21 November 2009

Meja Catur Batik Tembus Pasar Luar Negeri

Meja catur batik karya Sumartoyo warga Desa Bulu, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berhasil menembus pasar internasional, meskipun produksinya belum bisa banyak dan melayani semua konsumen.

"Pesanan catur batik ini tidak hanya datang dari pasar dalam negeri, tetapi juga sudah sampai luar negeri dan mereka sangat menggemari ini, tetapi kami belum bisa memproduksi banyak dan masih terbatas, karena jenis karya ini tidak bisa dikerjakan secara masal. Ini memerlukan ketekunan sebab termasuk barang seni," kata Sumartoyo di bengkel kerja miliknya di desa tersebut, Jumat.

Pesanan catur batik itu datang dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makasar, dan Solo bahkan juga ada yang dari Negara China, India dan Belanda. Barang ini di luar negeri sangat digemari karena dinilai sangat unik dan yang dibatik itu tidak hanya papannya, tetapi juga buah caturnya.

Sumartoyo mengatakan setiap bulannya hanya mampu menghasilkan tiga papan catur yang lengkap dengan buah caturnya yang dikerjakan tiga orang.

"Kami sementara ini belum bisa memproduksi banyak karena tenaga kerjanya terbatas dan untuk memenuhi permintaan pasar ini pelan-pelan kami juga baru melatih tenaga untuk membatik itu," katanya.

Menyinggung mengenai masalah bahan baku, ia mengatakan tidak ada masalah dan kayu yang digunakan pembuatan papan catur maupun buah caturnya menggunakan jenis kayu waru.

"Kami memilih kayu ini karena di samping mempunyai kualitas batik dan barangnya masih banyak, juga mudah dibatik," katanya.

Untuk masalah harga, ia mengatakan papan catur kecil lengkap dengan buah caturnya harganya Rp325 ribu/setnya, sedangkan ukuran besar satu meter kali satu meter bisa mencapai Rp2,2 juta lebih. Sementara ini yang banyak dipesan ukuran standar.(*)

Kebocoran Minyak, RI Tuntut Ganti Rugi Australia

Pemerintah Indonesia segera menuntut ganti rugi kepada perusahaan asal Australia, Montana, terkait dengan pencemaran minyak mentah (crude oil) di wilayah perairan laut Timor, Nusa Tenggara Timur. Pencemaran ini disebabkan ledakan ladang minyak pada 21 Agustus lalu.

"Saat ini masih proses verifikasi dan penghitungan besaran kerugian," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah di ruang Palapa, Deplu, Jalan Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (20/11/2009).

Saat ini, panitia nasional sudah dibentuk dalam memverifikasi adanya pencemaran yang terjadi di sekitar laut Timor. Panitia tersebut terdiri dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), Departemen Perhubungan, Departemen Kelautan Perikanan, dan Deplu.

"Panitia Nasional akan menyamakan persepsi dan meminta ganti rugi. Setelah proses penghitungan selesai, dan disamakan oleh pihak yang terlibat, maka setelah dihitung diperoleh suatu angka yang konsensus," ungkapnya.(hri)

20 November 2009

Ada Uranium di Bengkulu

Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamdin, Jumat, mengungkapkan hasil penelitian beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa dalam perut bumi Provinsi Bengkulu ternyata ada kandungan uranium, sumber energi nuklir, namun belum tergali benar.

"Kita masih terus kembangkan penelitian, isu awal itu dijadikan referensi bila memang ada potensinya bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarkat," katanya di Bengkulu, Jumat.

Walaupun tidak menjelaskan secara rinci letak dan keberadaan potensi uranium tersebut, tapi Gubernur menyebutkan bahwa uraniuam selalu dekat dengan keberadaan emas.

Bengkulu sendiri sudah terkenal sebagai penghasil emas, dengan situs pertambangannya yang paling terkenal di Kabupaten Lebong dan sebagian kecil Bengkulu Utara.

Dari situ, Agusrin mencoba menarik kesimpulan sementara bahwa kandungan uranium tersebut diperkirakan juga berada di dua daerah itu.

Uranium adalah salah satu unsur kimia dalam tabel periodik memiliki lambang U dan nomor atom 92.

Uraniam termasuk logam berat, beracun, berwarna putih keperakan dan merupakan unsur radioaktif alami yang termasuk seri aktinida (actinide series).

Isotopnya, 235U ,digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir dan senjata nuklir.

Agusrin mengungkapkan, bila memang potensi itu ada, salah satunya dapat dimanfaatkan untuk menjadi sumber pembangkit tenaga listrik.

Tetapi untuk mengambilnya dibutuhkan biaya besar, terutama pada tahap eksplorasi lebih mengetahui kandungan terukur Uranium dan perlu ada peran pihak ketiga untuk penelitian lebih lanjut.

Sebab jika tak diolah dengan baik akan menjadi bumerang dan membahayakan kehidupan manusia, apalagi jika dipakai bagi kepentingan tak bertanggungjawab.

Namun bila diolah dengan baik dan sempurna dapat mendukung kesejahteraan kehidupan manusia.

"Dahulu pernah ada ada kebocoran pengolahan uranium di Uni Soviet, sehingga radiasinya bisa menyebabkan kerugian bahkan hingga kematian bagi manusia dan benda hidup disekitarnya," ujarnya.

Radiasi yang dihasilkan Uranium, kata Gubernur, tidak hanya berguna sumber energi seperti listrik dan senjata, namun juga sektor lain, seperti rekayasa genetika dalam bidang kesehatan, peternakan dan pertanian.

Kewenangan atas urusan barang strategis seperti uranium berada di tangan pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak mempunyai kewenangan untuk mengolah energi tersebut.

"Jauh lebih penting memagari uranium Indonesia agar tidak dicolong dan digunakan untuk merusak perdamaian dunia. Apalagi Indonesia adalah salah satu penandatangan konsensus internasional uranium untuk perdamaian," tandas Agusrin.

sumber antaranews

18 November 2009

Warga Kabupaten Kediri Temukan Arca Harimau

Warga Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dikejutkan dengan temuan arca yang mirip harimau, terkubur di tanah sekitar 2 kilometer dari Petilasan Raja Kediri, Sri Aji Jayabaya.

"Saya menemukan arca itu di dekat sungai dan dalam keadaan terkubur. Untuk itu, saya menggalinya dan meletakkan di tempat yang aman, jadi satu dengan arca lainnya," kata Juki (63), warga yang menemukan arca tersebut, Rabu.

Ia mengungkapkan, arca temuan tersebut berjumlah tiga, yaitu dua berbentuk harimau, serta satu lagi berbentuk dewa. Satu dari dua arca seperti harimau tersebut tingginya sekitar 70 centimeter, sementara yang patung dewa setinggi 1 meter.

Juki juga mengemukakan, arca temuan baru tersebut berbentuk seperti dewa, sedangkan dua arca mirip harimau sudah lama ditemukan. Ketiga arca tersebut ditemukan di lahan jagung milik Imam Afad (37), warga setempat.

Ia mengaku, sudah mengetahui arca berbentuk seperti harimau itu setelah mendapat titipan pesan dari seorang dalang yang bernama Sucipto sekitar tahun 1974. Dalang tersebut berpesan agar ia menjaga arca dan tidak diperbolehkan untuk mengambilnya.

Juki juga mengaku, sudah melaporkan temuan tersebut kepada pihak desa serta kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri. Sayangnya, hingga kini belum ada tindak lanjut tentang temuan itu.

Pihak desa berencana menjaga patung itu hingga tim dari BP3 Trowulan maupun Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri datang ke lokasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mudjianto mengatakan, pihaknya akan menerjunkan tim untuk memantau temuan tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan koordinasi dengan tim BP3 Trowulan, guna melakukan cek terhadap kebenaran temuan itu.

"Kami akan mengirimkan tim ke lokasi, guna menyelidiki temuan tersebut," kata Mudjianto.(*)

sumber antara

Ditemukan Fosil Gajah Purba Usia 250 Juta Tahun

Fosil yang ditemukan seorang guru SDN, Hary Nugroho (45), di Waduk Daya`an di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (12/11), diperkirakan fosil gajah purba atau "setegodon". dengan usia 250 juta tahun.

Camat Kalitidu, Nurul Azizah, Rabu menjelaskan, perkiraan fosil yang ditemukan di galian waduk, berupa kepala, gading, tulang kaki dan taring tersebut, merupakan fosil gajah purba. Kesimpulan ini, berdasarkan penelitian sementara tim dari Balai Penelitian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto.

Dari hasil kajian tim yang melakukan penelitian temuan itu dan langsung di lapangan, memperkirakan usia fosil tersebut, berkisar 250 juta tahun yang lalu. "Hanya fosil gajah purba tersebut dari jenis apa, masih dibutuhkan penelitian lanjutan," katanya.

Sementara ini, temuan fosil gajah purba yang semula disimpan di SDN Panjunan I dan II, Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, sekarang ini, disimpan di kediaman Kepala Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu. Tim BP 3 Trowulan, yang datang ke Bojonegoro, juga melakukan penelitian temuan emas di perairan Bengawan Solo di Desa Ngraho, Kecamatan Kalitidu.

Menurut ia, dari hasil penelitian tim, adanya temuan emas di perairan Bengawan Solo tersebut, berasal dari muatan sebuah kapal yang tenggelam di perairan setempat."Hanya kepastiannya masih membutuhkan penelitian lebih mendalam," katanya menjelaskan.

Hary Nugroho (45), guru SDN Panjunan I dan II di Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, sejak 1990 lalu, memiliki kebiasaan mengumpulkan fosil yang ada di wilayah Bojonegoro dan terakhir menemukan fosil gajah purba di galian Waduk Daya`an.

Di antara temuan Harry Nugroho yang sekarang disimpan di SDN Panjunan I dan II yaitu ratusan fragmen fosil dari karabau (kerbau purba), cervia (kijang), stegodon trigono chepalus, mastodon, elephas, babos dan bubalus.(*)

17 November 2009

Tim Indonesia Juara di Olimpiade Robot Dunia

Tim Indonesia berhasil meraih juara kedua dan ketiga tingkat Junior (SLTP) Regular Category pada ajang kompetisi Olimpiade Robot Dunia (World Robot Olympiad/WRO) 2009 yang berlangsung di Korea Selatan, 6-8 November lalu.

"Prestasi yang dicapai tim Indonesia kali ini merupakan hasil terbaik yang diperoleh Indonesia sejak mengikuti WRO pertama kali tahun 2004," ujar Humas dan Promosi Mikrobot, Paula Augusta dalam siaran persnya yang diterima ANTARA News di Jakarta, Selasa.

Ajang kompetisi tingkat internasional ke-6 yang diadakan di Gyeongbuk Pohang, Korea Selatan, ini diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari 24 negara di seluruh dunia.

Kompetisi WRO terbagi dalam dua kategori, yaitu Regular Category dan Open Category. Dalam Regular Category, peserta harus merakit sebuah robot untuk menyelesaikan suatu tantangan tertentu, sedangkan dalam Open Category, peserta bebas merakit robot menurut tema tertentu kemudian mempresentasikan ciptaannya di depan juri.

Indonesia mengirimkan total tujuh tim untuk berlaga di WRO2009. Dari ke-7 tim tersebut, seluruhnya merupakan peserta untuk Regular Category.

Untuk tingkat Junior (SLTP), Indonesia menempatkan tim Creator (Ivy Icasia, Patricia Dissy Andrea) sebagai juara dua dan tim Alpha-Rex (Billy Hocker Wistan, Fernando) sebagai juara 3. Adapun juara pertama diraih oleh tim White Lego dari Korea Selatan.

Selain dari tingkat Junior, perolehan tim Indonesia yang bertanding pada tingkat Primary (SD) juga cukup memuaskan. Tim Innocent (Kelvin Onggadinata, Margaretha Hutabarat) menempati peringkat lima, di bawah Chinese Taipei (juara 1), Korea (juara 2), dan Singapura (juara 3).

Sebelum berlaga di WRO, para peserta tersebut telah mengikuti seleksi tingkat nasional dalam Indonesia Robotic Olimpiad 2009 (IRO) yang berlangsung di Jakarta pada Agustus lalu. IRO diselenggarakan oleh Mikrobot.

Mikrobot merupakan distributor resmi Lego Education, peraih penghargaan Golden Award untuk robot yang bisa menyelesaikan permainan rubik cube dalam waktu satu menit pada ajang olimpiade Robot Dunia 2007. (*)

sumber antaranews

Malaysia Pemasok Narkoba Utama ke Indonesia

Malaysia menduduki peringkat pertama negara asal penyelundupan narkotika ke Indonesia, berdasarkan volume kasus yang berhasil diamankan oleh Kantor Penindakan dan Penyidikan, Bea dan Cukai, demikian Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai, Thomas Sugijata di Jakarta, Selasa.

"Untuk itu kami selalu mewaspadai penerbangan asal negara ini (Malaysia)," tambah Thomas di Jakarta, Selasa.

Thomas Sugijata juga mengatakan dari 74 kasus penyelundupan selama 2009, sebanyak 25 kasus berasal dari pelabuhan laut Malaysia.

"Malaysia adalah yang tertinggi dibanding negara lain pemasok narkoba di Indonesia," kata Thomas seraya membahkan negara pemasok lainnya dari kawasan Timur Tengah, seperti Qatar dan sekitarnya.

Jalur penyelundupan barang haram ini paling umum melalui jalur laut atau kapal fery, namun demikian bandara juga menjadi tempat yang paling sering dituju

sumber antaranews

"Joko Tarub" Mempesona Masyarakat Jerman

Penampilan seni budaya Indonesia "Legenda Joko Tarub" dari Sanggar Seni Margi Budoyo KJRI Hamburg dalam acara "Indonesian Night" mempesona masyarakat kota Kiel di Jerman.

Malam Dana yang digelar di Gedung Burgerhaus Kronshagen diprakarsai KJRI Hamburg bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Jerman (DIG) Negara bagian Schleswig-Holstein, demikian keterangan pers KJRI Hamburg yang diterima koresponden ANTARA London, Senin.

Disebutkan malam dana tersebut bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia serta promosi pariwisata yang hasilnya digunakan untuk program operasi bibir sumbing di Indonesia.

Para penonton yang terdiri atas pejabat pemerintah, para pengusaha dan tokoh masyarakat setempat, menikmati suguhan pertunjukan yang diawali dengan penampilan tarian Joko Tarub.

Legenda Joko Tarub digali atas kreatifitas seni grup Margi Budoyo dengan memamerkan keunikan budaya Indonesia yang dikagumi penonton malam dana tersebut.

Selain legenda Joko Tarub juga ditampilkan tari Klono Topeng dari Jawa Tengah yang gerakan, penjiwaan dan pakaian penarinya membuat kagum penonton.

Pada malam dana itu juga ditampilkan tarian Indang Badinding merupakan salah satu tarian adat masyarakat Minangkabau, yang dimainkan mahasiswa binaan Gusdi Sastra, dosen bahasa Indonesia di Universitas Hamburg.

Tarian Indang Bandinding mengundang decak kagum dan sambutan hangat dari hadirin itu dilanjutkan dengan tarian Minang lainnya yaitu tari Rantak.

Lagu-lagu Batak seperti Lagu "Sigu Lempong", "Sitogol" dan "Situmorang" yang didendangkan Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) melengkapi acara Malam Dana tersebut.

Irama lagu yang gembira menarik pengunjung ikut berjoget dan berdendang mengikuti alunan gendang dan suling yang mengakhiri pentas seni itu.

Ketua DIG Schleswig-Holstein Ernst Kruger menyampaikan kegembiraannya dengan suksesnya acara dan mengharapkan pagelaran budaya ini akan menjadi daya tarik bagi masyarakat Jerman akan budaya Indonesia yang pada gilirannya ingin berkunjung ke Indonesia.

Kruger juga menjanjikan seluruh dana yang terkumpulkan akan di pergunakan untuk operasi bibir sumbing bagi anak-anak yang kurang mampu di Indonesia.

KJRI Hamburg juga membagikan bahan-bahan informasi dalam bentuk brosur-brosur, buletin KJRI triwulan "Indonesien Magazin" dalam bahasa Jerman serta leaflet kepada masyarakat Jerman yang hadir.

sumber antara

Dari Tanaberu hingga ke Ujung Dunia

Dentaman palu, hantaman kapak, dan suara pasak menancap di kayu besi terdengar di sepanjang Pantai Tanaberu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Senin (16/11) pagi. Deretan kapal pinisi dan kapal kayu setengah jadi terhampar di batilang, galangan tradisional beratap rumbia.

Kami membuat kapal sendiri, lalu dijual atau berdasarkan pesanan. Kapal buatan Tanaberu dipakai berlayar melintasi Samudra Pasifik sampai ke Vancouver, Kanada, perairan Atlantik di Eropa,” kata Bachri (35), putra Tanaberu.

Saat ditemui, Bachri sedang mengerjakan pinisi berukuran lebih dari 100 ton. Kapal sudah setahun lebih dikerjakan di batilang milik ayahnya, Jafar (73).

Jafar adalah empu pembuat kapal di Tanaberu yang pernah membuat Pinisi Nusantara. Ia adalah satu dari beberapa pandita lopi, sebutan untuk ahli pembuat kapal dalam bahasa setempat.

Pandita lopi adalah tokoh adat yang memberi berkah dan memimpin upacara tradisional untuk setiap kapal yang dibuat di Tanaberu. Sesaji emas murni dan beberapa benda keramat ditanam di lunas kapal sebagai perlambang perkawinan kayu jantan dan betina yang dijadikan lunas kapal. Itu diyakini membuat kapal berhasil dalam pelayaran.

Kebijakan lokal seperti larangan menyambung kapal di mata kayu membuat kapal-kapal buatan Tanaberu dikenal kuat dan kokoh.

Penjelasan ilmiahnya, ujar Ridwan Alimuddin, aktivis Lembaga Perahu, mata kayu adalah bagian yang rapuh untuk dijadikan sambungan kapal.

”Ada banyak pemali dalam pembuatan kapal tradisional di Tanaberu. Pemali yang ada sebetulnya bisa dijelaskan secara ilmiah, seperti pantangan membuat sambungan pada bagian batang yang memiliki mata,” kata Ridwan, yang beberapa kali berlayar bersama orang asing di atas kapal buatan Tanaberu.

Nilai tradisional pembuatan kapal di Tanaberu setidaknya membuat warga setempat mendapat pesanan tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga mancanegara.

Satu pinisi warna coklat tua, misalnya, Senin, sudah diluncurkan dari galangan kering (dry dock) dan dikandaskan di laut dangkal. ”Itu kapal pesanan orang Singapura, untuk wisata sekitar Singapura-Malaysia. Ada 12 kamar untuk penumpang. Banyak kapal buatan Tanaberu dipesan orang asing,” kata Rian (22), putra Tanaberu yang kuliah pelayaran di Makassar.

Rian bertekad pulang kampung seusai kuliah untuk melanjutkan bisnis kapal tradisional.

Siang itu, Rian sedang menjumpai belasan warga yang memperbaiki kapal pinisi bernama Sampai Jumpa. Kapal berukuran 70 ton itu milik seorang pria Belanda yang tinggal di Thailand. Sampai Jumpa digunakan untuk berlayar di perairan Teluk Thailand.

Tanpa sketsa, apalagi desain komputer, pria-pria Tanaberu tekun membangun kapal kayu berkualitas dunia. ”Beberapa tahun lalu orang Australia juga pesan kapal di sini untuk berlayar dari Sulawesi Selatan ke Marega (istilah Bugis/Makassar untuk Tanah Australia). Kapal itu selanjutnya disimpan di museum di Australia,” ujar Bachri.

Replika kapal dari relief Candi Borobudur turut dibuat di Tanaberu. Kapal yang berlayar hingga Ghana di pantai barat Afrika itu mengukuhkan tradisi bahariwan Nusantara. Satu pinisi buatan Tanaberu yang akan dibawa ke Eropa juga sedang ditambatkan di Tanjung Bira.

Kapal-kapal Tanaberu dibuat menggunakan campuran kayu biti dan kayu besi (sejenis ulin) yang didatangkan dari Sulawesi Tenggara atau Kalimantan. Kulit kayu asal Kalimantan digunakan sebagai pelapis sambungan kayu untuk mencegah kebocoran.

Harga kapal kayu buatan Tanaberu bervariasi. Kapal berukuran 40 ton, misalnya, sekitar Rp 150 juta, seperti yang sedang dikerjakan Safrudin (35), tak jauh dari batilang milik Bachri. Sementara kapal berukuran di atas 100 ton sekitar Rp 4 miliar.

Kapal buatan Tanaberu dirancang sesuai pesanan, seperti dari nelayan Flores, Nusa Tenggara Timur. Kapal itu dilengkapi dengan tempat duduk tambahan di anjungan untuk memancing ikan laut dalam.

Namun, perajin saat ini sulit mendapatkan baku kayu. ”Alasannya, pemerintah memberantas illegal logging (penebangan liar),” kata Bachri.

Sri, pedagang bakso asal Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, membenarkan ucapan Bachri. ”Kalau usaha kapal lagi ramai, warung bakso tidak bakal sepi,” katanya.

Persinggahan pertama

Desa Tanaberu adalah persinggahan pertama Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara ke arah timur kepulauan Indonesia. Tim berangkat dari Pantai Losari di Makassar, 15 November lalu sekitar pukul 12.00, dilepas Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

Sekitar pukul 19.00, kapal yang dinakhodai Hidayat (63), putra Tanjung Bira, melintasi pesisir Takalar, membelok ke arah Tanaberu, sebelum mencapai ujung timur daratan Sulawesi Selatan di Tanjung Bira.

Perjalanan dilanjutkan Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara, Senin malam, menuju selatan Pulau Selayar. Diperkirakan tim tiba hari Selasa pagi ini di Pulau Selayar.

16 November 2009

Ratna Sarumpaet Sabet Penghargaan Internasional

Ratna Sarumpaet mengaku bangga karena film garapannya, Jamila dan Sang Presiden mendapatkan penghargaan pada Asiatica Filmmediale Festival (AFF) yang berlangsung di Roma, Italia beberapa waktu lalu.

"Saya sangat bangga atas penghargaan tersebut," kata Ratna Sarumpaet kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Ratna menambahkan, film Jamila dan Sang Presiden mendapatkan penghargaan dari "The Network for the Promotion of Asian Cinema" (Netpac) sebuah organisasi perfilman yang beranggotakan sekitar 29 negara dan berkantor di Singapura.

"Ini merupakan penghargaan berkelas internasional dari sebuah organisasi perfilman ternama yang beranggotakan sekitar 29 negara," katanya.

Ia menambahkan, Netpac telah memberikan penghargaan pada lebih dari 70 film dari berbagai negara di Asia dan memperkenalkannya ke mata dunia.

Untuk Indonesia, film Jamila dan Sang Presiden merupakan film Indonesia kedua yang mendapatkan penghargaan dari Netpac setelah "Bird Man Tale" karya Garin Nurgroho yang diberikan di "Berlin International Film Festival" tahun 2003.

Ratna juga mengatakan bahwa film Jamila dan Sang Presiden yang bercerita tentang kasus perdagangan anak di Indonesia memperoleh penghargaan karena nilai seni dan kritik sosialnya.

"Saya membuat film ini bukan untuk mendapatkan penghargaan tapi karena ingin mengangkat kasus yang selama ini jarang diangkat di film-film tanah air, yakni soal perdagangan anak," katanya.

Ia juga menambahkan, dengan adanya penghargaan berkelas internasional ia berharap pesan moral dan informasi yang ingin disampaikan lewat film garapannya bisa dilihat oleh lebih banyak orang di berbagi negara.(

sumber antara

15 November 2009

Masyarakat Perancis Antusias Pelajari Tari Bali

Masyarakat Perancis dan warga negara Indonesia yang tinggal di negara itu cukup antusias mempelajari tabuh dan tari Bali yang dibina seorang dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
"Kursus tari Bali yang digelar sekali dalam seminggu di KBRI Paris itu melibatkan ratusan pencinta seni budaya Bali di Perancis," kata Nyoman Kariasa, SSn, dosen ISI Denpasar setelah mengemban tugas selama enam bulan di negara tersebut, di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, minat masyarakat internasional mendalami tabuh dan tari Bali cukup besar.

Guna memudahkan melakukan pelatihan, mereka dibagi dalam beberapa kelompok latihan dengan jadual berlangsung sejak pagi, siang, sore hingga malam hari.

Tugas tersebut diembannya selama enam bulan, sekaligus memperkenalkan seni budaya Bali dan Indonesia pada umumnya.

Nyoman Kariasa menjelaskan, penugasan mengajar musik tradisional gamelan Bali di Paris mampu memberikan motivasi tersendiri baginya.

Paris dan Perancis merupakan salah satu kiblat kemajuan budaya yang telah diakui dunia internasional, katanya.

Masyarakat Paris mempunyai apresiasi tinggi terhadap musik dan budaya luar termasuk Indonesia, khususnya gamelan dan tari Bali.

"Hal ini menjadi daya tarik sekaligus tantangan untuk memperkenalkan dan mengajarkan gamelan Bali yang selama ini hanya mereka dengar atau tonton," ujar Nyoman Kariasa.

Ia mengaku dituntut untuk jauh lebih sabar dalam mengajarkan hal-hal dasar dan konseptual yang berkaitan dengan gamelan, kesenian Bali serta menyentuh filosofi dan budaya Bali secara luas.

Hal itu masih ditambah dengan kendala komunikasi, mengingat masyarakat Perancis pada umumnya tidak berbahasa Inggris, ujar Nyoman Kariasa.
(*) sumber antara