Tampilkan postingan dengan label olimpiade sain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olimpiade sain. Tampilkan semua postingan

14 April 2011

Siswa Indonesia Juara Desain di Turki

Demam bersepeda di Tanah Air akhir-akhir ini seperti memberikan ilham bagi Yusman Ahmad Nur (15) dan Anisa Naziha (15) untuk berprestasi di kancah internasional. Lewat karya inovatif berjudul "Environmental Cycle", kedua siswa SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy), Jawa Timur, itu memenangkan medali emas untuk kategori High School (SMA) pada kompetisi desain bergengsi internasional, yaitu "Dreamline 7th International Design Olympiad 2011", 9-10 April, di Ankara, Turki.

Lewat karya inovatifnya itu, Yusman dan Anisa berhasil menyingkirkan 6.150 peserta lain dari 43 negara. Environmental cycle adalah inovasi mereka berdua dalam memanfaatkan energi potensial pegas yang dapat menghemat tenaga pengendara sepeda hingga 680 persen, atau hampir tujuh kali lebih hemat tenaga. Bila menggunakan sepeda biasa, seorang pengendara sepeda harus mengayuh hingga 160 kali untuk menempuh jarak 1 kilometer. Namun dengan environmental cycle ini, ia cukup mengayuh 23 kali saja.

"Ide ini berawal dari kekhawatiran kami akan semakin minimnya sumber mineral yang dikarenakan oleh tingginya penggunaan kendaraan bermotor. Tingkat polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor juga semakin tinggi. Salah satu solusi atas permasalahan ini sesungguhnya adalah dengan mengajak masyarakat luas untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi harian," kata Yusman dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (14/4/2011).

"Namun sering kali kami mendengar keluhan bahwa mengendarai sepeda terlalu melelahkan. Dari permasalahan inilah kami mendapatkan ide untuk menciptakan sepeda yang dapat meringankan upaya penggunanya melalui efisiensi kayuhan," tambahnya.

Dengan keterbatasan dana, Yusman dan Anisa, yang masih duduk di tingkat 10 (kelas 1) ini, memanfaatkan berbagai barang bekas di sekitar sekolah untuk membangun prototipe sepeda impian mereka itu. Prototipe sepeda dibuatnya dari mesin fotokopi bekas, mesin sepeda motor bekas, serta pegas tua dari sebuah toko barang loak.

Kini, berkat kemenangan itu, Yusman dan Anisa meraih hadiah uang sejumlah 3.500 lira atau senilai kurang lebih Rp 20 juta. Keduanya berencana menggunakan dana tersebut untuk membiayai penelitian-penelitian mereka berikutnya. Mereka juga berencana memperoleh hak paten atas hasil karya mereka ini.

"Keberhasilan dari Yusman dan Anisa ini membuktikan bahwa sesungguhnya anak-anak Indonesia memiliki potensi dan talenta yang besar serta kecerdasan yang tinggi. Yang dibutuhkan hanyalah akses terhadap pendidikan yang berkualitas agar dapat bersaing di kancah global," kata Nenny Soemawinata selaku Managing Director Putera Sampoerna Foundation yang membidani kelahiran SMAN 10 Sampoerna Academy.

Adapun Yusman dan Anisa adalah dua siswa yang memiliki prestasi akademik gemilang meskipun berasal dari keluarga prasejahtera. Keduanya, seperti halnya 300 siswa berprestasi lainnya, kini bersekolah di SMAN 10 Malang (Sampoerna Academy).


M.Latief
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/04/14/19103193/Siswa.Indonesia.Juara.Desain.di.Turki

11 April 2011

UGM, ITB dan UNIKOM Juara di AS

Sangat membanggakan, tim robot dari Indonesia berhasil menjuarai kompetisi robot Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest di Hartford, Connecticut, AS, 9-10 April 2011.

Tidak tanggung-tanggung, semua robot yang dikirim oleh Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, dan UNIKOM berhasil menggondol gelar juara. "Seluruh robot perwakilan Indonesia juara semua. Membanggakan," tulis Kusprasapta Mutijarsa, pembimbing tim robot dari ITB, dalam akun Twitter miliknya @kusprasapta.

Tiga robot buatan mahasiswa UNIKOM, Bandung yang mewakili Indonesia untuk kategori RoboWaiter menang di hari pertama. Masing-masing robot DU99 RWE yang juara 1 level advanced serta juara 1 dan 2 level standar.

RoboWaiter merupakan kompetisi robot yang dirancang menjalankan aktivitas simulasi membantu manusia. Dua robot buatan mahasiswa ITB yang mewakili jenis robot berkaki (legged robot) meraih kemenangan di hari kedua. Kedua robot yang diberi nama Zarqun dan ASA masing-masing juara 1 dan 2 kategori Walking Robot.

Sementara dua robot buatan mahasiswa UGM yang mewakili Indonesia di kategori Senior Wheeled Robot juga meraih juara. Dua robot beroda yang diberi nama Koplax dan Iron masing-masing juara 1 dan 2.


Tri Wahono
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/04/11/08280011/UGM.ITB.dan.UNIKOM.Juara.di.AS

17 November 2010

Indonesia Juarai Olimpiade Robot

Indonesia meraih kemenangan gemilang dengan menempati posisi juara pertama dan berhak meraih medali emas untuk katagori Robot Soccer pada World Robotic Olympiad (WRO) yang berlangsung di SMX Convention Center Hall, Manila, Filipina.

Keterangan yang diperoleh dari Mikrobot Experience Center di Jakarta, Rabu (17/11), menyebutkan, Indonesia mengirim 11 tim dalam kompetisi robot itu. Tim terdiri atas siswa SD, SMP, SMA dan tim Robot Soccer. "Dari 11 tim yang kita kirim, tim Robot Soccer yang berhasil meraih juara," kata Paula dari Mikrobot Experience Center.

World Robotic Olympiad yang diselenggarakan pada 6 November 2010 adalah kegiatan internasional yang diselenggarakan setiap tahun. Pelombaan ini dibuka untuk siswa SD hingga mahasiswa perguruan tinggi. Kegiatan ini merupakan puncak acara kompetisi tingkat nasional yang sudah diikuti sebelumnya oleh seluruh peserta dari masing-masing negara.

WRO tahun ini diikuti 700 peserta dari 22 negara, sedangkan Indonesia mengirim 38 peserta yang terbagi dalam 11 tim untuk mengikuti Regular Categori dan Robot Soccer Categori. Peserta WRO yang mewakili Indonesia adalah pemenang dan sebagian peserta yang ikut kegiatan Indonesia Robotic Olympiad 2010 yang diselenggarakan di Gedung BPPT Jakarta pada 14 Agustus 2010.

Tahun ini merupakan ke-7 diselenggarakan WRO. Pada katagori Robot Soccer, tim Indonesia harus bersaing dengan 20 tim dari negara lain dan bisa meraih juara pertama. Sebelumnya, pada WRO 2009, Indonesia meraih juara 2, 3 dan 5. WRO pada 2011 diselenggarakan di Abu Dhabi. Tim Indonesia bertekad kembali meraih prestasi.

Sejumlah prestasi telah diraih Indonesia dalam berbagai kompetisi rombot internasional. Tim Robot Universitas Komputer Indonesia (Unikom) berhasil mempertahankan gelar sebagai jawara di RoboGames. Robot DU 114 berhasil menggondol emas untuk kategori open fire fighting autonomous robot.

RoboGames 2010 digelar di San Mateo County Event Center, Amerika Serikat, pada 24-25 April 2010. Tim Robot Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh November juga mengikuti kontes robot internasional ABU Asia Pacific Robot Contest 2010 pada 20-21 September 2010 di Kairo, Mesir. Tim robot ini pernah menjadi juara pertama di Fukushima, Jepang pada tahun 2000. (Ant/vg/OL-8)

media indonesia

02 November 2010

Indonesia Raih Emas Olimpiade Matematika

Putra-putri Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di ajang olimpiade matematika. Tim Indonesia yang pertama kali bergabung berhasil meraih satu medali emas, satu perak, dan dua perunggu di kompetisi China West Mathematical Olympiad yang diselenggarakan di Taiyuan, China, akhir Oktober lalu.

Medali emas dipersembahkan Johan Gunardi (SMAK V Penabur Jakarta), sedangkan Stephen Sanjaya (SMAK I Penabur Jakarta) mendapat mendali perak. Adapun medali perunggu dipersembahkan Christa Lorensia S (SMP St Laurensia Tangerang) dan Ivan Koswara (SMAK Bintang Mulia Bandung).

China West Mathematical Olympiad merupakan kompetisi matematika tahunan yang diselenggarakan oleh China Mathematical Olympiad Commitee. Kompetisi ini berlangsung sejak tahun 2002. Peserta tahun ini berjumlah 104 orang.

Mereka berasal dari tujuh negara yakni Cina, Hongkong, Makau, Singapura, Kazakhstan, Filipina, dan Indonesia.
Seluruh aktivitas persiapan tim dilakukan di bawah naungan Surya Institute yang diketuai Fisikawan Yohanes Surya. Lidya dari Surya Institute, di Jakarta, Selasa (2/11/2010), mengatakan tim pelajar Indoensia telah kembali ke Tanah Air hari ini.

http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/02/19260241/Indonesia.Raih.Emas.Olimpiade.Matematika-5

17 Oktober 2010

Sereal Bikinan IPB Juara di Amerika Serikat


Sereal bukanlah jenis makanan yang lazim dikonsumsi di Indonesia. Karena itu, tak banyak yang memproduksi makanan ini. Tapi sereal olahan empat mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor ini berhasil menjuarai kompetisi produk pangan internasional, Institute of Food Technologists (IFT) Annual Meeting and Food Expo di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 17-20 Juli lalu.

Keempat mahasiswa itu adalah Stefanus, Agus Danang Wibowo, Saffiera Karleena, dan Margaret Octavia. "Sereal kami dinilai lebih enak dan memiliki cita rasa lokal," kata Stefanus saat dihubungi Rabu lalu.

Mereka menamakan serealnya Crantz Flakes. Bahan bakunya adalah singkong, kedelai, pisang, tepung beras, gula, dan garam. Menurut Stefanus, pembuatan Crantz tidak menggunakan air. Alasannya, Crantz dibuat dengan asumsi lokasi di Nusa Tenggara Timur. "Di sana jarang (terdapat) air bersih," katanya.
Provinsi ini dipilih lantaran juri mensyaratkan produk yang dilombakan bisa menjadi penyelesaian krisis pangan atau kekurangan gizi di daerah tertentu. "Angka gizi buruk Nusa Tenggara Timur tertinggi di Indonesia," kata Agus memberi alasan.

Ide membuat Crantz berasal dari Stefanus dan Agus. Sebelum membuat Crantz, keduanya, bersama Yogi Karsono, mengikuti kompetisi produk pangan yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknologi dan Industri Pertanian IPB pada Januari lalu. Mereka membuat sereal berbahan baku bekatul yang kaya serat. Tujuannya, "Membuat produk rendah kolesterol," ujar Agus melalui sambungan telepon Rabu lalu.

Bersama tim Zuper T, juga dari IPB, dan Universitas Brawijaya, Malang, mereka dipilih juri sebagai tiga besar kategori peserta internasional. Selanjutnya pemenang diminta mempraktekkan produk mereka dan diuji di depan dewan juri. "Tahapan ini yang paling seru," kata Agus.

Beruntung, tim Crantz memiliki Saffiera, yang gemar memasak, dan Stefanus, yang memahami banyak bahan pangan. Keunggulan ini bertambah sempurna dengan adanya Agus, yang jago menuliskan presentasi. Mereka ulet meramu bahan baku untuk mendapatkan komposisi yang oke.

Kendala justru datang dari masalah teknis pemberangkatan. "Kami tidak punya ongkos," kata Agus. Hadiah dari IFT sebesar US$ 2.000 tidak cukup untuk tiket perjalanan empat orang. Selama dua pekan mereka berjibaku mendapatkan bantuan dana. Walhasil, mulai dari bank hingga dosen bersedia mensponsori.

Sayangnya, justru Stefanus dan Agus tak bisa berangkat lantaran tidak mendapat visa. Akhirnya Saffiera dan Margaret yang berangkat. Saffiera tetap percaya diri. Ia yakin kemenangan diraih sejak timnya menyajikan Crantz di meja dewan juri.

"Sereal kami ludes dimakan juri," ujar Saffiera. Kejadian ini membuat kedua perempuan itu makin percaya diri. "Setiap pertanyaan bisa kami jawab lancar," katanya. Mereka mendapatkan juara pertama dan membawa pulang hadiah US$ 3.500.

Kendati tak menyaksikan langsung, Agus tetap bungah. Setidaknya ia menuai kesuksesan dari hobinya mencicipi makanan. Kesukaan pemuda 22 tahun ini pada bidang pangan berawal dari minatnya terhadap ilmu biologi sejak sekolah menengah atas. "Saya kerap mengikuti kompetisi biologi," ujarnya.

Lulus sekolah, Agus diterima di IPB lewat seleksi bibit unggul. Jurusan pangan dipilihnya lantaran mengikuti nasihat ayah, Mochammad Sidik. Agus diminta memilih jurusan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok manusia.

Pilihan Agus tak salah. Selain kuliah, pemuda asal Semarang ini kerap mengikuti lomba. Tidak hanya soal pangan, beberapa lomba dengan tema manajemen perusahaan dia ikuti. "Belajar jadi pengusaha," katanya beralasan. Agus menilai semakin banyak kompetisi diikuti semakin bertambah ide dan kreativitas.

Agus bukan tipe yang ingin terus bergantung pada orang tuanya. Ia ingin mengembangkan bisnis sendiri setelah lulus Juli lalu. Namun, sementara ini, ia memilih mencari kerja dulu. "Mengumpulkan modal dulu," ujarnya.

Stefanus juga memutuskan menjadi karyawan. Pemuda kelahiran Jakarta, 6 November 22 tahun lalu, itu bekerja di perusahaan consumer goods yang kesohor di Jakarta setelah lulus kuliah Juli lalu. Stefanus dikenal ulet. Dia mampu meracik komposisi bahan baku yang pas sehingga produk olahan terasa lezat.

Sudah lama Stefanus berminat terhadap pangan. "Saya suka berkreasi dalam membuat kue dan memasak," katanya. Hobi ini lahir karena Stefanus geram terhadap produk makanan bergizi tinggi tapi mahal. Menurut dia, makanan yang memiliki kandungan gizi bisa diolah dari bahan baku yang sederhana. "Jadi harganya bisa murah," katanya.
Stefanus juga menyoroti bahan baku yang tidak banyak diolah jadi makanan. Dia yakin bahan seperti sorghum, jawawut, hotong, singkong, dan jagung dapat diolah dengan rasa enak dan sehat. Menurut dia, dengan mengolah bahan tersebut, tidak akan ada persoalan kekurangan pangan dan gizi. "Tidak perlu tergantung dengan satu komoditas," katanya.

AKBAR TRI KURNIAWAN

DI BALIK KEMENANGAN
1. Stefanus
Kelahiran: Jakarta, 6 November 1988
Orang Tua: Thio Man Sin dan Ma Bie Thjung
Pendidikan:
l SMA Kristen Yusuf Jakarta
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB

Penghargaan:
l Juara Pertama Food Innovation Competition 2009 Universitas Pelita Harapan
l Juara National Food Innovation Competition, Indonesian Food Expo 2009, IPB
l Juara National Product Design Competition Hi-Great 2010, Universitas Brawijaya, Malang
l Juara National Food Technology Competition Universitas Katolik Widya Mandala 2010
l Juara I 10th Institute of Food Technologists Annual Meeting and Food Expo, Chicago, Illinois, Amerika Serikat

2. Agus Danang Wibowo
Kelahiran: Semarang, 14 Agustus 1988
Orang tua: Mochammad Sidik dan Endang Ekawati
Pendidikan:
l SMA 3 Semarang (2003-2006)
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB (2006-2010)

Penghargaan
l Danone Trust
l Juara I IFT Annual Meeting and Food Expo, Chicago, AS

3. Saffiera Karleena
Kelahiran: Bogor, 26 Juli 1988
Orang tua: Edi Santoso dan Grace Sri Mulyati
Pendidikan:
l SMA Regina Pacis Bogor (2003-2006)
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2006-sekarang

4. Margaret Octavia
Kelahiran: Jakarta, 30 Oktober 1988
Orang tua: Aji Putrawan dan Tjen Nam Lin
Pendidikan:
l SMA Kristen Kanaan (2003-2006)
l Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2006-sekarang

http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2010/10/17/brk,20101017-285227,id.html

24 September 2010

Olimpiade Astronomi dan Astrofisika : Indonesia Raih 3 Perak dan 2 Perunggu

Tim Indonesia berhasil memperoleh tiga medali perak dan dua perunggu di ajang Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika ke-4 (4th International Olympiad on Astronomy and Astrophysics/IOAA) tingkat pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang digelar di Beijing, Republik Rakyat China, 12-21 September 2010. Tim nasional Indonesia bersaing dengan 24 tim lainnya dari 22 negara untuk uji teori, pengamatan, praktik pengolahan data, dan kompetisi tim.

Perolehan medali perak tim Indonesia tersebut di antaranya diraih oleh Raymond Djajalaksana dari SMA IPEKA Sunter, Jakarta, Anas Maulidi Utama, SMA Negeri 5 Surabaya, Jawa Timur, serta Hans Triar Sutanto, SMAK 2 Petra Surabaya, Jawa Timur. Sementara itu, medali perunggu diraih oleh Ahmad Raditya Cahya dari SMA Negri 1 Yogyakarta dan Widya Ageng Setyo Tetuko, SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Kepala seksi Bakat dan Prestasi Siswa SMA Kemendiknas RI Suharlan kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (22/9/2010), mengungkapkan, dalam IOAA kali ini, tim Indonesia berada pada ranking ke-13 dari total 24 tim dari 22 negara. Sedangkan juara umum diraih oleh India dengan perolehan tiga emas dan dua perunggu. Salah seorang siswa dari India memperoleh Best Theory, sedangkan Best Practical dan Absolute Winner diraih oleh siswa dari Polandia.

Dr Suryadi Siregar, pimpinan tim Indonesia, menambahkan, bahwa penilaian untuk kategori team competition diambil dari kecepatan tim dalam merakit sebuah teleskop. "Tapi tidak hanya cepat, tapi teleskop juga harus terpasang dengan baik dan seimbang kedudukannya," ujar Suryadi.

Suryadi mengatakan, untuk kategori team competition dimenangkan oleh tim Thailand, sementara tim Indonesia meraih posisi kedua, dan Iran posisi ketiga. Menurutnya, perolehan nilai antar-peserta bersaing amat ketat.

"Di sini diperlukan tugas seorang team leader, karena selain ikut menganalisa soal-soal yang akan diujikan, posisinya juga harus bisa menerjemahkan soal ke dalam bahasa Indonesia, memeriksa hasil pekerjaan siswa Indonesia dan yang juga tidak kalah penting berdebat dengan juri memperjuangkan penilaian yang fair bagi siswa Indonesia," tambahnya.

Adapun evaluasi umum dari hasil tim Indonesia pada ajang IOAA ke-4 ini dikatakan lebih baik dari IOAA ke-3 di Iran. Para siswa telah dibekali oleh tim pelatih dari Program Studi Astronomi, FMIPA, ITB selama sekitar 4 bulan. Beberapa kekurangan seperti aspek psikologis siswa ketika mengukti tes, ketelitian dan beberapa materi yang perlu diperdalam akan menjadi bahan evaluasi tim pelatih, agar di tahun-tahun berikutnya tim Indonesia dapat meraih hasil yang lebih baik.

"Memang tim India mempersiapkan siswanya dengan baik pada kategori Kompetisi Teori yang diakui oleh team leader India, tapi pada Kompetisi Analisa Data dan Observasi tim Indonesia dan India setara," lanjut Suryadi.

Di ajang ini, para peserta selain berkompetisi juga mengikuti kegiatan ceramah ilmiah dari Prof Richard de Grijs dari Peking University dan seorang profesor dari National Astronomy Observatory of China (NAOC) yang menjelaskan tentang proyek-proyek besar astronomi yang didanai oleh negara China. Para peserta juga dihibur dengan mengikuti tur ke Great Wall dan Forbidden City.

sumber kompas.com

Mahasiswa RI Raih Penghargaan Internasional Bidang Fisika

Ali Khumaeni, mahasiswa program master dari Fukui University, mendapatkan penghargaan best paper tingkat internasional bidang aplikasi "Laser-Induced Breakdown Spectroscopy" (LIBS) pada konferensi internasional LIBS ke-6 di Amerika Serikat pada September ini.

Makalahnya yang berjudul "Direct Analysis of Powder Sample Using Transversely Excited Atmospheric CO2 Laser-Induced Metal-Assisted Gas Plasma at 1 atm by Introducing the Powder Particles into the Plasma" dinilai punya orisinalitas oleh para juri.

Menurut Khumaeni dalam surat elektroniknya, riset yang ia lakukan meneliti tentang kandungan nutrisi (seperti kalsium dan sodium) dalam makanan dan produk farmasi serbuk (seperti beras bubuk, tepung, dan multivitamin) dengan menggunakan teknik LIBS dengan memanfaatkan suatu metode baru bernama TEA CO2 laser.

Dengan metode baru itu, waktu analisis produk farmasi serbuk dapat dihemat karena dilakukan tanpa harus memadatkan contoh serbuk itu. Selain itu, dengan sensitifitas deteksi atom yang sangat tinggi, metode ini dapat mendeteksi atom-atom logam berat hingga konsentrasi sangat rendah sampai 1-10 ppm (part per million).

Khumaeni bergelar sarjana sains dari Universitas Diponegoro di bidang Fisika dengan skripsi yang juga membahas mengenai aser plasma spektroskopi di bawah bimbingan Prof. Dr. Wahyu Setiabudi, seorang profesor di Departemen Fisika Universitas Diponegoro dan Dr. Koo Hendrik Kurniawan, Kepala Maju Makmur Mandiri Research Center (M3RC) Jakarta Barat.

Di Indonesia, teknik ini bisa diaplikasikan di perusahaan-perusahaan makanan serbuk, farmasi dan obat-obatan untuk menganalisis persentase kandungan unsur di dalam makanan atau obat-obatan serbuk yang diperlukan tubuh dan menganalisis kemungkinan makanan atau obat-obatan mengandung atom-atom logam berat dengan konsentrasi tinggi.

Saat ini belum ada perusahaan di Indonesia yang menggunakan teknik LIBS. Mayoritas menggunakan X ray flouresecence (XRF) padahal teknik ini tidak bisa mendeteksi atom-atom ringan seperti boron yang kurang baik bagi tubuh jika terkandung dalam makanan dengan konsentrasi tinggi.

Pemuda kelahiran 14 Juli 1983 mengakui bahwa ide riset ini berasal dari pembimbingnya, Prof. Kiichiro Kagawa.

Walau mengalami kesulitan saat eksperimen untuk menghasilkan data garis emisi atom, tapi secara bertahap ia dan rekannya dapat mendeteksi atom logam berat hingga level 1-10 ppm.

Khumaeni melakukan riset ini bersama dengan tiga orang rekannya yaitu Zener Sukar Lie (mahasiswa doktor dari Indonesia), Tetsuya Yamamoto dan Keisuke Nakayama (Mahasiswa S1 dari Jepang).

Untuk rencana ke depannya, ia dan rekan akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk mengaplikasikan metode ini. Sudah ada beberapa perusahaan di Jepang yang tertarik dan tidak tertutup kemungkinan melakukan kerja sama dengan perusahaan di Indonesia.

Penelitian lain Khumaeni di bidang spektroskopi juga sudah dimuat di berbagai jurnal internasional seperti Journal of Current Applied Physics dan Journal of Optics and Laser Technology.
(KR-DLN/A038)

sumber antaranews

25 Agustus 2010

Siswa Indonesia Raih Empat Emas di Olimpiade Fisika

Lima siswa SMA Indonesia yang meraih empat medali emas dan satu perak dalam Olimpiade Fisika Internasional 2010 mengatakan latihan intensif membantu mereka mendapatkan rekor tertinggi prestasi Indonesia sejak 2006. Lomba tersebut diikuti oleh 376 siswa dari 16 negara.

"Kami latihan soal dari Senin sampai Jumat dan hari Sabtu dan Minggu eksperimen dan begitu menjelang Olimpiade kami selalu latihan eksperimen," kata Muhammad Sohibul Maromi, salah seorang siswa yang mendapatkan medali emas dari SMAN 1 Pamekasan, Madura.

Sohibul, bersama Christian George Emor dari SMA Lokon St. Nikolaus, Tomohon, Sulawesi Utara, Kevin Soedyatmiko dari SMAN 12 Jakarta dan David Giovanni dari SMAK Penabur Gading, Serpong, meraih medali emas.

Sementara itu Ahmad Ataka Awwalur Rizqi dari SMAN 3 Yogyakarta mendapatkan perak dalam Olimpiade Fisika Internasional yang digelar di Zagreb, Kroatia, akhir Juli lalu.

Lima siswa SMA Indonesia ini dikirim melalui tim Olimpiade Fisika Indonesia, atau TOFI, setelah melalui training intensif selama delapan bulan. Koordinator TOFI, Hendra Kwee, mengatakan prestasi yang diraih para siswa tahun ini dengan empat emas merupakan yang tertinggi sejak 2006.

"Dari 376 siswa, ada sekitar 35 anak yang mendapat medali emas. Lomba terdiri dari dua bagian, teori 60an eksperimen 40Dari tiga puluh lima anak yang mendapat emas, empat dari Indonesia dan yang terbanyak lainnya dengan lima emas dari Cina, Taiwan dan Thailand," ujarnya, seperti dikutip "BBC".

Sumber : Pikiran Rakyat, 03/08/2010

17 November 2009

Tim Indonesia Juara di Olimpiade Robot Dunia

Tim Indonesia berhasil meraih juara kedua dan ketiga tingkat Junior (SLTP) Regular Category pada ajang kompetisi Olimpiade Robot Dunia (World Robot Olympiad/WRO) 2009 yang berlangsung di Korea Selatan, 6-8 November lalu.

"Prestasi yang dicapai tim Indonesia kali ini merupakan hasil terbaik yang diperoleh Indonesia sejak mengikuti WRO pertama kali tahun 2004," ujar Humas dan Promosi Mikrobot, Paula Augusta dalam siaran persnya yang diterima ANTARA News di Jakarta, Selasa.

Ajang kompetisi tingkat internasional ke-6 yang diadakan di Gyeongbuk Pohang, Korea Selatan, ini diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari 24 negara di seluruh dunia.

Kompetisi WRO terbagi dalam dua kategori, yaitu Regular Category dan Open Category. Dalam Regular Category, peserta harus merakit sebuah robot untuk menyelesaikan suatu tantangan tertentu, sedangkan dalam Open Category, peserta bebas merakit robot menurut tema tertentu kemudian mempresentasikan ciptaannya di depan juri.

Indonesia mengirimkan total tujuh tim untuk berlaga di WRO2009. Dari ke-7 tim tersebut, seluruhnya merupakan peserta untuk Regular Category.

Untuk tingkat Junior (SLTP), Indonesia menempatkan tim Creator (Ivy Icasia, Patricia Dissy Andrea) sebagai juara dua dan tim Alpha-Rex (Billy Hocker Wistan, Fernando) sebagai juara 3. Adapun juara pertama diraih oleh tim White Lego dari Korea Selatan.

Selain dari tingkat Junior, perolehan tim Indonesia yang bertanding pada tingkat Primary (SD) juga cukup memuaskan. Tim Innocent (Kelvin Onggadinata, Margaretha Hutabarat) menempati peringkat lima, di bawah Chinese Taipei (juara 1), Korea (juara 2), dan Singapura (juara 3).

Sebelum berlaga di WRO, para peserta tersebut telah mengikuti seleksi tingkat nasional dalam Indonesia Robotic Olimpiad 2009 (IRO) yang berlangsung di Jakarta pada Agustus lalu. IRO diselenggarakan oleh Mikrobot.

Mikrobot merupakan distributor resmi Lego Education, peraih penghargaan Golden Award untuk robot yang bisa menyelesaikan permainan rubik cube dalam waktu satu menit pada ajang olimpiade Robot Dunia 2007. (*)

sumber antaranews

04 November 2009

Peraih Emas Olimpiade Sains Berhak Beasiswa hingga S3

Indonesia bangga dengan prestasi yang diraih anak-anak Indonesia, juara umum pada Lomba Matematika Internasional ke-3 (3rd Wizards at Mathematics Internastional Competition 2009) di Lucknow, India. Sebagai penghargaan atas prestasi medali emas yang diraih, pemerintah akan memberikan beasiswa hingga ke jenjang S3.

"Bapak Presiden mencanangkan, siapa pun yang dapat medali emas olimpiade berbagai jurusan, maka ia diberikan reward hingga S3 di mana saja, selama lokasinya ada di dalam peta," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh. Mendiknas menegaskan hal itu ketika menerima anak-anak yang berhasil membawa total 10 medali emas, 9 perak, dan 5 medali perunggu, Selasa (3/11) malam di Hotel Sahid, Jakarta.

Rincian prestasi tersebut, yaitu kategori individual competition meraih 8 medali emas, 7 perak, dan 4 medali perunggu. Adapun kategori team competition meraih 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Kompetisi ini diikuti 9 negara dengan 34 tim. Sebanyak 5 tim di antaranya dari Indonesia, berkekuatan 19 anak dari berbagai sekolah dasar.

Tak sebatas meraih juara umum, Indonesia juga meraih nilai tertinggi untuk kategori individual competition atas nama Henry Jayakusuma asal SD PL Bernardus, Semarang. Nilai tertinggi team competition atas nama Agasha Kareef Ratam (SD Al Izhar Pondok Labu), Fahmi Firdaus Angkasa (SDIP Daarul Jannah Bogor), Stanley Orlando (SD St Ursula, Jakarta), dan Kevin Pratama Rusli (SDK BPK Penabur).

Menjawab wartawan, Mendiknas juga memberikan kabar gembira buat para pembina/pembimbing. Walaupun mereka diyakini memiliki keikhlasan luar biasa dan tidak pernah meminta apa-apa, insya Allah pemerintah telah menyiapkan penghargaan untuk para pembina.

"Tentang apa (penghargaan) itu, itu bagian dari kerahasiaan. Sangat tidak tahu diri, seandainya Depdiknas tidak bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi pembina/pembimbing anak-anak yang berpestasi dunia tersebut," ungkapnya.

Mohammad Nuh mengemukakan, prestasi anak-anak menjadi prestasi awal bangsa ini. Masa depan bangsa ini berada di tangan kalian semua. "Dilihat dengan matahati, anak-anak matanya bersinar, tersimpan masa depan yang sangat bagus. Anak-anak kita ini mempunyai potensi luar biasa. Wajah-wajah sang juara," katanya.

Dengan potensi yang luar biasa itu, prestasi anak-anak diakui oleh dunia. Prestasi ini harus tetap dikawal, dan Depdiknas mendukung penuh agar potensi dan prestasi yang diraih bisa terus dikembangkan lagi.

Untuk itu, lanjut Mendiknas Mohammad Nuh, sebagaimana esensi dari program 100 hari Mendiknas, profesionalitas dari guru-guru harus tetap didorong. Guru harus harus bisa menggali talenta anak-anak kita dan memberikan sentuhan sehingga talenta-talenta anak-anak bisa bersinar.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto, mengatakan, melihat asal sekolah dari lima tim yang dikirim, mereka bukan saja berasal dari sekolah negeri, tetapi juga swasta. Demikian juga asal sekolah mereka, cukup beragam.

"Ini menjadi capaian tersendiri bagi para pengelola sekolah atas apa yang telah diraihnya itu. Adapun pemerataan di bidang pendidikan menjadi salah satu agenda yang akan terus dijalankan ke depan. Prinsipnya, bagaimana menjalankan bidang pendidikan secara merata baik dalam hal kualitas maupun sarana dan prasarana, serta terjangkau," paparnya.

31 Oktober 2009

Indonesia Juara Umum Kompetisi Matematika Internasional 2009

Tim Indonesia menjadi juara umum dalam Kompetisi Matematika Internasional III-2009 atau "The 3rd WIZMIC 2009 (Wizard at Mathematic International Competition 2009)" di Lucknow, India pada 27-30 Oktober.

"Peringkat juara umum itu diraih tim Indonesia setelah menyabet 10 medali emas, sembilan perak, dan lima perunggu dalam 3rd WIZMIC 2009 itu," kata staf khusus Mendiknas, Ir Sukemi, kepada ANTARA per telepon, Jumat malam.

Menurut dia, medali sebanyak itu diraih tim Indonesia dalam kategori individual contest dan team contest dalam kompetisi matematika internasional yang diikuti 207 peserta atau 52 tim dari sembilan negara.

"Untuk individual contest, tim Indonesia memborong delapan emas, tujuh perak, dan empat perunggu, sedang untuk team contest memperoleh dua emas, dua perak, dan satu perunggu, sehingga total medali adalah 10 emas, sembilan perak, dan lima perunggu," katanya.

Ia menambahkan peraih nilai tertinggi untuk kategori individual contest dalam WIZMIC 2009 adalah Henry Jayakusuma dari Indonesia.

"Selain itu, tim Indonesia juga mendapat penghargaan tertinggi yakni Overall Champion untuk kategori Group Prize atas nama Agasha, Stanley, Kevin Pratama, dan Fahmi," katanya.

WIZMIC merupakan ajang Kompetisi Matematika Internasional untuk siswa berumur di bawah 14 tahun (SMP) yang diselenggarakan di Lucknow, India sejak tahun 2007.

Dalam ajang WIZMIC yang pertama itu, Indonesia meraih dua emas, satu perak, dan satu perunggu dari kompetisi individual dan satu emas dari kompetisi tim.(

sumber antara

07 Oktober 2009

Siswa SMAN 12, Juara Fisika Dunia

Kevin Soedyatmiko, siswa kelas 10 SMA Negeri 12 Jakarta berhasil meraih medali emas dalam ajang kompetisi fisika tingkat Dunia, yaitu International Zautykov Olimpiad di Almaty, Kazakhstan.

Atas prestasi yang luarbiasa itu Bapak Gubernur Prov. DKI Jakarta, Dr. Ing. Fauzi Bowo beserta Ibu berkenan menerima Kevin (demikian nama panggilannya), di rumah kediaman Bapak Gubernur di dekat Taman Surapati, Jakarta Pusat.

Didampingi oleh ayahnya (Johanes Handojo), Kepala Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta (Dr. Taufik Yudi Mulyanto), Kepala Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Timur (Drs. H. Suharyanto, M.M), Kepala SMAN Negeri 12 Jakarta (Drs. H. Jahidin, M.Pd), Wkil Kepala Sekolah Bid. Kurikulum (Miftah Zaenuri, S.Pd, M.Si), Staf Kesiswaan Bidang SMP/SMA Dinas Pendidikan Prov. DKI Jakarta (Drs. Barmenggano) dan ketua Komite SMA Negeri 12 Jakarta (Ir. H. Sutoto), kami diterima Bapak Gubernur pada pukul 19.00 WIB, pada hari Kamis, 26 Pebruari 2009.

Bapak Gubernur didampingi Ibu menyambut Kevin dan rombongan di ruang tamu utama, yang cukup luas dengan penataan yang sangat rapi apik dan asri, sehingga memberi kesan yang sangat nyaman.

Bapak Gubernur mengucapkan selamat atas keberhasilan Kevin, dan menyatakan rasa kagumnya kepada Kevin, karena siswa kelas 10 SMA mampu berkompetisi di tingkat dunia, dimana soal-soal baik teori ataupun praktik pada event olimpiade fisika itu adalah soal-soal untuk kelas 12, bahkan lebih tinggi lagi, demikian seperti yang diceritakan oleh Kevin.

Dibawah suhu udara yang sangat dingin, minus 15o C, saya memakai baju sampai tiga rangkap, saya harus menyelesaikan soal-soal fisika baik teori maupun praktik yang tingkat kesulitannya sangat tinggi, materi soalnya adalah kelas 12, sedangkan tingkat kesulitannya setara dengan soal S-2, demikian Kevin mulai bercerita dihadapan Bapak Gubernur.

Event yang saya ikuti adalah International Zautykov Olimpiad di Almaty, Kazakhstan, yang diikuti oleh 16 negara, dan 89 peserta dari berbagai negara di seluruh dunia, lanjut Kevin.

”Kevin memang terlahir sebagai juara”, kata Bapak Suharyanto (Kasudin Pendidikan Menengah Jakarta Timur.

Betul !, apa yang dikatakan Bapak Suharyanto, karena menurut penuturan Bapak Jonanes Handoyo (ayah Kevin), Kevin yang lahir di Jakarta, tanggal 22 Juni 1993, memiliki IQ 154 (Jenius) , sudah sejak SD dan SMP selalu berlangganan juara jika mengikuti lomba-lomba matematika dan sains, Bahkan salah satu event Internasional dibidang matematika, yang waktu itu di adakan di Bangkok Kevin berhasil menyabet medali emas, padahal dia masih sangat muda waktu itu, karena masih duduk di bangku SMP. Atas prestasinya itu nama Kevin diabadikan dibuku rekord MURI, sebagai siswa Indonesia termuda yang meraih medali emas dalam event Internasional bidang Matematika. Demikian kisah yang dituturkan oleh ayah Kevin.

Kami semua juga Bapak Gubernur terkagum-kagum mendengarkan kisah ayah Kevin tersebut, luar biasa....

Rupanya kejeniusan Kevin, tercium oleh Prof. Dr. Yohannes Surya, Ph.D. kemudian Kevin langsung dibimbing oleh beliau khusus untuk bidang matematika dan fisika.

”Kebetulan atau memang sudah diatur dari sananya, Prof. Dr. Yohannes Surya, Ph.D. sendiri adalah juga alumni SMA Negeri 12 Jakarta tahun 1981”, demikian tutur Bapak Miftah Zaenuri (Wakasek Bid. Kurikulum dan juga guru fisika di SMA Negeri 12 Jakarta).

Sebagaimana kita ketahui Prof. Dr. Yohannes Surya, Ph.D. adalah presiden AphO (Asian Physics Olympiad), dan juga Ketua TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia).

Kevin adalah putra pertama Bapak Johanes Handojo, ibunya adalah seorang dokter gigi, mempunyai seorang adik perempuan, yang masih duduk di sekolah dasar. Saat ini kevin dan keluarganya tinggal di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Masuk di SMA Negeri 12 Jakarta melalui proses PSB (Penerimaan Siswa Baru) Dikmenti DKI Jakarta, pada tahun pelajaran 2008-2009, dengan NEM SMP untuk mata pelajaran matematika 10, dan saat ini Kevin duduk di kelas 10-3.

Sumber : Situs SMAN 12 Jakarta (7 April 2009)

PELAJAR INDONESIA RAIH EMAS DI OLIMPIADE FISIKA INTERNASIONAL DI MEKSIKO

Pelajar Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Prestasi itu diperoleh setelah kontingen Indonesia pada International Physics Olympiadd (IPho) ke-40 di Kota Merida Yucatan, Meksiko, 12-19 Juli 2009, meraih satu medali emas, tiga perak dan satu perunggu. Kontingen Fisika Indonesia itu kembali melalui Bandara Internasional Sukarno Hatta, Rabu (22/7) petang.

Tim pelajar Indonesia yang meraih medali emas adalah Fernando Richtia Winnerdy dari SMA BPK Penabur, Gading Serpong, Banten dan Winson Tanputraman dari SMA BPK Penabur DKI Jakarta, yang tampil secara beregu.

Kemudian peraih medali perak atas nama Dzuhri Radityo Utomo dari SMA N I Yogyakarta, Andri Pradana dari SMA BPK Penabur, sedangkan medali perunggu diraih Paul Zakaharia Fadjar Hanakat dari SMAN ! Denpasar, Bali.

Kontingen palajar Indonesia dipimpin Kamsul Abraha dari UGM dan Hendra Johny Kwee dari TOFI. Keduanya mengaku sempat was-was ketika harus berangkat dan berada di Meksiko karena wabah flu babi yang merebak di negara tersebut.

"Kami bersyukur tim Indonesia meraih prestasi gemilang dengan merebut satu medali emas, tiga perak dan satu perunggu. Olimpiade Fisika itu diikuti 317 peserta dari 17 negara," kata Kamsul Abraha.

Pada kompetisi Ipho/2009 itu setiap peserta harus menjawab tiga soal teori yang menghabiskan waktu lima jam pada tahap perlombaan dan dua soal eksperimen yang juga memakan waktu lima jam setiap-harinya.

Kamsul menjelaskan, prestasi itu mengulang prestasi kontingen Indonesia tahun 2007 lalu. Dikemukakan bahwa tim dibentuk melalui proses seleksi ketat dan berlapis mulai tingkat kabupaten/kota hingga di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diselenggarakan Depdiknas. Kelima siswa itu menerima pembekalan teori dan eksperimen fisika cukup berat.

"Prestasi ini diharapkan mampu mengangkat kembali keterpurukan bangsa Indonesia," katanya.

Sumber : BIP Kominfo (22 Juli 2009)

Medali Emas Olimpiade Astronomi

Pemilik nama lengkap Lorenz Van Gugelberg Da Silva kembali meraih emas dalam kompetisi IOAA (International Olympiad on Astronomy and Astrophysics) 2008 di Bandung, Indonesia. Medali yang sama juga diraih Lorenz pada IOAA 2007 di Chiang Mai, Thailand . "Ini adalah emas istimewa buat saya, karena kesempatan terakhir bisa berkompetisi dalam olimpiade sains," kata lulusan SMAS Semestas Semarang itu. Pemuda asal NTT kelahiran Sukoharjo ini, tengah konsentrasi menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB). "Meski masuk jurusan elektro, tapi saya tetap akan menekuni astronomi, karena salah satu ilmu yang saya senangi," kata Lorenz lagi.

Juara olimpiade astronomi internasional, Paling suka kerjakan observasi

Memperoleh medali emas dalam olimpiade astronomi tingkat internasional, tidak pernah dibayangkan oleh Lorenz Van Gugelberg Da Silva sebelumnya. Siswa kelas III IPA SMA Semesta Semarang ini, awalnya hanya coba-coba bergelut di bidang ilmu yang mempelajari tentang perbintangan tersebut.

Bungsu dari dua bersaudara, anak pasangan John Da Silva (alm) dan Sumarni, warga RT 2/II Grogol, Sukoharjo, tersebut mengaku, dirinya pertama kali bertemu ilmu astronomi pada awal tahun 2006 lalu.

’’Awalnya saya ditawari sekolah untuk ikut lomba. Disuruh memilih sendiri. Karena bidang lain seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi, sudah banyak yang ikut, saya pilih astronomi yang tidak banyak pesertanya,” kenang dia.

Lorenz mengawali perkenalannya secara mendalam terhadap ilmu astronomi dengan mengikuti pelatihan yang digelar Dinas P dan K Jateng di Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP) Srondol Semarang. ’’Saat itu saya niatnya coba-coba, tidak tahunya saat OSN (Olimpiade Sains Nasional), tersaring di tingkat Kota, Provinsi, dan akhirnya ke tingkat nasional,” terangnya.

Atas prestasinya menyabet emas pada OSN Tingkat Nasional bulan September 2006, dia pun melenggang ikut dalam kompetisi tingkat Asia Pasifik, di Rusia pada Desember 2006. Saat itu ia dapat perunggu. Dan atas prestasi di OSN tingkat nasional pula, 30/11-8/12 lalu dirinya berkompetisi di ajang serupa tingkat internasional di Thailand.

Semangat

Berhadapan dengan 89 orang dari 21 negara di dunia, memang sempat membuat dirinya keder. Tapi hal itu tidak mengurangi semangat Lorenz untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dan membawa nama harum Indonesia. Adapun materi yang diujikan dalam lomba, yakni observasi, practical, soal jawaban singkat, dan soal uraian.

Baginya, yang paling mudah dan menyenangkan adalah soal observasi. Soal berupa pengamatan terhadap bintang di langit dengan teropong tersebut, diikuti dengan mencari terang bintang, dan menggambar galaksinya. ’’Kalau soal uraian saya tidak terlalu suka karena pertanyaannya banyak yang membingungkan,” ujarnya sambil tertawa.

Remaja yang pada masa SMP-nya pernah memenangi olimpiade matematika tingkat nasional ini menuturkan, pelatihan dan seleksi yang berlangsung di Bandung total hampir 2,5 bulan, cukup menyita waktunya. ’’Padahal saya kan sudah kelas III SMA, sebenarnya takut juga kalau tidak bisa persiapan untuk Ujian Nasional (UN),” terangnya lugu.

Astronomi sendiri merupakan ilmu yang cukup rumit karena keterkaitannya dengan berbagai bidang seperti matematika, fisika, kimia, dan geografi, serta mengandung banyak hafalan.

Kepala SMA Semesta, Moh Haris SE, mengatakan, perolehan emas di olimpiade tingkat internasional, sudah didapatkan sekolahnya dua kali. ’’Sebelumnya anak kami ada yang pernah dapat emas dalam olimpiade lingkungan hidup tingkat internasional di Innepo,” terangnya.

Sumber : Wawasan, 14 Desember 2007

Aku Bangga Menjadi Indonesia

Dalam sebuah obrolan santai kala makan siang, paska pasca terjadinya peristiwa bom di hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 lalu, terlontar pertanyaan spontan dari kawan bule saya. ”Apakah kamu bangga menjadi menjadi orang Indonesia?”.


Terus terang saya kaget dan sulit menjawabnya. Namun sejurus kemudian saya pun menjawab, ”saya sangat bangga menjadi warga negara Indonesia dengan situasi dan kondisi apapun”. Ia pun berujar, ”seharusnya demikian adanya, tapi sepertinya banyak kawan pribumi saya yang menjawab tidak. Mengapa begitu ya”. Kilah bule itu.


Obrolan singkat tadi akhirnya menuntut saya untuk bertanya dalam hati, ”Benarkah setiap warga negara Indonesia bangga menjadi orang indonesia? Atau malah sebaliknya?” Kiranya sungguh sulit menemukan jawaban pastinya.


Harus diakui memang, perjalanan bangsa ini sejak masa kemerdekaan 1945 hingga paska reformasi ini banyak dipenuhi gejolak dan dinamika kebangsaan yang cukup memprihatinkan.


”Krisis Multi Dimensi” dalam ranah ekonomi, politik, sosial budaya, keamanan, dan bahkan sampai kepada krisis identitas kebangsaan sekalipun menjadi sejarah gelap bangsa ini.


Realitasnya, angka kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat, daya beli masyarakat semakin menurun, praktek korupsi semakin mendarah daging, moral masyarakat semakin tergerus, dan terakhir persoalan aksi terorisme yang didalangi oleh sebagian anak bangsa in. Namun apakah itu semua bisa menjadi justifikasi krisis nasionalisme warganya dengan tidak lagi bangga menjadi Indonesia.


Saya kira jawabannya adalah tidak!!. Bangsa ini adalah bangsa yang besar dan bisa dibanggakan. Banyak sekali torehan prestasi anak-anak bangsa yang bisa kita banggakan karena bendera merah putih berkibar diatas bendera negara-negara lainnya. Salah satunya prestasi adalah prestasi Jhonatan dalam olimpiade Fisika XXXVII.


Berikut ini kisahnya, berdasarkan catatan prof. Yohanes Surya sewaktu mengikuti upacara pembagian medali ”International physics olympiade XXXVII” di Singapore.


Kala itu mayoritas duta besar yang hadir, awalnya mencibir sinis kontingen Indonesia karena dianggap tidak akan pernah berprestasi. Tapi alangkahnya kaget dan malunya mereka ketika panitia menyebut nama ”Muhammad Firmansyah Kasim” dari Indonesia sebagai pemenang medali perak.


Kejutan itu tak berhenti disitu saja. Tidak lama kemudian, panitia kembali mengumumkan nama-nama pemegang medali emas. Saat itu dubes-dubes negara sahabat yang hadir kaget luar biasa karena ternyata ternyata medali emas itu kembali diraih oleh 4 anak Indonesia. Dengan berpeci hitam dan jas hitam mereka maju ke panggung sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih. Sungguh mengesankan dan mengharukan. Semua duta besar langsung mengucapkan selamat pada dubes kita sambil berkata bahwa ”Indonesia hebat”.


Kejutan itu tidak berhenti di situ saja. Ketika diumumkan “the champion of the International physics olympiade XXXVII is “Jonathan Pradhana Mailoa” from Indonesia. Semua orang Indonesia bersorak. Bulu kuduk berdiri, merinding, semua orang mulai berdiri, tepuk tangan menggema cukup lama ”Standing Ovation”. Hampir semua orang Indonesia yang hadir dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun. Air mata kebahagiaan, air mata keharuan, air mata kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar.

Rasa bangga atas bangsa ini adalah perwujudan rasa nasionalisme kita. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan dan bisa membanggakannya. Seluruh capaian prestasi bangsa ini, baik yang terburuk sekalipun maupun yang terbaik, haruslah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa yaitu bangsa Indonesia yang harus kita terima dengan lapang dada. Apapun prestasi bangsa ini kita harus tetaplah bangga.


Harus diakui memang, banyak sekali prestasi kurang baik bangsa ini. Namun semua itu harus menjadi cambuk berharga bagi seluruh elemen bangsa ini untuk terus memperbaikinya. Bangsa ini bangsa besar dan bisa kita banggakan, tentunya dengan memberikan yang terbaik buat bangsa ini. Tak mudah patah arang untuk terus memperbaiki diri dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Sekecil apapun haruslah tetap kita upayakan, syukur-sukur bisa menjadi kebanggaan negara seperti prestasi ”Jhonatan” diatas.


Apapun yang terjadi dengan negeri ini, sepatutnya kita harus bangsa dan mensyukurinya sebagai perwujudan rasa nasionalisme atas negeri tercinta ini. Nasionalisme senantiasa identik dengan kesetiaan dan solidaritas yang kuat dari para warganya. Untuk itu, penulis berharap setiap penduduk negeri ini memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dengan tetap bangga atas kondisi dan prestasi bangsa ini. Hidup Indonesia.

Aku bangga menjadi Indonesia!!!!!!.

sumber : kompasiana

03 September 2009

Wakil Indonesia Raih Medali Perak

Angelina Venni Johanna, siswi SMAK 1 BPK Penabur Jakarta dan Reinardus Surya Pradhitya, dari SMA Kolese Kanisius Jakarta, berhasil meraih medali perak, pada the "21st International Olympic in Informatics (IOI) " yang diadakan di kota Plovdiv, Bulgaria, dari 8 hingga 14 Agustus.

Sementara itu, Risan, siswa SMAN 1 Tangerang, meraih medali perunggu, ujar Sekretaris Tiga Pensosbud KBRI Sofia, Bulgaria Aditya Timoranto dalam keterangan kepada koresponden Antara London, Minggu.

Aditya Timoranto mengatakan Olimpiade informatika internasional untuk tingkat SMA yang diikuti 315 siswa dari 83 negara dan disebut sebagai olimpiade informatika internasional terbesar hingga saat ini.

Tim Indonesia pada olimpiade terdiri atas Venni, Adit, Risan dan Christianto Handojo siswa SMA Kolese Kanisius Jakarta didampingi Ir. Suryana Setiawan, dua staf pengajar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia dan Ir. Nur Rokhman dari Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada.

Menurut Ir. Nur Rokhman, perolehan medali kali ini setidaknya melebihi perkiraan sebelumnya karena diperkirakan hanya satu medali perak yang dapat diraih. Tim IOI Indonesia sebelumnya berjuang setelah melalui dua ujian 10 dan 12 Agustus lalu.

Tim IOI Indonesia kali ini belum berhasil meraih medali emas sebagaimana pada IOI ke-20 di Mubarok City dekat Cairo, Mesir, Agustus lalu ketika Tim IOI Indonesia memperoleh satu medali emas dan tiga perunggu.

Namun hal yang menggembirakan adalah Risan menunjukkan peningkatan setelah sebelumnya memperoleh medali perunggu pada IOI ke-20. Bahkan bagi Venni yang juga meraih perak, IOI ini merupakan yang pertama kali baginya.

Sementara itu Dubes RI untuk Sopia, Immanuel Robert Inkiriwang, menyelenggarakan jamuan makan malam dan ramah tamah bagi Tim IOI Indonesia di Wisma Duta bersama Home Staff KBRI.

Pada kesempatan tersebut, Dubes RI menyampaikan partisipasi Tim IOI Indonesia merupakan kebanggaan bagi Indonesia , karena mereka turut membantu upaya pemerintah meningkatkan citra Indonesia sebagai duta bangsa dalam kompetisi tersebut.

Menurut Dubes, medali yang diperoleh para pelajar merupakan hadiah ulang tahun bagi Indonesia menjelang Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-64 pada tanggal 17 Agustus tahun ini. [TMA, Ant]

27 Agustus 2009

2 Siswa Binjai Raih Juara Sempoa Asia Tenggara

Dua siswa asal Kota Binjai, Sumatera Utara berhasil tampil sebagai juara pada lomba ketangkasan menggunakan sempoa (alat hitung tradisional Cina) tingkat Asia Tenggara, atau The World Association of Abacus and Mental Arithmetic (WAAMA).

Dua siswa yang mewakili Indonesia dipertandingan dengan peserta tujuh negara itu masing-masing bernama M Aldy Azizi Pane, siswa kelas I SMPN 2 Binjai, dan Enda Bibka Meganta br Peranginangin, siswa kelaa III SMPN 1 Binjai.

Prestasi kedua siswa ini diketahui ketika para pendampingnya, Ngajudin Nugroho, Berluida, Hendra Sucipta, Toni Chandra, dan Dahrim Perangingin (orangtua Enda Bibka) bertemu Gubernur Syamsul Arifin di Gubernuran Medan, Senin (24/8).

Dalam pertemuan itu, Nugroho yang menjadi juru bicara menjelaskan, prestasi kedua siswa tersebut menjadi kado terindah bagi Pemko Binjai, dan mungkin Indonesia yang merayakan HUT ke 64 tahun kemerdekaannya.

Karena, pertandingan yang digelar di RRT 16 Agustus lalu itu diikuti tujuh negara kuat di bidang keterampilan dan ketangkasan bermain sempoa. Yakni Amerika Serikat, Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, Sudan, dan Cina sebagai tuan rumah.

Cina sendiri menurunkan utusan dari berbagai provinsi. Yakni Beijing, Hunan, Jilin, Jiangsu, Shaanxi, Tianjin, Taiwan, Henan, Heilongjiang, Xinjiang dan Hongkong. Perlombaan ini dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok A dan kelompok B.

Dalam kelompok A tim Indonesia diwakili oleh Cindy Limindra, Veronica Darmawan dan Nelly. Kelompok B diwakili oleh M.Aldi Azizi, Enda Ribka Meganta Br PA dan Kenny. Kelompok A dan kelompok B berhasil meraih juara The First Prize (Juara 1).

Nugroho menjelaskan, perjuangan keduanya untuk bisa berlaga di tingkat internasional, dan akhirnya menjadi juara pertama, dimulai dari tingkat seleksi di Kota Binjai. Kemudian naik ke tingkat provinsi, dan lanjut ke tingkat nasional, dan seterusnya ke tingkat internasional.

“Di Indonesia saja, kedua siswa ini harus bersaing dan mengalahkan 1.000 peserta yang rata-rata merupakan siswa berdarah Cina. Namun berkat perjuangan tak kenal lelah, dan ketekunan, keduanya berhasil meraih juara,” ungkap Nugroho yang juga didampingi tokoh pendidikan Sumut, Dr Sofyan Tan.

Menanggapi kabar gembira ini, Syamsul berpesan agar kedua siswa ini terus dilatih dan dibina hingga ke tingkat universitas. Sebab, daya pikir keduanya yang sangat jarang ditemui, bisa dikembangkan untuk kemajuan keduanya di masa depan, dan khususnya kepada kemajuan bangsa dan negara.

“keberhasilan ini jelas 10 kali lebih hebat dari anak-anak sebaya mereka di RRT sana. Karenanya, bakat, dan kepintaran seperti ini perlu terus dikembangkan dan diberdayakan. Tak hanya itu, Pemprov Sumut juga akan memberikan beasiswa kepada keduanya untuk tiga tahun ke depan,” jelas Syamsul yang didampingi Asisten Kessos Asrin Naim dan Kadis Kominfo Eddy Syofian.

sumber : sumut.go.id

25 Agustus 2009

Siswa MIPA Raih 13 Medali Emas IMC

Rombongan siswa/siswi dan guru dan orangtua yang mengikuti internasional mathematics contest (IMC) 2009 di Singapura disambut suka cita keluarga yang menjemput mereka di Bandara Soekarno Hatta.
Presiden direktur klinik pendidikan (KPM) MIPA (Methematics Education clinic Indinesia) Moh.Ridwan menjelaskan, merupakan lembaga pendidikan non formal yang menfokuskan pembinaan siswa/siswa yang berbakat dibidang matematika.
Pada 21 Agustus pihaknya mengirimkan siswa/siswinya untuk mengikuti IMC (internasional mathematic contest) 2009 di Singapura. Jumlah siswa yang dikirimkan 75 ditambah 18 guru dan orangtua sehingga total yang dikirim 93 orang.
“Ini jumlah paling besar dalam sejarah tim Indonesia mengikuti kompetisi internasional,”jelasnya sambil menyebutkan hal ini dikarenakan IMC melombakan siswa berdasarkan tingkatan kelas mulai dari kelas 3 SD sampai dengan 10 SMA.
Dalam lomba ini, siswa bersaing dengan teman satu angkatan dari berbagai negara. Lomba diikuti oleh 8 negara yakni China, Singapura,Hongkong, Philipina, Taiwan,Indonesia, Malaysia dan India dengan jumlah peserta 557 siswa dengan bentuk soal 10 soal pilihan ganda,10 soal pilihan singkat, dan 2 soal uraian.
Jumlah prestasi yang diraih medali emas 13, perak 22, perunggu 38 dan peringkat empat 2 siswa. “Ini prestasi yang gemilang, tapi kami harus tetap meningkatkan lagi,”ucapnya.

sumber : poskota.com

23 Agustus 2009

Tim Indonesia Raih Emas Di Olimpiade Fisika Asia

Jakarta - Prestasi kembali ditoreh anak-anak Indonesia. Setelah sebelumnya berjaya pada ajang Olimpiade Fisika Asia ke-9, di Ulaanbaatar, Mongolia, 20-28 April lalu, dengan raihan 3 medali emas, kini satu medali emas diraih Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI).

Selain mendapatkan satu medali emas, yang disumbangkan Irvan Jahja, siswa SMA St Aloysius, Bandung, Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) juga berhasil meraih 2 medali perunggu dalam ajang Olimpiade Informatika Asia Pasifik (Asia-Pacific Informatics Olympiad, APIO) ke-2, pada 10 Mei lalu, di Thailand.

"Medali perunggu diperoleh Reinadus Surya Pradhitya, siswa SMA Kanisius, Jakarta, dan Listiarso Wastuargo, siswa SMAN 3 Yogyakarta. Dan, prestasi ini, meningkat dibanding dengan tahun lalu, yakni Indonesia hanya meraih satu medali perunggu melalui Karol Danutama," ujar salah seorang pembina TOKI Fauzan Joko kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (14/5).


Fauzan Joko juga mengungkapkan, keberhasilan yang diraih Irvan sesuatu yang membanggakan, karena berhasil menembus dominasi siswa-siswa dari China yang berhasil meraih 7 medali emas.

"Irvan berhasil meraih nilai total 300 dari nilai maksimal 300 (full score) yang artinya ia mampu menyelesaikan tiga soal yang diberikan dengan sempurna," kata Fauzan Joko.

Sementara itu, Kasie Bakat dan Prestasi Direktorat Pembinaan SMA Suharlan mengungkapkan, kegembiraannya mengingat ajang APIO, merupakan salah satu tolok ukur untuk mempersiapkan siswa-siswa Indonesia untuk menghadapi ajang International Olympiad in Informatics 2008, di Kairo, Mesir, Agustus mendatang.

"Ini benar-benar membanggakan, karena kita tidak menduga, dapat menyabet satu medali emas, pada ajang yang terbilang sungguh besar pada level kawasan Asia Pasifik. Ini membuktikan, anak-anak kita tidak kalah bersaing dengan anak-anak negara lain, khususnya di kawasan Asia Pasifik," ujar Suharlan.

Asia-Pacific Informatics Olympiad (APIO) adalah sebuah kontes pemprograman secara online yang diikuti oleh siswa-siswa di kawasan Asia dan PasifiK Barat. Bentuk perlombaannya adalah para siswa mengerjakan tugas di negara masing-masing dengan diawasi oleh pengawas resmi, dan setiap siswa mengirimkan jawaban kepada server negara penyelenggara melalui internet.

APIO pertama kali diselenggarakan tahun lalu, dan Australia menjadi tuan rumah. Untuk kedua kalinya, yang diselenggarakan di Thailand kali ini, ajang ini diikuti 14 negara peserta yakni, Australia, Bangladesh, China, China Taipei, India, Indonesia, Jepang, Korea, Makau, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Sri Lanka, dan Thailand.

Sementara itu Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) adalah sebuah tim yang terdiri dari 4 siswa sekolah menengah yang dipersiapkan untuk menghadapi International Olympiad in Informatics yang diselenggarakan setiap tahun.

Indonesia pertama kali mengikuti IOI pada tahun 1995, ketika IOI diselenggarakan di Eindhoven, Belanda. Hingga saat ini tim Indonesia secara keseluruhan telah berhasil mengumpulkan 1 medali emas, 8 medali perak dan 12 medali perunggu.

Saat ini, TOKI sedang menjalani pelatnas dan seleksi akhir di kampus Universitas Indonesia, Depok, untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi IOI 2008. Di akhir pelatnas, akan dilakukan seleksi akhir, untuk menetapkan 4 siswa terbaik yang akan mewakili tim Indonesia dalam ajang IOI yang diselenggarakan di Kairo, Mesir, pada 16-23 Agustus mendatang.

sumber :www.mediaindonesia.com