Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2010

Kaimana, Eksotisme Alam Bahari

Kan ku ingat selalu/ Kan kukenang selalu/ Senja indah/ Senja di Kaimana/Seiring surya/ Meredupkan sinar/ Dikau datang/ Ke hati berdebar..


Bukan tanpa alasan jika tahun 1960-an Alfian meromantiskan panorama Kaimana seperti penggalan lagu di atas. Keindahan alam bahari di bagian selatan Provinsi Papua Barat itu memang tak terbantahkan.
Keeksotisan Kaimana terbentang dari Pulau Venu di barat daya Kaimana hingga Teluk Triton di tenggara Kaimana.
Kaimana didiami komunitas yang beragam. Pendatang asal Pulau Jawa, Buton, Seram, dan peranakan China hidup rukun dengan warga asli yang terdiri atas delapan suku, yakni Mairasi, Koiwai, Irarutu, Madewana, Miereh, Kuripasai, Oboran, dan Kuri.
Kaimana yang luasnya 18.500 kilometer persegi dan didiami 42.488 jiwa penduduk menjanjikan beragam obyek wisata, yakni wisata alam, budaya, dansejarah.
Bagi yang gemar menyelam, Selat Namatota dan Selat Iris di selatan Teluk Triton siap menyambut dengan segala pesona keindahan alam bawah laut. Di kedalaman 30 meter dari permukaan laut, Anda bisa menjelajah keasrian terumbu karang dan bercengkerama dengan aneka jenis satwa laut.


Conservation International Indonesia (CII) mencatat populasi ikan di daerah ini mencapai 228 ton per kilometer persegi, tertinggi di Asia Tenggara.
"Keindahan ikan flasher (Paracellinus nursalim), yang berukuran mungil dan berwarna-warni, bisa dilihat saat menyelam di Kaimana," kata Andi Yasser Fauzan, Marine Conservation and Science Specialist CII di Kaimana.
Bagi yang tak menyelam, pantai berpasir putih, yang dinaungi pohon kelapa di sela tebing-tebing cadas di Selat Namatota, bisa meneduhkan pikiran.
Di daerah Faranggara dan Miwara di Teluk Triton, kitadisuguhi pemandangan berupa hamparan laut dihiasi pulau-pulau kecil bertebing pipih tertutup pepohonan lebat. Burung endemik, seperti masariku berwarna putih dan burung rangkong warna-warni yang terbang bebas, menyuguhkan hiburan tersendiri.

Saat cuaca baik dan laut tenang, paus bryde dan lumba-lumba akan muncul di Selat Namatota. Jika beruntung, bisa terlihat ikan mangiwang (Hemiscyllium henryi) yang bernama lokal hiu bodoh karena berjalan dengan sirip. Ikan itu tidak diburu sehingga kerap ditemui berenang dekat perahu nelayan.

Bagi peminat sejarah, ada aneka ragam lukisan manusia prasejarah di tebing-tebing cadas di Selat Namatota. Gambar wajah, matahari, dan cap telapak tangan merupakan bagian dari ribuan lukisan yang terukir di ceruk-ceruk cadas sepanjang 1 kilometer.
Gambar-gambar itu diperkirakan dibuat oleh manusia Austronesia sekitar 3.500 tahun silam saat mereka bermigrasi dari Taiwan ke Filipina, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Di Desa Lobo, Teluk Triton, Distrik Kaimana, ada tugu "Fort du Bus" yang menandai benteng dan pos administrasi Hindia Belanda yang bernama Fort du Bus yang dibangun pada 1828.
Benteng ini ditinggalkan tahun 1835 saat wabah malaria membunuh sebagian besar tentara Belanda.


Adapun Pulau Venu menjadi tempat penyu bertelur, baik itu jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), maupun penyu belimbing (Dermochelys coriacea).
Sayangnya, untuk menikmati Kaimana perlu dana tak sedikit. Untuk menjelajah Teluk Triton yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Kaimana, wisatawan harus menyewa long boat milik nelayan dengan biaya minimal Rp 2,5 juta. Dana lebih besar dibutuhkan untuk ke Pulau Venu yang waktu tempuhnya lima jam.

Harga tiket dari Ambon ke Kaimana Rp 1,6 juta. Kalau dari Makassar, tiketnya Rp 2,5 juta.
Sarana pendukung wisata juga masih minim. Penginapan hanya ada empat buah dan peralatan selam harus bawa sendiri.

"Kami masih memetakan obyek wisata serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Kantor pariwisata baru tiga bulan berdiri," kata Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kaimana Donesius Murmana.
Namun, turis-turis asing telah berdatangan. "Umumnya, pada September sampai Maret saat lautan teduh," kata Pelaksana Harian Kantor Pelabuhan Kaimana Thimus M Solossa.
Pemerintah perlu bahu-membahu dengan investor swasta untuk segera membenahi sarana dan prasarana wisata sebelum pesona Kaimana dan minat wisatawan keburu pudar.

22 Desember 2009

Sejuta Pesona Wisata Indonesia

MELEWATKAN liburan akhir tahun tak harus menguras kantong dengan jalan-jalan ke luar negeri. Pasalnya, di Indonesia saja bertebaran objek-objek wisata yang cukup memukau.

Liburan akhir tahun sudah di depan mata. Sudahkah Anda dan keluarga memiliki rencana untuk melewatkan akhir tahun? Liburan ke luar negeri seperti negara-negara Asia dan Eropa mungkin masih menjadi keinginan banyak orang untuk berakhir tahun. Tapi bagaimana bila dana terbatas? Jangan risau, liburan dengan mengunjungi berbagai objek wisata di Tanah Air tak kalah serunya, kok.

Apalagi, saat ini gerakan memopulerkan objek wisata di Indonesia sedang gencar digalang pemerintah. Beberapa waktu lalu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik berharap seluruh masyarakat dapat mendukung pariwisata Tanah Air dengan cara mengunjungi lokasi wisata di Tanah Air sesering mungkin. Dia juga mengimbau para orangtua untuk mengajak anaknya berwisata di dalam negeri saja.

Dari sebuah survei sekitar lima tahun lalu, terungkap anak-anak dan remaja Indonesia diketahui hanya mengunjungi tiga provinsi selama hidupnya. ”Padahal, ada 33 provinsi di Indonesia yang semua indah-indah. Maka itu, kita dorong terutama para orangtua pada liburan akhir tahun ini mengajak keluarganya untuk berwisata di Tanah Air. Jangan ke Singapura atau Malaysia, tetapi pilih ke Tana Toraja atau Danau Toba,” tandasnya.

Danau Toba misalnya, merupakan salah satu dari 77 nominator keajaiban dunia 2008. Panorama indah Toba tampak terlihat mulai pagi hingga matahari terbenam. Maka tidak salah kalau Danau Toba menjadi nominator di ajang keajaiban dunia 2008.

Di tengah-tengah Danau Toba, terdapat pulau yang dinamai dengan Samosir. Dulunya, pulau ini dikelilingi perairan Danau Toba. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan hidup yang harus serba cepat, kalau tidak salah, telah dirintis jalan untuk menghubungkan daratan Pulau Samosir dengan suatu daratan.

Di sekitaran Danau Toba masih terdapat objek wisata yang bisa dikunjungi, seperti makam orang pertama Batak di Pusuk Buhit, Air Tujuh Rasa & Pemandian Air Panas di Pangururan, Air Terjun.

Objek wisata lain yang tentu tak kalah menariknya adalah Bali. Namun saking populernya, Bali mungkin sudah tak eksklusif lagi. Nah, melihat fenomena inilah Jero Wacik meminta masyarakat untuk tidak hanya mengunjungi Bali, karena ada banyak destinasi wisata lain yang juga layak untuk dikunjungi.

”Bali sudah sangat dipenuhi wisatawan dalam dan luar negeri. Jadi, kami imbau pilihlah tujuan wisata lain, seperti Palembang yang baru meluncurkan Visit Musi atau ke Belitung melihat lokasi syuting film Laskar Pelangi. Di Sulawesi Selatan juga ada Festival Toraja dan di Nusa Tenggara Timur ada Festival Musik Sasando,” kata Jero.

Di Festival Toraja yang bakal dihelat pada Desember mendatang, ajang yang diberi nama Festival Budaya dan Lovely December 2009 ini akan dilangsungkan di Rantepao, Kabupaten Toraja Utara. Acara ini akan merangkum berbagai kesenian dan hasil karya 21 kecamatan di wilayah kabupaten tersebut, juga provinsi lainnya.

Acara yang puncaknya akan digelar pada 26 Desember ini akan menampilkan pagelaran seni budaya, pameran kerajinan daerah, pameran foto pariwisata, bazar dan lomba masakan tradisional, pasar malam dan hiburan rakyat, serta dialog dan seminar budaya daerah. Festival Budaya dan Lovely December 2009 ini akan dijadikan titik awal untuk menarik kunjungan wisatawan lokal dan luar negeri kembali ke Toraja. Acara ini juga menjadi sarana untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing sektor pariwisata serta mendukung suksesnya program Visit Indonesia.

Menariknya lagi, menjelang akhir tahun ini, dunia pariwisata Indonesia juga tengah diramaikan dengan program promosi yang dapat dimanfaatkan keluarga yang berminat melakukan perjalanan wisata.

”Saya tegaskan lagi, ayo berwisata di Tanah Air, jangan sampai harus ke luar negeri. Menambah-nambah devisa mereka saja, mending buat kita,” ujar Jero.
(Koran SI/Koran SI/tty)

17 Desember 2009

Fosil Binatang Purba Ditemukan di Bojonegoro

Sebuah benda yang diduga fosil binatang purba ditemukan warga Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur. Sebelumnya, di kecamatan setempat juga ditemukan fosil gajah purba.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) menduga, wilayah Kalitidu menyimpan banyak fosil purba. Fosil purban yang ditemukan warga Desa Brenggolo, berawal dari penemuan Miftahul Huda. Awalnya Miftahul membeli tanah uruk dari Waduk Wotan Ngare di Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu. Tanah uruk bercampur batu itu dinaikkan menggunakan alat berat sehingga tak menimbulkan curiga.

Saat tanah uruk itu akan ditanami kacang dengan cara membuat lobang tanah, kayu yang digunakan mengenai batu. "Saat akan menanam kacang tanah, kayu membentur batu yang cukup keras," terangnya.

Dia pun langsung berusaha menggali dengan beberapa temannya. Ia dikagetkan dengan adanya benda yang keras berbentuk bongkahan batu besar. Tapi batu itu berlobang mirip kepala binatang. Ia pun membawanya pulang dan dititipkan di rumah Suharto, tetangganya. Beratnya pun lumayan, yakni mencapai 1 kwintal.

Suharto sendiri, tak lain Kepala Sekolah (Kasek) SDN Katur II yang hingga kini masih aktif mengajar. Menurut dia, benda yang ditemukan Miftahul itu adalah fosil dan seperti kepala binatang purba. "Menurut informasi yang kami peroleh, binatang itu besar. Tidak seperti binatang sekarang,' terangnya.

Ia sendiri menduga jika benda itu kerbau purba. Benda yang diduga fosil itu, mempunyai dua cekungan yang menyerupai bekas kelopak mata. Selain itu juga ada potongan gigi yang telah banyak hilang. "Panjang totalnya sekitar 80 cm, dan lebarnya ada sekitar 65 cm," terangnya.

Setelah penemuan itu diketahui warga lainnya, benda itu berangsur-angsur banyak dilihat orang. Tapi, hingga kemarin belum ada petugas dari Disparbud yang datang untuk melihat penemuan fosil itu. Sehingga, belum dipastikan apakah benda itu fosil atau batu biasa yang menyerupai fosil.

Dikonfirmasi terpisah Saptatik Kabid Pelestarian dan Pengembangan Budaya Disparbud Bojonegoro mengatakan, pada Nopember lalu, saat ada warga yang menemukan kepala gajah purba pihaknya sudah ke sana. "Kami waktu itu juga bersama petugas BP3 Trowulan," terangnya.

Fosil yang dimaksud adalah fosil temuan Kepala Desa Wotanngare, Kalitidu, Kariyanto. Benda yang termasuk purbakala ini ditemukan di sebuah waduk yang baru digali. Fosil itu sendiri dipastikan gajah purba. "Kalau yang dulu itu sudah pasti gajah purba. Tapi yang sekarang ini, kami belum bisa memastikan," tegasnya.

Dia menjelaskan, sesuai keterangan BP3 wilayah Kecamatan Kalitidu, sangat erat hubungannya dengan pusat fosil Sangiran dan Trinil. Hanya saja, di Trinil dan Sangiran sangat mudah menemukan benda purba karena berada di dataran agak tinggi. "Kalau di Kalitidu, harus lebih dalam baru bisa mengetahui ada fosil atau tidak," terang Saptetik.(Nanang Fahrudin/Koran SI/ful)

11 Desember 2009

Hutan Bakau Bali Terbaik di Asia

Hutan bakau seluasa 1.343,5 hektar di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali, menjadi kawasan hutan mangrove terbaik di Indonesia, bahkan sekawasan Asia.

Berkat keberhasilan mengembangkan dan melestarikan berbagai jenis tamanan yang tumbuh subur dan lebat, menjadikan kawasan itu menjadi rujukan studi banding para ahli mancanegara, kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali Anak Agung Ngurah Buana di Denpasar Jumat.

Ia mengatakan, selain para ahli yang datang dari sejumlah negara di belahan dunia yang ingin meniru keberhasilan pengembangan hutan bakau, juga datang dari sejumlah daerah di Indonesia.

Rombongan para ahli yang pernah melihat dari dekat kawasan bakau Taman Raya Bali Selatan antara lain dari Jepang, Jerman, Pilipina, Italia dan Amerika Serikat.

Delegasi Pilipina misalnya, beranggotakan sebelas orang yang terdiri atas para ahli hutan bakau untuk studi banding mengenai pengelolaan lingkungan, khususnya kawasan pesisir.

Delegasi yang dipimpin penasehat ahli Masalah Lingkungan Pesisir Pilipina Rolando L. Metin dalam kunjungannya ke Bali melihat dari dekat pengembangan hutan bakau.

Demikian pula delegasi dari negara lainnya secara khusus mengadakan pertemuan dengan pihak Balai Pengelola Hutan Mangrove, dan Dinas Kehutanan Bali serta melihat dari dekat berbagai kegiatan di kawasan tersebut.

AAN Buana menambahkan, Bali menjadi proyek percontohan pengembangan hutan bakau, kerjasama Departemen Kehutanan RI dengan "Japan International Cooperation Agency-JICA" di kawasan mangrove Suwung, Bali Selatan.

Proyek yang dimulai sejak tahun 1993 itu dinilai cukup berhasil mengembangkan dan melestarikan berbagai jenis tamanan, bahkan beberapa diantaranya mengandung potensi sebagai bahan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit.

Kawasan seluas 1.343,5 hektar itu ditata sedemikian rupa, dihubungkan dengan jalan setapak, sehingga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat kota Denpasar maupun wisatawan mancanegara.

Masyarakat setempat juga biasa menjadikan kawasan hutan bakau sebagai tempat rekreasi seperti memancing ikan.

Kawasan hutan bakau lokasinya memanjang di pesisir selatan pantai Bali, di sekitar kawasan Pelabuhan Benoa hingga dekat bandara Ngurah Rai, penanamannya masih terus dilakukan secara berkesinambungan.

Kawasan hutan bakau yang ditangani secara intensif oleh 42 tenaga, separuh diantaranya tenaga teknis Balai Pengelolaan Hutan Mangrove serta dua tenaga ahli dari Jepang, tuturnya.

Bali memiliki kawasan hutan bakau seluas 1.373 hektar, hingga kini masih terus diupayakan penanaman dan pemeliharaan, dengan harapan mampu berfungsi sebagai "paru-paru" kota.
(*)
sumber antara

15 November 2009

Masyarakat Perancis Antusias Pelajari Tari Bali

Masyarakat Perancis dan warga negara Indonesia yang tinggal di negara itu cukup antusias mempelajari tabuh dan tari Bali yang dibina seorang dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
"Kursus tari Bali yang digelar sekali dalam seminggu di KBRI Paris itu melibatkan ratusan pencinta seni budaya Bali di Perancis," kata Nyoman Kariasa, SSn, dosen ISI Denpasar setelah mengemban tugas selama enam bulan di negara tersebut, di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, minat masyarakat internasional mendalami tabuh dan tari Bali cukup besar.

Guna memudahkan melakukan pelatihan, mereka dibagi dalam beberapa kelompok latihan dengan jadual berlangsung sejak pagi, siang, sore hingga malam hari.

Tugas tersebut diembannya selama enam bulan, sekaligus memperkenalkan seni budaya Bali dan Indonesia pada umumnya.

Nyoman Kariasa menjelaskan, penugasan mengajar musik tradisional gamelan Bali di Paris mampu memberikan motivasi tersendiri baginya.

Paris dan Perancis merupakan salah satu kiblat kemajuan budaya yang telah diakui dunia internasional, katanya.

Masyarakat Paris mempunyai apresiasi tinggi terhadap musik dan budaya luar termasuk Indonesia, khususnya gamelan dan tari Bali.

"Hal ini menjadi daya tarik sekaligus tantangan untuk memperkenalkan dan mengajarkan gamelan Bali yang selama ini hanya mereka dengar atau tonton," ujar Nyoman Kariasa.

Ia mengaku dituntut untuk jauh lebih sabar dalam mengajarkan hal-hal dasar dan konseptual yang berkaitan dengan gamelan, kesenian Bali serta menyentuh filosofi dan budaya Bali secara luas.

Hal itu masih ditambah dengan kendala komunikasi, mengingat masyarakat Perancis pada umumnya tidak berbahasa Inggris, ujar Nyoman Kariasa.
(*) sumber antara

14 November 2009

Wuih... Solo Tujuan wisata Terbaik

Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah, akan segera membenahi sejumlah obyek wisata setelah Solo meraih penghargaan sebagai "Indonesian best destination" dalam Indonesian Tourism Award (ITA) 2009, Jumat (13/11) malam tadi.

"Penghargaan itu bukan merupakan parameter kesuksesan kami dalam melakukan pembenahan sejumlah tempat tujuan wisata yang kami miliki," kata Wali Kota Solo, Joko Widodo di Solo, Sabtu (14/11).

Dia mengatakan, hal tersebut malah menjadi pemacu Pemkot Surakarta untuk segera membenahi lokasi-lokasi tujuan wisatawan yang saat ini dinilai kurang terawat dan perlu pembenahan. "Dengan kondisi yang masih belum maksimal saja Solo meraih penghargaan tersebut. Apalagi bila kita membenahi dan menyempurnaan penataan lokasi-lokasi tujuan wisatawan, pasti hasil yang lebih baik dapat tercapai," kata dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, Pemkot Surakarta semakin terpacu untuk segera melakukan pembenahan. "Saat ini kami sudah mengajukan sejumlah proposal ke pemerintah pusat dan pemerintah provinsi untuk pembenahan sejumlah cagar budaya di Solo," katanya.

Salah satu cagar budaya yang akan segera dibenahi adalah Pura Mangkunegaran yang dianggarkan Rp 25 mliar. Selain itu, juga cagar budaya Masjid Agung. "Akan tetapi, hal tersebut terkendala belum dimasukkannya pembenahan tempat tersebut pada draf RAPBD 2010," katanya.

Saat ini, lanjut Joko, Pemkot Surakarta baru bisa berharap dari dana yang mungkin akan diturunkan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Dia berharap jika semua lokasi tujuan wisata, termasuk bangunan cagar budaya, dapat dibenahi, Solo tidak hanya mendapat manfaat dengan berupa penghargaan saja, tetapi juga dengan mendapatkan wisatawan lebih banyak.

"Selain itu, kami juga berharap penghargaan tersebut dapat memacu pelaku bisnis wisata untuk iktu memajukan dunia pariwisata Solo," kata Joko Widodo.

14 Oktober 2009

Warna Danau Kelimutu Semua Berubah Hijau Muda

Warna Danau Kelimutu, di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur kini berubah lagi, malah semuanya menjadi hijau muda dalam sepekan terakhir. Perubahan terakhir terjadi pada Desember 2008, yaitu pada danau Tiwu Ata Polo dari warna cokelat kehitaman menjadi hijau tua, sedangkan saat ini menyusul danau Tiwu Ata Mbupu yang sebelumnya hijau kehitaman berubah menjadi hijau muda.

Warna air danau Tiwu Ata Mbupu sama den gan danau Tiwu Nua Muri Koo Fai yang memang dominan hijau sejak diteliti oleh B.C.Ch.M.M van Suchtelen tahun 1915. Perubahan warna dari hijau kehitaman ke hijau muda itu berlangsung sekitar Senin (5/10), pekan lalu.

"Biasanya perubahan warna danau terjadi dalam hitungan tahun. Perubahan juga biasanya pada satu kawah, tapi kali ini dalam waktu 8 bulan sudah terjadi perubahan pada dua kawah," kata Kepala Balai Taman Nasional (BTN) Kelimutu, Gatot Soebiantoro, Rabu (14/10), di Ende.

Namun Gatot menyayangkan, peristiwa unik tiada duanya di muka bumi yang baru terjadi itu pihak BTN Kelimutu belum dapat menjelaskan secara ilmiah perubahan warna air di kawah danau dengan ketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut tersebut.

Warna air danau Kelimutu pernah diteliti oleh tim Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2007 ketika warna danau Tiwu Ata Polo masih cokelat kehitaman, lalu danau Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna hijau muda, dan Tiwu Ata Mbupu, hijau lumut.

Fenomena perubahan air danau Kelimutu saat ini relatif cepat. Oleh karena itu Gatot berpendapat, sebaiknya ada semacam stasiun riset geologi untuk wilayah Flores, sehingga fenomena alam seperti sekarang jika ada ahli di bidangnya yang berkantor di Ende, maka akan lebih cepat terpantau aktivitas Gunung Kelimutu yang masih aktif itu, sekaligus dengan hasil analisis ilmiahnya.


sumber kompas

10 Oktober 2009

Pelancong Jerman Kagumi Keindahan Danau Toba

Sejumlah wisatawan Jerman mengakui keunikan dan keindahan panorama alam Danau Toba sehingga daerah wisata itu dijadikan sebagai tujuan wisata pertama mereka ke Sumatera.

Wisman asal Jerman, Eva, di Parapat, Sabtu (10/10), mengatakan, Danau Toba merupakan bagian dari tujuan wisata yang disukainya, terlebih keindahan alam dan masyarakat setempat. Masyarakat di sekitar Danau Toba tampak ramah dan memiliki ciri khas yang menarik untuk diperhatikan, terlebih "aksen" atau logat bicaranya yang terlihat kasar namun ternyata baik.

Selain itu, kebudayaan lokal masyarakat setempat, terlebih di Tuk-tuk, Kabupaten Samosir, yang tampak sangat menarik, sehingga memberi pengetahuan budaya baru yang menarik diketahui. "Saya suka tarian Si Gale-gale, sangat menarik dan unik, saya sangat senang berkunjung ke sini," ujarnya.

Menurut Eva, sebelumnya keindahan Danau Toba diketahuinya melalui berbagai informasi, baik buku panduan wisata maupun juga internet, sehingga ia memiih untuk mengunjunginya lebih dulu. Namun, kedatangannya bersama seorang teman ke Parapat bukanlah secara khusus melihat rangkaian kegiatan Pesta Danau Toba 2009, melainkan hanya ingin berlibur selama sekitar satu minggu di Danau Toba.

Wisman asal Jerman lainnya, Paul, mengatakan, Danau Toba merupakan salah satu tempat wisata yang merupakan keajaiban dunia, keindahan danau serta alamnya membuat ia bersama dua rekan lainnya merasa betah dan nyaman berlibur.

Terlebih, sikap masyarakatnya yang bersahabat dan sopan, menjadikan Danau Toba sebagai salah satu tujuan wisata yang harus dikunjungi oleh warga Jerman lainnya. "Bila kembali ke Jerman nanti, saya akan ajak kawan-kawan kerja saya lainnya di sana untuk berlibur ke Danau Toba, karena di sini asyik dan menarik," ujarnya.

Selain kunjungan ke Danau Toba, mereka juga berencana mengunjungi lokasi wisata lainnya di Sumatera Utara, seperti Berastagi dan Bukit Lawang.

sumber kompas

08 Oktober 2009

"Prambanan Sunrise", Matahari Terbit dari Balik Candi

PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko Yogyakarta menawarkan paket "Prambanan Sunrise" kepada wisatawan nusantara dan mancanegara.

"Wisatawan dapat menikmati matahari terbit dari balik bangunan Candi Prambanan," kata Direktur Pemasaran dan Pengembangan PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko Yogyakarta, Agus Cany, Rabu (7/10).

Ia mengatakan pihaknya memberikan pilihan objek wisata baru kepada wisatawan, yaitu melihat matahari terbit di Candi Prambanan yang letaknya di perbatasan wilayah DIY dan Jawa Tengah.

"Kalau Taman Wisata Borobudur di Magelang,Jawa Tengah memiliki paket wisata ’Borobudur Sunrise”, yaitu menyaksikan matahari terbit dari atas bangunan Candi Borobudur, maka ’Prambanan Sunrise’ memiliki kelebihan, yaitu matahari seakan-akan terbit dari balik Candi Brahma, Siwa dan Wisnu," katanya.

Paket wisata "Prambanan Sunrise" ini rencananya diluncurkan pada 1 November 2009 di pelataran kompleks Candi Prambanan.

Menurut dia, menyaksikan matahari terbit di pelataran Candi Prambanan ini lebih menarik dan eksotis dibandingkan melihat matahari terbit di Angkor Wat Kamboja. Meski sama-sama melihat matahari terbit, lebih menarik di Candi Prambanan.

"Saya yakin paket wisata ’Prambanan Sunrise’ akan menarik minat wisatawan mancanegara dan nusantara," katanya.

Kepala Unit Teater dan Pentas PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko Yogyakarta Joko Sutono mengatakan paket wisata ini dijual kepada wisatawan mancanegara dan nusantara Rp 250.000 per orang dengan fasilitas tiket masuk Candi Prambanan dan makan pagi. "Wisatawan yang memesan paket wisata ’Prambanan Sunrise’ minimal dua orang," katanya.

Ia mengatakan wisatawan yang membeli paket wisata ini harus sudah datang di panggung terbuka Candi Prambanan sebagai tempat melihat matahari terbit pada pukul 05.00 WIB.

"Wisatawan kemudian menunggu matahari terbit dengan menikmati minuman teh, kopi dan makanan kecil, sedangkan pada pukul 05.50-06.00 WIB mereka diajak berjalan kaki mengunjungi bangunan Candi Prambanan," katanya .

Wisatawan kemudian diajak menikmati makan pagi di "Prambanan Garden Resto" pada pukul 07.25-07.25 WIB kemudian dilanjutkan kunjungan ke objek wisata lainnya seperti Taman Wisata Ratu Boko.

sumber : kompas

10 September 2009

Puluhan Bus Kuno Karimun Potensial Dorong Sektor Pariwisata

Puluhan bus kuno (bus tua) di Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau merupakan aset berharga yang harus dipertahankan karena potensial dalam mendorong sektor pariwisata di wilayah itu.

"Usia boleh tua, tapi keberadaannya harus tetap dipertahankan agar tidak punah dimakan waktu karena sangat potensial dalam mendorong sektor pariwisata," kata Ketua DPC Organda Karimun, Amirullah di Tanjung Balai Karimun, Rabu.

Menurut Amirullah, salah satu cara mempertahankan bus kuno itu adalah dengan merawat dan meremajakan onderdil atau memodifikasi tanpa merusak nilai-nilai klasik pada mobil era 50-an itu.

"Modifikasi memang terpaksa dilakukan karena onderdil aslinya sudah tidak ditemukan lagi di pasaran," katanya.

Dia mengatakan, saat ini jumlahnya bus tersebut masih lumayan banyak, sekitar 40 unit dan diharapkan terus bertahan untuk memberikan ciri khas bagi daerah itu.

Campur tangan pemerintah sangat penting untuk melestarikannya, karena angkutan itu menjadi pilihan utama wisatawan mancanegara (wisman).

"Lihat saja, ketika ratusan pelajar dari Singapura yang datang beberapa waktu lalu, mereka membutuhkan sekitar sepuluh bus untuk membawa mereka ke tempat-tempat wisata," tuturnya.

Bentuknya yang unit mengundang wisatawan untuk naik bas itu, apalagi mereka tidak menemukannya di daerah asal.

Bus tersebut mempunyai konstruksi yang sangat kuno. Kaca depannya terdiri dari dua jendela dengan bingkai kayu yang bisa dibuka tutup.

Dari jauh, bus ini terkesan memakai kacamata. Jok penumpang bus memanjang ke belakang, dan dinaungi oleh atap dan dinding besi buatan lokal yang mirip kubus.

Dia mengungkapkan, bus kuno itu juga menjadi andalan warga pedesaan untuk datang menyaksikan kegiatan keramaian di pusat kota.

"Jumlah angkot dan taksi boleh banyak, tapi bas kuno tetap eksis karena punya pelanggan sendiri, yaitu karyawan sejumlah perusahaan dan anak-anak sekolah," ujarnya.

Ke depan, lanjut dia, Organda akan mengoptimalkan pemanfaatannya dengan memfokuskan sektor pariwisata meski bakal bermunculan angkutan umum yang lebih modern.

"Pemanfaatan itu baru dapat dilakukan terus menerus jika ada peremajaan dan perawatan sehingga tetap aman dan layak pakai," imbuhnya.

sumber antaranews

07 September 2009

Bulgaria Kagumi Kekayaan Budaya Indonesia

Menteri Kebudayaan (Menbud) Bulgaria, Vezhdi Rashidov mengagumi kekayaan budaya Indonesia dan sepakat mengenai arti penting kerja sama kebudayaan guna lebih mendekatkan rakyat Indonesia dan Bulgaria.

Hal itu diungkapkan Vezhdi Rashidov pada saat bertemu Dubes RI untuk Republik Bulgaria, Immanuel Robert Inkiriwang, di Sofia, ujar Sekretaris III Pensosbud KBRI Sofia Aditya Timoranto kepada koresponden ANTARA London, Minggu (6/9).

Menbud Rashidov berkeinginan untuk berkunjung ke Indonesia guna memenuhi undangan Menbudpar RI yang disampaikan pada masa jabatan pendahulunya, Prof. Stefan Danailov.

Ia juga setujui untuk mengikutsertakan mahasiswa arkeologi Indonesia dalam penggalian purbakala yang saat ini dilakukan di beberapa kota di Bulgaria serta mendukung prakarsa Dubes RI untuk menjalin kerja sama antara museum di Indonesia dan di Bulgaria.

Rashidov diangkat sebagai Menbud dalam kabinet baru pimpinan PM Boyko Borissov Juli lalu. Vezhdi Rashidov dikenal sebagai seniman pemahat ulung Bulgaria yang telah menerima penghargaan negara tertinggi Stara Planina dari Presiden Bulgaria, Georgi Purvanov, dan berbagai penghargaan internasional.

Karya-karyanya dipamerkan di semua gallery utama di Bulgaria dan museum di manca negara seperti di Pushkin Museum di Moskow, National Gallery di Warsawa, Korita Museum Tokyo, National Gallery Ankara, Ecly Foundation Paris.

Sementara itu Dubes RI Immanuel Robert Inkiriwang menjelaskan nilai perdagangan bilateral RI-Bulgaria di tahun 2008 melonjak hingga 78,66 persen dengan nilai 87,76 juta dolar AS dibandingkan tahun 2007 meningkat sebesar 25,5 persen dengan nilai 49,12 juta dolar AS dari tahun sebelumnya.

Dikatakannya perkembangan ini, antara lain, karena rakyat Bulgaria termasuk masyarakat pebisnisnya semakin mengenal Indonesia melalui program promosi kebudayaan Indonesia yang dilakukan di Sofia dan di berbagai kota di Bulgaria. Keduanya juga sepakat untuk meneruskan kerja sama antara Kementerian Budaya Bulgaria dan KBRI Sofia

sumber : kompas

05 September 2009

Wah... Gubernur NTT Ajak Warganya Masuk Laut

Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengajak warganya untuk berpaling ke laut karena di sana tersedia berbagai potensi sumber daya alam yang tinggal dipanen dan diolah untuk dikonsumsi atau dijual.

"Saatnya sekarang, setengah dari 5,6 juta jiwa penduduk NTT mulai melirik sektor kelautan sebagai peluang yang sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana meningkatkan kemampuan untuk memberdayakan potensi kelautan tersebut," katanya di Kupang, Sabtu (5/9), sebelum terbang menuju Maumere, Kabupaen Sikka, untuk menyaksikan penganugerahan gelar guru besar kepada Ketua STFK Ledalero Prof Dr P Konrad Kebung, SVD.

Ajakan Gubernur Lebu Raya ini menanggapi pernyataan Ketua Kopertis Wilayah VIII Prof Dr Kommaruddin dalam acara wisuda Sarjana Universitas Kristen (Unkris) Atha Wacana Kupang yang mengatakan, luas lahan sawah berkurang menjadi delapan juta hektar pada tahun 2009 dari 8,4 juta hektar pada tahun 2008, akibat bertambahnya lahan kering.

Menurut Gubernur Lebu Raya, sebenarnya aktivitas petani lahan kering dikurangi ketika pemerintah menggencarkan program Gerakan Masuk Laut (Gemala) enam tahun lalu dan berbagai gerakan lain.

Selain itu, semakin tersedianya tenaga sarjana perikanan dan kelautan yang ditamatkan setiap tahun mencapai 500 hingga 600 orang dari berbagai universitas dan perguruan tinggi yang ada di NTT.

"Saya melihat sebagian besar masyarakat NTT yang tinggal di pesisir pantai masih berpaling ke darat untuk berkebun dengan sistem tebas bakar dan berpindah-pindah sehingga menjadi penghambat untuk mengoptimalkan laut sebagai lahan untuk mempertahankan hidup," katanya.

Gubernur Lebu Raya juga mengakui bahwa sarana dan prasarana yang digunakan nelayan masih terbatas dan tradisional sehingga berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas hasil tangkapan.

"Namun, pemerintah terus berupaya secara bertahap untuk mengatasi persoalan mental, sarana, dan prasarana dengan sosialisasi dan upaya lain untuk mengubah kendala tersebut sebagai peluang sehingga secara bertahap masyarakat mulai melihat luat sebagai lahan yang potensial," katanya.

Salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah terus memperjuangkan NTT sebagai provinsi kepulauan bersama Provinsi Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Riau, dan Bangka Belitung sehingga pemanfaatannya lebih optimal.

Selama ini, kata Lebu Raya, pagu anggaran dari pemerintah pusat dihitung berdasar jumlah penduduk dan luas wilayah darat sehingga besarannya tergantung pada berapa jumlah dan luasannya. Sementara untuk NTT, luas wilayah laut adalah 70 persen dari total luas wilayah.

"Kita berharap, usaha dan perjuangan NTT menjadi provinsi kepulauan ini berhasil sehingga ajakan agar masyarakat NTT berpaling ke laut menjadi lebih efektif," katanya.

sumber kompas

Samosir Kembali ke Budaya Lokal

Pemerintah Kabupaten Samosir mulai menggunakan kearifan lokal budaya Batak dalam upaya konservasi kawasan ekosistem Danau Toba. Bupati Samosir Mangindar Simbolon mengakui, kearifan lokal budaya Batak sempat terpinggirkan. Padahal nenek moyang orang Batak dikenal memegang teguh adat dan budaya dalam upaya pelestarian lingkungan.

Mangindar mengatakan, Pemkab Samosir secara resmi memperkenalkan pendekatan budaya dalam setiap aspek pembangunan di wilayah tersebut. Termasuk upaya Pemkab Samosir dalam mengonservasi kawasan ekosistem Danau Toba.

Pada acara Pencanangan Strategi Pengelolaan Kolaboratif Pembangunan Samosir di Situs Budaya Batu Hobon, Kecamatan Sianjur Mula- mula, Kabupaten Samosir, Sabtu (5/9), Mangindar di hadapan pejabat pemerintah pusat dari berbagai departemen terkait, menyatakan, komitmen Samosir kembali menggunakan pendekatan budaya dalam setiap aspek pembangunan wilayah.

"Kami sadar semakin banyak orang Batak yang tak mengenal budayanya sendiri. Padahal nenek moyang orang Batak justru menggunakan berbagai produk budaya untuk melestarikan kekayaan alamnya. Dengan pencanangan ini, Pemkab Samosir ingin menegaskan akan kembali menggunakan pendekatan budaya dalam pembangunan di wilayah ini," ujar Mangindar.

Menurut Mangindar, dengan wilayah yang berada di tengah-tengah Danau Toba, Samosir dituntut mengonservasi ekosistem Danau Toba. Berbeda dengan enam kabupaten lain yang juga memiliki wilayah di Danau Toba, Kabupaten Samosir seluruh wilayahnya berada di Danau Toba. "Ini menjadikan Samosir sebagai daerah tangkapan air Danau Toba," ujarnya.

Mangindar mengatakan, nenek moyang orang Batak menggunakan pendekatan budaya dalam upaya yang saat ini disebut konservasi lingkungan. Akan tetapi, masuknya agama samawi sempat menjadikan budaya lokal sebagai bagian yang disingkirkan masyarakat. Padahal agama yang masuk ke Samosir tetap sejalan dengan budaya masyarakat Batak.

"Tetapi karena ada anggapan yang keliru, sehingga banyak situs budaya yang dulunya asri, harus ditebang pepohonannya karena ada penilaian menyalahi ketentuan agama," ujarnya.

Untuk itu, selain mengundang pejabat pemerintah pusat, pencanangan strategi pembangunan Kabupaten Samosir juga dikemas dalam acara budaya, Mangalahat Horbo Bius, semacam pesta dimulainya tahun baru dalam kalendar Batak yang berisi persembahan kerbau kepada Tuhan. Uniknya, pesta adat ini justru dipimpin oleh Uskup Agung Medan Mgr DR AB Sinaga OFM Cap.

"Ini juga untuk menunjukkan kepada masyarakat, bahwa penghormatan terhadap adat dan budaya mereka tak menyalahi agamanya," kata Mangindar.

Pejabat Departemen Dalam Negeri yang ikut hadir, yakni Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Pembangunan Koesnan A Halim mengaku terkesan dengan upaya Pemkab Samosir. Sebagai kabupaten yang baru terbentuk lima tahun terakhir, upaya Pemkab Samosir yang tidak ingin kehilangan jati diri budayanya dalam pembangunan wilayah harus mendapat penghargaan. Apalagi upaya tersebut, kata Koesnan, didasari oleh keinginan melestarikan kawasan ekosistem Danau Toba.

"Jangan mencontoh apa yang dilakukan pemerintah daerah terhadap pengelolaan kawasan Puncak. Kawasan yang mestinya menjadi daerah resapan air justru penuh denga bangunan villa. Puncak tak menjadi daerah tangkapan air, dan berakibat pada terjadinya banjir di wilayah-wilayah yang berada di bawahnya," kata Koesnan

sumber : kompas

02 September 2009

Empat Arca Candi Borobudur Dipasang

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur berhasil memasang kembali empat arca ke tempat semula yang sebelumnya belum ditemukan posisi arca tersebut.

"Hingga bulan Agustus tahun ini kami berhasil mengembalikan empat arca dan enam antefik dari sekitar 10 ribu blok batuan lepas," kata Kasi Pelayanan Teknis Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Iskandar Siregar di Magelang, Jateng, Selasa.

Pemugaran Candi Borobudur yang selesai pada 1982 masih menyisakan sekitar 10 ribu blok batuan candi yang belum bisa direkonstruksi. Batuan itu ditempatkan di Kantor Balai Konservasi dan halaman Museum Karmawibangga di kompleks Candi Borobudur.

Iskandar menyebutkan, keempat arca tersebut terletak di pagar langkan tingkat dua, yakni di bagian timur dua unit dan bagian utara dan selatan masing-masing satu arca.

Menurut dia, pemasangan blok batu itu tidak mudah, karena harus benar-benar sesuai di tempatnya semula.

"Pemasangan itu harus sesuai dengan corak, potongan, dan kesinambungan batu di sebelahnya sehinga cukup rumit, apalagi jumlahnya ribuan," katanya menjelaskan.

Setiap tahun, Balai Konservasi hanya mampu memasang maupun merekonstruksi sekitar 10 hingga 20 blok batu yang terlepas itu.

"Kami tidak berani memasang dengan sembarangan, karena juga harus menyesuaikan letaknya. Kalau sudah pasti baru berani meletakkannya," ujarnya.

Menurut dia, untuk memasang kepala patung Budha lebih sulit lagi, karena harus menyesuaikan dengan bagian tubuh. Di setiap arah mata angin, posisi tangan patung juga berbeda.

Ia menjelaskan, sebenarnya batuan lepas itu sudah diberi penomoran dan pernah dilakukan penelitian petrografi (sifat-sifat fisik batu), ternyata tetap sulit untuk menyambung atau merekonstrusi karena sifat-sifat batu sangat komplek.

Pemugaran Candi Borobudur dimulai tahun 1972 dan selesai 1982. "Batu-batu lepas atau batu pengungsi itu sebelum dipugar memang sudah berserakan, bahkan sebagian ada yang diambil masyakat, tetapi kemudian dikembalikan," katanya.

sumber : antara

27 Agustus 2009

Ende Akan Ditata sebagai Kota Bersejarah

Bupati Ende Don Bosco M Wangge menyatakan akan melakukan penataan untuk Kota Ende, di Flores, Nusa Tenggara Timur, sebagai kota bersejarah yang sejauh ini terkesan tidak memiliki citra kuat sebagai kota pusaka (heritage).

"Kami akan menyiapkan dana untuk penataannya, dan hal ini juga perlu dibicarakan dengan DPRD. Wakil Presiden terpilih Pak Boediono ketika berkampanye di Ende sempat mengingatkan bahwa Ende kota penting dalam sejarah Indonesia, tapi sayangnya Ende tidak memiliki wajah kota yang kuat sebagai identitas kota bersejarah. Beliau juga mengatakan, pemerintah pusat bisa memberikan dukungan untuk itu, tapi pemkab juga harus menyediakan dana pendamping," kata Don Bosco M Wangge, Senin (24/8) di Ende.

Don mengatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menata kembali taman, di dekat Lapangan Perse, Ende. Dalam sejarah, di tempat itu juga terdapat satu pohon sukun, di mana Soekarno, presiden pertama RI ketika mengalami masa pembuangan tahanan politik di Ende tahun 1934-1938, Bung Karno biasa menyediakan waktu untuk menyendiri dan merenung, hingga Bung Karno dapat mematangkan konsep Pancasila yang kini menjadi dasar negara RI.

"Patung Bung Karno yang ada di taman itu juga akan dipugar, sebab banyak kalangan menilai dari bentuk dan posisinya jauh dari kedekatan sejarah waktu itu. Patung tersebut dibuat lewat proyek pemerintah provinsi," katanya.

Selain itu, dia juga menyinggung, penataan Kota Ende tahun ini bertepatan dengan momen penting genap 75 tahun Bung Karno di Ende. "Kami juga senang karena Doktor Ilmu Sejarah UI (Universitas Indonesia) Yuke Ardihati yang juga arsitek bersedia membantu dalam merancang penataan kota ini," ujarnya.

Secara terpisah ketika dikonfirmasi Yuke Ardhiati mengatakan, sebaiknya dalam menata Kota Ende sebagai kawasan kota pusaka, Pemkab Ende perlu menginventarisasi situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Bung Karno.

"Menurut saya, Ende lebih cocok dirancang sebagai kota Soekarno bukan kota Pancasila, karena beliau adalah tokoh dan bapak bangsa, Proklamator RI. Pemkab Ende perlu menginventarisir hal-hal apa saja atau warisan sejarah yang berkaitan dengan kekayaan Soekarno selama di Ende. Dari data itu dapat dirancang, mana titik yang paling potensial untuk diprioritaskan dan ditata," kata Yuke.

Yuke kini juga mendapat tugas dari Departemen Pekerjaan Umum untuk menginventarisasi seluruh kekayaan Soekarno di Indonesia terkait program pelestarian situs bersejarah. Namun, Yuke juga mengingatkan, terkait upaya untuk menata Ende sebagai kota pusaka perlu ditetapkan dulu tanggal lahir Kota Ende. "Karena sampai saat ini Ende belum memiliki hari lahir," ujarnya.

sumber : kompas.com

Kepulauan Balabalagan Tidak Kalah Menarik

Keikutsertaan Marwansyah atau Kiwong pada Sail Bunaken 2009 bersama 5 penyelam Kaltim lainya menjadi hal yang tidak pernah ia lupakan. Termasuk saat beberapa hari di Manado berkunjung ke sejumlah tempat, terutama objek wisata air.

NAMUN menurut Kiwong, Paser yang memiliki Goa Tengkorak, Liang Mangkulangit, Goa Lusan, air terjun Doyam Seriam, pemandian air panas serta keraton Sadurangas dan makam raja-raja Kesultanan Paser, tidak kalah menarik dibandingkan Sulawesi Utara. Objek wisata tersebut sangat berpotensi untuk menarik para wisatawan, baik domestik maupun luar mancanegara

Wisata bawah air di Kepulauan Balabalagan, Paser diakuinya juga tak kalah menarik. Ia bahkan berpromosi saat di Sulut, bahwa Paser memiliki tempat wisata yang patut dikunjungi.

“Mengapa saya berani mengatakan demikian, karena saya sudah pernah menyelam di sejumlah daerah. Selain Manado, Lembeh, Bunaken, Manado Tua, Lao Nayin, Montehage Siladen, Bali, Komodo, bahkan hingga ke Raja Ampat, Papua. Juga Pulau Derawan, Sangalaki, Maratua dan Kakabun. Semuanya saya anggap seimbang saja dengan gugusan pulau-pulau Balabalagan,” katanya.

Keunikan Balabalagan, selain terdapat 15 pulau dan dapat menjadi titik penyelaman, juga kecantikannya, baik terumbu karang, tumbuhan dan satwa bawah airnya sangat menarik.

“Dari beberapa kali saya melakukan penyelaman di sejumlah perairan Balabalangan, memang ada sejumlah pulau yang terumbuh karangnya rusak akibat bom ikan yang dilakukan nelayan dari luar Paser. Tetapi itu hanya pulau yang tidak berpenghuni. Tapi kalau pulau yang berpenghuni, keindahannya sangat luar biasa,” kata Kiwong.

Menurutnya, dari beberapa kunjungannya ke Balabalagan, ia menemukan beberapa warga asing melakukan penyelaman. Kehadiran mereka karena Balabalagan memang punya daya tarik tersendiri.

“Dari kegiatan Sail Bunaken, saya banyak berkenalan dengan sejumlah peserta dari luar negeri, dan saat saya ceritakan menyangkut Balabalagan, mereka sangat tertarik. Insya Allah jika tidak ada kendala, bulan depan saya akan kembali melakukan penyelaman di Balabalangan bersama rekan saya dari Balikpapan. Kami akan melakukan pengambilan gambar untuk dipromosikan,” jelasnya

sumber : kaltimpost

25 Agustus 2009

Bangunan Bobrok Itu Jadi Daya Tarik Wisata Gantong

Replika bangunan Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Gantong banyak menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah yang ingin mengetahui langsung sekolah yang terkenal melalui film "Laskar Pelangi" itu.

"Sudah banyak orang datang melihat replika SD Muhammadiyah yang berperan penting dalam pembuatan film "Laskar Pelangi" ini. Mereka datang naik mobil memasuki halaman gedung SD 9 sambil berfoto-foto dan kami tidak tahu dari mana saja asal mereka," ujar Seno, salah seorang Staf Kantor Kecamatan Gantong, Senin (24/8).

Replika bangunan SD Gantong dengan bangunan kayu beratap seng yang tampak bobrok itu bertempat di halaman SD Negeri 9 Desa Selingsing, Kecamatan Gantong, Kabupaten Belitung Timur.

Diakuinya, daya tarik SD "Laskar Pelangi" telah mengundang turis baik dari dalam negeri maupun luar negeri hampir setiap hari untuk melihat secara langsung keberadaan SD Muhammadiyah itu.

Pengunjung yang datang bukan hanya warga Belitung Timur, tetapi banyak juga pengunjung yang datang dari luar pulau Belitung, mereka ingin mengetahui replika sekolah yang dipakai untuk syuting film yang diangkat dari novel laris karangan Andrea Hirata ini, termasuk rombongan salah satu televisi swasta nasional.

Para pecinta novel dan film ’Laskar Pelangi’ datang sendiri-sendiri dengan sepeda motor atau rombongan dengan mobil, mereka mengabadikan bangunan sekolah ini menggunakan kamera foto maupun kamera video.

Bangunan lusuh

Kondisi replika SD ’Laskar Pelangi’ ini cukup memprihatinkan. Walau telah diperbaiki perangkat desa dan masyarakat setempat menyusul sejumlah papan dindingnya yang hilang, bangunan kayu ini masih tampak kotor dan rapuh. Selain kayu dan papan yang digunakan sudah lapuk, atap seng bangunan ini beberapa sudah lepas.

Papan nama gedung yang semula terpasang didepan kelas, kini sudah tidak tampak. Digantikan dengan papan pengumuman agar masyarakat tidak mengambil kayu-kayu bangunan dan ikut serta menjaga replika ini agar tidak rusak.

Siswa-siswi SD Negeri 9 Selingsing diingatkan untuk tidak bermain di antara bangunan ini, sehingga mereka terhindar dari bahaya bila suatu saat bangunan ini roboh.

Karena sejumlah dinding bangunannya hilang diambil orang, ruangan kelas bangunan ini sebagian sudah tak berdinding lagi. Ditambah lagi meja, kursi, papan tulis serta papan nama sekolah juga lenyap.

Kondisi bangunan yang rapuh mendapat perhatian serius dari pihak kecamatan. Camat Gantong Iswandy menggelar rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk membahas tindak lanjut melestarikan bangunan itu. Rapat memutuskan untuk segera membentuk tim perbaikan replika SD Muhammadiyah itu yang akan dilakukan dengan cara gotong royong.

Seno yang juga Ketua Tim perbaikan replika SD Muhammadiyah Gantong ini mengatakan, pihaknya telah mengganti papan-papan dinding ruang kelas gedung itu dengan papan-papan yang disumbangkan masyarakat.

sumber : kompas.com

Plesiran ke Yogya? Tunggu Bulan Oktober!

Malioboro merupakan salah satu ikon Kota Yogyakarta. Ruas jalan yang ramai oleh padagang kaki lima ini selalu jadi tujuan wajib bagi mereka yang berkunjung ke Yogyakarta. Nah, jika Anda punya rencana untuk melepas penat ke kota gudeg itu, tunggulah sampai bulan Oktober.

Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berencana menggelar Festival Malioboro pada bulan Oktober. Festival ini diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

"Untuk itu, penyelenggaraan festival ini harus didukung banyak pihak, termasuk kalangan pemangku kepentingan pariwisata di daerah ini," kata Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ferida Vita di Yogyakarta, Rabu (19/8).

Festival Malioboro yang diselenggarakan Dinas Pariwisata DIY tersebut, menurut dia, nantinya tidak hanya menyajikan atraksi wisata budaya dan pergelaran musik di sepanjang Jalan Malioboro, tetapi juga menggelar bengkel kerja, lokakarya serta seminar dengan mengangkat tema "Malioboro Masa Lalu dan Masa Depan".

Ia mengatakan, kawasan Malioboro yang setiap hari dipadati kendaraan bermotor dan kesibukan sebagai pusat bisnis di kota ini, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Tak lupa, ada berbagai sajian kuliner termasuk ’jajan pasar’ (makanan ringan khas pasar) dan produk kerajinan. Ada pula pagelaran karnaval serta panggung hiburan.

Ke depannya, kata dia, Festival Malioboro diharapkan menjadi ikon wisata baru bagi Kota Yogyakarta ataupun Provinsi DIY. "Nilai jual nama Malioboro dari sisi pariwisata sangat menguntungkan, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi kalangan swasta pengelola jasa pariwisata," katanya.
sumber : kompas.com