggris dan Mandarin. Begitu juga dengan siaran perbatasan RRI dalam bahasa Inggris di Papua dan Tahuna, Sulawesi Utara (Sulut), telah mampu menjangkau pendengarnya di seberang hingga Fipilina Selatan dan Papua.

Untuk siaran di perbatasan Skow dan Oksibil, Papua, RRI bekerjasama dengan anggota TNI AD yang dilatih untuk menjadi penyiar. Upaya RRI menggandeng TNI AD merupakan upaya yang tepat dan signifikan.

Mengapa seakan Parni Hadi ingin mengingatkan bahwa ada masalah mendasar dan fenomena yang belum tertangani/ditangani oleh TNI AD perlu mulai diprogram bersama, yaitu siaran di kawasan perbatasan dan lebih lagi siaran khusus bagi daerah terpencil dan daerah terluar yang belum terjangkau pelayanan media massa nasional lainnya.

Dirut LPP RRI bahkan mengundang Kasad untuk menghadiri peresmian operasional studio produksi RRI di Atambua, Kabupaten Belu NTT, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, negeri muda yang pernah berintegrasi dengan NKRI pada 1976 hingga memutuskan berpisah pada 1999. Namun, Kasad mendadak ada penugasan lain, sehingga menugasi meminta Danrem Wirasakti di Kupang untuk menghadiri.

Keterlibatan TNI AD dalam siaran studio produksi LPP RRI Atambua di kawasan perbatasan NTT dengan Timor Leste juga mengekspresikan sampai sejauh mana pimpinan TNI AD mengapresiasi dan memiliki persepsi terhadap siaran RRI di kawasan itu, termasuk perang informasi.

Oleh karena itu, seorang Parni Hadi tidak mengherankan dalam siaran khusus Indonesia "Menyapa dari Atambua" pada 16 September 2010 mengatakan: “Siaran RRI di kawasan perbatasan, seperti NTT dengan Timor Leste ini penting dan amat strategis, serta vital apakah dalam konteks menghapuskan kemiskinan dan isolasi informasi, tetapi juga ditujukan kepada penduduk negeri tetangga Timor Leste yang hampir 100 persen berbahasa Indonesia. Dalam program siaran khusus kawasan perbatasan RRI-lah yang menjadi panglima perang informasi."

Siaran khusus RRI di kawasan perbatasan Atambua tersebut bagi para angkasawan dan angkasawati LPP RRI merupakan satu bukti pengabdian dan kontribusinya dalam konteks perang informasi, yang mestinya juga direspon secara proporsional oleh pimpinan TNI, khususnya TNI AD sebagai program yang perlu ditata, direncanakan, secara sistematis, terpadu, komprehensif dan terukur.

Apa yang diungkap Parni Hadi semestinya memacu pimpinan TNI untuk bersama-sama jajaran RRI membuat program siaran khusus di kawasan perbatasan, daerah terpencil dan terluar dalam bingkai perang informasi untuk membela dan mempertahankan semua jengkal kedaulatan wilayah NKRI.

Vincent Mosco pada 1993 mencatat Perang Teluk Persia bagaimana pun menunjukkan kepada dunia bahwa selain penguasaan tehnologi militer dan intelijen, maka mau tidak mau mereka yang terlibat dalam perang, khususnya perang Informasi, harus memiliki atau menguasai teknologi komunikasi sekaligus harus mampu menguasai, mengendalikan dan mengatur arus pemberitaan internasional.

Sementara itu, James Adams, Chief Executive Officer (CEO)-nya kantor berita United Press International (UPI) pada 1998 menulis bahwa salah satu bentuk Perang Dunia yang berikut (The Next World War) adalah perang informasi, perang terhadap kejahatan tergorganisir, perang terhadap terorisme dan konflik antar-etnis.

Bukan berlebihan kalau dikatakan RRI menjadi Panglima Perang Informasi, karena lembaga itu bukan hanya berdiri di garis terdepan, tetapi telah terbukti terlibat dalam propaganda dan perang urat-syaraf mulai dari siaran menggelorakan Arek-arek Surabaya ketika Inggris mendompleng Belanda masuk Indonesia.

RRI pula yang menggemakan pekik kemerdekaan dalam peristiwa "Bandung Lautan Api", melakukan siaran media radio bawah tanah (clandestine radio) di bumi Irian semasa Pepera, termasuk juga operasi siaran propaganda anti-komunis pasca-Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) pada 1965.

*) Petrus Suryadi Sutrisno (piets2suryadi@yahoo.com) adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Informasi, dan Pengajar Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS).

sumber kompas

28 September 2010

Tim Catur Putra dan Putri Bersinar Lagi

Tim catur putra dan putri Indonesia kembali mengukir prestasi dengan mengalahkan lawan-lawan mereka pada babak keenam Olimpiade Catur Remaja ke-39 di Tenis Centre, Khanty-Mansiysk, Rusia, Senin (27/9/2010) waktu setempat.
Tim putra menghentikan perlawanan tim ICSC yang terdiri dari para pecatur tuna runggu yang berasal dari berbagai negara. Sementara tim putri sempurna menundukan Turmeknistan.
Pecatur putra, IM Irwanto Sadikin (2419) membuka kemenangan Indonesia melawan IM Salou Sergej. Permintaan draw dari pemain asal Jerman berating 2271 ini ditolak Irwanto.
"Saya sudah bertekad harus menang, apalagi melawan pecatur dengan keterbatasan seperti itu. Malu kalau sampai kalah," ungkap irwanto selepas pertandingan.
Sementara IM Taufik Halay (2358) yang turun di meja tiga justru meminta remis saat melihat posisi bidak-bidak caturnya sudah dalam kondisi tak menguntungkan. Namun Klasan Vladimir (2393) yang berasal dari Serbia itu tampaknya tak paham isyarat yang diberikan Taufik, sehingga pertandingan pun terus berlanjut. Namun tak disangka, kegagalan komunikasi ini justru menghasilkan 1 angka lagi.
GM Susanto Megaranto (2516) menambah poin tim putra dengan menundukkan pecatur asal Israel GM Gruenfeld Yehuda (2464). Hanya IM Tirta Chandra Purnama (2400) yang agak kerepotan menghadapi IM Collutis Dullio (2447) yang berasal dari Italia, dan harus puas dengan posisi remis.
Di kubu putri, WCM Medina Warda Aulia (2011) mengawali posisi remis atas WFM Atabayeva Govel (2116). Disusul kemudian dengan kemenangan WGM Irene Kharisma Sukandar (2372) atas WGM Geldiyeva Mahri (2260).
WCM Chelsie Monica Sihite (2014) pun tak mau ketinggalan. Ia pun mengalahkan WFM Ovezova Meiza (2117). Satu-satunya yang menyerah di tangan tim Turmeknistan adalah Dewi AA Citra (1987) yang dikalahkan WFM Haliayeva (2174).
Dengan kemenangan ini maka tim Indonesia di hari ke-7, Selasa (28/9/2010) waktu setempat akan kembali ke small hall yaitu ruangan kecil bagi 27 meja (54 regu) tim putra ranking atas dan 14 meja (28 regu) tim putri ranking atas.
Tim putra Indonesia akan main di meja 25 melawan tim Latvia dengan salah satu pecaturnya the living legend Evgeny Sveshnikov yang turun di papan dua. Sementara tim putri bermain di meja 12 menghadapi Polandia.

sumber kompas

24 September 2010

Mahasiswa RI Raih Penghargaan Internasional Bidang Fisika

Ali Khumaeni, mahasiswa program master dari Fukui University, mendapatkan penghargaan best paper tingkat internasional bidang aplikasi "Laser-Induced Breakdown Spectroscopy" (LIBS) pada konferensi internasional LIBS ke-6 di Amerika Serikat pada September ini.

Makalahnya yang berjudul "Direct Analysis of Powder Sample Using Transversely Excited Atmospheric CO2 Laser-Induced Metal-Assisted Gas Plasma at 1 atm by Introducing the Powder Particles into the Plasma" dinilai punya orisinalitas oleh para juri.

Menurut Khumaeni dalam surat elektroniknya, riset yang ia lakukan meneliti tentang kandungan nutrisi (seperti kalsium dan sodium) dalam makanan dan produk farmasi serbuk (seperti beras bubuk, tepung, dan multivitamin) dengan menggunakan teknik LIBS dengan memanfaatkan suatu metode baru bernama TEA CO2 laser.

Dengan metode baru itu, waktu analisis produk farmasi serbuk dapat dihemat karena dilakukan tanpa harus memadatkan contoh serbuk itu. Selain itu, dengan sensitifitas deteksi atom yang sangat tinggi, metode ini dapat mendeteksi atom-atom logam berat hingga konsentrasi sangat rendah sampai 1-10 ppm (part per million).

Khumaeni bergelar sarjana sains dari Universitas Diponegoro di bidang Fisika dengan skripsi yang juga membahas mengenai aser plasma spektroskopi di bawah bimbingan Prof. Dr. Wahyu Setiabudi, seorang profesor di Departemen Fisika Universitas Diponegoro dan Dr. Koo Hendrik Kurniawan, Kepala Maju Makmur Mandiri Research Center (M3RC) Jakarta Barat.

Di Indonesia, teknik ini bisa diaplikasikan di perusahaan-perusahaan makanan serbuk, farmasi dan obat-obatan untuk menganalisis persentase kandungan unsur di dalam makanan atau obat-obatan serbuk yang diperlukan tubuh dan menganalisis kemungkinan makanan atau obat-obatan mengandung atom-atom logam berat dengan konsentrasi tinggi.

Saat ini belum ada perusahaan di Indonesia yang menggunakan teknik LIBS. Mayoritas menggunakan X ray flouresecence (XRF) padahal teknik ini tidak bisa mendeteksi atom-atom ringan seperti boron yang kurang baik bagi tubuh jika terkandung dalam makanan dengan konsentrasi tinggi.

Pemuda kelahiran 14 Juli 1983 mengakui bahwa ide riset ini berasal dari pembimbingnya, Prof. Kiichiro Kagawa.

Walau mengalami kesulitan saat eksperimen untuk menghasilkan data garis emisi atom, tapi secara bertahap ia dan rekannya dapat mendeteksi atom logam berat hingga level 1-10 ppm.

Khumaeni melakukan riset ini bersama dengan tiga orang rekannya yaitu Zener Sukar Lie (mahasiswa doktor dari Indonesia), Tetsuya Yamamoto dan Keisuke Nakayama (Mahasiswa S1 dari Jepang).

Untuk rencana ke depannya, ia dan rekan akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk mengaplikasikan metode ini. Sudah ada beberapa perusahaan di Jepang yang tertarik dan tidak tertutup kemungkinan melakukan kerja sama dengan perusahaan di Indonesia.

Penelitian lain Khumaeni di bidang spektroskopi juga sudah dimuat di berbagai jurnal internasional seperti Journal of Current Applied Physics dan Journal of Optics and Laser Technology.
(KR-DLN/A038)

sumber antaranews

Orang Kediri Sukses Di Jepang

Tapi cerita itulah yang terjadi pada diri Khoirul Anwar, dosen sekaligus peneliti asal Indonesia yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.

Saat terdesak karena harus mengajukan tema penelitian untuk mendapatkan dana riset, Khoirul memeras otaknya. Akhirnya ide itu muncul juga dari Dragon Ball Z, film animasi Jepang yang kerap ia tonton.

Ketika Goku, tokoh utama Dragon Ball Z, hendak melayangkan jurus terdahsyatnya, 'Genki Dama' alias Spirit Ball, Goku akan menyerap semua energi mahluk hidup di alam, sehingga menghasilkan tenaga yang luar biasa.

"Konsep itu saya turunkan formula matematikanya untuk diterapkan pada penelitian saya," kata Khoirul, kepada VIVAnews melalui surat elektroniknya, Jumat 13 Agustus 2010.

Maka inspirasi itu kini mewujud menjadi sebuah paper bertajuk "A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval."

hoirul memisalkan jurus Spirit Ball Goku sebagai Turbo Equalizer (dekoder turbo) yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.

Asisten Profesor berusia 31 tahun itu dapat mematahkan anggapan yang awalnya 'tak mungkin' di dunia telekomunikasi. Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Turbo equalizer-lah yang akan membatalkan interferensi sehingga receiver bisa menerima sinyal tanpa distorsi.

Dengan mengenyahkan GI, dan memanfaatkan dekoder turbo, secara teoritis malah bisa menghilangkan rugi daya transmisi karena tak perlu mengirimkan daya untuk GI. Hilangnya GI juga bisa diisi oleh parity bits yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahan akibat distorsi (error correction coding).

"GI sebenarnya adalah sesuatu yang ‘tidak berguna’ di receiver selain hanya untuk menjadi pembatas. Jadi mengirimkan power untuk sesuatu yang ‘tidak berguna’ adalah sia-sia," kata Khoirul.

Gagasan ini sendiri, dikerjakan Khoirul bersama Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki Mobile Wireless Center.

Setelah menurunkan formula matematikanya secara konkrit, Khoirul meminta rekannya Hui Zhou, untuk membuat programnya.



Metode ini bisa dibilang mampu memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA (3G), dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.

Ia juga bisa diterapkan Indonesia, terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit, maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah tadi biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang.

Tak heran bila temuan ini membesut penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientistpada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan.

Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.

***

Ini bukan sukses pertama bagi Khoirul. Pada 2006, pria asal Kediri, Jawa Timur itu juga telah menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier sepertiOrthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division multiple access (MC-CDMA).

Caranya yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya. Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan untuk daya yang tinggi.

Belakangan, temuan ini ia patenkan. Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga membuatnya membuatnya kaget, sistem 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang ia patenkan itu.

Namun, putra dari pasangan (almarhum) Sudjianto dengan Siti Patmi itu, tak pernah lupa dengan asalnya. Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup bertani di Kediri. "Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua, terutama Ibu," katanya.

Ayah Khoirul meninggal karena sakit, saat ia baru lulus SD pada 1990. Ibunyalah kemudian berusaha keras menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus SD.

Sejak kecil, Khoirul hidup dalam kemiskinan. Tapi ada saja jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalkan, ketika melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos gratis untuknya.

Saat ia meneruskan kuliah di ITB Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa. "Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi," kata Khoirul mengenang masa lalunya. Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang tinggi.

Ia mendapatkan beasiswa S2 dari Panasonic, dan selanjutnya beasiswa S3 dari perusahaan Jepang. "Alhamdulillah, meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa." katanya.

***
Sukses di negeri orang tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. "Suatu saat saya juga akan tetap pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri," kata Khoirul.

Di luar kehidupannya sebagai seorang periset, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah agama di Jepang, bahkan menjadi Khatib shalat Iedul Fitri.

Tak hanya itu, Khoirul juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. "Keberadaaan kita di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai duta Indonesia," kata dia.

Selama mengajar kebudayaan Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk yang terakhir itu, ia biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu (Indonesia sedang berusaha dan berjuang).

***
Kini, Khoirul tinggal di Nomi, Ishikawa, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani, dan tiga putra tercintanya. "Semua anak saya memenuhi formula deret aritmatika dengan beda 1.5 tahun," Khoirul menjelaskan.

Yang paling besar lahir di Kawasaki, Yokohama, berusia 7 tahun. Yang kedua lahir di Nara berusia 5,5 tahun, dan ketiga juga lahir di Nara, kini berusia 4 tahun. Ia tak sependapat dengan beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan mengganggu risetnya.

Baginya keluarga banyak memberikan inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. "Belakangan ini saya berhasil menemukan teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan anak-anak," katanya.

Malahan, Khoirul sering mengajak anak-anaknya melakukan riset kecil-kecilan di rumahnya. Bersama anak-anaknya pula, Khoirul sering menyempatkan waktu menonton bersama, terutama film animasi kegemarannya: Dragon Ball Z, Kungfu Panda, Gibli, atau Detektif Conan.

"Film animasi mengajarkan anak kita nilai yang harus kita pahami dalam kehidupan," kata Khoirul. Film animasi Gibli, misalnya, banyak bercerita bagaimana seharusnya manusia bisa bersahabat dengan alam, tidak merusaknya, serta mencintai mahluk hidup.

Bahkan ide dan semangat baru terkadang muncul dari menonton film. Misalnya nilai kehidupan yang dia petik dari film Kungfu Panda: 'There is no secret ingredient, just believe'. "Nilai ini saya artikan bahwa tidak ada rahasia sukses, percayalah bahwa apapun yang kita kerjakan bisa membuat kita sukses." kata Khoirul.(np)


• VIVAnews

25 Agustus 2010

Siswa Indonesia Raih Empat Emas di Olimpiade Fisika

Lima siswa SMA Indonesia yang meraih empat medali emas dan satu perak dalam Olimpiade Fisika Internasional 2010 mengatakan latihan intensif membantu mereka mendapatkan rekor tertinggi prestasi Indonesia sejak 2006. Lomba tersebut diikuti oleh 376 siswa dari 16 negara.

"Kami latihan soal dari Senin sampai Jumat dan hari Sabtu dan Minggu eksperimen dan begitu menjelang Olimpiade kami selalu latihan eksperimen," kata Muhammad Sohibul Maromi, salah seorang siswa yang mendapatkan medali emas dari SMAN 1 Pamekasan, Madura.

Sohibul, bersama Christian George Emor dari SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon, Sulawesi Utara, Kevin Soedyatmiko dari SMAN 12 Jakarta dan David Giovanni dari SMAK Penabur Gading, Serpong, meraih medali emas.

Sementara itu Ahmad Ataka Awwalur Rizqi dari SMAN 3 Yogyakarta mendapatkan perak dalam Olimpiade Fisika Internasional yang digelar di Zagreb, Kroatia, akhir Juli lalu.

Lima siswa SMA Indonesia ini dikirim melalui tim Olimpiade Fisika Indonesia, atau TOFI, setelah melalui training intensif selama delapan bulan. Koordinator TOFI, Hendra Kwee, mengatakan prestasi yang diraih para siswa tahun ini dengan empat emas merupakan yang tertinggi sejak 2006.

"Dari 376 siswa, ada sekitar 35 anak yang mendapat medali emas. Lomba terdiri dari dua bagian, teori 60an eksperimen 40Dari tiga puluh lima anak yang mendapat emas, empat dari Indonesia dan yang terbanyak lainnya dengan lima emas dari Cina, Taiwan dan Thailand," ujarnya, seperti dikutip "BBC".

Sumber : Pikiran Rakyat, 03/08/2010

23 Agustus 2010

Hebat, Indonesia Raih Prestasi Lagi!

Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) berhasil meraih dua medali perak dan satu perunggu di ajang International Olympiad in Informatics (Olimpiade Informatika Internasional) ke-22 yang berlangsung 14-21 Agustus 2010 di Waterloo, Kanada. Tim tiba di Jakarta, Minggu (22/8/2010) malam.

Di antara negara-negara maju yang sudah sangat melek teknologi itu, prestasi anak-anak ternyata masih diperhitungkan.
-- Suharlan

Tim Indonesia yang beranggotakan Alham Fikri Aji (SMA Negeri 1, Depok), Ashar Fuadi (SMA Negeri 1, Bogor), Christianto Handojo (SMA Kanisius, Jakarta), dan Harta Wijaya (SMA St Thomas, Medan) itu adalah empat siswa terbaik Indonesia. Mereka sukses membawa nama Indonesia dapat bersinar di antara 85 tim dari negara lain yang rata-rata berasal dari negara maju.
Kasi Bakat dan Prestasi Siswa-Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Suharlan, kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (23/8/2010), mengatakan gembira atas pencapaian tersebut.
"Di antara negara-negara maju yang sudah sangat melek teknologi itu, prestasi anak-anak kita ternyata masih diperhitungkan dan mampu berbicara bahwa kita memang mampu," ujar Suharlan.

sumber kompas.com

Indonesia Pembawa Aspirasi Asia

INGGRIS kini memiliki pemerintahan baru di bawah koalisi Partai Konservatif dan Partai Liberal Demokrat. Pemerintahan koalisi ini adalah pertama kali dalam 60 tahun terakhir. Penguasa baru negeri itu bertekad meningkatkan hubungan lebih erat dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
“Pemerintah saat ini merasa dalam beberapa tahun terakhir Inggris lebih terfokus pada Eropa dan Amerika, dan kurang memberi fokus pada Asia - termasuk Asia Tenggara,” ujar Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Martin Hatfull, saat berkunjung ke redaksi VIVAnews di Jakarta, Selasa 3 Agustus 2010.
Padahal, dia menambahkan, sejumlah negara di kawasan ini punya pengaruh besar baik ekonomi, dan politik. “Indonesia adalah salah satunya,” ujarnya.
Diplomat kelahiran 7 Juni 1957 itu juga memaparkan langkah Inggris dalam merekatkan hubungannya dengan Indonesia. Salah satunya, membantu Indonesia memperbaiki infrastruktur untuk menambah daya tarik para investor asing, termasuk para pengusaha dari Inggris.
Bagi Hatfull, Indonesia adalah tugas pertamanya sebagai Duta Besar Inggris, dan dia sudah menjalaninya selama dua tahun. Sebelumnya, ayah dua anak ini menjadi pejabat senior Kedutaan Besar Inggris di Jepang, dan pernah pula bertugas di Brussels, Belgia.
Selama sekitar satu jam, Hatfull tak saja membincangkan isu bilateral, tapi juga meladeni sejumlah pertanyaan pembaca VIVAnews dari laman jejaring sosial Twitter dan Facebook. Beragam pertanyaan muncul, dari badai matahari, program bea siswa, hingga klub sepak bola Inggris. Berikut petikan wawancara dengan Hatfull.
Inggris kini memiliki pemerintahan baru, koalisi Partai Konservatif dan Partai Liberal Demokrat. Apakah akan ada perubahan kebijakan luar negeri bagi Indonesia?
Pemerintahan koalisi kami menegaskan di level internasional Inggris berkeinginan memperkuat hubungan dengan negara-negara yang, kami anggap, sebagai kekuatan baru, dan itu termasuk Indonesia.
Pemerintah saat ini merasa bahwa dalam beberapa tahun terakhir Inggris lebih terfokus pada Eropa dan Amerika dan kurang memberi fokus pada Asia - termasuk Asia Tenggara. Padahal ada sejumlah negara di kawasan ini yang memiliki pengaruh ekonomi dan politik yang kian bertambah. Dan Indonesia adalah salah satunya.
Jadi kini ada keinginan yang kian kuat untuk melibatkan Indonesia sebagai mitra di banyak sektor. Salah satunya adalah hubungan ekonomi.
Kami telah melihat potensi ekonomi yang besar dari Indonesia, baik pasar, jumlah populasi, pertumbuhan ekonomi, dan prospek lain. Negeri Anda adalah salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Inggris selama ini mengandalkan ekspor, yang punya pengaruh 70 persen dari pertumbuhan ekonominya. Itulah sebabnya, kami perlu memperluas pasar, dan berharap bisa melakukan banyak hal di Indonesia.

Bagaimana Anda melihat pengaruh Indonesia di G-20 yang, seperti Anda tahu, juga melibatkan banyak negara dengan ekonomi dan politik lebih besar seperti Inggris, Amerika Serikat dan lainnya?
Setiap anggota, termasuk Indonesia, punya peran penting dalam G-20. Di forum, peran setiap anggota tidak semata-mata dilihat dari kapabilitas ekonomi. Semua anggota punya bobot suara dan peran yang sama. Walau kemampuan ekonominya relatif lebih rendah dari anggota lain, Indonesia tetap dianggap penting.
Kami memandang Indonesia membawa aspirasi dari kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Meskipun forum ini juga mengundang negara yang tengah menjabat sebagai ketua ASEAN. Indonesia selama ini melontarkan pandangan yang kuat, dan kami pun menanggapinya secara serius.
Bagaimana Inggris ingin menjadikan Indonesia sebagai salah satu target pasar utama?
Kami ingin menggalakkan perdagangan dan investasi dengan Indonesia sekaligus juga berupaya mengundang lebih banyak investor di sini untuk berbisnis di negara kami. Bagi Inggris, salah satu cara mengatasi masalah ekonomi adalah justru melakukan ekspansi pasar. Maka pemerintah membantu membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan Inggris di luar negeri untuk mengembangkan usaha mereka.
Kendala yang sering dikeluhkan para investor maupun pebisnis asing adalah kurangnya fasilitas dan infrastruktur yang layak di Indonesia. Apakah keluhan sama kerap dilontarkan para pengusaha Inggris?
Inggris memahami penyediaan infrastruktur yang layak adalah salah satu kendala bagi Indonesia mengundang lebih banyak pengusaha dan investor. Itu sebabnya kami mengajak perusahaan-perusahaan Inggris urut mendukung Indonesia dalam pembangunan infrastruktur yang memadai.
Salah satu yang kami pikirkan saat ini adalah pelabuhan. Kami harap jasa pelabuhan tidak terkonsentrasi di Pulau Jawa, namun juga tempat lain seperti Sumatra dan Kalimantan.
Selain itu, listrik adalah infrastruktur yang harus terus diperbaiki. Indonesia saat ini masih perlu lebih banyak ketersediaan listrik.
Banyak pihak di Indonesia berharap Kedutaan Besar Inggris tidak saja meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, perdagangan, dan politik, tapi juga memfasilitasi hubungan antar warga kedua negara. Bagaimana Anda menyikapinya?
Hubungan antar warga memang kian penting bagi kedua negara.
Bagi saya, pendidikan merupakan elemen penting dalam menjalin hubungan antar warga. Itu sebabnya saya menyambut hasil dari program beasiswa Chevening, yang didukung pemerintah Inggris, kepada pelajar-pelajar Indonesia. Para alumni Chevening, dari kegiatan studi yang telah mereka tempuh, bisa memberi perspektif baik mengenai Inggris kepada publik di Indonesia dan juga sebaliknya.
Selain itu, kami juga tengah merintis program kerjasama antara lembaga-lembaga pendidikan di Inggris dengan Indonesia. Lembaga The British Council pun memiliki sejumlah program mempererat hubungan antar warga. Jadi, pemerintah bertugas membuka jalan, tapi saya berharap hubungan antar warga bisa dikembangkan secara spontan oleh publik.
Inggris turut terkena resesi keuangan global. PM David Cameron kabarnya akan mengetatkan anggaran. Selain itu, perusahaan energi terkemuka Inggris, BP, terlilit masalah akibat bocornya sumur minyak di perairan Amerika Serikat. Apakah situasi itu berdampak bagi program bantuan, semisal bea siswa?
Kementrian Luar Negeri Inggris, secara keseluruhan, harus mengalami penyesuaian dalam penyusunan anggaran pemerintah. Saya tidak tahu persis apakah ini juga berdampak bagi operasional tahunan misi kami di Indonesia.
Menteri Luar Negeri [William Hague] baru-baru ini mengkaji kembali program bea siswa Chevening bersama program lainnya. Beliau memutuskan Chevening adalah program yang bagus dan harus dipertahankan. Dia pun berkeinginan menggandeng lebih banyak pihak swasta turut mendukung pendanaan program ini.
Jelasnya, tahun ini kami tetap mempertahankan program Chevening, dan saya berharap dapat diteruskan pada tahun mendatang. Saya juga berharap Chevening terus menjadi salah satu elemen penting dalam mempererat hubungan kedua negara.
Dari laman jejaring sosial Twitter dan Facebook, kami menerima sejumlah pertanyaan dari sejumlah pembaca VIVAnews untuk Duta Besar Martin Hatfull:
@megimargiyono [via Twitter]; Apakah program Chevening akan dibuka lagi?
Eka Budiarti [via Facebook]; Bagaimana posisi pemerintah Inggris sehubungan dengan krisis yang dihadapi oleh BP? Dan apakah krisis BP juga akan berdampak pada beasiswa Chevening mengingat BP adalah salah satu sponsor chevening?
[Duta besar telah menjelaskan dua pertanyaan di atas bahwa tawaran program beasiswa Chevening tahun ini tetap berlanjut - Red]
@si_MIFY [via Twitter]; Apakah persamaan antara dua putra Pangeran Charles (William dan Harry) dengan kedua putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Agus dan Ibas)?
Sejujurnya saya tidak mengenal mereka semua secara pribadi. Yang bisa saya katakan adalah mereka semua berbuat yang terbaik bagi negara dengan cara mereka masing-masing. Mungkin ada saat-saat mereka merasa tidak leluasa karena status yang mereka sandang dan terus menjadi perhatian publik dan saya menaruh hormat kepada mereka semua.
@lalatimothy [via Twitter]; soal badai surya, yang menurut NASA (Badan Antariksa AS) akan menyebabkan Inggris mati lampu dan kehilangan jaringan komunikasi.
Wow, saya tidak menyangka bakal mendapat pertanyaan seperti ini. [sambil tertawa]. Menurut saya fenomena seperti itu membuat semua pihak harus bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk dalam menyikapi hal-hal yang di luar kuasa kita, seperti banjir atau gempa.
Terkait dengan hal itu, maka kita semua harus bijak menghadapi fenomena alam, terutama pemanasan global. Saya tidak tahu mengenai kabar badai matahari ini, namun pemanasan global itu sendiri tidak dapat diprediksi dan kita tidak mampu begitu saja mengatasinya.
Djoko Prasetyo Zx [via Facebook]; Musim baru Liga Premier Inggris tak lama lagi akan dimulai. Anda menyukai klub sepakbola mana?
Ini adalah pertanyaan yang harus saya, sebagai duta besar, tanggapi dengan hati-hati. Masalahnya kalau saya pilih salah satu klub besar –- apakah itu Manchester United, Chelsea, Arsenal, atau Liverpool – saya bakal dijauhi oleh mereka yang menyukai klub lain.
Mereka bisa saja dua pertiga penduduk dari negara saya atau, lebih penting lagi, setengah dari jumlah populasi di Indonesia.
Sebenarnya saya penggemar suatu klub kecil, yaitu Charlton Athletic, yang terletak di sebelah tenggara London. Klub itu sekarang terlempar di divisi bawah, tapi saya berharap mereka bisa bangkit lagi ke Liga Premier beberapa tahun ke depan. Sejak kecil saya mendukung Charlton dan bersama keluarga rutin menonton pertandingan mereka setiap sore di akhir pekan.
Terlepas dari itu, saya melihat bahwa antusiasme publik di Indonesia menggemari tayangan sepakbola Liga Premier Inggris sangat fantastis. Saya berharap antusiasme mereka atas Liga Premier membuat banyak khalayak menjadi lebih ingin tahu mengenai budaya masyarakat Inggris.
Apa tanggapan Anda atas populernya media sosial di internet, seperti laman jejaring sosial Facebook atau Twitter?
Pemerintah kami sangat menyadari betapa besarnya peran media sosial di internet. Lebih penting lagi, media itu tetap menjadi wahana yang bebas.
Kami menentang praktik sensor atau kontrol atas media dengan menggunakan isu-isu seperti pornografi, kekerasan ekstrem, atau isu-isu yang terkait dengan kriminalitas. Pelanggaran demikian bisa ditindak melalui perangkat hukum yang ada, dan telah diterapkan di banyak negara.
Namun, kami sangat menjunjung prinsip kebebasan berinternet, dan menentang upaya membungkamnya. Itu merupakan alat komunikasi yang kuat. Pemerintah kami, termasuk di Kementrian Luar Negeri, justru berupaya memanfaatkan media sosial di internet menyampaikan pesan kepada khalayak luas.
Apakah Anda punya akun pribadi di Twitter atau Facebook?
Tidak punya. Masalahnya, dengan tugas saya saat ini, saya tidak punya waktu untuk update status. Bisa-bisa saya hanya sempat membuka laman enam minggu sekali atau lebih, dan harus mengikuti banyak kabar. (np)
• VIVAnews

21 Agustus 2010

BJ Habibie, Si Jenius yang Terbang Tinggi

Anda orang Indonesia? Bila iya, apa yang menjadi kebanggaan Anda sebagai warga negara Indonesia? Mungkin akan sedikit bingung untuk menjawabnya. Banyak yang berkata negeri ini melimpah akan kekayaan alam, termasuk pendapat yang menyebut orang Indonesia dikenal ramah.


Tapi nyatanya ada pula sebagian orang yang kesal dengan bangsa ini utamanya pemerintah. Persoalan korupsi, kesejahteraan yang timpang dan kinerja pemerintah yang kerap disebut "pas-pas-an" kian menjadi cibiran masyarakat.

Kendati begitu, kita patut berbangga dengan Indonesia. Prestasi sejumlah anak bangsa di kancah Internasional buktinya. Sebut saja, Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal BJ Habibie. Presiden RI ke-3 ini punya prestasi gemilang di bidang transportasi yakni pesawat udara.

BJ Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Anak ke-4 dari delapan bersaudara ini memulai bangku kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955.

Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude. Selepas itu, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg, sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang (1965-1969) dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).

Kembali ke Indonesia, Habibie pun menyumbangkan ilmu yang dimiliki untuk kemajuan teknologi bangsa ini. Berdasarkan data dari sejumlah artikel media massa, Habibie mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada 11 Oktober 1985. IPTN kemudian diresktrukturisasi menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Habibie dalam skala internasional terlibat dalam berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dangn teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal), CN-235, dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, Habibie secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.

Kejeniusan Habibie juga dibuktikan ketika menemukan teori-yang disebut dunia internasional sebagai teori-krack progression. Teori ini menemukan perhitungan titik rawan kelelahan badan pesawat.

Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat.

Ketika menyentuh landasan, sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin ini menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack). Titik rambat tersebut semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang.

Habibie-lah yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack (keretakan) itu bekerja. Dengan teori ini industri pembuat pesawat bisa mengerjakan badan pesawat dengan perhitungan yang lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.

Atas berbagai prestasinya, Habibie mendapat ganjaran dengan sejumlah penghargaan di antaranya bidang kedirgantaraan, Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences.

sumber Ferdinan - Okezone

27 Desember 2009

Yanuar Didapuk Staf Akademik Terbaik Universitas Manchester!

Dr Yanuar Nugroho, pengajar di Institut Kajian Inovasi atau Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR) dan Pusat Informatika Pembangunan Universitas Manchester, Inggris, meraih penghargaan sebagai staf akademik terbaik 2009 di universitas tersebut. Ia satu-satunya dari Indonesia.

Penghargaan sebagai Staf Akademik Terbaik 2009 di Manchester Business School, Universitas Manchester, Inggris, itu dianugerahkan langsung oleh pimpinan Manchester Business School (MBS) di The University of Manchester dalam sebuah upacara pada Rabu (23/12/2009).

Menurut Yanuar, Kamis (24/12/2009), kriteria utama penilaian penghargaan tersebut adalah sumbangan akademik lewat penelitian, tulisan, seminar, kuliah, dan konferensi. Selain itu, alih pengetahuan melalui pelatihan internal dan supervisi mahasiswa program master dan doktoral.

Selama dua tahun terakhir ini, suami dari Dominika Oktavira Arumdati itu terlibat pada lebih dari 15 penelitian yang didanai oleh Uni Eropa (EU/EC), Dewan Riset Inggris (RCUK), Dewan Riset Eropa (ERC), serta Departemen Industri dan Perdagangan Inggris (DTI). Selain memublikasikan tulisannya di berbagai jurnal internasional, presentasi di konferensi-konferensi kelas dunia, dan menjadi dosen tamu di beberapa universitas termasyhur, seperti Oxford dan Cambridge.

Saat ini, Nugroho membimbing dua mahasiswa sarjana, lima mahasiswa master, yang dua di antaranya dari Indonesia dengan satu mahasiswa berhasil lulus dengan gelar cum laude. Selain itu, Nugroho juga menjadi supervisor untuk satu orang mahasiswa doktoral dan advisor bagi tiga mahasiswa doktoral lainnya.

Nugroho menyatakan, sebenarnya ia sama sekali tidak menyangka akan memenangkan penghargaan ini. "Saya baru diberi tahu bahwa saya dinominasikan sebagai kandidat pada bulan November yang lalu," ujar pria kelahiran Januari 1972.

Menurutnya, hampir tak ada yang tahu kecuali keluarganya dan seorang kawan dekat. "Saya sendiri sangat tidak yakin akan menang karena ada puluhan staf akademik lain yang sangat brilian di MBS dan saya sendiri baru diangkat menjadi staf penuh pertengahan tahun lalu," ujar ayah dari seorang putri, Diandra Aruna Mahira (5), dan seorang putra Linggar Nara Sindhunata (2,5).

Karena itu, ia merasa terkejut saat memenangi penghargaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya ini. "Mudah-mudahan penghargaan ini tak hanya berarti bagi saya, tetapi juga menjadi semangat bagi para mahasiswa dan cendekia Indonesia yang saat ini tengah menjalani studi ataupun bekerja di Inggris," ujarnya.

Adapun penghargaan prestisius yang diterima Nugroho tersebut diberikan setiap tahun kepada staf akademik di MBS. Tahun ini, para kandidat berasal dari semua divisi di MBS dan hampir semuanya adalah akademisi asal Inggris dan Eropa daratan. Hanya Nugroho satu-satunya dari Indonesia.

Nugroho membuat riset tentang inovasi di organisasi masyarakat sipil. Ia mengambil studi kasus penggunaan internet dalam gerakan sosial di Indonesia, yang dinilainya telah membuka minat dan perhatian terhadap penelitian baru yang bermanfaat bagi kemajuan studi inovasi.

Nugroho adalah alumnus Teknik Industri ITB tahun 1994. Ia mendapatkan gelar PhD-nya dari Universitas Manchester dalam waktu kurang dari tiga tahun pada 2007, dan menyelesaikan post-doctoral pada 2008. Sejak Agustus 2008, Nugroho menjadi staf penuh di Universitas Manchester.


sumber kompas

04 Desember 2009

Tiga Perempuan Peneliti Indonesia Raih "L'Oreal Fellowships"

Lewat karya-karya penelitiannya, perempuan juga terbukti mampu menjadi potensi dan tulang punggung bangsa. Untuk itulah, instansi-instansi terkait seperti LIPI dan Kementrian Negara Riset dan Teknologi harus "memeliharanya" bagi masa depan Indonesia.

Demikian hal itu diungkapkan oleh Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman dalam sambutan penganugerahan L'Oreal Indonesia Fellowships for Women in Science kepada tiga perempuan muda peneliti Indonesia, Kamis (3/12) malam, di Hotel The Rizt Carlton, Jakarta.

"Ini membuktikan bahwa perempuan sangat diperlukan dalam dunia penelitian yang sangat berharga bagi masa depan dunia," ujarnya.

Adapun ketiga perempuan peraih L'Oreal Indonesia Fellowships for Woman in Science tersebut adalah Dr. rer. nat Kartika Senjarini (dosen dan peneliti Universitas Jember) dan Sidrotun Naim, S.Si, M.Mar. St (asisten akademik SITH ITB Bandung) untuk kategori life science, serta Dr Eng Hendri Widiyandari, M.Si (dosen Fakultas MIPA Universitas Diponegoro Semarang) untuk kategori material science. Kepada tiga perempuan peneliti tersebut diberikan hadiah uang yang masing-masing senilai Rp 60 juta.

sumber kompas

22 November 2009

Lifter Eko Raih Emas dalam Kejuaraan Dunia

Indonesia kembali membuktikan diri sebagai negara penting dalam kancah olahraga angkat besi internasional. Lifter putra Eko Yuli Irawan, Sabtu (21/11) di kota Goyang, Korea Selatan, berhasil merebut emas dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2009.

Eko adalah peraih perunggu Olimpiade Beijing 2008. Perunggu angkat besi Olimpiade Beijing lainnya dipersembahkan Triyatno. Selain bulu tangkis, angkat besi adalah cabang yang berpeluang menyumbangkan medali dalam olimpiade.

Eko, yang bertahun-tahun silam bekerja sebagai gembala kambing di Metro, Lampung, mengikuti kejuaraan dunia di kelas 62 kilogram. Ia belum satu tahun menggeluti kelas itu. Setahun silam, Eko adalah lifter yang ditakuti di kelas 56 kilogram.

Eko mendapat emas dari angkatan clean and jerk. Melakukan angkatan clean and jerk tertinggi 175 kilogram, Eko hampir mencapai rekor dunia jenis angkatan tersebut, 177 kilogram.

"Ia mungkin bisa memecahkan rekor dunia. Namun, Eko pergi ke Goyang bukan untuk melakukan angkatan maksimal. Eko mengikuti kejuaraan dunia untuk persiapan SEA Games 2009," ujar Sonny Kasiran, Ketua Bidang Angkat Besi Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI), dari Goyang.

Dengan tujuan sebagai persiapan mengikuti SEA Games, menurut Sonny, atlet yang berangkat ke Goyang memang tidak ditargetkan macam-macam. "Intinya, kejuaraan dunia ini masih bagian dari latihan," kata Sonny.

Untuk kategori angkatan snatch, Eko meraih perunggu setelah melakukan angkatan terbaik 140 kilogram. Pada kesempatan ketiga jenis angkatan itu, Eko berusaha mengangkat barbel 143 kilogram, tetapi gagal.

Untuk kategori total (kombinasi clean and jerk dan snatch), Eko mengantongi perak. Total angkatannya ialah 315 kilogram. Emas kategori total dikantongi lifter China, Ding Jianjun. Ia meraih emas snatch (146 kilogram) dan menempati posisi keempat clean and jerk (170 kilogram).

SEA Games 2009 berlangsung di Laos, bulan depan. Setelah selalu menjadi juara umum sejak mengikuti perhelatan olahraga Asia Tenggara itu pada akhir 1970-an, Indonesia terpuruk ke posisi kelima pada 2005.

Posisi Indonesia membaik ke urutan keempat pada 2007. Sistem pembinaan yang jauh tertinggal ketimbang negara Asia Tenggara lain merupakan faktor utama Indonesia kini terseok-seok di kancah SEA Games.

Lifter Jadi Setiadi yang turun di kelas 56 kilogram menempati posisi keempat untuk semua kategori angkatan. Lifter Triyatno yang naik ke kelas 69 kilogram baru berlaga Minggu ini.

Satu lagi lifter Indonesia yang pergi ke Goyang adalah atlet putri Ni Luh Sinta Damayanti. Ia akan turun di kelas 75 kilogram. (ATO)

12 November 2009

Tiga Mahasiswa Indonesia Dapat Penghargaan UNESCO

Tiga mahasiswa Indonesia berprestasi mendapat penghargaan Mondialogo Award dari UNESCO dan perusahaan Jerman Daimler AG yang memproduksi mobil mewah Mercedez Benz, di Stuttgart, Jerman.

Selain kepada tiga mahasiswa teknik Indonesia berprestasi, Mondialogo Engineering Award juga diberikan kepada 60 mahasiswa berprestasi dari 28 negara. Demikian disampaiakn Counsellor Sosbud dan PIPP KBRI Berlin Agus Priono dalam siaran pers yang dikirim kepada Kompas.com, Kamis (12/11). Penghargaan tersebut terbagi dalam 30 proyek yaitu bidang pembangunan, pengentasan kemiskinan dan lingkungan.

Ketiga mahasiswa Indonesia berprestasi tersebut adalah Benny dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan proyek Zero Waste Production System in Small/Medium Industrial Cluster yang meraih medali emas.

Sementara Fengky Satria Yorestra dari Universitas Andalas dengan proyek Evacuation Infrastructure from Tsunami for Coastal Communities in West Sumatra meraih medali Perak.

Mahasiswa Udayana Nanang Sugianto dengan proyek Development of a Transportable Bioreactor for Anaerobic Treatment meraih medali perunggu.

Proyek Benny, mahasiswa Teknik Kimia semester 7 UGM yang bermitra dengan Awqi Gibran dari Chalmer University of Technology, Gothenberg, Swedia dinilai dewan juri independen bermanfaat dan kreatif karena berhasil menciptakan sumber energi alternatif bagi perkampungan secara berkelanjutan.

Dewan juri yang berasal dari beberapa negara menilai proyek Benny memanfaatkan limbah industri dan biologi untuk memproduksi barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun herbal, berhak meraih medali emas.

Penganugerahan medali dilakukan Pimpinan Puncak Daimler AG dan Mercedez Benz Walter Eldern dan perwakilan dari UNESCO Dieter Zetsche.

Menurut Agus Priono, penghargaan Inisiatif Mondialogo Award diluncurkan Daimler AG dan UNESCO 2003 dan merupakan penghargaan dan forum dunia terbesar untuk mempromosikan kerja sama dan dialog antarbudaya di antara mahasiswa teknik sedunia.

Untuk memilih penerima penghargaan, pelajar di berbagai negara maju dan berkembang selama kurang lebih setahun mengerjakan proyek untuk membantu pencapaian United Nations Millennium Development Goals dan memfokuskan pada mitigasi perubahan iklim, pengentasan kemiskinan serta pembangunan yang berkelanjutan.

Pemberian penghargaan dihadiri duta besar dari negara-negara yang warganya menerima medali dalam kesempatan tersebut antara lain India, Indonesia, Afrika Selatan Canada, dan Brazil serta pembalap mobil Formula 1 Lewis Hemilton.
sumber kompas

17 Oktober 2009

Antivirus Siswa SMP Stella Maris Mampu Jaring 4.000 Virus

Anda yang biasa browsing di situs softpedia.com untuk mencari antivirus, tentu mengenal Blue Atom Antivirus. Tetapi, tahukah Anda siapa pencipta antivirus ukuran 2,5 MB yang mampu menjaring sekitar 4.000 virus dalam dan luar negeri itu?

Dia adalah Alvin Leonardo (14) siswa kelas IX E SMP Katolik Stella Maris, Surabaya. Hebatnya, karya arek Suroboyo ini secara resmi telah mendapat garansi 100 persen clean oleh softpedia pada 19 Oktober 2009.

Meski menjadi salah satu penghuni kelas unggulan di sekolah, Alvin adalah sosok siswa bersahaja. Tak terlihat istimewa. Rambut pendek dan badan sedikit kurus. Tapi, ia memang lebih menguasai pemrogaman komputer dibanding rekan-rekannya.

Alvin mulai rajin mengotak-atik program komputer sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, dia baru saja duduk di bangku SMP dan untuk pertama kali memegang komputer. Awalnya, dia hanya suka main game. Tapi, rasa ingin tahunya berkembang ketika melihat program visual basic dalam hard disk komputer.

“Waktu itu saya penasaran, program itu untuk apa? Cara kerjanya bagaimana? Lalu saya otak-atik sampai akhirnya tahu,” ujarnya. Kemampuan Alvin mengotak-atik program komputer didapat secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus komputer atau mendapat bimbingan khusus di bidang pemrograman.

Hanya dalam kurun waktu sekitar dua tahun, Putra pasangan Muliani Tedjakusuma dan Surya Mutiara itu sudah menguasai bahasa pemrogaman visual basic, c#, dan asmbler (ASMX 86). Kemampuan menguasai tiga jenis bahasa pemrogaman itulah yang mengantar Alvin membuat antivirus.

Karya itu lahir dari keluhan orang-orang di sekitar. “Banyak saudara dan teman jengkel karena komputer atau flash disk diganggu virus. Saya lihat sistem kerja antivitus itu gampang, jadi saya buat sendiri,” ungkap anak tunggal itu.

Alvin berhasil menyelesaikan proyek antivirusnya pada September 2009. Semula ia menamakan karyanya Fire Antivirus. Tapi, karena nama itu sudah pernah ada, ia lalu mengubah dan memberi nama karyanya Blue Atom Antivirus. “Biru itu melambangakan ketenangan dan atom merupakan bagian terkecil dari semua benda, itu melambangkan antivirus saya yang kapasitasnya cukup kecil,” papar Alvin.
Selanjutnya ia mendaftarakan karyanya ke softpedia secara online. “Saya sempat kesulitan mendaftar, karena harus mencari website yang bisa menjadi pengantar untuk masuk ke softpedia, karena saya tidak punya server sendiri. Tapi, akhirnya bisa menggunakan sourceforge,” terang Alvin.

Selang beberapa hari setelah mendaftar ke softpedia, Alvin mendapat jawaban melalui email yang menyatakan antivirus buatannya sudah lolos uji coba dan dijamin sehingga bisa diunduh secara langsung melalui softpedia.

Selain berkapasitas kecil dan bisa menyeleksi lebih banyak virus, Blue Atom Antivirus diklaim bisa bekerja dalam waktu singkat. Antivirus ini bisa digunakan untuk komputer dengan spesifikasi sederhana sekalipun.

Tidak puas dengan karya antivirus yang sudah mendapat sertifikasi softpedia. Alvin terus mengembangkan karyanya. Hasilnya, dalam waktu singkat ia sudah me-launching pengembangan antivirus Blue Atom karyanya dengan tambahan beberapa keunggulan. Versi baru Blue Atom Antivirus kini dilengkapi karantina, clean, fitur antivirus untuk game yang disebut game mode dan fitur protective flashdisk.
Pengembangan antivirus Blue Atom kembali didaftarkan Alvin ke Softpedia, Kamis (15/10). Ia berharap versi baru Blue Atom Antivirus bisa kembali mendapat lisensi dari Softpedia beberapa hari ke depan. “Kalau dapat lisensi lagi itu bisa menjadi hadiah ulang tahun,” harap bocah yang tinggal di Jl Muria Surabaya itu.

Pakar IT yang juga dekan FTIf ITS Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD menyatakan, bahasa pemrograman komputer tidak mudah dikuasai siswa, apalagi SMP.

“Kalau memang dia (Alvin) bisa menguasai bahasa pemrograman, berarti dia termasuk anak yang serius belajar, hebat dia,” puji Ryan.
Terkait antivirus buatan Alvin, Ryan hanya mengingatkan bahwa sistem kerja antivirus adalah kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak wajar dalam kerja komputer.

Antivirus berfungsi untuk mendeteksi hal yang tak wajar itu untuk kemudian mengendalikannya. Karenanya, pembuat antivirus dituntut untuk terus mengupdate, supaya tetap bisa berfungsi baik jika sudah ditemukan virus-virus baru.
“Anak-anak seperti dia perlu diperhatikan. Untuk meningkatkan kemampuan, dia bisa diikutkan lomba-lomba pemrograman,” tambah Ryan. Lebih lanjut, ia berharap potensi seperti Alvin bisa dibina untuk menjadi hacker ‘ilmu putih’ untuk menyosialisasikan fungsi penguasaan program komputer dan IT untuk membantu mencari solusi bagi segala keperluan. (rey)

sumber kompas

Air lumpur di kawasan eksplorasi PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur kini dipercaya dapat menjadi obat kulit dan kecantikan sehingga ba

-Dua siswa asal Indonesia, Mega Chrisna Anggraeni (17 tahun) dari SMU Negeri 1 Wringinanom, Gresik dan Dea Ayu Fitria (16 tahun) dari SMU Negeri 1 Sukowati Bali berkesempatan membagi kesuksesan proyek Go Green di depan 30 delegasi pada Lokakarya UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) Regional Asia Pacific di Bali, 14-16 Oktober 2009.

Keduanya merupakan pemenang kompetisi proyek sekolah go green bertajuk 'School Climate Challenge' yang digelar oleh British Council sepanjang Desember 2008 – Juli 2009. Kompetisi yang diikuti lebih dari 200 sekolah dan 1000 siswa, itu bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan kalangan sekolah dalam solusi ketahanan iklim.

Kedua sekolah tempat Mega dan Dea terpilih karena mampu menunjukkan komunitas sekolah dapat berperan lebih dalam melakukan penangan masalah ketahanan iklim. Amanda Katili Niode, Koordinator Komunikasi, Informasi, dan Pendidikan Dewan Nasional Perubahan Iklim yang juga pimpinan The Climate Project Indonesia, menyatakan dalam lokakarya tersebut pelajar mampu berperan aktif dalam mengadaptasi strategi penanganan ketahanan iklim agar lebih sesuai dengan kebutuhan lokal dimana mereka berada.

SMU Negeri 1 Wringinanom Gresik dengan proyek restorasi bantaran sungai Surabaya, melibatkan petani untuk bercocok tanam di daerah bantaran sungai. Hal ini menghindari terjadinya alih fungsi tanah menjadi rumah tinggal atau gedung. Sedangkan SMU Negeri 1 Sukowati dengan proyek pemanfaatan kompos dari kulit nangka dan sampah sayuran, mendorong masyarakat sekitar untuk mengubah kebiasaannya. Selain mengganti penggunaan pupuk konvensional yang memang lebih mahal, mereka juga bisa mengurangi sampah dengan memanfaatkannya sebagai kompos, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap solusi perubahan iklim.

Lokakarya ini merupakan bagian dari serangkaian lokakarya regional yang diadakan oleh UNFCCC terkait penerapan Article 6 Kyoto Protocol mengenai Pendidikan, Pelatihan, dan Kesadaran Publik. Menurut Liana Bratasida, Asisten Menteri Lingkungan Hidup untuk Lingkungan dan Kerjasama Internasional, melalui regional workshop diharapkan negara yang berpartisipasi dapat bertukar pengalaman dan memetik pelajaran untuk impelementasi Article 6 di negara masing-masing, dan sekaligus menentukan siapa yang akan menjadi juru bicara untuk Article 6 di negaranya.

''Apa yang sudah dilakukan oleh para peserta School Climate Challenge merupakan contoh good practice yang sangat mendukung implementasi Article 6 di Indonesia,'' Liana menambahkan.

Pihak internasional pun turut mengakui pencapaian kedua sekolah ini dan membuka kemungkinan dukungan internasional melalui skema kebijakan yang ada.

''Inisiatif yang dilakukan oleh anak-anak ini sangat luar biasa. Mereka bukan hanya menunjukkan tekad yang kuat untuk berkontribusi pada penanganan perubahan iklim, tapi juga menunjukkan kemampuan dan pengetahuan yang sangat mengesankan. Untuk dukungan selanjutnya kita bisa memasukkan proyek mereka ke dalam Clean Development Mechanism untuk mendapatkan bantuan dana dan bimbingan lebih lanjut'', menurut Alla Metelitsa, Team Leader Education and Outreach UNFCCC Secretariat.

Di samping program proyek berbasis sekolah, British Council juga berkesempatan mempresentasikan program-program lainnya di bidang ketahanan iklim yang berkaitan erat dengan kaum muda. Program International Climate Champions yang telah diusung selama 2 tahun dinilai berhasil meningkatkan kepedulian dan partisipasi kaum muda dalam menghadapi perubahan iklim. c12/rin

16 Oktober 2009

Pelukis Cilik Indonesia Menang Kompetisi Seni Dunia di Polandia

Seorang anak Indonesia yang berasal dari Bandung, Kevin Salim berusia 10 tahun, memenangkan kompetisi melukis XV International Children's and Youth's Art competition bertema "Always Green, Always Blue", yang diadakan di Torin, Polandia.

Karya Kevin Salim berhasil menyisihkan 25.500 karya yang dikirimkan pelukis anak-anak dari 56 negara, demikian Counsellor Any Muryani, juru bicara KBRI Warsawa kepada korespodnen Antara, Rabu.

Dikatakannya Festival tahunan yang diselenggarakan dalam 15 tahun terakhir ini bertujuan untuk saling mendekatkan hubungan antar bangsa melalui karya seni anak-anak.

Menurut Any, ketua penyelenggara Mgr Dariusz Delik dari Tumult Foundation menyampaikan kabar gembira itu langsung dalam suratnya kepada Dubes RI Warsawa Hazairin Pohan.

Pengumuman resmi penetapan lukisan terbaik dilaksanakan dewan juri dalam acara yang berlangsung Kamis di kota Torun, sekaligus pembukaan pameran 1162 hasil karya anak-anak dari seluruh dunia yang dipilih oleh panitia.

Pameran yang diselenggarakan selama sebulan di Galeria and Children Artistic and Creativity Center, di Torun yang merupakan kota kelahiran astronom terkenal Nicolae Copernicus.

Dikatakannya selain itu sebanyak 13 lukisan karya anak-anak Indonesia lainnya juga mendapat kehormatan untuk ikut dipamerkan.

Gubernur Kyavia-Pomerania Piotr Calbecki, mengirimkan undangan kepada Dubes RI Warsawa untuk hadir mewakili Kevil Salim, siswa yang tergabung dalam Ananda Visual Art School dari Bandung, dalam upacara tesebut.

Dubes Hazairin Pohan yang akan menyampaikan kuliah di Universitas Nicolae Copernicus sekaligus membuka Festival Film Indonesia Jumat akan menyaksikan lukisan Kevin dan 13 lukisan anak Indonesia lainnya dan bertemu dengan pantia untuk menerima penghargaan tertinggi yang diperoleh Kevin.

Menurut Any Muryani, pihaknya segera menghubungi keluarga Kevin Salim, menyampaikan kabar kemenangannya dan akan segera mengirimkan hadiah dan penghargaan ke Bandung

sumber antara

Pelukis Cilik Indonesia Menang Kompetisi Seni Dunia di Polandia

Seorang anak Indonesia yang berasal dari Bandung, Kevin Salim berusia 10 tahun, memenangkan kompetisi melukis XV International Children's and Youth's Art competition bertema "Always Green, Always Blue", yang diadakan di Torin, Polandia.

Karya Kevin Salim berhasil menyisihkan 25.500 karya yang dikirimkan pelukis anak-anak dari 56 negara, demikian Counsellor Any Muryani, juru bicara KBRI Warsawa kepada korespodnen Antara, Rabu.

Dikatakannya Festival tahunan yang diselenggarakan dalam 15 tahun terakhir ini bertujuan untuk saling mendekatkan hubungan antar bangsa melalui karya seni anak-anak.

Menurut Any, ketua penyelenggara Mgr Dariusz Delik dari Tumult Foundation menyampaikan kabar gembira itu langsung dalam suratnya kepada Dubes RI Warsawa Hazairin Pohan.

Pengumuman resmi penetapan lukisan terbaik dilaksanakan dewan juri dalam acara yang berlangsung Kamis di kota Torun, sekaligus pembukaan pameran 1162 hasil karya anak-anak dari seluruh dunia yang dipilih oleh panitia.

Pameran yang diselenggarakan selama sebulan di Galeria and Children Artistic and Creativity Center, di Torun yang merupakan kota kelahiran astronom terkenal Nicolae Copernicus.

Dikatakannya selain itu sebanyak 13 lukisan karya anak-anak Indonesia lainnya juga mendapat kehormatan untuk ikut dipamerkan.

Gubernur Kyavia-Pomerania Piotr Calbecki, mengirimkan undangan kepada Dubes RI Warsawa untuk hadir mewakili Kevil Salim, siswa yang tergabung dalam Ananda Visual Art School dari Bandung, dalam upacara tesebut.

Dubes Hazairin Pohan yang akan menyampaikan kuliah di Universitas Nicolae Copernicus sekaligus membuka Festival Film Indonesia Jumat akan menyaksikan lukisan Kevin dan 13 lukisan anak Indonesia lainnya dan bertemu dengan pantia untuk menerima penghargaan tertinggi yang diperoleh Kevin.

Menurut Any Muryani, pihaknya segera menghubungi keluarga Kevin Salim, menyampaikan kabar kemenangannya dan akan segera mengirimkan hadiah dan penghargaan ke Bandung.(*)

sumber antara

07 Oktober 2009

Peneliti Indonesia Terima "Crawford Award"

Direktur Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Dr. Ketut Sugama, MSc, di Adelaide, Rabu malam, menerima penghargaan bergengsi Australia, "Crawford Fund", atas prestasi riset dan keberhasilannya mengembangkan teknolgi pembenihan ikan laut.

Penghargaan itu disampaikan Ketua Dewan Gubernur Crawford Fund, Neil Andrew, kepada Ketut Sugama dalam satu acara yang turut dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Canberra Dr.Aris Junaidi dan sejumlah pejabat KBRI Canberra lainnya yang tengah berkunjung ke Adelaide.

Ketut Sugama mengatakan, "Crawford Fund Award" yang diterimanya Rabu malam ini merupakan pengakuan dan penghargaan atas keberhasilannya mengembangkan teknologi pembenihan ikan-ikan laut, khususnya Kerapu, yang ikut membantu masyarakat pantai meninggalkan cara-cara penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

"Katanya (Crawford Fund), saya berhasil mengembangkan teknologi pembenihan ikan-ikan laut, terutama ikan Kerapu, sehingga ikut membantu menghindarkan masyarakat dari merusak karang lewat bom ikan berbahan sianida," katanya.

Selama ini, ia telah pun menjalin kerja sama erat dengan Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR).

Menanggapi keberhasilan Dr. Ketut Sugama, MSc, Adikbud RI di KBRI Canberra Dr. Aris Junaidi menyebutnya sebagai pengakuan internasional atas prestasi riset Indonesia yang manfaatnya juga dirasakan Australia.

Sebelum menjadi direktur pembenihan di Ditjen Perikanan Budidaya DKP, Ketut Sugama pernah mengepalai Balai Riset Perikanan Budidaya Laut di Gondol, Bali (1990-2002).

Crawford Fund sendir merupakan lembaga nirlaba yang mendukung pengembangan riset pertanian dunia. Lembaga non-pemerintah yang didirikan Akademi Sains Teknologi dan Teknik Australia (AATSE) tahun 1987 itu menyandang nama Sir John Crawford untuk mengenang jasanya bagi pengembangan riset pertanian dunia.

Brisban (ANTARA News)

Prestasi Mahasiswa Indonesia di Tingkat Internasional

Kalau melihat daftar mahasiswa Indonesia yang berprestasi di luar negeri pastinya sangat membanggakan sekali. Dulu, bangsa Indonesia terkenal dengan bangsa yang besar karena kita memiliki Soekarno. Bangsa Indonesia juga terkenal dengan istilah macan Asia. Walau beberapa tahun kemudian Indonesia seperti kehilangan gigi, kini kita boleh berbangga lagi dengan prestasi putra-putri terbaiknya di kancah Internasional.
Ini adalah beberapa nama mahasiswa Indonesia yang menuai prestasi membanggakan di tingkat internasional di tahun 2009:

- Shofwan Al-Banna Choiruzzad, berhasil memenangkan The 39th St. Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7–9 Mei 2009. Dengan karya tulis berjudul Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors, ia mengungguli Jason George, mahasiswa program master dari Harvard University (peringkat dua) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat tiga).

- Arief Indrasumunar, Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland, mendapatkan paten internasional atas keberhasilan penelitiannya melakukan kloning tiga gen yang berperan dalam pembentukan "root nodule" pada tanaman kedelai.

- Team Ganesha, Tyson, Aisar L. Romas, dan R. Siti Intan, berhasil menyisihkan finalis dari universitas ternama di Jepang dan Korea, meraih penghargaan tertinggi dari JapanSociety of Information and Communication, IEICE, pada lomba perancanganchip: LSI-Design Contest 2009.

- Team Zoiros, Randy Hari Widialaksono, Ahmad Fajar Firdaus, dan Iman Prayudi, juga mendapat penghargaan dari Multinational Company, Xilinx® Award. Dengan rancangan prosesor mereka yang dapat bekerja pada kecepatan mencapai 1 GigaHertz, mereka berhasil menunjukkan keunggulan sistem dari berbagai peserta lainnya. Prototipe komputer mereka juga dapatmemperagakan kemampuan prosesor dalam menjalankan “Video Game Sokoban.

- Tim 'Big Bang' ITB yang terdiri dari David Samuel, Doddy Dharma, Dominikus Damas dan Samuel Simon, serta Ella Madanela sebagai mentor menjuarai Imagine Cup 2009 yang digelar oleh Microsoft pada final 3 - 7 Juli 2009 lalu di Kairo, Mesir.
Data diatas belum termasuk pemenang Olimpiade Fisika di luar negeri. Itu untuk posting berikutnya :)

Tapi sayang sekali, pemerintah masih kurang menghargai hasil karya anak bangsa, seperti mematenkan hasil karya mereka. Ini dapat terlihat jelas dengan adanya kasus David, mahasiswa asal Indonesia yang meninggal di Singapore karena dianiaya oleh dosennya karena sang dosen ingin memiliki hasil penelitian David. Peranan pemerintah sangat lemah dalam hal mempertahankan hasil penelitian David yang luar biasa dan cenderung tidak peduli atas kehilangan salah satu putra terbaiknya.

Selain itu, kurangnya perhatian pemerintah terhadap wadah bagi orang-orang pintar ini untuk melakukan penelitian dan berkreasi. Sehingga mereka lebih senang bekerja di luar negeri daripada di negerinya sendiri. Padahal kemampuan mereka dapat membantu membangun negeri kita tercinta ini.