Tampilkan postingan dengan label ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ragam. Tampilkan semua postingan

02 Oktober 2010

Nasi Goreng Indonesia Digemari Orang Asing

Salah satu spot dalam Paviliun Indonesia di World Expo Shanghai China 2010 (WESC 2010), digelar di Shanghai, China, 1 Mei - 31 Oktober 2010, adalah area kuliner. Area ini membuat pengunjung expo terkagum-kagum. Sebab lewat Warung Enak, pengunjung bisa menikmati berbagai sajian khas Indonesia yang sudah terkenal kelezatannya.

Salah satu menu yang jadi primadona di area ini adalah nasi goreng khas Indonesia. Tidak kurang dari 700 porsi nasi goreng berhasil dijual di Paviliun Indonesia setiap harinya, atau lebih dari 67.000 porsi sejak paviliun dibuka pertama kalinya pada 1 Mei 2010. Animo besar dari pengunjung expo yang diikuti 192 negara ini membuat Panitia Pelaksana makin berniat memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia lewat nasi goreng. Mengapa nasi goreng?

Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, yang juga Ketua Panitia Pelaksanaan Keikutsertaan Indonesia di WESC 2010, sempat diadakan rembugan mengenai makanan apa yang akan ditampilkan secara khusus di area kuliner ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono termasuk yang ikut berembug saat itu.

"Yang memecahkan jawabannya adalah Presiden. Waktu itu sempat diusulkan soto atau rawon. Pokoknya harus mencari dua atau tiga makanan yang identik dengan icon Indonesia. Seperti tom yang kung identik dengan Thailand, ginseng dari Korea, atau spageti dengan Italia. Nasi goreng itu identik dengan Indonesia, karena ada unsur kecap manisnya," papar Mari Elka Pangestu.

Negara lain, menurut Mari, bukannya tidak memiliki menu nasi goreng. Di RRT pun, di pelosok manapun pasti tersedia menu nasi goreng. Tetapi dalam menu di rumah makan, pasti disebutkan "nasi goreng Indonesia". Ciri khas nasi goreng Indonesia adalah: selalu menggunakan kecap manis, dengan berbagai kondimen seperti telur ceplok, sate ayam, krupuk udang, dan bawang goreng. Hal inilah yang membedakan nasi goreng Indonesia dari nasi goreng buatan negara lain.

Oleh karena itu, Mari juga mengatakan bahwa event ini bisa menjadi salah satu cara untuk nation branding. Apa dan bagaimana Indonesia, juga bisa tercermin dari makanan khasnya. Paviliun Indonesia sendiri menempati ranking empat dari seluruh paviliun yang berpartisipasi di WESC 2010, setelah Jerman, Jepang, dan Perancis.

Secara khusus Mari juga menyatakan sangat gembira dengan diadakannya Lomba Resep Nasi Goreng oleh Panitia Pelaksana WESC 2010 dan majalah Femina.

"Saya excited sekali. Saya sudah mencicipi tujuh nasi goreng yang disajikan peserta. Rasanya beda-beda tipis, tapi semua luar biasa enak. Hal ini membanggakan, karena di Indonesia nasi goreng pun bisa dikembangkan sesuai kreativitas masing-masing peserta. Campuran bumbu dan presentasinya sangat menarik," ungkapnya.

Pemenang pertama dan kedua lomba nasi goreng ini akan diberangkatkan ke Shanghai, China pada 20 Oktober nanti, untuk mendemokan resepnya di Paviliun Indonesia. Di sana akan ada banyak pengunjung yang akan menikmati nasi goreng buatan mereka. Hal ini pasti akan menjadi pengalaman tersendiri yang tidak akan terulang lagi bagi peserta.

kompas

07 Agustus 2010

SURINAME : 120 Tahun Migrasi Suku Bangsa Jawa

Konsentrasi terbesar masyarakat suku Jawa di luar Republik Indonesia terdapat di Suriname, Amerika Selatan. Tahun ini, pada tanggal 9 Agustus, merupakan peringatan 120 tahun kedatangan suku bangsa Jawa di Suriname yang kini memiliki populasi 20 persen dari republik berpenduduk setengah juta jiwa itu.

”Kalau tidak ada suku Jawa, tidak ada Suriname. Suriname adalah pelangi tempat tinggal pelbagai suku bangsa. Kelompok terbesar adalah keturunan Afrika dan disusul keturunan India. Kelompok keturunan China, Eropa, dan campuran menempati posisi keempat dari penduduk Suriname,” kata Duta Besar Republik Suriname untuk Republik Indonesia, Angelic Caroline Alihusain-del Castilho, di Jakarta, Rabu (4/8/2010). Kedatangan suku Jawa ke Suriname merupakan takdir sejarah. Menurut Del Castilho, Suriname merupakan wilayah yang bersamaan dengan Pulau Run di Kepulauan Banda diserahkan Inggris kepada Belanda. Sebaliknya, Belanda menyerahkan Manhattan atau Nieuw Amsterdam yang kini dikenal sebagai New York kepada Inggris.

Pertukaran itu merupakan hasil Kesepakatan Breda tahun 1667 setelah berakhirnya Perang Inggris-Belanda ke-2. Suriname dikembangkan sebagai pusat perkebunan tebu, kopi, kakao, nila (indigo), dan kapas. Semula, budak didatangkan dari Elmina (pos dagang Belanda) di Afrika Barat.

Seiring penghapusan perbudakan tanggal 1 Juli 1863, pemerintah kolonial mendatangkan buruh migran. Sebelumnya orang Tionghoa didatangkan dari Jawa sejak tahun 1850.

Selanjutnya datang imigran Portugis dari Pulau Madeira serta imigran Lebanon dan Suriah. Namun, mereka segera meninggalkan perkebunan setelah kontrak kerja selesai.

Orang India pun didatangkan tahun 1873 hingga tahun 1917. Lagi-lagi setelah kontrak selesai, mereka meninggalkan perkebunan dan bekerja di bidang lain.

”Akhirnya didatangkan buruh dari suku Jawa. Percobaan pertama dilakukan dengan kedatangan 94 kuli kontrak tanggal 9 Agustus 1890, diangkut kapal Rotterdamsche Lloyd. Seluruhnya terjadi 34 kali pengiriman dengan total migran dari Jawa sebanyak 32.956 orang,” Del Castilho menjelaskan.

Sebagian besar dari mereka datang dari Jawa Tengah di sekitar Surakarta. Ada pula migran yang datang dari Semarang dan Surabaya. Toekiman Saimbang, seorang diplomat Suriname di Jakarta, mengaku ”si mbah”-nya berasal dari Mojokerto, Jawa Timur. ”Wong Jowo isih isa basa Jawa ning Suriname. Acara selametan, bersih deso lan nanggap wayang isih ana,” kata Toekiman yang menjelaskan masyarakat Jawa Suriname masih memelihara tradisi wayang, bersih desa, selamatan, dan tentu saja berbahasa Jawa pasar yang dikenal sebagai ngoko.

Masyarakat Jawa di sana berbicara dalam bahasa Belanda atau Inggris dalam pergaulan sehari-hari. Sejak kemerdekaan Suriname tahun 1975, banyak warga Jawa yang hijrah ke Belanda.

Mengakar kuat
Eksistensi suku Jawa kini menjadi unsur penting pluralisme di Suriname. ”Sekitar 50 persen kekayaan kuliner Suriname adalah sumbangan masyarakat Jawa. Mereka sudah tidak bekerja lagi di perkebunan. Banyak yang menjadi profesional dan mengisi pos penting di pemerintahan Suriname. Mereka juga memiliki partai politik tersendiri,” kata Del Castilho.

Banyak perempuan Jawa Suriname yang kawin campur dengan suku bangsa lain. Semua proses berlangsung alamiah.

Toekiman Saimbang dengan bangga mengatakan, dalam kabinet Suriname mendatang, nama empat atau lima menteri suku Jawa dari 17 pos di kabinet baru sudah disebutkan.

Pelbagai desa dan permukiman suku Jawa kini tersebar luas di Suriname, yang memiliki luas lebih dari dua kali Pulau Jawa.

Menjelang peringatan 120 tahun kedatangan suku Jawa di Suriname, pelbagai acara kesenian digelar oleh masyarakat Jawa, yang dibantu oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriname. Puncak acara digelar tanggal 9 Agustus di Sasana Budhaya di Paramaribo. (Iwan Santosa)

sumber kompas

10 Desember 2009

Mengantar Minyak hingga ke Tapal Batas

Cahaya Soppeng adalah satu-satunya stasiun pompa minyak di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, perbatasan Indonesia-Malaysia. Namun, sudah dua hari sejak Jumat (4/12), pompa minyak itu tutup. Tidak ada antrean.

Setiap warga Sebatik yang datang ke sana terpaksa balik kanan. Tidak seperti di perkotaan yang selalu tersedia, pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi warga di tapal batas negara ini masih menggantungkan kelancaran pasokan dari Pertamina.

Namun, hitungan bisnis tetap ada. Yuliana, pemilik Cahaya Soppeng, mengaku belum bisa mendatangkan BBM karena belum melunasi pembayaran ke Pertamina Tarakan untuk 25.000 liter bensin dan solar sebelumnya. ”Setiap bulan, kami bisa tutup beberapa hari karena terlambat bayar,” ucapnya.

Padahal, ketersediaan BBM di sana diperlukan terutama untuk kapal mengangkut penumpang, hasil pertanian, dan ikan ke Tawau, Malaysia, atau Tarakan.

Ketersediaan minyak saat ini belum langka. Namun, warga Sebatik terpaksa harus membeli bensin atau solar lebih mahal di pengecer. Harga eceran bensin dan solar Rp 5.500 per liter. Di pompa itu bensin dijual Rp 5.100 dan solar Rp 5.050 per liter. Beberapa warga dan nelayan menyebutkan, saat BBM habis di Sebatik, mereka ke Tawau untuk membeli seharga 2 ringgit atau Rp 6.000 per liter.

Warga perbatasan ini memilih membeli BBM ke Tawau ketimbang ke Nunukan atau Tarakan yang jaraknya cukup jauh dengan waktu tempuh satu jam hingga tiga jam dengan perahu cepat. Padahal, ke Tawau cuma 20 menit dengan perahu nelayan dari Desa Sungai Nyamuk, Sebatik. ”Biar mahal tetap kami beli karena diperlukan,” kata Asdar, nelayan Desa Tangjungkarang, Kecamatan Sebatik.

Menurut Camat Sebatik Suaedi, warga bisa ke negara jiran tersebut. Tidak perlu paspor, cukup pas lintas batas. Pulau Sebatik terbagi dua. Wilayah utara seluas 187,23 kilometer persegi masuk Malaysia dan wilayah selatan seluas 246,61 kilometer persegi milik Indonesia.

Ada 37.000 warga di wilayah Indonesia, terdiri dari 22.000 warga Kecamatan Sebatik dan 15.000 warga Kecamatan Sebatik Barat. Warga menggunakan uang rupiah dan ringgit sebab ada barang dagang dari Malaysia, seperti tabung elpiji.

Menjaga keindonesiaan

”Pertamina berupaya sekuat tenaga memasok minyak untuk masyarakat sampai ke mana pun, termasuk ke Sebatik, meskipun sulit dan rumit,” kata General Manager Pemasaran BBM Retail Regional VI (Kalimantan) Alfian Nasution. Sebuah tugas Pertamina menjaga keindonesiaan. Apalagi Sebatik bagian dari wilayah Negara Kesatuan RI.

Kuota minyak dari PT Pertamina untuk warga Sebatik cuma 130.000 liter bensin dan 20.000 liter solar per bulan. Minyak didatangkan dari Depot Tarakan oleh armada Cahaya Soppeng milik suami-istri Manase-Yuliana.

Tidak mudah memasok BBM bagi warga di beranda depan Indonesia ini. Minyak dibawa dari Unit Pengolahan V Pertamina Balikpapan dengan tanker berkapasitas 7,5 juta liter ke Depot Tarakan. Perlu waktu hampir dua hari. Depot lalu menyalurkannya ke Berau, Bulungan, Tana Tidung, Malinau, serta Nunukan dan Tarakan. ”Setiap minggu ada dua tanker masuk depot,” kata Wira Penjualan BBM Retail Wilayah III Tarakan Drestanto Nandiwardhana.

Untuk ke Sebatik, minyak dari depot diangkut dengan armada Cahaya Soppeng. Dari depot, minyak dipindahkan ke truk tangki. Truk itu lalu ke dermaga untuk memindahkan minyak ke drum-drum yang selanjutnya digelindingkan dan diangkut ke kapal kayu. Butuh 24 jam ke Sebatik. Tiba di sana, drum-drum itu diangkut lagi ke truk untuk dimasukkan ke tangki timbun pompa BBM.

Kapal kayu itu cuma mengangkut 25.000 liter sekali jalan. ”Karena itu, dalam sebulan ada enam kali pengambilan dari Tarakan,” kata Yuliana.

Akibatnya, ongkos pengirimannya pun tinggi, Rp 175 per liter. Biaya itu ditanggung agen. Akibatnya, BBM dijual Rp 5.100 per liter. Berbeda dengan di pompa BBM di Samarinda atau Balikpapan Rp 4.500 per liter.

Sebatik hanyalah salah satu daerah di perbatasan yang kesulitan pasokan BBM. Padahal, di perbatasan Kaltim masih banyak daerah yang belum terlayani pasokan BBM dari Pertamina, seperti di Kecamatan Krayan. Sebab, kecamatan itu masih terisolasi dan hanya bisa dicapai dengan pesawat perintis.

Warga Krayan terpaksa mengangkut BBM maksimal 200 liter atau satu drum dengan pesawat dari Tarakan atau Nunukan atau Malinau. Di sana, BBM dijual Rp 25.000 per liter. ”Kami akui belum bisa melayani pasokan BBM untuk warga di sana. Kami menargetkan tahun 2010 semua daerah bisa dilayani,” katanya.

BBM memang diperlukan di setiap pelosok negeri ini. Tugas Pertamina tanpa kompromi.

sumber kompas.com

07 Desember 2009

Jauh-Jauh ke Kopenhagen, Ketemunya "Plat AB" Juga...

Setibanya di Central Station, Kopenhagen, Minggu (6/12) dinihari, Goris dan saya ditampung menginap di rumah pendiri Eco-Security Singapura, Wilson Ang. Di rumah yang terletak di kawasan Helerup itu, sudah berkumpul rombongan Eco-Security Singapura serta climate champions asal Singapura, Vietnam dan Jepang. Jumlah perwakilan dari negara-negara itu cukup banyak, setidaknya lebih dari 4 orang.

Hal yang membuat saya terkejut adalah pertemuan dengan dua teman berkulit sawo matang yang ternyata dari Indonesia juga. Siapa sangka, jauh-jauh ke Kopenhagen, berkumpulnya dengan teman yang sama-sama "plat AB" alias berkampung halaman Yogyakarta? Tanpa bermaksud orientasi kedaerahan, pertemuan dengan climate champions Indonesia, Ibnu Najib dan Dian Elvira Rosa, peneliti London Social Economy (LSE) membuat bengong orang-orang lain karena kami langsung "berbahasa planet" alias Bahasa Jawa.

Najib yang ditugaskan British Council mengorganisasikan delegasi dari berbagai negara tengah menyelesaikan pendidikan pasca-sarjananya di Edinburgh University, Inggris. Sedangkan Dian, masih aktif sebagai peneliti London Social Economy baru menyelesaikan pendidikan pasca-sarjananya di St. Andrew University, Skotlandia.

"Wah, akhirnya rame juga euy dari Indonesia. Kemaren cuma berdua, sekarang lumayan ada empat orang, agak ramean. Nanti kita masak tempe ya," kata Goris yang mulai merindukan masakan Indonesia, meski baru beberapa hari meninggalkan Tanah Air. Maklum saja, makanan ala Eropa sering tidak cocok dengan lidah orang Indonesia.

Hari pertama di Kopenhagen, langsung digunakan untuk mengurus keperluan administrasi dan registrasi ID peserta COP15. Selain itu, ada agenda wajib yang harus diikuti yaitu menghadiri Conference of the Youth (COY). Konferensi ini berisi berbagai workshop dan diskusi mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan COP15.

Antrean panjang dan ketatnya screening orang-orang yang masuk membuat proses memakan waktu cukup lama. Sembari menunggu, delegasi dari berbagai negara memanfaatkannya untuk mengabadikan foto di welcoming board COP15. Tak mau ketinggalan, Goris, saya, Najib dan Dian, ikut minta diabadikan.

Masing-masing memiliki ketertarikan sendiri dalam mengikuti konferensi ini. Najib tertarik dalam hal sektor kebijakan, Dian ingin mendalami konsep REDD dan Goris berencana mengikuti diskusi dan workshop yang berkaitan dengan bisnis ramah lingkungan. Saya sendiri, dalam hal raising public awareness dan kebijakan pemerintahan. Pasca-COP15 diharapkan komunikasi akan tetap berlanjut untuk saling bertukar informasi mengenai upaya mitigasi di Tanah Air.

Setelah urusan ID beres, kami menuju Copenhagen University, tempat COY berlangsung. Disini, para delegasi berdiskusi dengan peserta yang berasal dari regional wilayah negara yang sama. Indonesia masuk kelompok East Asia bersama Malaysia, Vietnam, Singapura, Korea, Jepang, Myanmar, Filipina, dan lain-lain. Hasilnya, persoalan yang dihadapi relatif sama yaitu minimnya good will dari pemerintah yang dinilai belum serius menyiapkan kerangka menghadapi dampak perubahan iklim. Akan tetapi, disepakati perlunya jaringan kaum muda untuk saling berkomunikasi dalam hal upaya mitigasi di negaranya masing-masing.

sumber kompas

04 Desember 2009

Bunga Kertas Bantul 'Terbang' Hingga ke Arab Saudi

Berbekal setangkai bunga kertas yang dibeli di kawasan Malioboro Yogyakarta, kini usaha bunga kertas Mahmidah (24) laris manis. Warga Dusun Ngabean, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul kini bisa menjual bunga kertas sehari mencapai 600 tangkai.

Bahkan hasil karyanya oleh pengepul bunga kertas telah dikirim hingga negara timur tengah khususnya Arab Saudi. Usaha yang ditekuninya saat ini pun diikuti oleh para tetangganya karena tergiur akan kesuksesan memproduksi bunga kertas.

Memang, usaha home industry kini tak hanya sekadar jualan kue dan bunga kertas saja, bahkan berkembang ke usaha kerajinan dari tempurung kelapa yang harganya tak kalah dengan bunga kertas.

Menurut Mahmidah, usaha bunga kertasnya dirintis pada 2001. Kala itu, bersama suami, dia mencoba peruntungan membuka usaha kecil-kecilan. Bermodal hanya Rp2 juta, kegigihannya dalam mengembangkan usaha kini merambah ke luar negeri.

"Saya mengenal seni merangkai bunga dari perajin di Dongkelan, Sewon. Kala itu saya bermimpi punya usaha sendiri," ujarnya, saat ditemui di Bantul, Minggu (15/11/2009).

Untuk memberdayakan perempuan di Ngabean, dia sengaja mempekerjakan warga Ngabean dengan upah yang bervariasi. Mulai dari Rp7.000 hingga Rp12.000. Tidak hanya merangkai di kiosnya, pekerja bisa merangkai di rumah masing-masing dengan sistem borongan.

"Kami melihat perempuan di Ngabean tidak ada kerjaan. Dengan usaha mandiri kami mencoba memberdayakan mereka," katanya.

Per hari, 15 pekerja mampu merangkai 600 biji bunga. Konsumen bebas memilih motif bunga dengan harga sebesar Rp850 per tangkai. Bersama keluarga, dia mampu menjual produknya hingga Saudi Arabia. Sedang, Malioboro dan Kasongan menjadi sasaran pasar domestik.

Selain itu, dirinya biasa mendatangkan lembaran-lembaran lontar dari Jawa Timur dengan harga Rp6 juta setiap truk. Daun-daun lontar asal Jatim menurutnya memiliki kualitas baik dibanding daerah lain.

Bagi Mahmidah, membangun kepercayaan konsumen menjadi kunci kesuksesan usaha. Dengan sistem getok tular, dia biasa membangun pemasaran hingga merambah ke mancanegara.

Dia menuturkan, perkembangan usahanya tidak berjalan instan, butuh proses panjang dalam menjaring konsumen. Bahkan, dia sempat pesimis dengan maraknya usaha bunga kertas di DIY.

"Saya menyadari sepenuhnya membangun usaha butuh kesabaran. Kami terus bertahan dengan membangun kepercayaan konsumen," imbuhnya.

Setiap bulan, usahanya mampu meraup pendapatan sebesar Rp15 juta. Kelebihan dari bunga kertas buatannya yakni lebih awet, dengan perawatan yang gampang. Caranya, hanya menjaga bunga-bunga itu tetap kering.

Konsumen pun bisa menikmati bunga kertas sebagai hiasan rumah dalam pot-pot keramik. "Karena kualitasnya itu juga hasil kerajinan saya bahkan saat ini telah diekspor hingga ke Arab Saudi. Meski untuk ekspor itu sudah melalui para pengepul terlebih dahulu," pungkasnya.

Ngadirah (37) salah seorang perangkai bunga di rumah Mahmidah mengatakan kecintaan merangkai bunga bermula dari masa kecil di dusun itu. Permainan masa kecil menyimpan memori, sehingga membuatnya terampil.

Awalnya, dia kesulitan memadupadankan aneka warna pada bilah bambu yang berbalut daun lontar. Sebagai buruh serabutan, dalam sehari, ibu dua anak ini bisa memperoleh tambahan penghasilan sebesar Rp8.000 per hari.

Dia bisa menghasilkan 50 rangkaian bunga setiap pagi. "Saat musim libur atau jelang tahun baru, kami lembur karena banyak pesanan dari luar daerah," ujarnya. (Daru Waskita/Trijaya/ade)

01 Desember 2009

Pembuatan Kapal Layar Khas Majapahit Dimulai

Pembuatan kapal layar khas zaman Kerajaan Majapahit di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diawali dengan syukuran (selamatan), Selasa (1/12) malam.

Syukuran atas pembuatan kapal layar khas Majapahit yang digelar di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Suroso.

"Pembuatan kapal layar khas zaman Kerajaan Majapahit ini adalah program kerja sama antara Pemerintah Jepang dan Indonesia," kata Suroso di Sumenep.

Ia mengatakan, di Jepang terdapat komunitas yang cinta pada Kerajaan Majapahit dan memiliki organisasi, yakni Masyarakat Jepang Cinta Majapahit.

"Masyarakat Jepang Cinta Majapahit ini yang menjadi penggagas pembuatan kapal layar khas Majapahit," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep, Mochammad Dahlan mengucapkan terima kasih pada Pemerintah Jepang yang telah mempercayakan pembuatan kapal layar khas Majapahit pada perajin Sumenep.

"Ini sebuah kebanggaan, sekaligus tantangan bagi perajin kapal asal Sumenep, apalagi kapal layar khas Majapahit dijadwalkan berlayar keliling dunia. Artinya, kapal yang dihasilkan harus berkualitas tinggi," katanya.

Pembuatan kapal layar khas Majapahit yang dipercayakan kepada kelompok perajin asal Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, ditargetkan selesai paling lambat bulan Maret 2010, karena pada bulan April 2010 dijadwalkan berlayar keliling dunia.

Kapal layar tanpa mesin khas zaman Kerajaan Majapahit yang akan dibuat perajin Sumenep itu sepanjang 20 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 2,75 meter.

sumber kompas.com

18 November 2009

Warga Kabupaten Kediri Temukan Arca Harimau

Warga Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dikejutkan dengan temuan arca yang mirip harimau, terkubur di tanah sekitar 2 kilometer dari Petilasan Raja Kediri, Sri Aji Jayabaya.

"Saya menemukan arca itu di dekat sungai dan dalam keadaan terkubur. Untuk itu, saya menggalinya dan meletakkan di tempat yang aman, jadi satu dengan arca lainnya," kata Juki (63), warga yang menemukan arca tersebut, Rabu.

Ia mengungkapkan, arca temuan tersebut berjumlah tiga, yaitu dua berbentuk harimau, serta satu lagi berbentuk dewa. Satu dari dua arca seperti harimau tersebut tingginya sekitar 70 centimeter, sementara yang patung dewa setinggi 1 meter.

Juki juga mengemukakan, arca temuan baru tersebut berbentuk seperti dewa, sedangkan dua arca mirip harimau sudah lama ditemukan. Ketiga arca tersebut ditemukan di lahan jagung milik Imam Afad (37), warga setempat.

Ia mengaku, sudah mengetahui arca berbentuk seperti harimau itu setelah mendapat titipan pesan dari seorang dalang yang bernama Sucipto sekitar tahun 1974. Dalang tersebut berpesan agar ia menjaga arca dan tidak diperbolehkan untuk mengambilnya.

Juki juga mengaku, sudah melaporkan temuan tersebut kepada pihak desa serta kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri. Sayangnya, hingga kini belum ada tindak lanjut tentang temuan itu.

Pihak desa berencana menjaga patung itu hingga tim dari BP3 Trowulan maupun Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri datang ke lokasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mudjianto mengatakan, pihaknya akan menerjunkan tim untuk memantau temuan tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan koordinasi dengan tim BP3 Trowulan, guna melakukan cek terhadap kebenaran temuan itu.

"Kami akan mengirimkan tim ke lokasi, guna menyelidiki temuan tersebut," kata Mudjianto.(*)

sumber antara

Ditemukan Fosil Gajah Purba Usia 250 Juta Tahun

Fosil yang ditemukan seorang guru SDN, Hary Nugroho (45), di Waduk Daya`an di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (12/11), diperkirakan fosil gajah purba atau "setegodon". dengan usia 250 juta tahun.

Camat Kalitidu, Nurul Azizah, Rabu menjelaskan, perkiraan fosil yang ditemukan di galian waduk, berupa kepala, gading, tulang kaki dan taring tersebut, merupakan fosil gajah purba. Kesimpulan ini, berdasarkan penelitian sementara tim dari Balai Penelitian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto.

Dari hasil kajian tim yang melakukan penelitian temuan itu dan langsung di lapangan, memperkirakan usia fosil tersebut, berkisar 250 juta tahun yang lalu. "Hanya fosil gajah purba tersebut dari jenis apa, masih dibutuhkan penelitian lanjutan," katanya.

Sementara ini, temuan fosil gajah purba yang semula disimpan di SDN Panjunan I dan II, Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, sekarang ini, disimpan di kediaman Kepala Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu. Tim BP 3 Trowulan, yang datang ke Bojonegoro, juga melakukan penelitian temuan emas di perairan Bengawan Solo di Desa Ngraho, Kecamatan Kalitidu.

Menurut ia, dari hasil penelitian tim, adanya temuan emas di perairan Bengawan Solo tersebut, berasal dari muatan sebuah kapal yang tenggelam di perairan setempat."Hanya kepastiannya masih membutuhkan penelitian lebih mendalam," katanya menjelaskan.

Hary Nugroho (45), guru SDN Panjunan I dan II di Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, sejak 1990 lalu, memiliki kebiasaan mengumpulkan fosil yang ada di wilayah Bojonegoro dan terakhir menemukan fosil gajah purba di galian Waduk Daya`an.

Di antara temuan Harry Nugroho yang sekarang disimpan di SDN Panjunan I dan II yaitu ratusan fragmen fosil dari karabau (kerbau purba), cervia (kijang), stegodon trigono chepalus, mastodon, elephas, babos dan bubalus.(*)

17 November 2009

Dari Tanaberu hingga ke Ujung Dunia

Dentaman palu, hantaman kapak, dan suara pasak menancap di kayu besi terdengar di sepanjang Pantai Tanaberu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Senin (16/11) pagi. Deretan kapal pinisi dan kapal kayu setengah jadi terhampar di batilang, galangan tradisional beratap rumbia.

Kami membuat kapal sendiri, lalu dijual atau berdasarkan pesanan. Kapal buatan Tanaberu dipakai berlayar melintasi Samudra Pasifik sampai ke Vancouver, Kanada, perairan Atlantik di Eropa,” kata Bachri (35), putra Tanaberu.

Saat ditemui, Bachri sedang mengerjakan pinisi berukuran lebih dari 100 ton. Kapal sudah setahun lebih dikerjakan di batilang milik ayahnya, Jafar (73).

Jafar adalah empu pembuat kapal di Tanaberu yang pernah membuat Pinisi Nusantara. Ia adalah satu dari beberapa pandita lopi, sebutan untuk ahli pembuat kapal dalam bahasa setempat.

Pandita lopi adalah tokoh adat yang memberi berkah dan memimpin upacara tradisional untuk setiap kapal yang dibuat di Tanaberu. Sesaji emas murni dan beberapa benda keramat ditanam di lunas kapal sebagai perlambang perkawinan kayu jantan dan betina yang dijadikan lunas kapal. Itu diyakini membuat kapal berhasil dalam pelayaran.

Kebijakan lokal seperti larangan menyambung kapal di mata kayu membuat kapal-kapal buatan Tanaberu dikenal kuat dan kokoh.

Penjelasan ilmiahnya, ujar Ridwan Alimuddin, aktivis Lembaga Perahu, mata kayu adalah bagian yang rapuh untuk dijadikan sambungan kapal.

”Ada banyak pemali dalam pembuatan kapal tradisional di Tanaberu. Pemali yang ada sebetulnya bisa dijelaskan secara ilmiah, seperti pantangan membuat sambungan pada bagian batang yang memiliki mata,” kata Ridwan, yang beberapa kali berlayar bersama orang asing di atas kapal buatan Tanaberu.

Nilai tradisional pembuatan kapal di Tanaberu setidaknya membuat warga setempat mendapat pesanan tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga mancanegara.

Satu pinisi warna coklat tua, misalnya, Senin, sudah diluncurkan dari galangan kering (dry dock) dan dikandaskan di laut dangkal. ”Itu kapal pesanan orang Singapura, untuk wisata sekitar Singapura-Malaysia. Ada 12 kamar untuk penumpang. Banyak kapal buatan Tanaberu dipesan orang asing,” kata Rian (22), putra Tanaberu yang kuliah pelayaran di Makassar.

Rian bertekad pulang kampung seusai kuliah untuk melanjutkan bisnis kapal tradisional.

Siang itu, Rian sedang menjumpai belasan warga yang memperbaiki kapal pinisi bernama Sampai Jumpa. Kapal berukuran 70 ton itu milik seorang pria Belanda yang tinggal di Thailand. Sampai Jumpa digunakan untuk berlayar di perairan Teluk Thailand.

Tanpa sketsa, apalagi desain komputer, pria-pria Tanaberu tekun membangun kapal kayu berkualitas dunia. ”Beberapa tahun lalu orang Australia juga pesan kapal di sini untuk berlayar dari Sulawesi Selatan ke Marega (istilah Bugis/Makassar untuk Tanah Australia). Kapal itu selanjutnya disimpan di museum di Australia,” ujar Bachri.

Replika kapal dari relief Candi Borobudur turut dibuat di Tanaberu. Kapal yang berlayar hingga Ghana di pantai barat Afrika itu mengukuhkan tradisi bahariwan Nusantara. Satu pinisi buatan Tanaberu yang akan dibawa ke Eropa juga sedang ditambatkan di Tanjung Bira.

Kapal-kapal Tanaberu dibuat menggunakan campuran kayu biti dan kayu besi (sejenis ulin) yang didatangkan dari Sulawesi Tenggara atau Kalimantan. Kulit kayu asal Kalimantan digunakan sebagai pelapis sambungan kayu untuk mencegah kebocoran.

Harga kapal kayu buatan Tanaberu bervariasi. Kapal berukuran 40 ton, misalnya, sekitar Rp 150 juta, seperti yang sedang dikerjakan Safrudin (35), tak jauh dari batilang milik Bachri. Sementara kapal berukuran di atas 100 ton sekitar Rp 4 miliar.

Kapal buatan Tanaberu dirancang sesuai pesanan, seperti dari nelayan Flores, Nusa Tenggara Timur. Kapal itu dilengkapi dengan tempat duduk tambahan di anjungan untuk memancing ikan laut dalam.

Namun, perajin saat ini sulit mendapatkan baku kayu. ”Alasannya, pemerintah memberantas illegal logging (penebangan liar),” kata Bachri.

Sri, pedagang bakso asal Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, membenarkan ucapan Bachri. ”Kalau usaha kapal lagi ramai, warung bakso tidak bakal sepi,” katanya.

Persinggahan pertama

Desa Tanaberu adalah persinggahan pertama Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara ke arah timur kepulauan Indonesia. Tim berangkat dari Pantai Losari di Makassar, 15 November lalu sekitar pukul 12.00, dilepas Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

Sekitar pukul 19.00, kapal yang dinakhodai Hidayat (63), putra Tanjung Bira, melintasi pesisir Takalar, membelok ke arah Tanaberu, sebelum mencapai ujung timur daratan Sulawesi Selatan di Tanjung Bira.

Perjalanan dilanjutkan Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara, Senin malam, menuju selatan Pulau Selayar. Diperkirakan tim tiba hari Selasa pagi ini di Pulau Selayar.

28 Oktober 2009

Aceh Jadi "Kampung Dunia" Pascatsunami

Kalangan birokrat, terutama bidang keprotokolan harus memahami bahwa Provinsi Aceh telah menjadi "kampung dunia" pascatsunami 26 Desember 2004, kata Sekretaris Provinsi Aceh, Husni Bahri TOB.

"Pascatsunami, Aceh mulai kedatangan berbagai tamu penting dunia untuk menyalurkan bantuan, termasuk masa rehabilitasi dan rekonstruksi, sehingga provinsi ini menjadi ’kampung dunia’ di Indonesia," katanya di Banda Aceh, Senin.

Saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Keprotokolan se Aceh, Husni mengharapkan para petugas keprotokolan harus dapat memahami dan mempelajari bagaimana tatacara melayani para tamu sesuai prosedur tetap (protap) yang berlaku.

Sebaliknya, jika penempatan para tamu daerah dan negara yang datang ke Aceh tidak sesuai protap yang berlaku, maka akan memberikan kesan yang tidak baik terhadap provinsi ujung paling barat Indonesia ini, jelas dia.

"Tata cara keprotokolan baik tata tempat, tata upacara dan tata penghormatan wajib diketahui oleh pihak Pemprov Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota lainnya, khususnya yang membidangi keprotokolan," kata Husni menambahkan.

Untuk itu, ia minta pejabat Pemda yang bertugas bidang keprotokolan harus betul-betul memahami aturan penempatan dan pelayanan tamu baik para pejabat di tingkat nasional maupun dunia.

"Jadi saya minta aparatur bidang keprotokolan tahu persis bagi pelayanan tamu dan para undangan lainnya sesuai posisi dan kedudukannya masing-masing," ujarnya menegaskan.

Aceh pastsunami dan konflik, katanya, berbagai agenda nasional dan internasional juga digelar di provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa tersebut.

Oleh karenanya, untuk membangun hubungan yang kondusif dan efektif serta citra positif daerah dan negara maka sangat tergantung pada diplomasi dan komunikasi yang diperankan para petugas keprotokolan.

"Saya melihat pada kegiatan-kegiatan yang memerlukan penanganan keprotokolan di lingkungan Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota saat ini terkesan belum maksimal," kata sekretaris provinsi.

Hal itu dapat dilihat pada suatu penyelenggaraan kegiatan pemerintah yang belum berjalan secara terkoordinasi, lancar, tertib, efektif dan efisien.

17 Oktober 2009

Lumpur Lapindo Bisa di Jadikan Obat

Air lumpur di kawasan eksplorasi PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur kini dipercaya dapat menjadi obat kulit dan kecantikan sehingga banyak orang mengambil dan membawanya pulang.

"Kini, masyarakat yang terserang penyakit kulit menjadi sembuh setelah mandi air genangan lumpur Lapindo itu," kata Lamhir Syam Sinaga, dosen Universitas Bengkulu yang kini sedang mengikuti pendidikan S-3 di Fakultas Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu, Sabtu (17/10).

Dia mengatakan, kalau warga terkena penyakit kulit seperti gatal-gatal, eksim, kurap, panu, alergi dan penyakit kulit lainnya, maka mereka cukup datang ke genangan lumpur Lapindo di Porong dan mengambil airnya untuk disiramkan ke badan yang terkena penyakit kulit.

Bahkan, bukan sekedar obat penyakit kulit, karena masyarakat juga mempercayai lumpur Lapindo berkhasiat untuk bahan kecantikan.

"Mereka mengambil lumpurnya untuk luluran sehingga dapat menjadikan kulit terlihat awet muda dan payudara menjadi kencang," katanya.

sumber kompas

14 Oktober 2009

Seabad Punah, Gagak Banggai Khas Sulawesi Ternyata Masih Ada

Gagak banggai (Corvus unicolor) yang dikira telah punah sejak seabad lalu ternyata masih ditemukan di habitat aslinya. Burung tersebut adalah salah satu spesies gagak khas Indonesia yang hidup di Pulau Peleng, Sulawesi.

Selama ini, para ilmuwan hanya mengetahui jejak kehidupan gagak tersebut dari dua ekor spesimennya yang ditangkap tahun 1900. Kedua sampel gagak Banggai itu disimpan di Museum Sejarah Alam Amerika di New York.

Namun, pada tahun 2007, seorang ilmuwan dari Universitas Indonesia bernama Mochamad Indrawan menemukanya kembali di habitat yang sama. Spesimen tersebut kemudian dikirim kepada Pamela Rasmussen, ahli zoologi dari Michigan State University untuk dicocokkan dengan spesiesn lain yang selama ini disimpan.

Rasmussen kemudian membandingkan spesimen yang baru dengan dua sampel yang berusia lebih dari satu abad. Hasil penelitian memastikan bahwa spesiemen-spesimen tersebut dari satu spesies bukan anggota dari gagak hitam spesies lainnya Corvus enca.

"Analisis morfometrik yang saya lakukan, menunjukkan dari empat ekor spesimen yang kami tangkap, jelas berbeda dari spesimen enca. Kami juga menemukan kedua taksonomi tersebut mempunyai perbedaan warna mata, ciri yang penting untuk membedakan gagak," kata Rasmussen. Keempat spesimen gagak Banggai yang baru ditemukan ini saat ini disimpan sebagai koleksi Museum Zoologi Bogor di Cibinong.

Sejak gagak Banggia ditemukan kembali, banyak pengamat burung di Pegunungan Peleng yang mulai merekam keberadaannya baik dalam foto maupun video. Sebuah foto gagak Bangai bahkan telah muncul minggu ini dalam buku "Handbook of the Birds of the World".

Mochamad Indrawan dari Universitas Indonesia, yang mempelopori penemuan ini, mulai fokus untuk melestarikan spesies langka, yang sering diburu oleh warga lokal. Termasuk merekomendasi untuk menjaga hutan sebagai habitat hewan tersebut melalui sistem agrikultural yang berkelanjutan, atau mungkin dengan eko-tourism, untuk mencukupi kebutuhan hidup para warga lokal.

07 Oktober 2009

40 Negara Pelajari Bahasa Indonesia

Sedikitnya 40 negara di dunia telah mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing pada sektor pendidikan, mulai pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

"Bahasa Indonesia semakin banyak diminati oleh masyarakat dunia, terbukti hingga saat ini kurang lebih 40 negara telah mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing," kata salah seorang guru besar Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas), DR Aspar Rahman di Makassar, Rabu (7/10).

Dia mengatakan, sebagai bukti ketertarikan negara asing mempelajari bahasa Indonesia, pada Oktober 2004 pernah digelar konferensi internasional pengajaran Bahasa Indonesia untuk penutur asing yang dilaksanakan di Unhas.

Menurut Aspar Rahman, dengan semakin banyaknya pihak yang mempelajari Bahasa Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang lahir dari Sumpah Pemuda tersebut memiliki potensi untuk sejajar dengan bahasa lainnya sebagai bahasa asing di dunia.

"Malalui Bahasa Indonesia, masyarakat dunia dapat mengenal lebih dekat budaya dan bangsa Indonesia," katanya.

Berkaitan dengan hal tersebut, kata Aspar Rahman, tidak mengherankan apabila saat ini sudah banyak lembaga-lembaga Bahasa Indonesia yang dikembangkan, baik di dalam maupun di luar negeri.

"Dengan mengajarkan Bahasa Indonesia bagi pihak asing, maka dapat menghubungkan pemahaman lintas budaya melalui pengajaran yang dikembangkan di luar negeri," katanya.

Sementara negara yang paling intens mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing di sekolah, di antaranya Jepang, Malaysia, Singapura dan Australia.

sumber : kompas

05 Oktober 2009

Bumi Lorosae, Kehidupanmu... Kini

Awan putih berarak, menghampar seperti selimut terlipat kecil bergulung tak merata. Menghiasi bentangan biru di langit Bumi Loro’sae. Namun gunduk barisan bukit masih sempat menoreh sapuan biru bercampur kehijauan dan tanah cokelat mengering, berkeliling membentuk dinding. Dan di Bukit Fatucama, Patung Cristo Rei (Kristus Raja) berpadan alam, menyambut berdiri asri. Seolah ramah merengkuh angin yang langsung bertiup dari jantung Kota Dili dan siapa pun yang menghampiri Timor Leste.

Tepat sepuluh tahun silam, Patung Cristo Rei menjadi saksi yang diam seribu basa. Tatkala baru empat tahun berdiri sebagai lambang wisata religius, secara tak langsung pun bertutur, dia memotret sebuah kesepakatan bernama referendum—di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa—yang menyuarakan kemerdekaan: Republik Demokratik Timor Leste.

Ya, momentum 30 Agustus 1999 sontak berubah dari satu Senin biasa menjadi sejarah nan monumental. Khususnya, bagi 79 persen dari 450 ribu pemilih dalam jajak pendapat yang tak ingin terus berada di bawah Bendera Merah Putih. Hari itu terproklamirkan, Timor Timur, provinsi ke-27 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, melepaskan diri dan berdiri sebagai sebuah negara berdaulat dengan nama: Timor Leste.

Kedaulatan tadi tentu seiring tekad untuk mandiri secara ekonomi, mampu menghidupi diri sendiri berikut rakyat yang mengamini perubahan ini. Penghidupan yang lebih baik plus kemakmuran pascakemerdekaan adalah angan-angan yang selalu menjadi utopia.

Sejak 20 Mei 2002, negeri ini memang harus menentukan arah kebijakan pembangunan ekonominya sendiri. Pertanian dan perkebunan yang selalu menjadi primadona, menjadi kunci utama. Bukan perkara mudah, tentunya. Terlebih, di sana sini terkadang masih saja ada letupan konflik, yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan. Tumpukan pekerjaan rumah yang memang tak gampang.

Sebagai sebuah negara, Timor Leste terbilang mini, dengan luas areal mencapai 14.874 kilometer persegi yang dipecah dalam 13 kabupaten. Jumlah penduduk hasil sensus pada 2009 diperkirakan 1.134.000 orang, dengan kepadatan penduduk sekitar 76 orang per kilometernya. Hampir 91,5 persen mayoritas penduduk pemeluk Katolik Roma. Sisanya beragama Kristen Protestan dan umat muslim. Berdasarkan data mutakhir, pendapatan per kapita negara berbahasa nasional Tetum ini adalah US$ 468.

Pascamerdeka sumber daya minyak bumi dan gas menjadi andalan pemerintah Timor Leste untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Meski pun hasil positif penelitian geologis belum memastikan kekayaan Laut Timor, tapi berdasarkan analisis seismik, di Celah Timor setidaknya terdapat sekitar 500 juta hingga lima miliar barel minyak bumi serta 50.000 miliar kaki kubik gas alam. Nah, berkah alam yang luar biasa besar itulah yang menjadi senjata utama Timor Leste untuk geliat perubahan kesejahteraan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Jika saja benar, “harta karun” berupa minyak bumi dan gas alam itu harus dibagi untuk tiga negara (Indonesia, Australia, dan Timor Leste). Kenyataan ini berdasarkan aturan main Zona Ekonomi Eksklusif.

Sayangnya, dalam eksplorasi sejenis tak jarang ketidakadilan pembagian hasil bumi acap memicu persinggungan, pun dalam sistem kekuasaan politik Timor Leste. Bahkan, termasuk dengan "sang dewa penolong", Australia.

Saling tuding dua kubu kekuasaan politik seolah saling mengisi ketidaksempurnaan. Kubu Perdana Menteri Timor Leste Jose Alexandre Xanana Gusmao yang saat ini berkuasa menuding eks Perdana Menteri Mari Alkatiri gagal mengoptimalkan minyak bumi untuk kesejahteraan rakyat sewaktu mereka berkuasa. Sebaliknya, Fretelin mendakwa rezim Xanana superpasrah pada Australia ihwal “emas hitam” Celah Timor.

Buntutnya bisa ditebak. Negara yang hanya mengandalkan minyak dan gas Laut Timor untuk anggaran pendapatan dan belanja negara itu tetaplah miskin. Minyak yang selama ini menjadi harapan, hingga saat ini belum bisa menyejahterakan rakyat karena tak tersalur adil. Atau mungkin, habis untuk membayar cicilan utang dan gaji para kontraktor asing yang terlibat dalam rekonstruksi Timor Leste. Menurut Direktur Kebijakan Publik Oxfam James Ensor seperti dilansir BBC (19 Mei 2004): "Cadangan minyak dan gas yang luar biasa besar di Laut Timor adalah “jendela” bagi Timor Leste bagi kesejahteraan rakyat dan generasi berikutnya. Sayang, Australia tak beritikad baik dalam negosiasi dengan tetangga kita itu," ujar Ensor.

Saat ini, harga BBM membumbung tinggi di bekas provinsi yang pernah dimanjakan Indonesia itu. Premium menyentuh harga 0,86 sen dolar AS per liter atau sekitar Rp 8.600—hampir dua kali lipat dari harga premium di Indonesia. Dan uniknya, truk-truk tanki BBM justru mengisi pasokan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Dili, milik Pertamina. Bahkan pom bensin terbesar di Ibu Kota Timor Leste itu malah berlogo Pertamina—meski ada juga SPBU milik Tiger Fuel asal Australia yang ikut meramaikan pasar BBM.

Peredaran rupiah pun sudah berganti dengan dolar Amerika Serikat. Boleh jadi, bagi pemerintah setempat, kehadiran dolar Negeri Paman Sam ini dinilai mampu menghilangkan "mimpi buruk" masyarakat Timor Leste. Sayang, justru mimpi buruk itu menjadi kenyataan pasti sehari-hari.

Warga Lorosae cukup tercekik dengan harga-harga yang tinggi, walau pada dasarnya daya beli masyarakat setempat tak lebih tinggi dari Indonesia. Beras asal Vietnam yang menjadi andalan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dijual per karung isi 30 kilogram dengan bandrol sekitar 28 dolar AS alias nyaris mencapai Rp 300 ribu. Minyak goreng curah asal Indonesia dipatok 15 dolar AS per jeriken isi lima liter.

Bukan itu saja, harga produk ekonomi lainnya tetap menjulang ke langit kendati sudah terbantu pasokan produk Indonesia yang agak lebih murah. Memang, masih jadi perdebatan sengit soal legal atau ilegalkah produk tersebut. Beberapa disebut, barang-barang kebutuhan tadi tersedia melalui jalan darat perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Mi instan asal produsen Indonesia juga masih menjadi idola masyarakat Timor Leste. Bahkan menurut Dady Tiger, warga Indonesia yang bekerja di Dili, baju asal Tanahabang masih banyak dipakai menutupi aurat masyarakat di sana. "Kalau di daerah Kampung Lor, pakaian baru kebanyakan dibawa pedagang-pedagang asal Makassar dari Pasar Tanahabang," ujar Dady yang dihubungi Liputan6.com melalui sambungan internasional.

***

Geliat perekonomian Timor Leste tidak bisa dilihat secara sederhana dari maraknya mobil asal Eropa atau Amerika yang berseliweran—terlepas itu pinjaman dari PBB atau hibah negara donor. Sebab infrastruktur jalan yang dilewati bisa menjadi parameter paling sahih. Perbaikan infrastruktur pascareferendum amat kurang. Jalan-jalan utama di Kota Dili masih peninggalan pemerintah Indonesia dan kini mulai rusak, tak sekadar bopeng. Sepanjang perjalanan darat dari Dili sampai perbatasan dengan NTT, lubang di tengah jalan raya menganga bak ranjau yang menanti ban yang bengong melintas. Dan di musim panas seperti sekarang ini, jalan utama sangat berdebu saat dilintasi kendaraan.

Saat malam, tak ada lampu penerangan jalan. Lampu itu hanya bisa dilihat di Palacio, Kantor Pemerintahan RDTL. Jadi amat wajar bila sejak pukul 18.00 waktu setempat aktivitas di Kota Dili terlihat sepi. Kebanyakan toko tutup. Taksi dan angkutan umum sudah tak lagi berlalu lalang. Hanya beberapa rumah makan bermenu asing yang masih melayani pelanggan.

Sejumlah bangunan rusak sisa kerusuhan, masih menghiasi Kota Dili. Entah dibiarkan sebagai tanda perjuangan atau memang tak hendak dibangun kembali. Tak perlu juga meminjam jemari orang lain untuk sekadar menghitung bangunan baru di wilayah tersebut. Satu di antaranya adalah Istana Kepresidenan yang dibangun dengan bantuan asing dan baru diresmikan pada 27 Agustus 2009. Peresmian itu sangat dinanti warga Kota Dili, apalagi saat perhelatan mereka diperbolehkan masuk dan melihat kemegahan istana. Dan “kegembiraan” lain bagi warga Kota Dili adalah kehadiran Timor Plaza, yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.

Nama Bandar Udara Comoro kini tinggal kenangan. Sekarang sebutannya adalah Airpot Nicolo Lobato. Seolah juga bisa ditebak, kondisi bandara tak banyak berubah sejak ditinggalkan pemerintah Indonesia. Tak banyak pula maskapai yang memakai jasa landasan pacu bandara berskala internasional itu. Tiga yang pasti adalah Merpati Airlines (Indonesia), Silk Air (Singapura), dan Airnort (Australia).

Nah, Merpati inilah yang tetap menjadi primadona pejabat Timor Leste saat bepergian. Menurut seorang pegawai VIP Travel yang enggan disebutkan namanya, "Kebanyakan mereka menggunakan Merpati menuju Denpasar. Dari Bali, baru memakai maskapai lain sesuai tujuan," katanya.

Perjalanan sepuluh tahun pascareferendum memang bukan hal yang mudah dilewati Timor Leste. Bahagia, bangga, dan frustrasi sosial mungkin terjadi di sebagian masyarakat, tatkala alam kemerdekaan dinilai belum memberikan perubahan hidup. Namun semoga saja, kelak Patung Cristo Rei bisa memotret lagi momentum ketika warga setempat tak lagi bermimpi menikmati sedikit kemakmuran “emas hitam” Bumi Loro’sae.

sumber : liputan6.com

04 Oktober 2009

Rekor Dunia, 8.000 Mangkuk Coto Manggala Berjajar 2,1 Km

Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah (Kalteng) baru saja memecahkan rekor nasional bahkan dunia dengan menyajikan 8.000 mangkuk coto manggala sepanjang 2,1 kilometer yang digelar dalam rangka hari ulang tahun emas Kabupten tersebut.

Rekor ini tidak hanya dalam penyajian coto manggala, tetapi juga rekor pemberian mangkuk dan sendok berlogo 50 tahun Kobar sebanyak 8.000 buah secara gratis kepada masyarakat umum yang hadir dalam pemecahan rekor tersebut, demikian dilaporkan dari Pangkalan Bun, Minggu (3/10).

Senior Manager Museum Rekor Indonesia (MURI) Paulus Pangka menyebutkan, rekor itu memecahkan rekor penyajian coto makasar yang tercatat di MURI. "Rekor ini tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai penyajian coto terbanyak di dunia," kata Paulus yang juga memberikan sertifikasi rekor pada Sabtu sore.

Dalam proses penghitungan Paulus mengaku langsung melakukannya setelah tiba di Pangkalan Bun tanpa menunda waktu, hal itu dilakukan karena biasanya masyarakat bisa saling berebut untuk mendapatkannya.

"Perhitungan rekor muri kali ini memang lain dari lain, sejak keberangkatan selalu diuji dengan kendala, sejak hari kemarin dari semarang pesawat yang dipesan di-cancel hingga tiga kali, baru dapat pesawat tadi malam dari Jakarta ke Banjarmasin dan melalui darat kemari," kata Paulus.

Kendala yang dihadapi Senior Manajer MURI ini tidak sia-sia karena 500 meja masih lengkap dengan 16 mangkuk permejanya saat dia tiba, sehingga terhitung seluruhnya berjumlah 8.000 mangkuk yang selanjutnya tercatat rekor MURI dengan nomor 3922.

Sementara itu, Bupati Kotawaringin Barat Ujang Iskandar mengatakan, dengan rekor ini diimbau kepada setiap rumah makan agar menjadikan coto manggala sebagai salah satu menu tambahannya.

"Harapan kita coto manggala ini dapat menjadi khasanah makanan di Indonesia bahkan dunia, karena itu saya mengharapkan kepada rumah makan, restoran yang ada di seluruh wilayah Kobar, Indonesia maupun dunia untuk menjadi menu tambahan," kata Ujang.

sumber kompas

08 September 2009

LIPI Temukan Spesies Baru Anggrek di Papua

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan penemuan spesies baru anggrek yang diberi nama "Dipodium brevilabium D.Metusala & P.O'Byrne", yaitu bunga yang ditemukan di belantara Papua.

Menurut surat elektronik peneliti LIPI Destario Metusala, yang diterima ANTARA, Selasa, spesies itu ditemukannya bersama dengan peneliti Singapura Peter O`Byrne dalam suatu penelitian sejak awal 2008.

Penemuan yang menjadi bukti bahwa Indonesia masih menyimpan keragaman hayati yang belum terungkap itu, kata Desatrio, telah dipublikasikan di jurnal anggrek internasional (Internasional Orchid Review) di Inggris pada September.

Disebutkan, Genus Dipodium sp memiliki sekitar 25 spesies yang tersebar dari Indo-China hingga Australia dan kepulauan Pasifik Barat.

Genus itu dianggap sulit oleh para taksonom dunia karena memiliki bentuk bunga yang serupa dengan strukur bibir bunga (labellum) yang hampir konsisten. Seperti kerabat Dipodium sp lainnya di Indonesia, anggrek Dipodium brevilabium juga berperawakan menyerupai tumbuhan pandan wangi (Pandanus amaryllifolius), oleh karena itu seringkali masyarakat menyebutnya dengan nama anggrek pandan.

Perbungaan anggrek itu secara total dapat mencapai 35 kuntum, dengan masa mekar total sekitar 15-20 hari. Bunganya yang berdiameter 3,3-3,7 cm itu memiliki warna dasar kuning dengan corak totol berwarna merah kecoklatan.

Anggrek Dipodium brevilabium memiliki karakter morfologi unik yang membedakan dengan spesies Dipodium lainnya, yaitu bibir bunganya yang sangat pendek dengan lobus tengah berbentuk membulat.

Nama "brevilabium" pada spesies ini pun diambil berdasarkan bentuk bibirnya yang pendek.

Dari sisi budidaya, anggrek ini cukup adaptif pada ketinggian 200-700 m dpl, dengan intensitas cahaya 50-70 %.

Yang paling penting diperhatikan adalah pengaturan kelembaban pada media tumbuh serta sirkulasi udaranya, karena anggrek ini sangat rentan oleh serangan jamur yang dapat menyebabkan bercak pada daun hingga busuk pucuk. Anggrek Dipodium brevilabium diperkirakan memiliki area distribusi yang terbatas hanya di Indonesia.

sumber antara