Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

17 Oktober 2010

Siapa Bilang Indonesia Tak Bisa?

TIDAK diragukan, jika industri pertahanan dalam negeri bisa bangkit dan mencapai kemandirian, akan banyak manfaat yang didapat. Indonesia tidak hanya mendapatkan pengakuan atas kekuatan pertahanan dalam konteks hubungan internasional.

Secara ekonomi, Indonesia akan mampu menumbuhkan industri di dalam negeri. Dengan memproduksi sendiri alutsista, biaya yang dikeluarkan jauh lebih efisien ketimbang membeli. Indonesia tidak akan lagi tergantung dengan pasokan suku cadang alutsista dari negara produsen dan tidak perlu menghabiskan banyak devisa untuk mengimpor alutsista dan suku cadangnya. Apalagi pengalaman yang selama ini terjadi, negara produsen alutsista sering memberlakukan sistem yang merepotkan negara-negara pembeli. Terlebih, jika negara pembeli terkena embargo. Karena itu, memiliki industri pertahanan sendiri akan berdampak pada pemenuhan sistem pertahanan yang lebih efisien dan efektif. Dalam hal daya saing di bidang pertahanan, banyak pihak prihatin.

Maklum alutsista Indonesia dapat dikata lebih uzur dibanding milik negara tetangga, seperti Malaysia. Geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sudah selayaknya mendapat dukungan alutsista yang mumpuni. Tetapi apa lacur, selama ini pemenuhan postur pertahanan dengan sistem alutsista yang memadai masih jauh dari harapan. Ibaratnya, asap jauh dari api. Masalah pendanaan disebut-sebut sebagai faktor utama pemenuhan alutsista Indonesia tertinggal dibanding negara lain.

Pengamat militer Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto menegaskan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk bisa menjadi salah satu negara produsen industri pertahanan paling utama di dunia.

Selain karena pasarnya sudah besar, potensi bangkitnya industri pertahanan lokal sebenarnya sudah tampak jauh-jauh hari. Hanya, terpaan krisis tahun 1998 mengharuskan industri pertahanan dalam negeri yang sedang dirintis langsung kolaps. ”Penelitian dari Inggris menyatakan bahwa Indonesia merupakan satu dari tujuh negara besar di dunia yang diprediksi bakal menguasai industri pertahanan dunia,” ujarnya. Prediksi ini menurut Andi, sebagaimana diestimasikan oleh pakar pertahanan kesohor Richard A Bitzinger, ada tujuh negara yang bakal menguasai industri pertahanan di masa mendatang.

Ketujuh negara itu adalah Amerika Serikat (AS), Rusia, China, Eropa Barat, Brasil, India, dan Indonesia. Selain itu, ketujuh negara tersebut yang diperkirakan akan memiliki pertahanan yang terkuat di antara negara-negara di dunia. ”Artinya, kita sebenarnya memiliki kemampuan tidak hanya untuk mandiri dalam bidang pertahanan namun juga disejajarkan dengan negara-negara lain yang memiliki pertahanan terkuat di dunia,” paparnya. Mencontoh keberhasilan Brasil dan India, yang kini industri pertahanannya mulai maju, Andi mengatakan, kuncinya ternyata terletak pada transfer dan alih teknologi. Sehingga, teknologi pertahanan tidak melulu hanya dikuasai AS dan Rusia yang memang sudah mapan dalam bidang pertahanan.

Beragam strategi alih teknologi bisa dilakukan, apalagi mengingat angka impor alutsista Indonesia tidak sedikit sehingga bisa bernegosiasi dengan negara produsen untuk melakukan produksi bersama. ”Seperti Indonesia yang ingin membeli pesawat tempur dari Brasil sebanyak 172 unit, itu bisa minta diproduksi bersama dan dilakukan di Indonesia. Demikian juga dengan Korea Selatan. Mereka pasti bersedia melakukannya,” ujar Andi.

Pola alih teknologi semacam ini sudah dimulai Kementerian Pertahanan (Kemhan), seperti melalui rencana produksi bersama kapal selam dengan Korea Selatan. Kolaborasi- kolaborasi untuk memproduksi alutsista inilah yang akan menjadi sarana efektif alih teknologi. ”Bahkan, jika perlu kita harus mencuri teknologi. Dan ini sukses dilakukan PT Pindad yang kini bisa memproduksi panser Anoa, yang awalnya beli panser dari Eropa terus dipretelin dan dipelajari. Jadi, ini namanya rekayasa terbalik,” ungkapnya.

Bagaimanapun harus diakui, masih banyak alutsista bagi pertahanan Indonesia yang harus diadakan.

Di antaranya, alutsista yang memiliki efek gentar tinggi seperti pesawat tempur untuk angkatan udara, kapal selam untuk angkatan laut, serta angkatan darat dengan panser atau tank berteknologi canggih. Juru Bicara Kemhan Brigadir Jenderal I Wayan Midhio menegaskan bahwa pengadaan alutsista tidaklah memiliki tujuan untuk bersaing dengan negara-negara lain, kecuali murni demi urusan kepentingan pertahanan nasional. ”Kita harus mematuhi hukum internasional yakni ikut menjaga perdamaian dunia sehingga kita tidak merasa bersaing dengan alutsista milik negara lain,” ujarnya. Selain itu, kata dia, kebutuhan alutsista juga bertujuan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan memproduksi alutsista sendiri, Indonesia akan memiliki daya tangkal yang tinggi. Kemudian, manfaat lain adalah bagaimana untuk mewujudkan kesejahteraan melalui tumbuh kembangnya industri pertahanan. Jika industri pertahanan bisa hidup dan berkembang, tidak hanya akan menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan skill para ahli di dalam negeri, namun juga meningkatkan kesejahteraan para anggota TNI dan masyarakat umum. Tentu saja, syaratnya tidak hanya industri manufaktur seperti PT Pindad, PT DI, atau industri strategis lain yang digenjot, tetapi juga industri pendukung yang memproduksi bahan baku. Sehingga, seluruh suku cadang dan bahan baku bisa diproduksi sendiri.

Dengan begitu, Indonesia tidak perlu lagi impor untuk produk tersebut. ”Selama ini melakukan pengadaan selalu lebih cenderung ke Eropa, kini tidak lagi mesti demikian. Melalui sinergi semua lembaga kita bisa mewujudkan industri pertahanan yang mandiri,” ungkapnya. Buktinya, hingga saat ini sudah ada beberapa item produk alutsista milik Indonesia yang mulai diminati negara lain. Jika bisa semakin dikembangkan dan dikelola dengan baik, Indonesia akan menjadi salah satu negara produsen alutsista yang diakui dunia.

suar.okezone.

27 September 2010

TNI Siapkan Pembangunan Satu Batalion Tank

Komando Daerah Militer XII Tanjungpura mulai membangun satu batalion tank bagian Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat awal tahun 2011 guna menambah kekuatan di kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

"Batalion tank itu akan kami tempatkan di Kabupaten Bengkayang, untuk memudahkan mobilisasinya kendaraan berat itu di sepanjang kawasan perbatasan Kalbar - Malaysia," kata Komandan Korem 121 Alambhana Wanawai Kolonel Inf Toto Rinanto di Pontianak, Sabtu.

Ia menjelaskan, rencana pembentukan batalion tank itu secara detil masih digodok di Mabes TNI AD.

"Pada dasarnya kami siap mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik dari gangguan luar dan dalam," kata Totok.

Menurut dia, lokasi akan dibangunnya batalion tank itu sudah dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkayang.

"Saya bersama Pangdam XII Tanjungpura sudah turun langsung meninjau lokasi pembangunan batalion tersebut," ujarnya.

Sebelumnya Panglima Kodam XII Tanjungpura Mayjen TNI Moeldoko membenarkan, pembangunan batalion tank di Bengkayang akan dimulai pada 2011. Jumlah personel yang ditempatkan untuk batalion tersebut sekitar 600 orang.

"Sekarang, yang ada hanya setingkat Detasemen Kavaleri," kata dia.

Selain itu, jenis tank yang digunakan saat ini akan diganti dengan yang berkapasitas dan kemampuan tempur lebih baik. Jumlahnya pun lebih banyak.

Menurut dia, penempatan batalion tank di Bengkayang dengan pertimbangan daerah tersebut merupakan poros tengah di Kalbar.

Mobilisasi ke berbagai daerah di Kalbar juga lebih mudah dan cepat karena infrastruktur relatif baik.

"Misalnya menuju Sanggau, atau daerah perbatasan lainnya, mudah dilakukan," kata Moeldoko.

Kodam XII Tanjungpura juga akan terus melakukan pembinaan teritorial terpadu dengan pemerintah daerah setempat di wilayah perbatasan. Diantaranya mengenai aspek kesadaran bela negara, kewarganegaraan yang sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Ia melanjutkan, penanganan di perbatasan perlu dilakukan secara menyeluruh. "Tidak hanya membangun sistem pertahanan dan keamanan," katanya.

Kodam XII Tanjungpura bermarkas di Pontianak dengan cakupan dua provinsi yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

ANTARA News

17 Agustus 2010

Bangun Kapal Perang, PT PAL Serap 1500 Tenaga

Kapal berbiaya US$ 220 juta ini akan selesai 4 tahun mendatang.

Indonesia baru saja meluncurkan pembangunan kapal perang 'Light Fregat-Perusak Kawal Rudal (PKR). Pembangunan yang akan dilakukan oleh PT PAL Surabaya dengan perusahaan galangan asal Belanda, Damen-Schelde ini diperkirakan akan menyerap ribuan tenaga kerja.

"Pembangunan kapal perang modern ini akan menyerap 1500 tenaga kerja," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro usai acara 'Peluncuran Rencana Pembangunan Kapal Perang PKR' di kantor Kemenhan, Jakarta, Senin 16 Agustus 2010.

"Itu untuk satu kapal, kalau kita membuat dua kapal lebih maka akan banyak lagi membutuhkan tenaga kerja." Ia menambahkan.

Tenaga kerja yang terserap akan semakin banyak, tidak hanya tenaga kerja yang dipekerjakan di PT PAL saja. Menurut dia, pembangunan kapal ini juga akan menggerakkan sektor perekonomian lain.

Seperti suplai bahan baku dari industri penunjangnya. "Karena itulah kita komitmen untuk mengerjakannya di Indonesia," tuturnya.

Purnomo menambahkan, pembangunan kapal perang ini sebenarnya telah direncanakan sejak tahun 1998. Namun, karena Indonesia mengalami krisis, rencana tersebut harus kandas terhempas bada krisis keuangan satu dasawarsa silam itu. namun, kini perekonomian Indonesia lambat laun telah pulih.

Kini saatnya rencana itu kembali diwujudkan dan diteruskan di waktu yang akan datang. "Tentu waktu pertama kali membangun kapal perang ini akan menemuai banyak hambatan dan permasalahan. Namun kita akan terus memperbaikinya di masa yang akan datang," kata dia. "Kita berharap terus mampu membangunnya."

Kapal perang yang diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar US$ 220 juta ini, ditargetkan selesai dalam waktu empat tahun mendatang. Menurut Purnomo, kapal perang ini nantinya menjadi kapal perang yang handal jika dibandingkan dengan kapal perang sejenis yang dimiliki oleh negara-negara tetanga.

"Kalau kita tempatkan di Laut Cina Selatan dan laut bagian timur Indonesia, akan menimbulkan efek gentar, bagi negara yaang mencoba mengganggu," kata dia.
Spesifikasi Kapal PKR
Kapal PKR dirancang untuk bisa digunakan dalam beberapa misi operasi, antara lain peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan, bantuan tembakan kapal. Kapal perang PKR juga dilengkapi dengan rudal SAM, SSM, dan rudal anti kapal selam.

Kapal tersebut dilengkapi dengan perlengkapan persenjataan diantaranya meriam kaliber 76 sampai 100 mm dan kaliber 20 sampai 30 mm, peluncur rudal ke udara, helipad di deck kapal, dan senjata torpedo serta perlengkapan pendukung lainnya.

Panjang keseluruhan kapal 105 meter, lebar 14 meter, kedalaman 8,8 meter, kecepatan 30/18/14 knot dengan kekuatan mesin utama 4 X 9.240 kekuatan kuda (horse power).
Kapal mampu menampung 100 hingga 120 awak kapal. Kapal ini juga mampu beroperasi hingga batar terluar Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, baik sendirian maupun mengawal kapal lainnya.
• VIVAnews

13 Desember 2009

TNI AL Pesan Tiga Pesawat Intai PT DI

TNI Angkatan Laut memesan tiga pesawat intai maritim (Maritime Patrol Aircraft/MPA) CN-235 dari PT Dirgantara Indonesia (DI), untuk memperkuat armadanya.

Kontrak pemesanan tiga pesawat intai maritim itu ditandatangani di Jakarta Jumat antara Dirut PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dan Dirjen Sarana Pertahanan Departemen Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto.

Ia mengatakan, pesawat intai maritim CN-235-220 untuk TNI Angkatan Laut itu telah dipasangi sensor deteksi dan penginderaan sehingga memiliki kemampuan untuk melaksanakan misi pengintaian dan penginderaan, dan targeting.

"Pesawat ini juga telah disiapkan dengan provisi untuk pengembangan ke depan sehingga punya kemampuan antikapal selam, tergantung dari peralatan yang dipesan sesuai kebutuhan operasional, dan spesifikasi teknik yang dipesan TNI AL," kata Budi.

Pemesanan tiga pesawat intai maritim itu senilai 80 juta dolar AS itu, merupakan bagian pertama dan enam pesawat yang direncanakan dan masuk dalam rencana strategis TNI AL 2010-2014 menggantikan pesawat Nomad.

"Idealnya, TNI Angkatan Laut memiliki 16 pesawat intai hingga 2014, tapi kita masih terbentur anggaran," katanya.

Pada kesempatan yang sama Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Agus Suhartono mengatakan, setelah penandatanganan kontrak maka pembuatan tiga pesawat intai maritim itu segera dilakukan hingga pada 2011 TNI AL sudah menerima tiga pesawat tersebut.

"Ya kita minta segera selesai, untuk memperkuat fungsi pengintaian dan penginderaan," ujarnya.

Selama ini untuk pengintaian dan penginderaan TNI Angkatan Laut mengoperasikan pesawat intai maritim NC212-200 buatan PT DI, yang sebagian menggantikan pesawat Nomad yang akan memasuki masa pensiun.

sumber antara

04 Desember 2009

PT PAL Buat Kapal Perusak Kawal Rudal

Dengan pengalaman yang ada selama ini, PT PAL Indonesia yakin bisa membuat kapal perang perusak kawal rudal dalam waktu 4 tahun. Pembuatan kapal perang yang bersenjatakan peluru kendali merupakan langkah besar guna kemandirian pengadaan alat utama sistem persenjataan atau alutsista.

Hal tersebut disampaikan Direktur PT PAL Indonesia Harsusanto kepada Kompas, Rabu (2/12). Menurut Harsusanto, berhubung ini adalah kapal pertama, pihaknya bekerja sama dengan pihak lain. ”Kami sudah bisa bikin struktur kapalnya, tetapi untuk sistem elektroniknya kami harus kerja sama dengan pihak yang sudah pengalaman. Jadi, kami perlu sharing contract (kontrak bersama),” kata Harsusanto.

Kerja sama dengan pihak asing ini juga ditargetkan untuk adanya alih teknologi. Pengerjaan kapal yang harus dilakukan di PT PAL Indonesia juga membuat komponen lokal akan dipakai.

Menurut Harsusanto, pihaknya membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk membuat kapal perang perusak kawal rudal (PKR) yang pertama. Harga satu kapal mencapai 170 juta euro. Setelah itu, dengan selang waktu masing-masing 6 bulan bisa diluncurkan lagi kapal PKR yang kedua dan ketiga.

Saat ini, menurut Harsusanto, kontrak memang belum ditandatangani. Namun, sebagai bagian dari program 100 hari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, ia mengharapkan kontrak akan ditandatangani bulan Januari 2010. ”Empat tahun kemudian, kita sudah bisa luncurkan PKR,” kata Harsusanto.

Kapal LST

Selain kapal PKR, PT PAL juga berencana memproduksi kapal pendarat tank serbu atau landing ship tank (LST) dalam waktu dua tahun mendatang. Menurut Harsusanto, pihaknya telah menerima rancangan LST dari TNI Angkatan Laut. Kapal angkut sepanjang 117 meter ini merupakan kapal modern.

Secara terpisah, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Agus Suhartono berkomitmen mendukung berkembangnya industri pertahanan dalam negeri. Menurut dia, TNI AL berkomitmen akan memilih untuk membuat kapal di dalam negeri seandainya industri dalam negeri telah mampu.

KSAL optimistis melihat arah industri dalam negeri untuk pembuatan alutsista tersebut. ”Kita minggu lalu sudah luncurkan kapal LPD KRI Banjarmasin,” kata Agus Suhartono mengenai kapal landing platform deck (LPD) terbaru milik TNI Angkatan Laut.

Harsusanto menyatakan, setelah KRI Banjarmasin, PT PAL akan meluncurkan kapal LPD lainnya, KRI Banda Aceh, pada bulan Juni 2010.


sumber kompas

02 Desember 2009

Kapal Perang Pertama Buatan RI


Kali pertama Indonesia bisa bikin kapal perang sendiri. Kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) itu diproduksi PT PAL Indonesia di Surabaya. Sabtu (28/11) pagi tadi setelah diserahkan kepada TNI AL, kapal perang yang diberi nama KRI Banjarmasin 592 itu diresmikan Menteri Pertahanan Prof Dr Ir Purnomo Yusgiantoro.

Upacara peresmian dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santodo, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Agus Suhartono, Panglima Komando Armada Timur Laksamana Muda TNI Ignatius Dadiek Surarto, pejabat teras Mabes AL serta Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Kapolda Jatim Irjen Pol Pratiknyo, dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Soewarno.

Menhan Purnomo Yusgiantoro kepada wartawan di atas dek KRI Banjarmasin-592 mengatakan, Indonesia merupakan negara agraris dan 2/3 kawasannya adalah laut. Maka, sudah sewajarnya negeri ini diperkuat pertahanannya di laut.

Terkait diproduksinya kapal ini oleh PT PAL, Purnomo mengaku ini adalah salah satu bentuk bukti bahwa bangsa ini bisa selangkah lebih maju dalam industri pertahanan dalam negeri. ’’Kita pasti bangga bisa memproduksinya sendiri dan merupakan satu bukti industri dalam negeri juga bisa,’’ ujarnya.

KRI Banjarmasin-592 merupakan kapal ketiga dari rencana empat kapal baru jenis LPD yang akan memperkuat Armada kapal perang TNI AL. Dua kapal LPD yang telah memperkuat TNI AL sebelumnya adalah KRI Makassar-590 dan KRI Surabaya-591. Keduanya buatan PT Daewoo International Corporation, Korea Selatan, dan diserahkan kepada TNI AL tahun 2008.

Direktur PT PAL Indonesia Harsusanto mengatakan, sebenarnya empat kapal perang tersebut semuanya dipesan kepada Daewoo. Namun, PT PAL mendapatkan sub dan diberi kepercayaan memproduksi dua unit.

’’Setelah KRI Banjarmasin-592 ini jadi, pihak Korea Selatan mengakuinya. Secara desain dan teknologi, ini murni PT PAL dan itu diakui oleh PT Daewoo,’’ ujarnya ditemui di sela-sela peresmian kapal.

Total investasi kapal ini, kata Harsusanto, 15,8 juta dollar AS (sekitar Rp 156,420 miliar untuk kurs Rp 9.900, red). Ini lebih murah dari harga asli kapal yang berkisar 30 juta-an dollar AS. ’’Hal ini karena beberapa konten seperti mesin dan piranti lain sudah dapat dari Daewoo,’’ tutur dia. ’’Satu kapal berikutnya target selesai Juli 2010,’’ tambahnya.

Selain itu, PT PAL juga berharap sinergi antara pihaknya dengan Departemen Pertahanan dan TNI AL bisa lebih ditingkatkan lagi, khususnya dalam penguasaan teknologi tinggi. Tidak hanya untuk pembangunan kapal baru, tetapi juga meliputi perbaikan dan pemeliharaan kapal-kapal TNI AL yang lain.

’’Ini juga dalam rangka ikut menopang kesiapan operasional kapal dalam menjaga keamanan dan pengamanan perairan wilayah yuridis Indonesia dan dimasa depan Industri Maritim Indonesia dapat berkembang lebih maju,’’ terangnya.

PT PAL sendiri sejak 1980 telah menyelesaikan lebih dari 150 kapal aneka jenis.

Kapal-kapal yang dibeli dengan fasilitas pembiayaan kredit ekspor tersebut berfungsi sebagai pengangkut kapal pendarat pasukan, operasi amfibi, pengangkut tank, pengangkut personel, juga untuk operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana serta pengangkut helikopter.

Dibandingkan dengan dua LPD buatan Daewoo, KRI Banjarmasin 592 mengalami sejumlah penyempurnaan sesuai keinginan TNI AL. Antara lain daya angkut helikopter ditambah dari 3 menjadi 5 (spesifikasi lengkap lihat tabel halaman 1).

Bentuk bangunan atas KRI Banjarmasin 592 mengurangi penampang radar (radar cross section) sehingga membuat kapal lebih sulit ditangkap radar musuh. Kapal juga dilengkapi ruang khusus untuk sistem kendali senjata (fire control system), yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan pertahanan diri.

Pembuatan KRI Banjarmasin 592 molor setahun dari jadwal selesai 2008. Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, segi anggaran menjadi kendala utamanya. Secara biaya dan kualitas, kata Menhan, memang ada sedikit kekurangan, tapi bukan berarti semuanya ikut terhambat.

’’Ini ongkos kita untuk mencintai industri dalam negeri dan saat ini memasuki masa transisi. Saya yakin nantinya industri dalam negeri kita bakal lebih berkembang. Kalau industri dalam negeri kita maju, maka pertahanan dalam negeri juga akan maju,’’ paparnya.

Kepada para awak KRI Banjarmasin, Purnomo berpesan tiga hal, antara lain meminta prajurit tidak pernah lelah berlatih. Dengan berlatih, prajurit merasa lebih siap jika negara membutuhkan. Selain itu, prajurit diminta menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya mengingat kapal perang ini dibangun menggunakan uang rakyat.

’’Ini titipan rakyat dan dibangun dengan uang rakyat, jangan sia-siakan amanat rakyat ini. Pegang teguh sumpah prajurit, Insya Allah akan berhasil,’’ tegas mantan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu sambil menyeka keringat. fqi, tsa

30 November 2009

Nyaris Saling Tembak

Kapal perang Indonesia, yakni KRI Sigurot 864 nyaris terlibat saling tembak dengan kapal pemadam kebakaran Posh Viking milik Singapura yang dikawal kapal coast guard, gara-gara memperebutkan kapal tanker MV Sawitto, yang terbakar di Perairan Nongsa, Batam, Kamis (26/11) dinihari. Peristiwa ini bermula dari terbakarnya MV Sawitto yang mengangkut 15 ribu ton bahan bakar minyak (BBM) dan sebuah kapal kecil lainnya terbakar di perairan Nongsa, pada koordinat 01 derajat, 14',14" LU dan 104 derajat, 03', 26" BT, Kamis (26/11) dini hari. MV Sawitto berlayar dari Malaysia dengan tujuan Singapura. Kapal terbakar saat melakukan transfer bahan bakar ke Eastern Hill Sanlorenso. Dua kapal itu terbakar habis. Meski demikian kedua kapal tidak karam. Dikabarkan tidak ada korban jiwa dalam kebakaran yang terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dinihari itu.


Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat Laksamana Pertama Ade Supandi yang mendapatkan informasi langsung mengirim KRI Sigurot 864 yang dikapteni Mayor Laut (P) Ario Sasongko ke lokasi kejadian. ”Ke-15 ABK selamat setelah terjun ke laut,” kata alumni Akabri Laut 1983 itu. RI Sigurot datang ke lokasi kejadian sekitar pukul 07.00 WIB setelah dihubungi kapten kapal KPLP KNP 330. Ketika tiba di lokasi, mereka tidak menemukan ABK kedua kapal itu. ”Informasinya, semua ABK selamatkan diri dan terjun ke laut saat masih di perairan Malaysia. Mereka semua terdampar ke daratan Malaysia,’’ kata Mayor Ario Sasongko, kemarin.

Saat tiba di lokasi kejadian sudah ada kapal Posh Viking dari Singapura sedang memadamkan api. Kemudian KNP 330, kapal PMI Indonesia, serta kapal-kapal nelayan dari jembatan tiga Barelang. Saat itu, kapal sebagian besar habis terbakar, namun masih ada api dan asap. Di antara dua kapal itu, selang yang diduga digunakan untuk mentransfer bahan bakar masih terpasang. Namun penyebab kebakaran itu justru diduga bukan karena aktivitas transfer bahan bakar ship to ship itu.
”Diduga karena korslet di ruang mesin,’’ ungkap Ario. Hal ini juga dibenarkan Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat Laksamana Pertama Ade Supandi.

Setelah KRI Sigurot melihat kondisi kapal dan Posh Viking berhasil memadamkan api, kapal dari Singapura itu berusaha membawa kapal ke Perairan Singapura. Mereka sudah memasang tali pada MV Sawitto untuk menariknya, namun Kapten KRI Sigurot menghalanginya. Kedua pihak pun bersitegang hampir 30 menit. Pihak Singapura mengatakan, kapal MT Sawitto hendak ke Singapura jadi harus ditarik ke Perairan Singapura. Sementara pihak Indonesia berpegang pada lokasi kejadian.
”Saya berkeras untuk membawa ke perairan Batuampar karena lokasi kejadian ada di perairan Indonesia,’’ jelas Ario.

Ketegangan dan rebutan bangkai kapal itu nyaris saja membuat kedua pihak baku tembak. Pasalnya pihak Singapura dan Indonesia tetap sama-sama mempertahankan pendapat dan argumennya. Kapal Posh Viking yang sudah menarik kapal nahas itu dihentikan. Akhirnya pihak Singapura mengalah dan melepaskan tali yang mengikat MV Sawitto. ”Padahal masing-masing (pihak Singapura dan Indonsia) sudah siap mau nembak itu,’’ ungkap Ario.

Kapal MV Sawitto yang berbendera Honduras dan kapal Eastern Hill Sanlorenso kemudian ditarik ke Perairan Batuampar. Masing-masing menggunakan tugboat Nov 3 dan tugboat Lucky Seven. Kapal itu dikawal KRI Sigurot 864, KNP 330 dan KP Hayabusa 684 menuju Batuampar. Meski sudah berada di Perairan Batuampar, awak KRI Sigorut dan Polisi Perairan Polda Kepri yang datang menyusul belum bisa naik ke kapal karena masih ada sisa bara api. Kapal dalam pengawasan dan pengamanan unsur Guskamla dengan pengawalan kapal perang (KRI) maupun patkamla.

sumber batampost

31 Oktober 2009

150 Personel TNI Berangkat ke Lebanon

Kepala Staf Umum (Kasum) TNI - Laksamana Madya TNI Didik Heru Purnomo memberangkatkan 150 personel Satgas Kompi Mekanis TNI Konga XXIII-C1/UNIFIL ke Lebanon, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (30/10/2009). Upacara pemberangkatan tersebut dihadiri oleh, Irjen TNI - Letjen TNI Lilik AS, Kaskostrad - Mayjen TNI M. Kusnowo, Aspers Panglima TNI - Marsda TNI Agus Mudigdo, Aster Panglima TNI - Mayjen TNI Suprapto, Kapuspen TNI - Marsda TNI Sagom Tamboen dan para Asisten Operasi masing- masing angkatan.

Dalam amanatnya, Kasum TNI menyatakan bahwa misi pemeliharaan perdamaian merupakan tugas pokok TNI dalam melaksanakan kebijakan pertahanan negara seperti yang tertuang dalam pasal 10 ayat (3) UU No. 3 tahun 2002 yang merupakan salah satu bentuk operasi militer selain perang.

Menurut Kasum TNI, penugasan operasi keluar negeri, pada hakekatnya merupakan kehormatan, kebanggaan dan harga diri sekaligus kepercayaan dunia internasional bangsa Indonesia pada umumnya dan TNI pada khususnya.

Dengan kinerja dan berbagai prestasi yang ditunjukkan oleh pasukan TNI, diharapkan membuahkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap peran TNI dalam beberapa misi perdamaian PBB yang sedang berlangsung. Hal ini dibuktikan dengan adanya permintaan resmi PBB untuk penambahan kompi baru, tegas Kasum TNI.

Kepada seluruh personel Satgas Kompi Mekanis TNI Konga XXIII-C1/UNIFIL, Kasum TNI menekankan : Memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar kita selalu diberi bimbingan, petunjuk dan kekuatan ; Melaksanakan tugas dengan penuh disiplin, dedikasi dan loyalitas, sesuai dengan jati diri prajurit sapta marga sejati ; Menjaga dan menjunjung tinggi citra kehormatan bangsa dan negara dimata dunia, khususnya di depan prajurit negara lain yang sama-sama mengemban tugas perdamaian dari PBB ; Memahami dan menguasai aturan-aturan teknis dan strategi militer, hukum militer dan protokoler internasional ; Jaga dan tingkatkan soliditas dan solidaritas sesama prajurit TNI maupun dengan prajurit lain yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB pada umumnya.

Autentikasi:
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Laut (P) Guntur Wahyudi

sumber okezone

26 Oktober 2009

Indobatt Gelar Bazar Murah di Lebanon

Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-C/Unifil (Indonesian Battalion/Indobatt) kembali menggelar bazar murah yang digelar di Rubb Hall Indobatt UN POSN 7-1 Adshit al Qusayr, Minggu 25 Oktober 2009. Bazar murah ini diikuti oleh 12 pedagang lokal dari seluruh wilayah di Lebanon Selatan dengan berbagai barang yang berbeda seperti alat elektronik, souvenir khas Lebanon, berbagai makanan dan lain-lain. Indobatt sengaja menggelar bazar ini untuk memberikan kesempatan kepada para prajuritnya berbelanja, karena mereka dalam waktu dekat akan segera kembali ke tanah air. Hal ini dikarenakan, sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dari Unifil (United Nations interim Force In Lebanon), bahwa selain kegiatan untuk mendukung dinas seperti patroli, latihan dan kegiatan administrasi yang lain, tidak setiap saat para prajurit Indobatt dapat keluar dari markas tanpa seijin atasannya apalagi untuk kepentingan berbelanja atau sekedar membeli oleh-oleh. Disamping itu kegiatan ini juga merupakan sarana untuk menjalin komunikasi dan interaksi dengan masyarakat setempat sebagai bentuk persaudaraan yang telah dibina selama masa penugasan.

Dansatgas Indobatt, Letkol. Inf. R. Haryono (alumni Akmil 1991) mengatakan bahwa bazar ini sengaja digelar untuk memberikan kesempatan kepada para pedagang yang ada disekitar daerah tanggung jawab Satgas Konga XXIII-C/Unifil yang terdiri dari 13 desa, menjajakan barangnya di dalam markas Indobatt UN POSN 7-1, Adshit al Qusayr secara bersamaan. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mengakomodir keinginan para pedagang yang selalu ingin membuka toko di dalam markas Batalyon, sehingga mereka diundang untuk menggelar dagangannya secara bersamaan guna menghindari adanya kecemburuan diantara mereka.

Di Lebanon Selatan sendiri yang merupakan daerah operasi Unfil, konsumen terbesar yang menghidupi para pedagang adalah para peace keeper yang berjumlah sekitar 12.000 personel. Penyelenggaraan bazar ini juga tepat waktu mengingat Satgas Konga XXIII-C/Unfil yang telah bertugas hampir satu tahun di Lebanon akan segera berakhir dan diganti dengan Satgas Konga XXIII-D yang saat ini sedang melaksanakan pratugas di Pusat Pendidikan Infanteri TNI AD, Cipatat - Bandung, sehingga mereka dapat berbelanja tanpa harus keluar markas.

Bazar murah ini merupakan salah satu kegiatan CIMIC (Civil Military Cooperation) satgas yang dikoordinir oleh Mayor Inf. Tri Pudiyastomo selaku Kepala Seksi Cimic Batalyon. Kegiatan ini juga tidak terlepas dari liputan media lokal yang sengaja datang untuk menggali lebih dalam informasi tentang Indonesia. Menurut salah satu wartawan lokal, Ronith Daher dari Koran Annahar, dia ingin mendapatkan gambaran tentang Indonesia secara lebih luas, oleh karena itu dia berusaha mewawancarai beberapa anggota satgas termasuk Komandan Satgas Konga XXIII-C/Unifil tentang Indonesia yang meliputi budayanya, kehidupan beragamanya, makanannya dan berbagai informai lain yang ingin didapatkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ronith, "Di Lebanon Selatan ada lebih dari 1000 tentara yang bertugas sebagai peace keeper dari Indonesia, tetapi masyarakat disini belum mengetahui lebih jauh tentang Indonesia, oleh karena itu saya berharap bahwa kerja sama ini akan memberikan informasi yang lebih detil kepada masyarakat Lebanon tentang Indonesia".

Authentikasi:
Perwira Penerangan Satgas Konga XXIII-C/UNIFIL (Letkol Arh Hari Mulyanto)

sumber okezone

23 Oktober 2009

19 Kapal Asing Ditahan, 4 Ditenggelamkan


Dalam dua pekan terakhir ini, Departemen Kelautan dan Perikanan menahan 18 kapal nelayan Thailand dan 1 kapal nelayan Vietnam yang diduga kuat mencuri ikan di perairan Natuna dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di Laut China Selatan. Selain itu, DKP telah menenggelamkan 4 kapal nelayan Vietnam yang tertangkap basah mencuri ikan di Laut Natuna, Selasa pekan lalu.

”Semua kapal asing itu ditangkap di wilayah teritorial Indonesia, kecuali kapal Thailand Rudenad III yang ditangkap di ZEE Laut China Selatan,” kata Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Aji Sularso saat dihubungi di Jakarta, Kamis (22/10).

Sebagian nama lambung kapal nelayan Thailand tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia. Namun, setelah diperiksa, dokumen yang digunakan ternyata palsu. Diduga, ada jaringan di dalam negeri yang terlibat dalam pemalsuan dokumen kapal itu.

”Pasti ada fasilitatornya. Tidak mungkin mereka berani masuk wilayah teritorial menggunakan nama Indonesia dan memiliki dokumen palsu,” kata Aji.

Tentang kapal nelayan Vietnam yang ditenggelamkan, Aji mengatakan, ada lima kapal dengan 80 nelayan Vietnam yang ditangkap di Laut Natuna dua hari yang lalu. ”Semua anak buah kapal dikumpulkan di satu kapal dan langsung dipulangkan ke negara asal mereka, sedangkan empat kapal lainnya ditenggelamkan,” ujarnya.

”Penenggelaman kapal asing merupakan bagian dari upaya pemberantasan illegal fishing di perairan Indonesia dan ini ada payung hukumnya, Pasal 69 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,” kata Aji, seraya menambahkan, dalam tiga bulan terakhir, sekitar 30 kapal asing ditenggelamkan karena menangkap ikan secara ilegal di teritorial Indonesia.

Menurut Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak Bambang Nugroho, potensi ikan di Laut Natuna pada musim utara saat ini sangat melimpah. Itulah sebabnya, meskipun gelombang laut sangat tinggi, kapal nelayan asing tetap nekat masuk dan mencuri ikan di perairan tersebut. ”Kapten kapal patroli kita sampai kewalahan karena begitu banyaknya kapal asing yang mencuri ikan,” katanya.

Hasil tangkapan turun

Di Cianjur, Jawa Barat, nelayan tradisional setempat mengeluh karena hasil tangkapan ikan mereka dalam beberapa pekan terakhir turun hingga 50 persen. Mereka menduga, ini akibat beroperasinya kapal-kapal berbendera asing.

Menurut Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Cianjur Asep Samudera, pihaknya sudah melaporkan adanya sejumlah kapal asing yang beroperasi di perairan Cianjur kepada pihak-pihak terkait.

”Tetapi, sampai sekarang belum ada penanganan yang berarti. Kapal-kapal asing tersebut tetap bebas beroperasi di wilayah operasi nelayan tradisional,” keluhnya. (WHY/AHA)

sumber kompas

16 Oktober 2009

Polri Kirim 150 Petugas Perdamaian ke Sudan

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) mengirimkan 150 prajuritnya ke Darfur, Sudan, untuk operasi pengamanan gabungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Afrika.

Pengiriman pasukan tersebut dilepas Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri di Lapangan Bhayangkari, Jakarta Selatan, Kamis pagi.

Bambang mengatakan pasukan tersebut khusus dari unsur Polri yang terdiri atas 140 personil "Formed Police Unit" atau FPU II dan 10 orang "advisor team" yang akan diberangkatkan pada Jumat (16/10).

"Saat ini menuju persiapan, pemberangkatannya Jumat besok," kata Bambang.

Pengiriman pasukan FPU II itu untuk menggantikan 147 anggota FPU I yang sudah diberangkatkan sejak tahun 2008 pada periode sebelumnya.

Bambang mengemukakan Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian dari unsur Polri berdasarkan mandat prakarsa PBB melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1769 Tahun 2007.

Mandat tersebut disampaikan kepada "United Department of Peacekeeping Operations" (UNDPKO) untuk melaksanakan operasi gabungan (Hybrid Operation) antara PBB dengan Uni Afrika (AMIS) di Darfur, Sudan, dengan nama United Nations African Mission in Darfur (UNAMID).

Misi pengamanan Afrika di Darfur sudah berlangsung sejak 1 Januari 2008 dengan melibatkan 19.555 personil militer dari Afrika, 3.772 anggota kepolisian dan 19 FPU dengan jumlah personil 140 orang per FPU.

Kapolri menuturkan pengiriman pasukan Polri tercantum pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 2008 tertanggal 6 Februari 2008.

Bambang berpesan agar anggota FPU II menjaga dan meningkatkan citra positif Polri yang selama ini telah terbentuk di masyarakat lokal dan masyarakat internasional, serta menjaga nama baik bangsa dan Polri yang dilandasi profesionalitas.

Kapolri juga berharap pasukan yang dikirim ke Sudan, bisa secepatnya beradaptasi dengan lingkungan penugasan dan memelihara hubungan baik dengan elemen internasional dan masyarakat lokal.

Terkait dengan kondisi pasukan FPU I, Bambang menuturkan seluruh pasukan pengamanan yang akan pulang ke Tanah Air, dalam kondisi sehat dan baik setelah menjalani tugas perdamaian selama satu tahun di Sudan.(

sumber antara

07 Oktober 2009

Perwira TNI Jadi Direktur Unifil di PBB

Brigjen TNI Zahari Siregar dipastikan menjadi Direktur Strategic Military Cell (SMC) Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon Selatan (UNIFIL) yang bermarkas di New York.
Penunjukkan Brigjen TNI Zahari Siregar itu, menyusul permintaan PBB kepada Indonesia untuk menetapkan salah satu perwira tingginya sebagai Direktur SMC UNIFIL, kata Wakil Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Departemen Luar Negeri Fikry Cassidy di Jakarta, Selasa.
Brigjen TNI Zahari Siregar sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia.
Fikry mengatakan, Direktur SMC UNIFIL antara lain bertugas merumuskan kebijakan strategis yang akan diterapkan UNIFIL agar misinya menciptakan perdamaian dan stabilitas keamanan di Lebanon Selatan berhasil.
Ia menambahkan, keberadaan SMC baru di bentuk PBB misinya di Lebanon Selatan sedangkan dalam misi PBB lainnya di wilayah lain, keberadannya tidak ada.
Dalam misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan, Indonesia merupakan negara dengan jumlah pasukan terbesar setelah Perancis dan Italia.
Indonesia akan meningkatkan jumlah personel TNI untuk bergabung dengan pasukan pemelihara perdamaian PBB menjadi 2.000 personel pada 2009.
Saat ini jumlah personel TNI yang tergabung dalam pasukan PBB mencapai 1.526 orang yang bertugas di empat wilayah dunia yakni di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Afrika.
Namun, lanjut Fikry, rencana tersebut akan dipertimbangkan lagi mengingat terjadi krisis ekonomi global.
Dijelaskannya, Indonesia pertama bergabung dalam misi PBB pada 1957. “Sejak 1957 Indonesia telah berpartisipasi dalam 25 misi perdamaian PBB. Dan saat ini, Indonesia tergabung dalam tujuh misi PBB,” ungkapnya.
Fikry mengemukakan, keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian PBB memiliki nilai strategis yakni mempererat kerja sama multilateral untuk penyelesaian konflik. Keikutsertaan itu tetap dilandasi kebijakan politik luar negeri bebas aktif sesuai amanah UUD 1945.
Selain itu, keterlibatan Indonesia juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme TNI/Polri. Khusus dalam misi PBB di Lebanon, selain mengirimkan pasukan darat, Indonesia juga bergabung dalam satuan Tugas Maritim (MTF) UNIFIL, dengan jumlah seluruh personel sekitar 1.400 orang.
Hal itu menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjaga dan memelihara perdamaian dunia berdasarkan kebijakan politik luar negeri bebas dan aktif, demikian Fikry.(*)

Prajurit TNI Terima Medali PBB di Lebanon

Prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda di Lebanon Selatan mendapat penganugerahan Medali PBB yang disematkan langsung oleh Unifil Force Commander (FC), Mayor Jenderal Claudio Graziano dari Italia dalam sebuah Upacara Indonesian Medal Parade (IMP), Selasa 6 Oktober 2009, bertempat di Lapangan Garuda, Soekarno Base UN POSN 7-1 Adshit al Qusayr yang merupakan Markas Batalyon Infanteri Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-C. Geladi bersih upacara penganugerahan medali PBB telah dilaksanakan pada hari Jumat 2 Oktober 2009 di tempat yang sama.

Sebanyak 1148 prajurit TNI yang tergabung pada misi Unifil (United Nations Interim Force In Lebanon) berhak menyandang medali PBB setelah lebih dari sembilan bulan menjalankan tugas sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 sebagai peace keeper di Lebanon Selatan. Mereka terdiri dari 850 personel prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TNI Konga XXIII-C/Unifil (Indobatt/Indonesian Batalyon), 75 personel Satgas TNI Konga XXV-A/Unifil (Indo MP/Indonesian Military Police) dan 200 personel Satgas TNI Konga XXVI-A/Unifil (Indo FHQSU/Indonesian Force Head Quarter Support Unit) serta 23 personel TNI yang bertugas sebagai staf di Unifil, termasuk Wadan Sektor Timur Unifil Kolonel Inf. Bambang Sudiono selaku Komandan Kontingen Garuda.

Bertindak selaku Komandan Upacara IMP, Wadansatgas Indobatt Letnan Kolonel Mar Suherlan, dengan peserta upacara terdiri dari 7 peleton gabungan. Indo FHQSU 1 peleton, Indo MP 1 peleton, dan Indobatt 5 peleton yang berasal dari masing-masing kompi. IMP dihadiri lebih dari 300 tamu undangan baik sipil maupun militer di jajaran Unifil, seperti FC, Mayjen Claudio Graziano, Director Mission Support (DMS) Mr. Girish Sinha, Komandan Sektor Timur Brigjen Ricardo Alvarez Espejo Garcia termasuk Panglima LAF di Lebanon Selatan, Brigjen Maroun Khriesch. Selain itu, IMP juga dihadiri oleh para pejabat sipil Lebanon seperti Mayor dan Moukhtar serta beberapa tokoh agama setempat. Dari KBRI Beirut hadir Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Lebanon, R. Bagas Hapsara beserta beberapa staf kedutaan dan Atase Pertahanan RI yang berkedudukan di Kairo-Mesir, Kolonel Laut Sigit S beserta isteri.

Medali PBB untuk para Komandan Satgas yang terdiri dari Dansatgas Indo FHQSU Kolonel Mar Saud Tamba Tua, Dansatgas Indo MP Letkol Cpm. Ujang Martenis, Dansatgas Indobatt Letkol Inf. R. Haryono dan Komandan Kontingen Garuda Kolonel Inf. Bambang Sudiaono serta Pamen TNI yang berpangkat Letnan Kolonel disematkan langsung oleh FC, termasuk salah satu staf Unifil dari Selandia Baru yang turut serta dalam IMP a.n. Mayor Keith Hill. Sedangkan Medali PBB untuk ke tujuh peleton peserta upacara, masing-masing disematkan oleh pejabat teras Unifil dan Lebanon, antara lain Kepala Staf Unifil Brigjen Vincent Lafontaine, Komandan Sektor Timur Unifil, Panglima LAF (Lebanese Armed Forces) di Lebanon Selatan termasuk Dubes RI untuk Lebanon dan juga Athan RI di Kairo juga turut serta menyematkan medali PBB kepada para prajurit TNI.

Mengawali amanatnya FC menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah gempa bumi yang terjadi di Pulau Sumatera (Padang) seminggu yang lalu. Dalam amanatnya FC menyatakan bahwa medali adalah merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan PBB atas jasa para prajurit TNI dalam berkontribusi kepada UNIFIL sehingga stabilitas keamanan dan perdamaian di Lebanon Selatan dapat tercapai. FC secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Indo FHQSU (Indonesian Force Head Quarter Support Unit) yang telah melakukan tugas-tugas administrasi dan juga pengamanan di lingkungan Unifil HQ; Indo MP (Indonesian Military Police) yang telah berkontribusi memelihara disiplin diantara personel Unifil, membantu pengaturan lalu lintas dan kecelakaan jalan raya di wilayah Sektor Timur Unifil serta kepada Indobatt (Indonesian Battalion) yang telah melakukan kegiatan operasi vital setiap hari, dengan melakukan patroli selama 24 jam sehari dan patroli gabungan bersama LAF (Lebanese Armed Forces) serta pengamanan pos (permanent and temporary observation post) di sepanjang blue line dan daerah sensitif lainnya di Lebanon Selatan.

Disamping itu FC juga memuji inisiatif Indobatt yang tetap melanjutkan program smart car-nya, untuk membantu pendidikan anak-anak melalui permaian dan peralatan multimedia. Menurut Mayjen Graziano Upacara Medal Parade Kontingen Indonesia merupakan peristiwa yang sangat spesial karena sehari sebelumnya bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke 64 Tentara Nasional Indonesia. FC juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang telah setia menjaga komitmenya dalam menjalankan mandat Unifil.

Selesai pelaksanaan Upacara Parade IMP dilanjutkan dengan defile seluruh pasukan upacara dihadapan FC dan tamu undangan. Sebagai acara tambahan prajurit TNI di Lebanon menampilkan beberapa demonstrasi berupa Reog Ponorogo yang dikolaborasi dengan Tari Kecak dilanjutkan dengan peragaan Karate masal yang dimainkan oleh gabungan anggota satgas diiringi dengan lagu Kitaro dengan background Rampak Kendang dan Angklung. Demonstrasi yang berdurasi hampir satu jam tersebut mendapatkan banyak pujian dari berbagai kalangan. Rangkaian kegiatan IMP diakhiri dengan jamuan makan siang dengan menu campuran antara Lebanon dan Internasional.

Authentifikasi :
Perwira Penerangan Satgas Konga XXIII-C/UNIFIL (Letkol Arh Hari Mulyanto)

26 Agustus 2009

`Manuk Dadali` Pukau Tentara Perdamaian Lebanon

Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas POM TNI Konga XXV-A/Unifil dibawah pimpinan Letnan Kolonel Cpm Ujang Martenis menggebrak Lebanon dengan menampilkan kepiawaian mereka dalam memainkan alat musik tradisional Indonesia “Angklung” dihadapan hadirin dari seluruh kontingen yang ada di Sektor Timur (Indobatt, Spainbatt, Nepbatt, Malcon, Staff Officer Seceast dan LAF, di Markas Besar Sektor Timur Unifil “Base Miquel De Cervantes”, Senin (1/6) malam.

Di atas panggung prajurit Satgas POM TNI tampak secara enerjik berhasil mengelaborasi kesenian angklung yang diberi sentuhan lagu daerah Sunda “Manuk Dadali”, sehingga melahirkan warna musik yang tak hanya harmonis, namun juga memberi citra eksotis yang belum pernah dijumpai sebagian besar publik yang menyaksikan. Walau diselingi lirik lagu “Manuk Dadali”, namun tetap mengedepankan angklung sebagai instrumen yang memberi corak dominan alat musik tradisional Indonesia.

Keselarasan antar pemain angklung melahirkan alunan nada yang apik dan indah, memberi titik tekan pada kebersamaan dan harmonisasi dalam setiap kali penampilan mereka.

Tak heran, sejumlah pengunjung rela berdiri di depan panggung pada saat prajurit Satgas POM TNI menampilkan performa mereka. Terlebih lagi setelah lagu “Manuk Dadali”, tim kesenian Satgas POM TNI memperlihatkan kebolehannya dalam joged komando yang sudah dikreasikan dengan gerakan lain dan angklung untuk mengiringi lagu yang sangat populer di Spanyol yaitu “Besame Mucho”. Para penonton terpukau dan langsung larut dalam suasana pertunjukan dan dengan spontanitas turut menyanyikan lirik lagu “Besame Mucho” sambil bergoyang ria mengiringi para prajurit Satgas POM TNI yang unjuk kebolehan di panggung.

Seperti diketahui bahwa di Markas Besar Sektor Timur merupakan home base dari Batalyon Spanyol (Spainbatt). Komandan Sektor Timur Brigadir Jenderal Casimiro Sanjuan Martinez yang merupakan warga negara Spanyol menambah meriahnya suasana dengan turut memberikan aplaus terhadap kebolehan tim kesenian Satgas POM TNI. Sukses ini tidak lepas dari peran Dansatgas POM TNI, Letnan Kolonel Ujang Martenis yang telah menyiapkan ketrampilan prajuritnya dengan selalu hadir pada saat prajuritnya latihan memainkan alat musik tradisional tersebut.

Menurut Dansatgas POM TNI, Letnan Kolonel Cpm Ujang Martenis, mengatakan bahwa Satgas telah dibekali alat musik Tradisional Angklung oleh Departemen Pariwisata dan Budaya. Dengan alat kesenian inilah, Satgas POM TNI turut berperan dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada seluruh kontingen yang tergabung dalam misi perdamaian di Lebanon (Unifil) serta kepada masyarakat Lebanon pada khususnya.

Tanpa keraguan angklung adalah elemen khas diplomasi kultural Indonesia. Lebih dari itu, angklung juga manawarkan nilai-nilai tradisi seperti solidaritas, toleransi, persatuan, dan kerja sama dalam angklung yang sejalan dengan ciri khas dan kekuatan kultural komunitas etnis di Indonesia. Sehingga dalam memainkannya harus benar-benar kompak agar dihasilkan nada yang enak didengar.

sumber : poskota.co.id

23 Agustus 2009

Menengok Panser Anoa Made in Paris Van Java


Namanya dicomot dari mamalia khas Sulawesi. Tampilannya tidak kalah sangar
dengan panser sejenis dari Eropa. Itulah sosok Anoa, panser beroda 6 hasil karya anak bangsa.

Kelahirannya disiapkan untuk mewujudkan kemandirian di bidang alutsista oleh Departemen Pertahanan dan PT Pindad.

Apa saja kelebihan Anoa? Untuk ukuran panser, Anoa terbilang cukup cepat.
Kendaraan tempur (Ranpur) ini mampu melaju hingga kecepatan 90 km per jam.

Anoa juga mampu melompati parit selebar 1 meter dan melahap tanjakan
dengan kemiringan 45 derajat.

Untuk urusan bodi, Anoa dilapisi lapisan baja tahan peluru. Apabila
diberondong senapan AK-47 atau M-16 sih dijamin tidak bakal tembus.

Suspensi juga terbilang empuk. Independent Modular dan Torsion Bar. Selain itu, sistem navigasi generasi terbaru ditambah alat komunikasi anti jamming melengkapi interior ranpur ini.

Sayangnya, PT Pindad belum sepenuhnya mandiri. Beberapa komponen
masih dicomot dari pabrikan Renault di Perancis. Namun bukan mimpi belaka jika ke depannya PT Pindad optimis ke depan seluruh komponen merupakan hasil dalam negeri.

"Untuk mesin, automatic transmision dan suspensi masih dari Renault," ujar Dirut PT Pindad Adik A Soedarsono saat jumpa pers usai menyerahkan 20 panser 6x6 kepada Dephan di Kantor PT Pindad, Kiara Condong, Bandung, Jumat (27/2/2009).

Selain mesin, baja pada 30 panser pertama masih diimpor dari luar. Tetapi
selanjutnya PT Krakatau Steel siap memenuhi kebutuhan baja sang Anoa.

Ranpur ini bisa digunakan untuk bermacam fungsi. Mulai dari pembawa
pasukan, kendaraan komando hingga rumah sakit berjalan di medan tempur.

Persenjataan yang sudah terpasang adalah senapan mesin 7,62 mm dan 12,7 mm untuk varian infanteri dan Automotic Granade Launcher (AGL) 40 mm untuk varian kavaleri.

Departemen Pertahanan telah mengalokasikan dana Rp 1,129 triliun untuk
pembelian 154 ranpur Anoa ini. Seluruh produksi diharapkan bisa selesai pada tahun 2009 ini.

Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Dephan Marsekal Muda Eris Herryanto di PT Pindad menjelaskan karena panser ini merupakan buatan luar negeri, maka dijamin kondisinya cocok untuk medan operasi di tanah air.

Sumber detikNews